“Baiklah, anak-anak, kalian pergi dulu ke mobil. Papa dan Daddy akan menyusul nanti bersama Bliss.”
“Iyaaa, siap~” jawab Grayson dengan suara merdu yang hampir terdengar seperti sedang bernyanyi, lalu berjalan pergi dengan santai.
Ashley memperhatikan punggung putranya yang semakin menjauh sambil bergumam pelan, “Aku jadi penasaran, hal aneh apa saja yang dia masukkan ke kepala Bliss.”
“Jangan selalu memandang Grayson dengan prasangka seperti itu, Ash.” Meskipun gumaman Ashley sangat pelan, Koi tetap mendengarnya dan langsung menegurnya.
“Anak itu hanya sedikit kurang peka dan terlalu penasaran. Sejauh ini dia juga tidak pernah menimbulkan masalah besar.”
Meski Koi membelanya, wajah Ashley tetap tanpa ekspresi. Ia melirik ke arah tempat putranya tadi menghilang sebelum berkata.
“Ya. Itu karena kau mengendalikannya dengan sangat ketat.” Koi terdiam, tidak mampu berkata apa-apa.
Ciri paling menonjol yang membedakan alpha dominan dari sifat lainnya adalah feromon mereka. Feromon milik alpha dominan memberi mereka kekebalan dan kemampuan regenerasi yang jauh lebih unggul, sehingga mereka hampir kebal terhadap penyakit umum serta tidak mudah terpengaruh oleh alkohol maupun obat-obatan terlarang.
Selain itu, mereka menua dengan sangat lambat dan memiliki umur yang sangat panjang.
Karena itulah, para alpha dominan sering kali dikagumi oleh banyak orang dari sifat lain, sekaligus ditakuti oleh mereka.
Namun, feromon yang membuat mereka istimewa itu juga merupakan racun bagi diri mereka sendiri. Jika tidak dilepaskan secara teratur, feromon tersebut akan menumpuk di dalam tubuh, menyerang otak, dan menyebabkan gangguan fungsi.
Jika keadaan itu terus berlanjut, feromon tersebut akan berubah menjadi racun yang dapat membuat mereka kehilangan kewarasan atau bahkan meninggal dunia.
Untuk mencegah kemungkinan terburuk itu terjadi, para alpha dominan harus secara berkala melepaskan feromon mereka, dan cara yang paling efektif sekaligus paling mudah adalah melalui hubungan seksual.
Karena itu, kebutuhan untuk melepaskan feromon demi menghindari kegilaan dan kematian kerap dijadikan alasan yang ‘sah’ untuk membenarkan gaya hidup bebas para alpha dominan.
Anak-anak Ashley pun tidak terkecuali. Sayangnya, selain Bliss, semua anak yang lain merupakan alpha dominan yang sangat kuat. Grayson, Stacy, dan Larien bahkan telah memiliki mata ungu sejak lahir.
Karena itulah, Ashley harus mengendalikan feromon mereka dengan jauh lebih ketat. Ia selalu berusaha memastikan agar anak-anak yang tumbuh dengan kekosongan emosi itu, akibat pengaruh feromon mereka sendiri, tidak sampai melukai orang lain.
Namun, tampaknya masih ada hal-hal yang tidak dapat diubah oleh kehendak manusia. Mengingat kembali kejadian bertahun-tahun lalu, saat anak-anak mereka masih kecil dan hampir saja membunuh Koi, Ashley tak kuasa menahan diri untuk tidak menghela napas panjang.
Ia menutup mata sejenak, mengusap dahinya, lalu berkata dengan suara rendah kepada Koi yang menatapnya dengan cemas.
“Aku akan menjemput Bliss. Kau tunggu di sini.”
“Ya.”
Meninggalkan Koi di tempat itu, Ashley melangkah lebar menuju ruang pesta. Waktu sudah hampir tengah malam, tetapi tempat pesta masih dipenuhi musik keras dan hiruk-pikuk percakapan.
Tak lama kemudian, Ashley menemukan Bliss. Setelah itu, bersama anggota keluarga lainnya, mereka masuk ke mobil dan pulang ke rumah.
Setelah tidur nyenyak sepanjang malam dan sempat menikmati es krim favoritnya, Bliss baru mulai menangis keesokan paginya.
***
“Waa … waa … waa! Mataku sudah tidak bisa terbuka lagi!”
Tangisan Bliss yang memilukan membuat Koi kebingungan, sementara para kakaknya justru tampak sangat terhibur. Mereka berkerumun di sekeliling adik mereka, memperhatikan wajahnya dengan saksama.
Salah satu matanya, yang kemarin dipukulnya sendiri dengan sekuat tenaga, kini memar dan bengkak.
“Huhu … waa … waa ….”
“Jangan menangis lagi, Bi. Semakin kau menangis, matau akan semakin bengkak.”
“Waa … waa … waa … waa!”
Koi sudah mencoba berbagai cara untuk menenangkan Bliss, tetapi tangisannya justru semakin keras. Setelah memberi tahu Ashley, Koi menenangkannya, mengganti pakaiannya, lalu membawanya sarapan. Namun, bocah kecil itu tetap terisak tanpa henti.
“Hiks … hiks … hiks ….”
Akhirnya, setelah kembali ke kamar, melihat putra bungsunya masih terisak sambil menggosok mata bengkaknya dengan kepalan tangan, Koi menghela napas pasrah.
“Tidak apa-apa, Bliss. Daddy sudah bilang, kalau kau berhenti menangis, matamu akan lebih cepat membaik.”
“Hiks … hiks … hiks ….”
Mendengar kata-kata Koi, bocah kecil itu berusaha menahan tangisnya. Napasnya masih tersengal, tetapi keadaannya tidak banyak berubah.
Menyadari bahwa Bliss sudah berusaha keras untuk berhenti menangis, Koi hanya bisa menatapnya dengan ekspresi sedih.
“Ayo, Bi. Makan permen karamel ini.”
Koi menyodorkan camilan itu untuk mengalihkan perhatian anak itu. Bliss meliriknya sekilas, lalu segera memalingkan wajah.
“Bi, jangan begitu. Coba saja sedikit, ya?”
Meskipun nada Koi manis dan membujuk, Bliss tetap tidak bergeming, namun Koi menyadari hal itu. Bertentangan dengan kepalanya yang keras menoleh, mata bocah itu diam-diam mengarah ke permen tersebut.
Berusaha menahan tawa, Koi bertanya lagi dengan nada lembut dan membujuk, “Ini permen karamel favoritmu, apak kau ingin mencobanya?”
Bliss menelan ludah. Rasa sakit, ketakutan, dan kesedihan seketika hilang; pikirannya kini hanya dipenuhi oleh permen karamel. Diam-diam, Bliss melirik sekeliling, mencuri pandang lagi ke arah permen itu.
Saat Koi membuka bungkusnya dan menaruh permen di telapak tangannya, Bliss tetap diam, seolah sedang merenung.
Tentu saja, keraguan itu hanya berlangsung sekejap. Bliss perlahan meraih permen tersebut, seluruh tubuhnya seolah otomatis menghadap ke Koi.
Mulut kecilnya tanpa sadar sedikit terbuka, hampir menetes. Bliss cepat-cepat menyeka mulutnya, meraih permen dari tangan Koi, dan langsung memasukkannya ke dalam mulut.
“Enak sekali!”
Rasa manis itu menyebar di seluruh mulut Bliss, seketika mengangkat suasana hatinya. Melihat anaknya memegangi pipinya dengan kedua tangan sambil tersenyum bahagia, Koi akhirnya menghela napas lega dan tersenyum kecil.
“Langsung merasa lebih baik setelah memakannya, kan?”
Menanggapi pertanyaan Koi, Bliss segera mengangguk, lalu membalas, “Daddy, boleh minta satu lagi?” Menatap mata anaknya yang penuh harap, Koi tersenyum hangat.
“Tidak, itu tidak boleh.”
Wajah Bliss langsung muram karena kecewa. Sesuai dugaan, trik itu tidak berhasil.
Biasanya, Koi jarang membiarkan Bliss makan camilan karena khawatir giginya bolong, jadi permen hari ini adalah kesempatan istimewa.
Kemarin ia sudah banyak makan es krim dalam kondisi serupa, sehingga kemungkinan mendapat camilan lagi hari ini sangat kecil.
Meskipun matanya bengkak seperti katak, Bliss perlahan mulai mengisap permen itu, menikmati setiap gigitannya agar kesempatan ini tidak sia-sia.
“Haaa.”
Ia mengira dirinya makan dengan sangat lambat, tapi permen itu cepat meleleh di mulutnya. Bliss kembali menundukkan bahunya dengan lesu. “Hidupku sungguh suram.”
“Apa yang kau katakan?”
Sebelum Koi sempat memulihkan rasa terkejutnya, terdengar ketukan di pintu. Ia menoleh dan melihat Ashley berdiri di sana.
“Waktunya, Koi.”
“Oh, ya.”
Koi berdiri canggung. Ashley seharusnya sudah berada di tempat kerja. Satu-satunya alasan dia masih di sini adalah karena tamu penting akan segera datang.
Memikirkan perlunya segera berganti pakaian dan bersiap, Koi pun harus mengalihkan pembicaraan.
“Bi, hari ini kita kedatangan tamu yang sangat penting. Tolong diam saja di kamarmu, ya?”
“Tamu?” tanya Bliss kebingungan atas informasi yang tak terduga itu, dan Koi mengangguk sebagai tanda mengiyakan.
“Bi sedang kurang sehat hari ini, jadi diam saja di kamarmu dan istirahat. Kalau butuh apa-apa, bilang saja ke April.”
Setelah memberikan beberapa petunjuk lagi kepada putranya, Koi menepuk kepalanya dan keluar dari kamar.
Begitu Koi menutup pintu, ia tak sengaja menghela napas, dan seketika sebuah pertanyaan muncul di benaknya.
“Bagaimana keadaannya? Bagaimana Bliss?”
“Oh, ya. Anak itu sekarang lebih tenang. Sepertinya dia akan baik-baik saja.”
Setelah mengatakan itu, ia sedikit mengerutkan dahi. “Bliss bilang kalau hidupnya terlalu suram.”
“Apa?” Ashley juga mengerutkan alisnya, terkejut oleh pernyataan itu.
“Aku juga tidak tahu, tidak tahu dari mana dia belajar kalimat itu.”
Melihat Koi menggelengkan kepala dan menghela napas, Ashley termenung sejenak sebelum cepat-cepat mengganti topik.
“Ayo, sudah larut.”
“Ya.”
Koi meraih tangan Ashley yang terulur, bergegas mengejar langkah panjangnya, dan baru ingat untuk bertanya, “Tamu yang datang hari ini … sangat penting, kan?”
Ashley menjawab singkat, “Ya, tentu saja.”
“Oh, begitu.” Koi mengangguk, sambil diam-diam meninjau kembali informasi yang disampaikan Ashley kemarin.
Tamu yang datang hari ini adalah bangsawan dari Inggris, kabarnya termasuk Duke dan Duchess saat ini beserta putra sulung mereka, pewaris keluarga, total tiga orang. Itu semua yang diungkapkan Ashley, membuat Koi tak bisa menahan rasa gugupnya sedikit.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.