【Bab 8】 Rasa Sesak
Pesta pernikahan di Molie sangatlah seru dan menyenangkan.
Para groomsmen (pendamping pria) berdandan seperti wanita. Pria yang memimpin rombongan memegang sebuah ekor babi, dan ketika suasana pesta mencapai puncaknya, ekor babi itu akan diberikan kepada seseorang. Siapa pun yang menerimanya, dialah yang akan menikah berikutnya; mirip seperti tradisi pengantin wanita melemparkan buket bunga di pernikahan suku Han.
Yang paling membuat Qinglang terkejut sebenarnya adalah tingkat toleransi kelompok etnis minoritas ini terhadap batasan gender.
Para pendamping pria menggunakan berbagai macam cara: ada yang menaruh balon di dada, ada yang memakai sepatu hak tinggi, ada yang memakai wig dan merias wajah dengan menor. Semuanya adalah pemuda berusia awal dua puluhan, namun tidak satupun dari mereka merasa malu berdandan seperti wanita, dan tidak ada pula yang mencap mereka sebagai "banci" (niang pao). Sebaliknya, mereka melakukannya karena rasa hormat terhadap wanita, sehingga tidak merasa malu mengenakan pakaian wanita.
Jiwa manusia tidak seharusnya dikurung dalam bingkai hanya karena wujud fisiknya yang berbeda. Jika ditempatkan di alam semesta yang luas, segala sesuatu hanyalah segumpal energi; tidak ada pembedaan antara pria dan wanita, apalagi antara manusia dan binatang.
Changyang membawa Qinglang menyusup melewati kerumunan orang. Bisa mengikuti pesta pernikahan penduduk setempat merupakan sebuah keberuntungan. Suasana di sana sangat ramai, mereka berdua hanya bisa saling berbisik agar bisa mendengar satu sama lain.
Changyang mengambil sebotol bir, mengayunkannya di depan mata Qinglang, lalu tersenyum sambil berkata, "Sudah kuminum, aku tarik kembali."
Qinglang merampas botol itu dan meminumnya seteguk. Changyang buru-buru merebutnya kembali, "Hei, hari ini aku tidak akan memukulmu untuk menyuruhmu pulang."
Di tengah suasana yang meriah, tatapan mata Qinglang pada orang-orang terlihat menyala seperti api. Dia adalah tipe aktor method (menyelami karakter secara emosional) yang sangat mudah terbawa perasaan. Saat tergoda oleh seseorang, tatapannya akan semakin kabur bagaikan lampu yang bergoyang di pesta pernikahan.
Di bawah sorot lampu, Changyang menenggak sebotol bir hingga habis. Tetesan bir membasahi sebagian dadanya, dan rambutnya juga terciprat oleh orang di sebelahnya yang baru saja membuka botol, sehingga terlihat seperti semak-semak yang dihiasi embun. Dia mengibaskan kepalanya, menyapu tetesan bir di ujung rambutnya dengan tangan, lalu tersenyum lepas ke arah Qinglang.
Nama "Changyang" ini sungguh bagus. Qinglang merasa bahwa nama ini diciptakan khusus untuknya, karena dia sangat ingin berkelana (changyang) di antara pegunungan, lautan, dan padang belantara milik pemuda itu. Semua sifat unggul di alam semesta tergambar pada diri satu orang; betapa berharganya orang ini.
Hati Qinglang pun tergerak. Dia mengambil ponselnya berniat memotret Changyang, namun baru saja dia mengangkatnya, seseorang tiba-tiba berdiri di depan lensa; Shi Yuhao muncul di layar, menghalangi Changyang.
Hati Qinglang seketika menyusut menjadi sebuah simpul; sudah saatnya ini diakhiri.
*****
Di atas bendungan Waduk Changji, dua orang berjalan mendekat dari kejauhan.
Pertemuan Qinglang dan Shi Yuhao tidak sampai berujung pada baku hantam. Menendang dan memukul hanyalah adegan berlebihan dalam film gangster. Meskipun memiliki dendam yang dalam, mereka masih bisa berbicara.
Shi Yuhao menunggu Qinglang untuk angkat bicara terlebih dahulu. Dia berpikir, jika lawannya meledak, dia akan meredamnya; jika lawannya tenang, dia akan menyesuaikannya.
Qinglang memberinya kesempatan dan mulai bicara, "Sore tadi saat aku mendengar ucapan terakhirmu, aku tahu mengapa aku setuju untuk ikut acara itu."
Mencari tempat yang datar untuk berdiri, Qinglang memandang ke kejauhan. Permukaan air tampak memutih di bawah sinar bulan, sementara penyakit tersembunyi di dalam hatinya perlahan mulai terungkap.
"Orang hidup dari sehelai napas, namun di dalam hati seseorang juga akan ada setitik rasa sesak yang tertahan," lanjut Qinglang. "Hal-hal yang terjadi di tahun-tahun itu sudah hampir aku lupakan semua, tetapi ada satu hal yang terus kuingat dengan jelas. Siaran langsung waktu itu, saat kau mulai menarik garis pemisah. Saat bermain sebuah permainan, aku terjatuh. Kau yang saat itu berada sangat dekat denganku dan seharusnya hanya tinggal membungkuk untuk menolongku, tapi kau malah mundur dua langkah dan menatapku yang tersungkur di lantai. Aku takut kau akan dihujat, jadi aku merangkak maju selangkah untuk memeluk kakimu. Beruntungnya, gerakan mundurnya itu macet di internet sehingga tak terlihat oleh penggemar. Yang semua orang lihat hanyalah aku memeluk kakimu. Shi Yuhao, dalam pandangan moralku, kecuali memiliki dendam kesumat yang berdarah, seseorang yang memiliki sedikit saja perasaan tidak akan mungkin hanya menonton temannya terjatuh. Tujuh tahun, aku benar-benar ingin tahu, apa yang kau pikirkan saat itu."
"Kenapa saat itu kau tidak bertanya padaku?" Sungguh tak disangka Shi Yuhao memiliki keberanian untuk menanyakan hal itu.
Qinglang mendengus sinis, "Waktu itu setiap aku mengirim pesan, apa kau pernah membalasnya?"
Dia mengambil ponselnya, membuka WeChat, dan menyodorkannya tepat di depan wajah Shi Yuhao. "Lihat sendiri, semua buktinya masih kusimpan. Setiap kali aku ganti ponsel, aku selalu menyimpan seluruh riwayat percakapan denganmu."
"Yang menggelikan adalah para penggemar masih mengira bahwa kita sangat dekat di belakang layar. Aku selalu mendapati komentar mereka yang mengatakan bahwa kita pasti sering mengobrol diam-diam, memiliki rahasia, dan sandi-sandi. Kenyataannya, satu pesan keparat dariku pun tak pernah kau balas. Kau bertingkah seperti orang buta dan memaksaku untuk menjadi bisu. Selama bertahun-tahun, si bisu ini telah menahan napasnya. Aku yakin, cepat atau lambat pasti akan tiba saat di mana kau yang harus berdiri di hadapanku untuk memohon padaku."
Nada bicara Qinglang mulai meninggi, sementara Shi Yuhao ingin menariknya untuk menenangkannya. Namun Qinglang bereaksi cepat dan mundur selangkah, layaknya refleks; dia telah mengukir gerakan Shi Yuhao waktu itu dalam di hatinya, dan itu telah berubah menjadi insting bawaan.
"Agar kau bisa melampiaskan amarahmu, lakukan apa saja, aku bersedia." Shi Yuhao memohon perdamaian.
Qinglang menatapnya dengan pandangan meremehkan, "Shi Yuhao, demi kembali tenar, kau benar-benar rela menjadi anjing."
"Aku selalu menjadi anjingmu."
"Cukup!" teriak Qinglang lantang; kalimat itu benar-benar membuatnya jijik. Dia menatap tajam ke wajah Shi Yuhao yang memasang raut tulus palsu, "Bermain peran setelah acara selesai tidak ada gunanya lagi. Dua tahun yang lalu, saat aku memberikan pidato penerimaan penghargaan, orang pertama yang terlintas di pikiranku justru adalah kau. Dulu aku mengira bahwa aku masih memiliki perasaan untukmu. Baru sekarang aku menyadari, bahwa aku seharusnya berterima kasih padamu. Tanpa perbuatanmu, aku tidak akan bertahan dengan setitik rasa sesak yang tertahan hingga sampai pada hari ini."
Shi Yuhao menghela napas, "Aku tidak menyangka kamu akan membenciku selama bertahun-tahun. Aku selalu berpikir, kita memulai debut bersama, syuting karya pertama kita bersama; pengalaman-pengalaman itu tidak akan pernah bisa digantikan oleh hal lain."
"Sejak saat kau memutuskan kemitraan kita, hal itu sudah digantikan dengan kebencian."
Pada saat ini, Qinglang mengembalikan sisa-sisa belas kasih terakhirnya kepada Shi Yuhao. Tak ada seorangpun yang akan berdiri di tempat yang sama untuk menunggumu seumur hidup. Memangnya kau benar-benar pantas?
Dari kejauhan, Changyang telah memperhatikan mereka berbicara untuk waktu yang cukup lama. Emosi Qinglang tidak lagi mengalami gejolak yang berarti; waktunya sudah pas. Changyang pun berlari sambil membawa jaket luar, lalu menyampirkannya ke tubuh Qinglang.
Qinglang berbalik dan berkata kepada Shi Yuhao, "Aku tidak akan ikut variety show itu, aku hanya ingin melihat secara langsung betapa menyedihkannya wujudmu. Aku yang melanggar kontrak, aku yang bertanggung jawab; aku tahu kau tidak mampu membayar penalti pemutusan kontrak."
Angin malam bertiup kencang hingga rambut Qinglang yang berantakan menutupi separuh wajahnya. Dengan tali karet yang sudah disiapkannya di pergelangan tangan, Changyang mengikatkan rambut Qinglang. Ditemani hembusan angin, Changyang berbisik, "Pulang."
Qinglang mengangguk, lalu Changyang memapahnya untuk berjalan pulang. Shi Yuhao berdiri diam di tempat, menatap kedua sosok itu yang sambil tertawa-tawa melangkah pergi, semakin jauh, dan semakin menjauh.
"Pakai jaketnya." Changyang menolehkan kepalanya untuk melihat Qinglang, senyuman di sudut bibirnya nyaris melengkung mencapai bulan.
Qinglang tidak senang, "Sebentar lagi sampai rumah. Kalau dipakai nanti harus dilepas lagi, merepotkan."
"Biar aku yang melepaskannya untukmu, tidak merepotkan."
"Sekarang kamu membantuku memapahku saja sudah merasa direpotkan?"
"Cukup lelah sih."
Ucapan Changyang ini sengaja memancing pukulan, dan setelah dipukul dia malah semakin riang.
Tanpa disadarinya, setetes air mata menetes di sudut mata Shi Yuhao; dia tidak merasakannya sendiri.
*****
Pencahayaan di rumah Changyang agak redup. Begitu masuk, Qinglang melihat sesosok bayangan hitam gelap duduk di depan meja teh. Ketika lampu dinyalakan, bayangan itu berkelebat mengagetkan; ternyata Qingtian, entah kapan dia datang.
"Jiwa yang tidak bisa hilang telah kamu wujudkan secara nyata. Menyalakan lampu besar boros listrik, ya?" sindir Qinglang.
"Soal itu harus tanya Changyang, ini kan bukan rumahku." Qingtian menata cangkir teh baru di atas meja dan memanggil kakaknya, "Sini. Berapa hari lagi kamu akan tinggal di Molie?"
Menghadapi pertanyaan ini, Qinglang justru melirik Changyang. Qingtian yang menangkap isi pikiran kakaknya malah ikut-ikutan bertanya, "Kamu menuruti kemauan Changyang?"
"Apa?" Changyang yang baru saja menggantungkan jaket ikut menyahut pembicaraan mereka.
Qingtian mengulang pertanyaannya, "Kakakku bilang dia mau tinggal di Molie beberapa hari lagi, semuanya terserah padamu."
Qinglang menunjuk Qingtian dan berkata, "Rumor itu semuanya disebarkan oleh orang sepertimu. Katakan langsung, niat apa yang sedang kamu rencanakan dariku?"
(Ini maksudnya rumor dia ada di Molie)
Qingtian mendekati kakaknya, lalu mendorong beberapa teh yang sudah dikemas di atas meja ke hadapannya dan berkata, "Siaran langsung (live). Kegiatan amal untuk membantu petani, kamu tidak menghasilkan uang, aku juga tidak."
Qinglang sedikit tersenyum, sorot matanya mendadak menjadi lembut. Sambil menatap adiknya, dia bertanya, "Tian'er, setiap hari kamu sibuk wara-wiri seperti ini, untuk apa?"
Qingtian memahami maksud tersirat dari kakaknya, dan dengan nada enteng dia menjawab dua kata, "Untuk hidup."
Di bawah cahaya lampu, Qinglang melihat ada genangan air mata yang berputar di mata Qingtian. Dia buru-buru mengubah nada bicaranya menjadi candaan, "Oke, kamu hiduplah dan habiskan uangku. Jam berapa live-nya? Ada susunan acaranya?"
Meskipun dua bersaudara ini tidak pernah memiliki pantangan saat berbicara sehari-hari, namun di saat-saat serius, Qinglang sangat menyayangi adiknya. Qingtian adalah anak laki-laki yang mengundang rasa iba, dan banyak orang yang menyayanginya.
"Ingin mengaturnya pada tanggal 19, saat Festival Naga Gajah (Longxiang) dimulai; aura di gunung ini akan jauh lebih bersih."
Ini adalah pertama kalinya Qinglang mendengar tentang Festival Longxiang, "Apa maksudnya?"
"Selama Festival Longxiang dilarang memakan daging. Setiap rumah tangga makan sayur (vegetarian), sehingga bau amis (darah) di lingkungan sekitar akan berkurang," jelas Qingtian.
Begitu mendengarnya, Qinglang seolah melihat aturan yang membatasi seperti jaring bergerak mendekatinya. Dia buru-buru bertanya, "Apakah aku juga tidak boleh makan daging?"
"Tentu saja." Ekspresi wajah Qingtian seolah berkata, kamu juga manusia, beraninya minta pengecualian.
Setelah memastikannya, Qinglang menoleh ke arah asistennya dan berkata, "Changyang, dua hari ini buatkan lebih banyak daging."
Sejak masuk ke rumah, Changyang telah merapikan semua tempat yang berantakan barulah dia memiliki waktu luang untuk mendekat. Namun ternyata dia justru menghadapi bos yang ingin melahap daging secara gila-gilaan. Changyang meraih tangan Qinglang dari belakang dan bercanda, "Telapak beruang kecap manis, mau tidak?"
Qinglang memutar tangannya berniat memukulnya, tetapi anak nakal itu berlari sangat cepat.
Perilaku kedua orang ini sekilas ditangkap dengan jelas oleh Qingtian. Yang satu bersedia memukul, yang satu bersedia dipukul—tidak, lebih tepatnya, yang satu memancing pukulan, yang satu masuk perangkap.
Layaknya menggunakan kemoceng bulu ayam, Changyang sedikit demi sedikit menyapu debu dari dalam hati Qinglang.
*****
Kembali ke kamar, Qinglang menyalakan komputer Changyang dan meminta kata sandinya.
Changyang mendekat dan mengetiknya. Qinglang sengaja memperhatikan tangannya mengetik di keyboard, lalu sengaja bertanya, "Kata sandimu adalah hari ulang tahunku?"
Dia tidak menyangka Changyang akan menjawab seperti ini, "Tanggal ulang tahunmu sangat umum, kok."
Qinglang tidak menimpali lagi; mulut keras seperti bebek mati, harus dicari kesempatan untuk menyiramnya dengan air mendidih.
Changyang mengingatkan Qinglang bahwa materi rekaman DJI ada di desktop, lalu dia pergi untuk merapikan sampah di kamar mandi. Qinglang duduk di depan komputer, pura-pura baru pertama kali melihat komputer Changyang.
"Aku akan login cloud drive-ku di komputermu ya," teriak Qinglang dengan lantang.
Changyang menjawab "Oke", namun dia teringat sesuatu dan menambahkan "Aduh" sedikit, lalu berkata, "Video saat kamu muntah itu tidak boleh dihapus."
Qinglang memang tidak berencana untuk menghapusnya; berhubung ada orang yang suka melihat kejelekannya, tidak ada salahnya jika disimpan. Gara-gara seseorang, Qinglang sudah mulai berkompromi. Dia memindahkan video DJI ke dalam cloud drive milik perusahaannya. Akun cloud drive itu sudah berusia bertahun-tahun, dibuat saat Kak Lan menggarap film pertamanya, dan banyak materi lama yang juga tersimpan di sana. Dibandingkan komputer, cloud drive lebih mudah untuk menyimpan beberapa data sejarah.
Mengunggahnya membutuhkan waktu. Setelah selesai mengoperasikannya, Qinglang menengadah dan bersandar di kursinya. Changyang mendekat sambil membawa handuk, berdiri di belakang Qinglang, dan menunduk melihat layar komputer.
Qinglang memicingkan matanya menatap dagu Changyang dari sudut pandang yang ekstrem, "Senang menyimpan video jelek orang lain adalah kebiasaan yang aneh."
Changyang benar-benar ingin memeriksa apakah Qinglang menghapus video itu atau tidak. "Ini adalah video dokumenter paling berharga dari kedatanganmu di Molie; seratus tahun kemudian ini pasti akan menjadi klasik. Tunggu, biar aku ganti nama filenya dulu."
Setelah memastikan bahwa video itu masih ada, Changyang membungkukkan badan dan mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua lengannya melingkari tubuh Qinglang untuk mengetik. Karena terlalu dekat, napasnya terasa tertahan; Qinglang pun menarik kepalanya, memajukan tubuhnya untuk memberi ruang agar Changyang bisa mengetik di keyboard.
Feng Qinglang Berkunjung ke Desa Teh Kuno Molie (Dilarang Disebarkan) — Changyang mengubah nama video tersebut menjadi deretan huruf yang panjang.
Setelah berpikir sejenak, dia menambahkan beberapa kata di depannya: Bintang Porno Generasi Ini.
Tanpa disangka Qinglang membacanya dengan serius. Betapa menyebalkannya nama itu, Qinglang pun mengejar Changyang, menindihnya di tempat tidur, dan memukulinya.
Sentuhan fisik yang melampaui batas keintiman selalu membuat orang impulsif. Pertanyaan yang paling ingin ditanyakan Qinglang di dalam hatinya terlontar begitu saja, "Apakah kamu——"
Dia ingin bertanya: apakah kamu, menyukaiku, atau diam-diam menyimpan perasaan padaku?
Namun, kebetulan klise layaknya dalam drama idola terjadi di saat ini. Paruh kedua dari kalimatnya belum sempat terucap, dering telepon di atas meja berbunyi berturut-turut, secara paksa memotong adegan ini.
Qinglang melepaskan Changyang, kembali bersandar di meja kerjanya, mengambil ponselnya, dan mengangkat telepon.
Suara Xing Lan dari seberang terdengar sedikit mendesak, "Lihat pesan yang kukirimkan padamu."
Qinglang menyalakan pengeras suara, melihat pesan, lalu Xing Lan melanjutkan, "Ada yang menggunakan film kalian dari tujuh tahun lalu untuk membuat laporan. Pihak atas telah menghentikan penayangan variety show tersebut."
Qinglang malah merasa senang, "Aku baru saja ingin mengumumkan kemunduranku, jadi ini malah menghemat tenagaku."
Xing Lan sangat memahami Qinglang, seolah-olah dia adalah anak kandungnya sendiri. Hanya dari nada suaranya, dia sudah bisa menebak hasilnya, "Kamu sudah bertemu dengan Shi Yuhao?"
Qinglang mengiyakan dengan kata "Em". Xing Lan pun ikut merasa lega. Dia benar-benar khawatir jika Qinglang masih memiliki perasaan ekstra terhadap Shi Yuhao; yang lebih penting lagi, pria itu tidak pantas mendapatkannya.
"Apakah cinta dan benci sudah dilepaskan semua?" Untuk memastikannya, Xing Lan bertanya sekali lagi.
Qinglang menjawab dengan sangat yakin, "Iya, sangat lega. Saat menerima penghargaan tahun itu, aku bahkan tidak merasa bahwa aku sedang hidup. Hari ini, perasaan ini sangat nyata; bahwa aku benar-benar hidup."
Pandangan mata Qinglang tanpa sadar melirik ke arah Changyang, yang sedang duduk tenang di ujung ranjang sambil memperhatikannya menelepon.
Dari perkataan Qinglang, Xing Lan kembali menebak arah yang baru, lalu bertanya, "Foto yang kamu unggah di Weibo kemarin, apakah itu asisten barumu?"
Sambil menatap Changyang, Qinglang menjawab, "Dia yang membawaku ke gunung, aku hanya memotretnya secara asal."
"Kalian berdua tidak ada apa-apa, kan?"
"Untuk saat ini belum."
Jika sedang syuting film, senyuman Qinglang ini pasti akan meluap keluar layar. Dia tak berani menatapnya lagi; sangat takut jika dia tak bisa menahan diri dan mereka kembali ke ranjang, lalu bagaimana kelanjutannya? Itu adalah tempat di mana akan sulit untuk mengakhirinya.
Qinglang mengalihkan perhatiannya ke komputer, dan melihat bahwa proses unggahan filenya terhenti. Dia memanggil Changyang untuk melihatnya, dan berbisik pelan, "Sepertinya koneksinya terputus."
Changyang menyelesaikan masalah jaringan tersebut, sementara Qinglang melanjutkan pembicaraannya dengan Kak Lan, "Qingtian ingin aku melakukan live untuk menjual teh, semacam amal untuk membantu para petani."
"Dia sudah mengirimkan proposalnya kepadaku. Perusahaan sudah memeriksanya dan tidak ada masalah, kamu tinggal bekerja sama dengannya untuk menyelesaikannya. Nanti aku akan menyuruh Jialin pergi ke sana untuk mengurus makeup dan styling-mu."
Qinglang menutup telepon. Dia tidak menyangka Qingtian bekerja sedetail ini; bahkan proses persetujuan perusahaan sudah diselesaikannya. Anak nakal ini tanpa disadari telah tumbuh dewasa. Memperhatikan anak nakal yang sedang berada di sisinya ini, Qingtian telah masuk ke gunung selama dua tahun berturut-turut, dan dia sangat dekat dengan Changyang.
Ternyata, karena ajaran sang guru sangat baik.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.