Profil:
Top: Cha Juheon (32, Alpha Dominan, Direktur Eksekutif dan Calon Kepala Grup Chaeseong)
Ia terlahir dengan segala kelebihan di dunia. Namun, ada satu hal yang tidak pernah ia rasakan, yaitu kehangatan manusia. Karena fobia kuman, ia sangat menolak sentuhan orang lain, dan semua orang di sekitarnya harus memakai masker dan sarung tangan.
Rutinitas hariannya harus selalu berjalan sesuai rencana, dan ia sangat tidak menyukai perubahan yang tidak terduga. Kemudian, sosok yang tak terduga muncul dalam kehidupan Juheon.
Dia adalah Baek Eunwoo, ibu pengganti yang akan mengandung anaknya.
Tapi kenapa ia tidak merasa jijik terhadap Baek Eunwoo? Ia bingung dengan kejadian tak terduga ini. Terlebih lagi, semakin lama mereka bersama, semakin kuat obsesi dan posesifnya terhadap Eunwoo. Rasanya ia harus memiliki Eunwoo dan bayinya.
Bot: Baek Eunwoo (23, Omega Dominan, Mahasiswa)
Sesuai dengan sifat dominannya, ia unggul dalam bidang akademik, musik, dan olahraga. Ia memiliki bakat khusus dalam bermain piano dan bermimpi menjadi seorang musisi, tetapi perubahan keadaan yang tiba-tiba memaksanya untuk meninggalkan semuanya.
Untungnya, ia diterima di Universitas Korea, yang terkenal sulit untuk dimasuki, tetapi saat ini ia sedang cuti untuk mencari uang guna menghidupi ibunya. Eun-woo menerima tawaran menjadi ibu pengganti dari Ketua Grup Chaeseong, yang telah mengawasinya.
Sebagai imbalan atas pemberian gen dominannya, ia setuju untuk mengandung bayi dari Direktur Eksekutif Grup tersebut dengan imbalan pembayaran di muka yang sangat besar.
Meskipun ia merasa tidak nyaman di dekat Cha Juheon, Direktur Eksekutif Grup Chaeseong, yang dikenal karena fobia kuman yang parah dan kepribadiannya yang mudah tersinggung, keluhannya mulai terasa seperti kekhawatiran. Lebih jauh lagi, ia semakin terikat pada bayi dalam kandungannya, membuatnya merasa cukup bingung.
Sub Top: Kang Kyuho ( 23, Alpha)
Terlahir sebagai Alpha dalam keluarga dokter, segala sesuatu dalam hidupnya berjalan lancar dan harmonis. Dia menyayangi sahabatnya, Eunwoo, dan merawatnya ketika Eunwoo tinggal di rumahnya untuk sementara waktu.
Dia menganggapnya sebagai kasih sayang dari seseorang yang bahkan memiliki lebih dari sekadar kasih sayang. Dia merasa lebih unggul ketika menyadari bahwa Eunwoo menyimpan perasaan untuknya yang melampaui persahabatan.
Namun, harga dirinya terluka ketika melihat Eunwoo dengan mudah diterima di Universitas Korea, tidak seperti dirinya yang gagal masuk. Jadi, dia meninggalkan Korea tanpa memberi tahu siapa pun, percaya bahwa Eunwoo akan menunggunya selamanya.
Tetapi untuk berpikir bahwa Eunwoo, yang dia pikir hanya akan menunggunya, sedang hamil anak orang lain. Dia tidak bisa hanya diam dan menyaksikan.
—
CHAPTER 1
Lantai 35, 40. Semakin lift naik menuju lantai paling atas gedung, aku tidak bisa menyembunyikan rasa gelisahku. Dengan mata cemas, aku membuka suara kepada orang yang berdiri di sampingku.
“Kenapa Ketua ingin bertemu dengan saya? Saya bukan karyawan perusahaan, juga bukan pemilik kafe ...?”
Pertanyaanku yang hati-hati itu dijawab dengan ramah oleh kepala sekretaris Ketua, “Itu bukan hal yang bisa saya jelaskan. Ketua akan menyampaikannya langsung.”
“Apa tidak masalah saya berpakaian seperti ini ….” Aku melirik kemeja santai yang kupakai sambil bergumam canggung.
“Tidak apa-apa. Jangan khawatir.”
“Benar yang dipanggil itu saya, bukan bos saya?”
Aku hanya datang karena dipanggil, tetapi terus merasa khawatir kalau-kalau mereka salah orang.
“Tentu saja benar. Kami tidak mungkin salah. Mari, kita sudah sampai.”
Lift berhenti di lantai 44, dan rasanya jantungku ikut berhenti. Di salah satu ruangan di lantai ini, Ketua dari grup besar itu sedang menungguku.
Fakta yang sulit dipercaya itu membuatku menarik napas dalam-dalam sebelum mengikuti arahan keluar.
Saat ini aku bekerja di kafe dessert yang berada di lantai 2 gedung ini. Kafe internal milik perusahaan besar, dengan penjualan yang cukup baik.
Kafe itu dikelola oleh hyung yang dekat denganku, dan aku bekerja di sana atas sarannya, membuat kue dan dessert.
Memang pekerjaan ini tidak berhubungan dengan jurusan kuliahku, tetapi ternyata cocok dan aku menikmatinya.
Orang-orang yang kutemui di sini hanya bosku, rekan kerja, serta para karyawan perusahaan. Jangankan Ketua, melihat direktur saja aku belum pernah. Namun tiba-tiba aku mendapat panggilan dari Ketua.
Aku hanyalah pegawai kafe, bukan pemiliknya. Kenapa Ketua dari grup sebesar ini ingin menemuiku? Apalagi beliau adalah tokoh terkenal secara internasional. Lorong panjang dan luas ini terasa seperti galeri seni.
Bukan seperti lorong kantor biasa. Ada keramik putih di dalam kotak kaca seperti di museum, dan lukisan-lukisan indah di berbagai sudut. Rasanya seperti jalur penghubung ke dunia lain.
Saat sedang sibuk melihat sekitar, kami tiba di depan sebuah pintu besar. Sekilas saja sudah jelas bahwa itu adalah ruang Ketua. Seorang pegawai wanita di samping pintu mengangkat telepon dan memberi tahu bahwa aku telah datang.
“Nanti masuk, beri salam kepada Ketua, lalu duduk di tempat yang saya tunjuk dengan nyaman.”
“Baik.”
Nyaman? Jangankan merasa nyaman, bernapas saja mungkin sulit. Untungnya aku dididik dengan sopan santun sejak kecil.
Setidaknya aku tidak pernah dianggap tidak beretika. Pintu besar itu segera terbuka, memperlihatkan interior yang mewah.
Di sana duduk seseorang yang jelas adalah Ketua, menatapku. Hanya dengan duduk dan melihat saja, auranya sudah luar biasa.
Aku akhirnya mengerti apa yang dimaksud dengan kehadiran yang menekan. Aku menunduk memberi salam dengan sopan, lalu duduk di sofa di sebelah kanan sesuai arahan sekretaris.
“Selamat datang, Baek Eunwoo. Terima kasih sudah meluangkan waktu di jam istirahat.”
“Tidak, Ketua.”
Beliau mengetahui namaku, bahkan tahu bahwa ini adalah jam istirahatku. Wajahnya seperti jenderal dalam lukisan klasik, tetapi suaranya sangat lembut dan hangat.
Memang aura seorang Alpha berbeda, bahkan seiring bertambahnya usia. Namun di balik tatapan lembut itu, aku bisa merasakan bahwa beliau mengamatiku dengan sangat teliti.
“Mau jus atau kopi?”
“Tidak usah, terima kasih.”
“Baiklah.”
Di situasi seperti ini, mana mungkin aku bisa minum dengan tenang. Bisa-bisa tersedak. Aku berusaha tidak terpengaruh oleh tatapan tajamnya. Duduk tegak, menundukkan pandangan secukupnya, dan menunggu alasan mengapa aku dipanggil.
“Posturmu bagus. Sikap dan caramu berbicara sopan. Seperti yang kuduga, aku memang tidak salah menilai orang. Memang Omega Dominan itu berbeda.”
...?
Omega Dominan? Bagaimana beliau tahu?
Mendengar kata itu, mataku langsung membesar. Bagaimana bisa? Saat mengisi data karyawan, aku jelas hanya menulis bahwa aku Omega.
Tidak ada gunanya menyebut bahwa aku Omega Dominan karena hanya akan menimbulkan masalah. Aku yakin Omega Dominan lain juga berpikir sama.
Aku menatap Ketua dengan penuh tanya. Tidak mungkin seseorang seperti beliau menyelidiki latar belakang pegawai kafe seperti aku. Melihat tatapanku, beliau tersenyum tipis.
“Jangan salah paham. Aku mengetahuinya secara kebetulan. Kau pernah kehilangan dompet, bukan? Sekretaris tadi yang memeriksa isinya untuk mencari pemiliknya. Aku juga ada di sana saat itu.”
“Ah, begitu.”
Sekitar dua minggu lalu, dompetku memang sempat hilang. Untungnya ditemukan kembali dengan isi yang masih lengkap. Tapi ... bagaimana beliau tahu aku Omega Dominan?
“Di dalamnya ada kartu kesehatan. Di situ tertulis bahwa kau Omega Dominan. Itu sangat langka, jadi aku cukup terkejut.”
“… Kartu kesehatan.”
Aku tidak memikirkan itu. Tentu saja di sana tertulis statusku. Aku mulai panik, dan Ketua meminta sekretaris membawakan air. Setelah meminumnya, aku menarik napas perlahan.
Benar. Aku adalah Omega Dominan.
Alasan aku bisa bekerja dengan normal, meskipun secara fisik jelas terlihat seperti Omega, adalah karena aku memiliki kemampuan yang tidak dimiliki Omega biasa: aku bisa mengendalikan feromonku sepenuhnya.
Sebagai Omega Dominan yang sangat langka, aku bisa menyembunyikan aromaku dengan sempurna. Aku juga tidak mudah terpengaruh oleh feromon Alpha, bahkan saat masa heat. Aku tidak membutuhkan penekan karena aku bisa mengontrol semuanya sendiri.
Kemampuan ini membuatku tidak mudah didominasi oleh Alpha, berbeda dengan Omega biasa yang sering mengalami diskriminasi. Bisa hidup tanpa tekanan seperti itu saja sudah merupakan keberuntungan besar.
Selain itu, aku juga memiliki kecerdasan dan kondisi fisik yang lebih baik. Karena itu, banyak penelitian mencoba menggunakan Omega Dominan sebagai dasar pembuatan obat atau vaksin, meskipun tidak mudah karena setiap individu berbeda.
Namun justru karena semua itu, aku memilih menyembunyikannya. Harapan orang menjadi terlalu tinggi, dan banyak yang mencoba memanfaatkannya. Bahkan kasus penculikan pun sering terjadi. Karena itu, banyak Omega Dominan berpura-pura menjadi Omega biasa.
Begitu juga denganku. Selama tidak mengganggu pekerjaan, tidak ada alasan untuk mengungkapkannya.
Karena itu, aku tidak mengerti mengapa Ketua memanggilku hanya untuk memastikan hal ini.
“Tentu saja aku tahu alasanmu menyembunyikan hal itu. Itu urusan pribadi, dan aku tidak berniat menyebarkannya. Jadi tenang saja.”
“Kalau begitu, bolehkah saya tahu alasan Anda memanggil saya?”
“Yah ... itu ….”
Wajahnya tampak sedikit ragu. Ada apa ini?
“Silakan bicara dengan nyaman, Ketua.”
Aku benar-benar penasaran sekarang. Setelah beberapa saat ragu, beliau akhirnya berbicara.
“Aku ... punya permintaan, meskipun ini sangat tidak sopan untuk diminta.”
“Permintaan? Dari Anda kepada saya?”
Aku benar-benar tidak mengerti. Apa yang mungkin diinginkan orang seperti beliau dariku?
Dengan tekad, beliau akhirnya berkata, “Maukah kau melahirkan anak dari cucuku?”
…?
🐾
🐾
🐾
konsep omega dominan kayak di If You Can series, ya? baru mulai udah dimintai hamil anak cucunya 😭🤚🏻
channel tele: hyelynxie

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.