Baby Scandal - Chapter 8

Hari ini entah kenapa terasa sangat kacau. Kondisiku juga tidak terlalu baik, ditambah pekerjaan yang tiba-tiba bertambah membuat banyak hal harus diperhatikan.

Aku sampai hampir kehabisan tenaga karena harus membuat dessert yang biasa dijual di kafe sekaligus menu tambahan yang diminta oleh Direktur.

Di tengah kesibukan itu, aku juga harus memastikan para tamu Direktur tidak merasa terganggu saat makan.

Memang sudah menjadi prinsip untuk memperhatikan reaksi pelanggan, apalagi kali ini adalah tamu Direktur, jadi aku lebih waspada. Untungnya, reaksi mereka terlihat cukup baik. Dari ekspresi mereka, tampak kepuasan, jadi aku bisa sedikit lega.

Seharian mencium bau telur dan mentega membuat perutku terasa mual, sampai aku harus memakai dua lapis masker saat memasak. Tapi melihat hasilnya, rasanya semua itu tidak sia-sia.

“Hah …, untung di sini ada angin, jadi agak lega.”

Begitu menyadari perutku terasa tidak enak karena bau makanan, aku langsung tahu ini pasti yang disebut mual di awal kehamilan. Selama ini aku baik-baik saja, jadi kupikir tubuhku kebal. Ternyata tidak.

Kalau kondisi seperti ini terus berlanjut, jangankan bertahan dua bulan seperti yang diminta Direktur, mungkin aku harus segera berhenti bekerja.

Katanya di internet, gejala ini akan semakin parah. Mengingat peringatan Direktur juga, aku harus lebih menjaga kondisi tubuh dan tidak sampai membahayakan janin.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Angin yang berhembus membawa aroma kayu yang segar. Aku menoleh melihat sekitar.

Tempat ini ... memang indah.

Tidak sebesar taman atap, tapi juga terlalu luas untuk disebut balkon. Lebih seperti taman teras di lantai ruang Direktur.

Meski sederhana, tata letaknya sangat rapi dan elegan. Lampu-lampu kecil di antara rumput membuat suasana semakin mewah. Batu-batu yang tersusun rapi membentuk jalan setapak, dan di sela kerikil berwarna lembut, bahkan ada aliran air kecil.

Benar-benar indah ….

Meja-meja yang mengingatkanku pada soban tradisional Korea juga sangat cocok dengan tempat ini.

Katanya tempat ini dibuat Direktur untuk melepas penat. Mungkin karena dia cucu Ketua, skalanya memang berbeda. Bagi penerus perusahaan terbesar di negara ini, mungkin hal seperti ini biasa saja, tapi bagiku, semua ini terasa mengagumkan.

“Hm …, rumah Kyuho juga dulu sangat mewah, tapi rasanya berbeda ….”

Aku teringat rumah Kang Kyuho.

Saat dulu tinggal di sana, semuanya terasa luar biasa. Tapi sekarang kupikir ... dibandingkan tempat ini, itu bukan apa-apa.

Memikirkan itu membuatku juga teringat perlakuan dingin yang pernah kuterima di sana. Dan wajah Kyuho yang berubah dingin sebelum pergi ke Amerika tanpa sepatah kata pun.

Aku menutup mata erat-erat. Kenangan yang tidak ingin kuingat itu kembali muncul seperti duri di tenggorokan.

Menggelengkan kepala, aku segera membereskan piring kosong. Saat memindahkan wadah ke troli, tiba-tiba aku merasakan tatapan aneh.

Aku menoleh. “... Direktur? Tapi ... kenapa pakaiannya begitu?”

Tidak salah lagi, itu Cha Juheon.

Dia mengenakan pakaian seperti baju pelindung, dan menatapku dengan ekspresi angkuh seperti biasa. Sambil berjalan, dia menyemprotkan disinfektan ke orang-orang yang selesai makan, bahkan menyuruh mereka berkumur.

Aku sampai terdiam.

“Serius ... dia tidak apa-apa melakukan itu ke tamu dari perusahaan lain?”

Anehnya, orang-orang itu terlihat sudah terbiasa. Yang lebih mengejutkan lagi ... penampilan Direktur.

“Itu ... baju hazmat, bukan?” Aku benar-benar ternganga melihatnya menyemprotkan disinfektan ke mana-mana.

Dia benar-benar berlebihan. Tanpa peduli dengan pikiranku, dia menaikkan maskernya dan berjalan mendekat.

“Selamat sore, Direktur.”

“Baek Eunwoo. Terima kasih atas kerja keras Anda hari ini. Maaf memesan secara mendadak. Orang-orang itu ribut minta makanan sebelum rapat. Merepotkan.”

Dia mendecak pelan, lalu kembali menyemprotkan disinfektan ke arah orang-orang yang sudah pergi.

Aku buru-buru memakai masker lagi. “Kalau tidak salah, saya hanya meminta Anda menyiapkan makanan, bukan?”

Dia bertanya sambil melihat sekeliling. “Maaf?”

“Saya bertanya kenapa Anda berada di sini. Saya sudah mempekerjakan staf untuk melayani, jadi apa alasan Anda tetap di tempat ini?”

“... Karena saya yang bertanggung jawab atas makanan.” Aku menjawab dengan jujur.

“Meskipun ada staf, tetap harus ada yang bertanggung jawab. Saya perlu memastikan tidak ada masalah, dan melihat apakah rasanya sesuai.”

“Begitu. Lalu, di mana pemilik kafe?”

“Bos?” Aku tanpa sadar mengulang pertanyaan.

“Ya. Bukankah lebih baik pemilik yang datang, bukan pegawai?”

“Bos sedang di kafe. Menjelang pulang biasanya justru lebih sibuk, jadi beliau tidak bisa meninggalkan tempat.”

“... Begitu.” Dia mengangguk pelan.

“Kalau begitu, Anda juga sebaiknya segera kembali. Kerja bagus hari ini.” Nada bicaranya terasa aneh ... seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Ah, Baek Eunwoo.” Dia memanggilku lagi saat aku hendak pergi. “Anda sudah pindah rumah?”

“Ya. Untuk sementara saya tinggal di apartemen dekat rumah sakit yayasan, agar lebih mudah kontrol sampai melahirkan.”

“Begitu. Pasti cukup merepotkan. Tapi itu karena Ketua sangat menantikan cicitnya.”

“Tidak apa-apa. Justru saya merasa lebih tenang karena dekat dengan rumah sakit.”

“Bagus kalau begitu.”

Setelah itu, dia langsung pergi. Aku hanya bisa menatap punggungnya. Satu hal yang kupikirkan saat itu … aku tidak ingin bertemu dia lagi.

Dari dalam ruang rapat, Juheon menatap Eunwoo melalui dinding kaca. Hari ini pun tidak ada rasa jijik sama sekali. Bahkan ada aroma manis.

“Ini benar-benar aneh ….”

Bagaimana mungkin wajah orang yang selama ini terasa menjijikkan ... kini terasa menyenangkan?

“... Apa karena dia mengandung anakku?”

Dia benar-benar tidak mengerti. Karena itu, dia merasa perlu berkonsultasi dengan dokter. Dan hari ini, dari hasil pengamatannya ... kondisi Eunwoo terlihat tidak baik.

Beberapa kali dia terlihat menahan mual, memegang mulut, bahkan memukul dadanya.

“... Keras kepala juga.” Juheon menghela napas. “Padahal sudah diberi kelonggaran ….”

Dia memanggil sekretaris. “Bagaimana dengan yang saya minta kemarin?”

“Sudah ada hasilnya. Ada cukup banyak kandidat. Semuanya berpengalaman.”

“Baik. Siapkan wawancara. Pastikan semuanya selesai secepatnya.” Juheon akhirnya memutuskan untuk turun tangan sendiri.

Baginya, yang terpenting hanyalah satu hal. Anak yang ada di dalam kandungan Baek Eunwoo. Dan untuk itu … dia tidak akan membiarkan satu kesalahan pun terjadi.

🐾

🐾

🐾

semangat mikirnya, pak direktur 😌

channel tele: hyelynxie

936 kata

Baby Scandal - Chapter 8

My Donation

Dukung translator

hye • Baby Scandal

dukung hye dalam bentuk donasi~ terima kasih juga udah baca pj hye dan selalu nunggu updatean-updatean pj hye ^o^

e-wallet lengkap ada di saweria, oke? channel telegram juga ada di saweria, silakan yang mau gabung, tetep patuhi rules ya, sayang <3.

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.