Juheon menatap pria yang memancarkan aroma feromonnya sendiri dengan tatapan kosong, seolah terhipnotis. Merasakan aroma feromon diri sendiri dari tubuh orang lain itu rasanya aneh.
Apalagi ini bukan aroma yang menyebar terang-terangan, tapi meresap diam-diam ... ini jelas pengalaman yang asing. Sekarang, selain Juheon, tidak mungkin ada orang lain yang bisa mencium aroma feromon itu.
Ada fase tertentu pada tubuh Omega yang sedang hamil, di mana tubuhnya mengeluarkan aroma feromon pasangan Alpha-nya. Ini berbeda dari “marking” biasa oleh Alpha, ini adalah salah satu ciri awal kehamilan pada Omega.
Ini bukan seperti “feromon shower” yang bisa dicium orang lain, tapi hanya bisa dirasakan oleh Alpha yang menghamili Omega tersebut. Jika dari Omega itu tercium feromon miliknya sendiri, berarti Omega itu adalah pembawa anaknya.
Merasakan feromon Alpha sendiri dari tubuh omega asing adalah hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Juheon yang memiliki kecenderungan obsesif terhadap kebersihan bahkan mengira dirinya tidak akan pernah mengalami hal seperti ini, dan sudah pasrah.
Tapi seiring bertambahnya usia, dia butuh seorang anak. Bukan keluarga biasa, tapi penerus yang akan memimpin perusahaan besar yang ia jalankan.
Sejak ayahnya yang menjabat sebagai Wakil Ketua tiba-tiba meninggal, rasa cemas yang tersisa dalam dirinya semakin membesar. Tanpa anak, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada posisinya di masa depan.
Ia butuh pewaris untuk menguatkan kedudukannya dalam keluarga, tapi dia sama sekali tidak bisa membayangkan punya anak dengan cara normal.
Hanya membayangkannya saja sudah membuatnya muak. Bukan hanya harus berhadapan dengan wajah orang lain, tapi juga harus bersentuhan, bergulat, dan terpapar bau tubuh serta cairan orang lain ... itu benar-benar tidak bisa ia bayangkan.
Juheon merasa tidak sanggup menjalani proses menjijikkan itu. Apalagi harus memasukkan bagian tubuhnya ke orang lain? Bahkan jika harus disucikan seminggu penuh pun rasanya tidak akan cukup.
Meski awalnya ia menyerah pada ide itu, semakin lama ia semakin merasa kebutuhan akan pewaris itu mendesak. Dalam keadaan serba tertekan itu, kakeknya memberikan alternatif: ibu pengganti. mencari Omega dengan gen dominan, baik perempuan maupun laki-laki, untuk mengandung anaknya.
Itu ide yang bagus, tapi Omega yang terdaftar di sistem resmi tidak ada yang memuaskannya. Informasi tentang Omega surrogate dibatasi oleh hukum, hanya hal-hal minimum yang bisa diketahui.
Meski begitu, Juheon tetap bisa mencari informasi lebih dalam, namun tetap saja tidak ada yang sesuai seleranya. Akhirnya ia menyerahkan semuanya pada kakeknya karena merasa lelah.
Dan mengejutkannya, kakeknya berhasil menemukan Omega “Dominan.” Meski sedikit penasaran, Juheon tidak membaca berkasnya sama sekali. Ia hanya tahu bahwa Omega itu menerima pekerjaan ini demi ibunya yang sakit. Selain itu, ia tidak tahu apa-apa.
Dia tidak menyangka akan bertemu Omega itu secara langsung di wilayahnya sendiri.
“Kalau tidak salah dia bekerja di sini, ya? Kantin perusahaan?” Juheon mencoba mengingat informasi yang samar ia dengar, tapi tidak berhasil. Ia harus segera naik ke kantor dan memeriksa dokumen.
Ia pikir ini hanya soal adanya Omega yang menjadi ibu pengganti, tapi bertemu langsung dengan Omega itu membuatnya merasakan perbedaan emosi yang besar.
Sambil memikirkan itu, ia berjalan mendekat. Sedikit demi sedikit, hanya ingin lebih dekat sebentar. Tapi tanpa sadar ia sudah terlalu dekat.
Juheon berdiri tepat di belakang Omega itu saat Omega tersebut berbalik setelah menerima barang dari truk pengantar. Omega itu terkejut karena ada seseorang berdiri tepat di belakangnya.
Karena itu, Juheon dan Omega itu saling berhadapan dari jarak yang sangat dekat.
Wajah Omega itu terlihat jelas di depan matanya. Rambut cokelat muda yang sedikit acak-acakan karena habis berlari, wajahnya memerah, napasnya terengah-engah.
Kulit putihnya yang tanpa cacat terlihat berkeringat sedikit. Mata cokelatnya yang seperti kaca tidak menghindari tatapan Juheon.
“Ah, maaf, saya tidak sadar ada orang di belakang saya, jadi hampir menabrak. Terima kasih sudah membantu membawa kotaknya. Kalau tidak, mungkin akan jatuh.”
Juheon baru sadar bahwa tangannya tadi sedang menahan kotak yang hampir jatuh dari tangan Omega itu. Dan tanpa sadar, tangannya sempat menyentuh tangan Omega tersebut.
Ia langsung menarik tangannya kembali karena merasa tidak nyaman dengan kontak fisik itu. Omega itu juga segera merapikan kotaknya lalu pergi masuk ke gedung perusahaan.
Angin yang lewat membawa aroma samar, bersama dengan feromon Juheon yang tersebar halus. Semuanya terjadi sangat cepat.
Juheon hanya berdiri terpaku, menatap punggung Omega itu. “Kenapa dia masih bekerja seperti itu? Bukannya sudah dibayar? Itu melanggar kontrak, kan?”
Ia menatap telapak tangannya sendiri yang tadi bersentuhan. Anehnya, ia tidak merasa mual. tidak merasa jijik. Bahkan napas Omega tadi tidak membuatnya tidak nyaman.
Hal ini sangat aneh. Apakah ini efek feromon omega itu? Juheon tenggelam dalam pikirannya.
***
Di dalam kafe, setelah menata kue di etalase dan hendak masuk ke dapur, Aku merasa ada sesuatu lagi. Aku langsung berbalik cepat, tapi tidak ada siapa pun yang menatapku.
Apa-apaan ini ... kenapa aku jadi begini? Sejak hamil aku jadi aneh?
Beberapa hari ini aku merasa ada tatapan yang mengarah padaku, tapi aku tidak bisa memastikan apakah itu nyata atau hanya perasaanku saja. Setiap kali aku menoleh, tidak ada siapa pun.
Ini benar-benar menyebalkan.
“Ini juga gejala kehamilan? Di buku tidak ada yang bilang begini …, aneh.”
Aku baru berjalan 5 minggu, tapi tidak ada gejala seperti mual yang biasanya disebut di buku, malah yang muncul hanya sensitif seperti ini.
Tapi tetap saja melelahkan.
Awalnya aku sempat curiga apakah Ketua mengawasiku, tapi karena aku diizinkan bekerja sementara waktu, itu tidak mungkin. Aku mengusap perutku sambil masuk ke dalam kafe.
“Eunwoo, perutmu sakit lagi? Akhir-akhir ini sering pegang perut ya?”
“Ah, tidak, sekarang sudah agak mendingan.”
Jaei-hyung, pemilik kafe, menatapku khawatir. Dia belum tahu aku hamil, jadi wajar kalau dia merasa aneh dengan tingkahku.
Setelah inseminasi buatan, aku jadi sering mengusap perutku. Awalnya karena merasa aneh, lalu karena tidak percaya ada “bayi di sini”, lalu jadi kebiasaan.
“Maaf ya, kau tadinya mau istirahat karena sakit, tapi malah harus tetap kerja. Aku lagi cari orang pengganti, jadi sabar sedikit, ya.”
“Maaf, Hyung sudah banyak bantu aku, tapi tiba-tiba harus berhenti seperti ini. Tapi aku akan kerja keras sampai orang baru datang.”
Aku ingin tetap di sini sampai ada pengganti dan orang itu terbiasa. Itu juga waktu yang tepat untuk berhenti karena nanti perutku sudah mulai terlihat.
Aku tetap bekerja sambil mengurangi beban.
“Permisi, tuan Baek Eunwoo. Anda mau pulang sekarang?”
“… Iya?”
Baru saja aku keluar dari kafe dan hendak meninggalkan gedung perusahaan, seseorang memanggilku. Seorang wanita dengan penampilan rapi mendekatiku.
“Maaf mengganggu. Kalau tidak sibuk, boleh minta waktu sebentar?”
“Waktu?” Aku menatapnya waspada karena tidak mengerti maksudnya.
“Perkenalkan, saya sekretaris yang bertanggung jawab untuk Wakil Direktur Juheon. Beliau sedang menunggu Anda. jika Anda bisa meluangkan waktu sebentar, kami akan sangat berterima kasih.”
“Maaf? Siapa?”
Meskipun aku yakin tidak salah dengar, aku tetap bertanya ulang. Nama yang sama sekali tidak kuduga muncul dari mulut orang asing itu membuatku terkejut.
🐾
🐾
🐾
channel tele: hyelynxie

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.