Sudah sepuluh hari sejak percakapan tentang ibu pengganti dengan Ketua. Ia memberiku waktu setengah bulan untuk mempertimbangkannya, tetapi aku justru berusaha keras untuk tidak memikirkannya. Saat sedang memikirkan cara menolak, aku mendapat pesan dari bibiku.
[Eunwoo, setelah kerja bisa telepon? Ada yang mau dibicarakan soal ibumu.]
Biasanya, apa pun yang terjadi, bibi selalu berusaha menyelesaikannya sendiri agar aku tidak khawatir. Karena itu, aku langsung merasa ada sesuatu yang mendesak. Aku bahkan naik taksi, sesuatu yang jarang kulakukan, dan segera pulang.
Bibi menyambutku dengan hangat. Setelah menyapa sebentar, aku masuk ke kamar ibu. Ia sudah tertidur setelah minum obat, ditemani nenek. Aku menatapnya lama sebelum kembali ke ruang tamu.
“Bibi, kenapa wajah Bibi pucat sekali? Waktu aku datang terakhir, tidak seperti ini.”
“Ah, tidak apa-apa. Hanya kepanasan saja. Cuaca sedang sangat panas.”
Bibi tersenyum cerah, seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi aku tahu itu tidak benar. Sejak kejadian kebakaran, dialah yang merawat ibu tanpa henti. Aku merasa bersalah membayangkan betapa lelahnya dia.
Aku menggenggam tangannya erat. “Bibi, jangan hemat listrik. Nyalakan AC saja. Aku akan kirim uang lebih.”
“Uang yang kau kirim saja aku sudah sulit memakainya. Jangan khawatir, demi ibumu juga, Bibi tetap mengatur suhu.”
Sejak kebakaran itu, ibu masih hidup dalam rasa sakit. Luka bakar parah membuatnya menjalani dua belas operasi. Perawatan dan obat terus berulang tanpa henti. Bahkan sinar matahari pun tidak bisa ia terima lagi.
“Bibi … sebenarnya ada apa? Kondisi ibu memburuk?” Aku langsung bertanya.
“Sekarang dia tidak bisa menahan rasa gatal. Sangat tersiksa.”
“… Sepertinya tubuhnya sudah mencapai batas.”
Aku menunduk. Tidak peduli seberapa banyak operasi dilakukan, rasa sakit itu tidak hilang.
“Eunwoo, dengarkan. Tadi pagi rumah sakit menghubungi. Ada donor kulit yang cocok.”
… Apa? Aku langsung mengangkat kepala. “Benarkah, Bi?!”
“Iya. Tapi … karena itu ….” Bibi menggenggam tanganku. “Kita harus menjual rumah ini.”
“… Menjual rumah?”
“Kalau kesempatan ini dilewatkan, belum tentu ada lagi. Ibumu sudah terlalu menderita.”
Masalahnya adalah biaya. Kesempatan sudah datang, tapi uang menjadi penghalang.
“… Bibi, lakukan saja operasinya.” Kata-kata itu keluar begitu saja.
“Rumah tidak perlu dijual. Kita lakukan operasinya.”
“Apa? Kalau tidak dijual, kita tidak sanggup membayar—”
“Soal uang, jangan khawatir. Aku bisa menyiapkannya.” Aku sendiri terkejut dengan ucapanku. Melihat ibu, nenek, dan bibi … aku tidak bisa mundur lagi.
“Eunwoo … dari mana kau dapat uang sebanyak itu?”
Aku tersenyum. “Sebenarnya aku mau bilang nanti, tapi … aku dapat pekerjaan baru. Aku direkrut ke kafe besar. Gajinya tinggi, ada uang kontrak juga.”
“… Benarkah?”
“Jadi, Bibi, percaya saja padaku. Telepon rumah sakit.”
“Eunwoo … ini benar-benar ….”
“Bibi, ini memang tugasku. Selama ini Bibi yang menanggung semuanya. Sekarang giliranku.”
Mata bibi mulai berkaca-kaca. Melihat itu, aku semakin yakin. Aku akan melakukannya. Mengandung … dan melahirkan anak itu.
Setelah menenangkan bibi, aku keluar sebentar untuk menenangkan pikiran. Ini bukan keputusan mudah. Tapi demi ibu … aku tidak punya pilihan.
Yang menggangguku justru satu hal.
Cucu Ketua itu … Cha Juheon.
Katanya, dia tidak tahan melihat barangnya berpindah tempat. Segala sesuatu harus tetap di posisi semula. Debu tidak boleh ada. Semua harus rapi dan presisi.
Disinfektan selalu dibawanya.
Di ruang kerjanya bahkan ada kamar kecil dan kamar mandi pribadi. Ia tidak pernah menggunakan toilet di luar rumah. Bahkan masuk saja bisa membuatnya merinding.
Ia tidak bisa makan bersama orang lain. Melihat orang mengunyah bisa membuatnya mual. Melihat pori-pori kulit orang saja membuatnya jijik.
Dia … seorang germaphobe ekstrem.
“… Hal seperti itu bisa diwariskan tidak, sih?” Aku menghela napas.
“Ini benar-benar atas persetujuannya, kan …?”
Kalau tidak, ini bisa jadi masalah besar. Tapi katanya, selama tidak ada kontak langsung, metode apa pun tidak masalah baginya.
“… Aku ini manusia, bukan barang.” Aku menggeleng pelan. Akhirnya, aku harus menelepon Ketua.
***
Ketua Cha tersenyum setelah menerima kabar itu. Di depannya duduk sang cucu.
Cha Juheon.
“Jadi dia setuju?”
“Ya. Bukankah ini kabar baik?”
Juheon tetap tenang. “Kalau dia menolak, cari saja yang lain. Ini hanya kontrak. Dia mendapatkan apa yang dia inginkan, kita juga.”
“… Mau bertemu dengannya?”
Juheon mendengus. “Tidak perlu. Dia hanya orang yang akan melahirkan anak.”
“Dominan! Dia Omega Dominan!”
“Bagiku, semua Omega sama saja.”
🐾
🐾
🐾
channel tele: hyelynxie

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.