Baby Scandal - Chapter 10

Hari ini hari pemeriksaan rutin, jadi aku datang ke rumah sakit lebih awal. Karena mereka bilang harus ada pendamping, kupikir tentu Kepala Sekretaris ruang direktur atau Ketua yang akan datang.

Namun orang yang menjemputku hari ini bukan kepala sekretaris maupun Ketua, melainkan Direktur Cha Juheon.

Aku benar-benar terkejut saat melihatnya turun dari mobil. Tentu saja, Juheon sendiri sama sekali tidak memedulikan reaksiku. Dengan ekspresi seolah semua ini hal yang wajar, ia langsung menyuruhku masuk ke mobil.

Melihatnya mengenakan masker dan sarung tangan membuatku sangat tidak nyaman. Entah ia tidak menyadari perasaanku atau memang tidak peduli, yang jelas ia tampak sangat nyaman dengan penampilan seperti itu.

Apa dia memang selalu berpakaian seperti itu saat keluar?

Sejak naik ke mobil Juheon, aku terus duduk dalam keadaan tegang. Karena perasaanku tidak nyaman, tubuhku pun ikut kaku hingga aku tidak bisa duduk santai selama perjalanan.

Jangankan menikmati interior mobil mewah ini, aku bahkan tidak punya ruang untuk memikirkan hal seperti itu.

Bagian luar maupun dalam mobil itu sangat bersih. Bukan hanya eksteriornya, interiornya pun jauh lebih bersih daripada kamarku. Aku tidak tahu pengharum apa yang digunakan, tetapi aromanya terasa mahal dan menyegarkan.

Harumnya memenuhi hidungku bersama udara yang bersih. Karena suasananya terlalu sunyi dan canggung, aku akhirnya memberanikan diri membuka percakapan.

“Direktur, maaf. Saya tidak tahu Anda datang sendiri, jadi saya tidak menyiapkan masker.”

“Tidak apa-apa. Saya sudah memakainya, bukan? Daripada membuat orang hamil yang sensitif merasa tidak nyaman, lebih baik seperti ini. Lagi pula saya memang selalu berpakaian seperti ini saat keluar, jadi tidak perlu dipikirkan.”

Ah ... jadi dia memang selalu seperti ini. Hebat juga.

Aku ingin bertanya kenapa ia repot-repot datang sendiri, tetapi aku tidak punya keberanian untuk sampai sejauh itu. Jadi sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, aku hanya diam sambil menanggung rasa canggung sendirian.

Hari ini kami mendengar detak jantung janin dan bahkan melihat gerakannya. Meski itu bukan anak yang akan kubesarkan sendiri, melihat kehidupan lain bergerak di dalam tubuhku dan mendengar detak jantungnya terasa sangat aneh.

Seharusnya Direktur Cha Juheon ikut melihatnya, tetapi ia menolak masuk sampai akhir.

Saat kutanya alasannya, ia menjawab bahwa melihat perutku, maksudnya kulit tubuhku yang terbuka, membuatnya tidak nyaman. Mengingat obsesinya terhadap kebersihan, alasannya memang tidak aneh dan cukup bisa dimengerti.

Setelah pemeriksaan USG selesai tanpa masalah, kami menerima pemeriksaan akhir. Di situlah dokter mengatakan sesuatu yang sama sekali tidak terduga.

“Feromon Alpha untuk janin kurang, maksud Anda ...? Kalau feromon Alpha ....”

Aku tidak mengerti bagaimana janin yang bahkan belum diketahui secondary gender-nya bisa kekurangan feromon.

“Yang dimaksud adalah feromon Alpha dari ayah biologisnya. Saat ini kadar feromon Omega dari ayah Omega normal, tetapi feromon dari ayah Alpha sangat kurang. Bahkan berada di bawah rata-rata.”

Dokter menjawab pertanyaanku dengan tenang. Setelah sibuk mengetik sesuatu di monitor komputer, ia mengangkat kepala dan memandangku serta Juheon yang duduk di sampingku.

Tatapan dokter di balik kacamatanya langsung tertuju pada Juheon. Menanggapi tatapan itu, Juheon malah merapatkan masker yang menutupi separuh wajahnya. Seolah sudah terbiasa dengan perilakunya, dokter melanjutkan pembicaraan tanpa memedulikannya.

“Saya sudah mendengar situasi kalian dari Ketua. Jadi saya bisa memahami kenapa keadaan janinnya seperti ini sekarang.”

“Namun terlepas dari kontrak apa pun, jika kalian sudah memutuskan untuk memiliki anak, maka sebagai wali, kalian tetap harus menjalankan tanggung jawab.”

Mendengar teguran dokter, Juheon sedikit menyipitkan sebelah matanya. Padahal menurutku ia tidak pernah lalai sebagai calon ayah. Bahkan menurutku ia sudah cukup perhatian.

Bukankah datang bersama ke rumah sakit seperti ini sudah menunjukkan bahwa ia peduli pada anak itu? Kadang-kadang ia juga bertanya apa ada makanan yang ingin kumakan dan membawakannya untukku.

Namun sekarang aku lebih penasaran apa yang akan terjadi pada bayi jika feromon Alpha kurang. “Kalau feromon Alpha kurang, apa akan terjadi sesuatu pada janinnya?”

“Hm, sederhananya masa ini sangat berpengaruh pada secondary gender janin di masa depan. Selain itu, untuk perkembangan otak dan fisik, feromon dari kedua orang tua sangat diperlukan.”

“Feromon membantu janin tumbuh sehat di dalam kandungan dan meningkatkan imunitas agar tidak mudah terserang penyakit.”

Ah, aku pernah membaca hal itu di buku sebelumnya. Anak yang menerima cukup feromon dari kedua orang tuanya selama sepuluh bulan kehamilan akan memiliki otak yang baik dan tubuh yang sehat.

Karena terdengar terlalu umum, aku hanya membacanya sekilas waktu itu. Namun jika dokter sampai menjelaskan seperti ini, berarti hal itu memang sangat penting. Aku benar-benar tidak tahu apa-apa.

“Feromon yang keluar dari tubuh Omega yang mengandung sudah cukup memberi pengaruh baik bagi janin. Masalahnya ada pada Alpha. Feromon dari ayah Alpha.”

“Karena tidak bisa memberi pengaruh secara langsung seperti Omega yang tubuhnya terhubung dengan janin, feromon itu harus dilepaskan secara sengaja dan diberikan terus-menerus.”

Diberikan terus-menerus ...? Aku berusaha mendengarkan setiap kata dokter agar tidak melewatkan apa pun.

“Pasangan normal atau pasangan menikah biasanya melakukan itu secara naluriah. Ada juga yang sengaja meluangkan waktu khusus demi memberikan feromon untuk janin.”

“Itu metode yang umum digunakan, tetapi tampaknya tidak cocok dengan situasi kalian. Melihat ekspresi kalian, sepertinya kalian bahkan baru tahu soal ini.”

“... Karena saya tidak bisa melepaskan feromon secara langsung ... saya harap Anda bisa memberi tahu metode lain.” Juheon menuntut jawaban dengan nada mendesak yang halus.

“Caranya sederhana. Metode terbaik tentu seperti yang saya katakan tadi, memberikan feromon secara langsung, tetapi itu tidak memungkinkan, bukan?”

“Jadi untuk situasi seperti ini, feromon Alpha Direktur bisa ditinggalkan pada pakaian atau benda-benda lalu diberikan kepadanya. Kalau menggunakan benda yang menyelimuti tubuh seperti mantel atau selimut, efeknya akan lebih baik.”

“Pada pakaian?” Dokter mengangguk menanggapi gumaman Juheon.

“Ya. Saat Omega yang sudah awakening atau memiliki pasangan memasuki masa heat, mereka secara naluriah mencari pakaian yang memiliki feromon Alpha pasangannya.”

“Metode ini dibuat berdasarkan kebiasaan itu, jadi efeknya cukup bagus. Menurut saya ini pilihan yang tepat.”

Menurutku juga itu bukan metode yang buruk. Memberikan feromon secara langsung jelas tidak cocok dengan situasi kami. Meski semua ini demi janin, tetap berbahaya jika aku terkena feromon Alpha secara langsung tanpa persiapan.

Walaupun aku Omega Dominan dan tidak mudah terpengaruh feromon, aku sendiri tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi jika seorang Alpha melepaskan feromon tepat di depanku. Jadi lebih baik berhati-hati.

Apalagi Juheon adalah Alpha Dominan. Tidak ada yang tahu kapan naluri Alpha Dominan seperti dirinya akan muncul.

Pada dasarnya Omega dan Alpha memang bereaksi terhadap feromon satu sama lain, jadi menurutku tidak perlu sengaja mengekspos diri pada feromon secara langsung.

“Ini benar-benar diperlukan demi janin, kan?”

“Tentu saja. Ini sangat penting untuk kesehatan fisik dan perkembangan kecerdasannya. Anggap saja seperti nutrisi.”

Nutrisi ....

Semua orang tahu kekurangan nutrisi bisa menyebabkan masalah. Aku sendiri tidak keberatan, tetapi dengan sifat orang ini, apa dia benar-benar mau memberikan pakaiannya kepadaku?

Kalau dia merasa jijik, mungkin aku harus menyarankan membeli barang baru lalu menempelkan feromonnya di sana.

“Meski saya meninggalkan feromon pada pakaian atau benda, bukankah efeknya akan jauh berbeda dibanding memberikannya secara langsung?”

“Daripada begitu, karena Baek Eunwoo adalah Omega Dominan, bagaimana kalau ia mencoba sedikit menurunkan pertahanannya saat menerima feromon saya ….”

“Menurunkan pertahanan berarti membiarkan dirinya rentan demi menerima feromon itu, bukan?”

“Kalau ia berusaha menahan feromon, tentu tidak akan ada efeknya. Memang hasilnya akan lebih lambat dibanding pemberian langsung, tetapi tetap jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.”

Dokter mengangkat bahu sambil menggeleng pada ucapan Juheon. “Kalau Anda khawatir karena masalah itu ... apakah Anda benar-benar merasa tidak nyaman karena hal tersebut?”

Dokter yang tadi berbicara lancar tiba-tiba mulai berhati-hati memilih kata. Ia memang tidak mengucapkannya secara langsung, tetapi jelas yang dimaksud adalah germaphobia Juheon.

“Bukan begitu. Kalau saya merasa tidak nyaman, tinggal menggunakan barang baru lalu menempelkan feromon saya di sana.”

“Hanya saja saya belum pernah berada dalam situasi seperti ini, jadi sempat sedikit bingung. Kalau begitu, kita lakukan dengan cara meninggalkan feromon pada pakaian atau selimut.”

Mendengar jawaban Juheon, dokter tersenyum puas.

“Anda membuat keputusan yang tepat. Ini akan memberi pengaruh baik bagi janin maupun Omega yang mengandungnya. Omega akan merasa lebih stabil.”

“Terlepas dari bagaimana kehamilan ini terjadi, kehidupan benar-benar tumbuh secara normal di dalam tubuh Baek Eunwoo, jadi ini bukan pilihan, melainkan keharusan.”

“Kalau begitu, Baek Eunwoo sekarang silakan pergi untuk menerima vitamin. Nanti Anda akan diarahkan di luar. Sementara itu, Direktur, bagaimana kalau Anda tinggal sebentar untuk membicarakan sisanya dengan saya?”

“Baik. Baek Eunwoo, setelah pembicaraan selesai saya akan menyusul ke sana.”

Aku terus mengangguk mendengar instruksi dokter dan Juheon, lalu mengikuti perawat yang membimbingku keluar.

Syukurlah …. Selain masalah feromon, janinnya tumbuh dengan baik. Selama sampai pemeriksaan berikutnya aku berhasil menyerap feromon Alpha Juheon sesuai instruksi dokter, semuanya akan baik-baik saja.

Namun entah kenapa itu justru membuatku gugup.

Sepanjang hidupku, aku belum pernah menyerap feromon Alpha milik siapa pun. Karena itu aku tidak bisa membayangkan perubahan apa yang akan terjadi pada tubuhku. Rasa takut terhadap sesuatu yang asing dan belum pernah kualami perlahan mulai muncul.

🐾

🐾

🐾

channel tele: hyelynxie

1.454 kata

Baby Scandal - Chapter 10

My Donation

Dukung translator

hye • Baby Scandal

dukung hye dalam bentuk donasi~ terima kasih juga udah baca pj hye dan selalu nunggu updatean-updatean pj hye ^o^

e-wallet lengkap ada di saweria, oke? channel telegram juga ada di saweria, silakan yang mau gabung, tetep patuhi rules ya, sayang <3.

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.