~Vol. 3 Chapter 12.1 – Kehidupan yang salah arah
Mata itu tampaknya memiliki jiwanya sendiri. Jika tidak, bagaimana mungkin ia bisa mengeratkan cengkeramannya di leherku? Tak seorang pun melihat ke arahku, tetapi pada saat yang sama semua orang seperti melihat ke arahku.
Dengan kata lain, mulai kemarin aku menjadi badut. Aku adalah tokoh utama sebuah drama yang membawa kebahagiaan bagi tiga puluh orang di ruang kelas persegi panjang kecil ini. Tentu saja, akhir drama ini tragis. Sayang sekali aku tidak punya 'Damien' yang melindungiku.
Alasan terbesar kenapa aku jelas merasakan perubahan suasana yang nyata ini adalah Park Haon dan Im Yoongi.
Sebenarnya aku sudah menduganya. Jadi ketika aku masuk kelas dan duduk, aku sengaja tidak menyapa mereka berdua terlebih dahulu.
“……”
Sebelum duduk, aku diam-diam memperhatikan mereka dari atas sampai bawah. Apakah mata juga menempel di bagian belakang kepala? Aku punya firasat kuat bahwa mereka berdua tengah melihat ke arahku, tapi aku tidak melihat apa pun. Akhirnya, Park Haon berbalik dan memberi salam terlebih dahulu. Im Yoongi mengikuti dan memiringkan kepalanya sedikit.
"Hai."
"Ya, hai."
Salam singkat. Baru setelah itu aku bisa duduk.
Meski begitu, mereka berdua sesekali menoleh untuk berbicara denganku selama waktu istirahat. Kebanyakan di antaranya adalah cerita ringan dan tidak ada yang istimewa. Selalu. Tetapi aku masih merasakan dinding tipis dan bening yang menunjukkan bahwa mereka menjaga jarak dariku.
Sebaliknya, orang yang berinisiatif untuk berbicara lebih banyak kepadaku adalah Oh Yeonjun.
Oh Yeonjun terus menoleh ke belakang untuk menatapku seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi kemudian melihat ke arah belakang kelas dan cepat-cepat menoleh ke depan. Tidak hanya sekali atau dua kali.
…Gila
Aku bertanya-tanya kenapa dia terus menoleh ke belakang seperti itu, tetapi segera mengerti. Di belakang adalah tempat duduk Go Yohan.
"Dasar bodoh."
Aku mengumpat, cukup keras hingga bisa kudengar. Api kecemburuan dalam diriku berkobar hebat.
Go Yohan dilahirkan untuk dicintai, dan jelas dimaksudkan untuk memandang rendah orang lain. Pada akhirnya, di antara ketiga bersaudara itu, yang paling mirip ayahnya adalah Go Yohan, yang memiliki sifat genetik yang tidak dapat dilampaui oleh anak-anak lainnya. Go Yohan mirip ayahnya. Mungkin karena itulah selalu ada banyak orang di sekitarnya, yang sebagian besar ingin dekat dengan Go Yohan.
Sebenarnya cukup banyak orang yang iri dengan Go Yohan. Tetapi kebanyakan orang hanya iri dengan apa yang dimilikinya. Mungkin aku satu-satunya orang yang tidak menyukai Go Yohan sejak pertama kali kita bertemu tanpa alasan. Bahkan Han Junwoo menyukai Go Yohan. Go Yohan memiliki pesona yang aneh.
Namun, kupikir aku akan lebih baik darinya di kelas ini. Aku yakin menjadi siswa terbaik di seluruh sekolah dapat menjadi suatu bentuk kekuatan di sini. Tidak, aku yakin karena aku belum pernah mencapainya sebelumnya. Tetapi butuh waktu lama bagiku untuk menyadari bahwa gelar siswa terbaik di seluruh sekolah tidak lebih dari sekadar target.
Sayangnya, tidak seperti Go Yohan, aku tidak beruntung dalam hubungan. Dan hasilnya terbukti saat ini.
Kenapa teman sekelasku menyukai Go Yohan yang berasal dari kelas bawah?
Sejak masuk di kelas ini, Go Yohan tidak melakukan apa pun. Dia tidak berusaha membentuk kelompok, dia tidak mengejek guru, dia tidak menjadikan siapa pun sebagai target intimidasi.
Namun Go Yohan tetap menjadi pusat perhatian di kelas. Tentu saja tidak sepertiku, dramaku adalah komedi. Go Yohan tidak peduli dengan siapa pun. Bahkan membuka sekantong makanan ringan dengan suara keras dan mengunyahnya tidak dianggap sebagai hal yang buruk. Tetapi bagaimana dia bisa secara alami duduk di posisi tertinggi?
Saat keraguan mulai merayapi diriku, Go Yohan mengambil tindakan. Dan dramaku pun dimulai.
Suara kursi besi yang ditarik berderit. Seperti yang diduga, suara itu datang dari belakang kelas. Dalam situasi ini, satu-satunya yang bisa membuat keributan tetaplah Go Yohan. Suara langkah kaki bergema. Suara seseorang menghindar juga terdengar. Suara itu berhenti tepat diagonal di depanku.
Aku tahu pasti siapa sumber suara itu jadi aku tidak mendongak. Sama sekali tidak ingin mengangkat kepala. Tetapi mendengarkan berada di luar kendaliku.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Im Yoongi duduk di depanku, bingung, dan menjawab.
"Hah? Hm, ya."
“Bisakah kau memberi ruang untukku?”
Melalui pandanganku yang kabur, aku melihat tangan Go Yohan. Masih tangan yang sama dengan rosario yang masih terikat di pergelangan tangannya. Tangan yang membawa rosario dengan malas memasukkannya ke dalam saku celana seragamnya. Aku menundukkan kepalaku lebih rendah lagi, berpura-pura tengah belajar dengan penuh perhatian.
"Oh, maaf. Duduklah di sini."
"Terima kasih."
Di posisi mana kau harus meminta maaf karena menyerahkan tempat dudukmu? Dan di posisi mana kau dapat dengan santai mengambil tempat duduk orang lain dan tetap mendapatkan permintaan maaf?
Go Yohan duduk di kursi Im Yoongi, meletakkan tangannya di atas meja. Namun paksaan Go Yohan tidak berhenti di situ.
"Hei, kau sedang apa?"
Terdengar suara gemerisik karena gerakan yang tergesa-gesa. Yang kulihat hanyalah bayangan yang menutupi buku latihan. Suara Go Yohan yang lembut menjadi lebih dalam.
“Ada sesuatu yang ingin kukatakan pada Kang Jun.”
"Oh maaf! Silakan katakan saja."
Lalu terdengar suara kursi bergerak, suara melengking yang mengerikan saat bergesekan dengan lantai. Aku mendengar langkah kaki Park Haon dan Im Yoongi mengikuti satu sama lain melalui lorong. Langkah kakinya tidak jelas, seakan-akan diseret di lantai. Nostalgia terasa di setiap langkah.
Akhirnya, tak ada seorang pun di dekatku lagi. Dan baru pada saat itulah Go Yohan memanggilku.
“Kang Jun.”
'Kang Jun'. Sesaat hatiku hancur.
Apakah perlu mengatakannya dengan jelas? Dadaku terasa sesak dan aku tidak dapat berkata apa-apa. Aku juga tidak ingin menunjukkan kepada orang lain. Seseorang yang tertimpa beban yang begitu berat.
Aku tidak menjawab, hanya menggores kertas di depanku dengan pensilku.
“…….”
Melihatku tak menjawab, bayangan Go Yohan jatuh di atas meja dan membesar. Kehangatan Go Yohan menyentuh telingaku. Lalu dia berbisik lembut.
“Angkat kepalamu.”
“…….”
Aku tidak lebih dari seekor anjing. Seekor anjing dalam hierarki. Kenapa aku harus mengangkat kepalaku bahkan di saat-saat seperti ini? Tetapi kepalaku terangkat secara alami seperti refleks tanpa syarat dari anjing Pavlov. Meski begitu, aku tidak mau menatap Go Yohan, jadi aku tetap menundukkan mataku.
Area di bawah mataku mulai berdenyut. Panas dan menyakitkan.
Go Yohan dengan ekspresi puas di wajahnya, perlahan menegakkan punggungnya. Kedua tangannya terkepal tepat di depan mataku dan dia berbicara lagi.
“Kang Jun, apa yang sedang kau lakukan?”
Jika suatu pertanyaan diulang dua kali, maka itu bukan lagi pertanyaan melainkan perintah yang harus dijawab.
“……Sedang mengerjakan tugas.”
"Ah—."
Punggung Go Yohan sedikit miring ke satu sisi. Matanya memandang sekeliling kelas seolah-olah dia sungguh penasaran.
“Teman-teman, apa yang baru saja kulakukan?”
"Tidak ada?"
Sebuah suara terdengar dari suatu tempat, rasa ingin tahu jelas terlihat dalam jawabannya yang serak.
“Tapi kenapa… semua orang melihat ke arahku?”
Go Yohan tidak pernah memberikan jawaban yang diharapkan orang lain. Dia memiringkan kepalanya, sambil menunjuk dirinya sendiri. Dan kalimat berikutnya yang akan dimengerti oleh siapa pun yang mendengarnya adalah sebuah perintah.
“Aku tidak suka ditatap.”
Ha ha.
Terdengar suara tawa pendek. Aku tetap diam, menundukkan mataku dan menatap ke arah meja. Tubuh Go Yohan yang miring kembali ke posisi semula. Terdengar suara berisik ketika gelang rosario-nya membentur meja.
“Kang Jun-ah. Aku punya sesuatu untuk ditanyakan, bisakah kau menjawabnya?"
"…Ya."
Jika aku tidak menjawab, dia akan marah lagi seperti sebelumnya. Aku berusaha agar suaraku tidak bergetar saat menjawab.
“Dengan siapa kau makan siang akhir-akhir ini?”
"Apa?"
“Kang Jun-ah. Kau bilang kau akan menjawab, kan?
Sialan.
Aku menggenggam pensil di tanganku. Sial, ini sungguh di luar dugaanku.
“…Aku… makan… sendirian.”
"Ah, benarkah?"
Suara Go Yohan tiba-tiba menjadi luar biasa cerah. Lalu dia terkekeh pada dirinya sendiri, dengan sangat terang-terangan. Tawa menghina semacam itu mengalir begitu saja, lalu dia berpura-pura menutup mulutnya dengan tangan. Tangan lainnya melambai di udara seolah mencoba membenarkan.
“Tidak, tidak. Aku tidak tertawa, hanya saja akhir-akhir ini aku tidak bisa makan bersamamu, aku merasa sedikit sedih."
“Sudah kubilang. Kakiku sakit, lenganku juga sakit, dan aku tidak punya cukup waktu untuk belajar, jadi aku tidak bisa turun untuk makan."
Aku berbohong terang-terangan.
Karena aku tidak punya pilihan lain. Go Yohan menginjakku. Katanya jangan dilihat, tapi kalau terus begini, apakah orang-orang di sekitar tidak akan mengikuti situasi ini? Bisik-bisik dan diskusi yang heboh pun sampai di sini. Harga diriku yang kecil, meski hancur, tidak pernah mati.
"Oh?"
“…”
Aku meremas pensil itu sekuat tenaga hingga tampak seperti akan patah, tetapi aku berusaha untuk tetap menampilkan wajah tenang. Kehidupanku yang penuh kebohongan di usia sembilan belas tahun belum berakhir. Namun Go Yohan yang senang menginjak-injak orang lain menghancurkan semua harapanku.
“Kapan kau mengatakan itu?”
“…Saat pertama kali aku terluka.”
“Tidak, kau belum pernah mengatakannya padaku.”
Go Yohan terkekeh sambil menutup mulutnya.
"Apa ini? Kau sudah mendengarnya untuk pertama kali.
"Berhentilah berbohong."
“Apakah kau tidak ingat?”
Aku terdiam. Aku mencoba menyerang balik Go Yohan dengan ganas. Karena menyerang balik adalah pertahanan terbaik.
“Dan kalau bicara soal berbohong, bukankah kau jauh lebih baik dariku? Berbohong adalah hobimu.”
"Ya. Jika kau akan berbohong, kau harus sama baiknya denganku. Kau terlalu kentara."
“Aku tidak berbohong. Kau hanya tidak ingat, jadi aku akan mengatakannya lagi. Aku sibuk."
“Kebohongan yang tidak diketahui orang lain bukanlah kejahatan, tetapi kebohongan yang terlihat jelas adalah kejahatan.”
Kata Go Yohan sambil mengangkat bahunya dengan nada menggoda.
“Kau bersalah.”
Lalu dia menutup mulutnya dan terkikik lagi. Apakah itu menarik? Bajingan. Mataku terasa panas, aku merasa seperti akan gila. Tanganku yang memegang pensil gemetar. Berbeda denganku, Go Yohan dengan tenang melepaskan tangannya dan menepuk kepalaku.
“Mulai sekarang, aku akan membelikan makanan untukmu. Makanlah apa yang kubelikan untuk makan siang. Berhenti makan makanan aneh. Paham?"
“…”
“Katakan 'Ya'.”
Tangan yang membelai kepalaku masih terasa lembut dan tak nyaman. Aku terus menatap lantai dan menelan ludah. Tetapi nampaknya yang tertelan bukanlah ludah, melainkan kata-kata yang ingin kuucapkan. Aku mencoba mencabut kata-kata yang ingin bersembunyi di sudut terdalam hatiku.
"Benci."
“…”
Gerakan membelai kepalaku tiba-tiba terhenti. Wajah Go Yohan yang menyeringai berubah dingin.
Tangan yang bergetar di atas kepalaku perlahan meluncur turun ke telinga dan pipiku. Ketika tangannya menyentuh telingaku, aku mundur, tetapi tangannya seakan sengaja melingkari telingaku.
Aku menjatuhkan tanganku yang tidak memegang pensil dan mengepalkannya di atas pahaku.
Sialan, kau bajingan.
Tangan Go Yohan kemudian meluncur ke pipiku dan menepuknya pelan. Tepukan yang cukup antara bercanda dan serius.
“Apakah kau harus mengatakannya seperti itu?”
“…”
"Sangat menyedihkan.”
Siapakah yang sebenarnya menyakiti orang lain?
Aku tidak menanggapi pertanyaan Go Yohan. Aku menundukkan kepala, berpura-pura sedang menatap tajam ke pekerjaan rumah di hadapanku meski aku tidak bisa melihat apa pun. Aku berpura-pura sedang memecahkan suatu masalah, melingkari angka-angka dan menggarisbawahi huruf-hurufnya.
Go Yohan yang duduk di hadapanku tampak sedang menatapku atau tenggelam dalam pikirannya. Lalu tiba-tiba dia berdiri dan mendorong pintu kelas hingga terbuka dengan sentakan kuat.
Suara pintu ditutup begitu kerasnya sehingga kupikir jendelanya akan pecah. Secara refleks, aku menutup mataku.
Seluruh kelas tenang sampai istirahat berikutnya. Aku berusaha sekuat tenaga menahan emosiku yang memuncak. Baru ketika perhatian semua orang terhadap kejadian itu berangsur-angsur memudar, aku bergegas ke kamar mandi.
Semakin dekat aku ke sudut yang gelap dan lembab itu, semakin cepat langkahku.
Begitu aku membuka pintu kamar mandi, aku segera menguncinya. Lalu aku terjatuh ke lantai.
…Hiks.
Aku menangis diam-diam.
Sekarang, segalanya sudah berakhir bagiku. Setelah Go Yohan meninggalkan kelas, tidak ada seorang pun di kelas yang bertanya apakah aku baik-baik saja. Sebaliknya, beberapa orang mengelilingi Go Yohan ketika dia masuk kembali ke kelas.
"Ada apa?"
“Hei, ada apa dengan suasana aneh ini?”
Hanya mendengar kata-kata itu saja, aku tahu. Aku benar-benar sudah selesai.
…Hiks.
Aku duduk di sudut kamar mandi, berusaha menahan air mata yang mengalir keluar, tetapi air mataku terus mengalir. Aku tak berani menyekanya dengan tanganku, takut mataku bengkak, takut orang-orang sadar kalau aku menangis.
Rey{+_+}619
Kelas bukan lagi tempat bagiku untuk melarikan diri. Tak seorang pun menyakitiku, namun tak seorang pun pula yang menyambutku. Di ruangan persegi itu, aku bagaikan pulau terpencil. Yang benar-benar membuatku ingin mati adalah roti lapis yang telah kumakan berulang-ulang selama beberapa minggu terakhir tiba-tiba muncul di hadapanku.
Saat itu jam makan siang, dan si pembuat onar tak lain adalah Go Yohan.
“Kau suka ini, bukan?”
Apakah dia bercanda? Kenapa? Kemarahan pun muncul dalam diriku.
Kenapa aku makan kue itu selama beberapa minggu terakhir? Siapa yang salah dalam semua ini? Niat orang yang memberiku kue ini sungguh licik sekali.
Di dalam kelas yang kosong, kursi di depanku tentu saja kosong. Itu berarti aku terpaksa berhadapan dengan Go Yohan. Aku melirik kue yang jatuh di hadapanku, tidak ingin memakan benda kering seperti spons itu sama sekali, dan menjawab.
"Tidak."
"Kau berbohong lagi."
Beraninya dia bertindak seolah tahu segalanya? Merasa suasana hatiku benar-benar tertolak membuatku frustrasi. Go Yohan mengambil kue yang aku singkirkan, dan mengupas kulitnya perlahan-lahan, seperti sebelumnya.
“Aku sudah menyiapkan sesuatu yang lezat untuk kau makan. Paham?"
Napasnya lembut tetapi penuh tekanan saat dia bersandar di mejaku. Kue coklat di tangannya didekatkan ke wajahku. Aroma manis itu begitu kuat, sampai-sampai membuatku merasa seperti tercekik. Aku menolak untuk melihat ke atas. Siapa yang tahu apa yang dia lakukan dengan kue itu? Bermain dengan makanan adalah metode klasik bullying. Aku jelas tidak akan memakannya.
Namun hal itu jelas membuat Go Yohan kesal.
"Ini."
“…”
“Apakah kau meremehkan kebaikan orang lain?”
Ancamannya terdengar lembut, tetapi setiap kata tajam seperti duri.
Aku menahan keinginan untuk berdiri dan meninju mukanya, lalu mengabaikan kata-katanya yang penuh tipu daya.
“Ah, abaikan saja. Itu menyakiti orang sampai mati."
Terdengar suara tawa mengejek. Cara bicaranya yang 'menyakiti' hanya dangkal, tapi nadanya penuh penghinaan.
Sialan.
Aku menggertakkan gigi dan berusaha bersikap acuh tak acuh. Ya, benar. Tolong, berhenti mengguncangku, pergilah. Kalimat itu terus terngiang di pikiranku ribuan kali, begitu kerasnya hingga tak tertahankan.
Dan benar saja, Go Yohan tetaplah Go Yohan.
"Jika tidak dimakan, buang saja. Apa lagi yang bisa dilakukan?"
Jari-jarinya yang ramping terbuka di hadapanku. Potongan plastik transparan yang kusut di tangannya juga diluruskan olehnya, sehingga menimbulkan suara keras. Kue coklat itu kehilangan penyangganya dan miring di bawah telapak tangannya yang besar. Itu adalah langkah yang disengaja. Kue itu miring dan terjatuh di buku latihanku.
"Benar?"
“…”
Bajingan.
Aku menatap buku latihanku yang kini penuh coklat, lalu memejamkan mata. Baunya yang manis dan menyengat memenuhi hidungku dan membuatku tercekik. Saat aku membuka mata, kenyataan tetap tidak berubah. Buku latihan yang ternoda coklat itu masih ada di sana.
Brengsek. Aku tidak tahan lagi.
“Hei, apa yang sedang kau lakukan?”
Aku tak repot-repot membalas Go Yohan, langsung mengambil buku latihan di meja dan berdiri. Aku berjalan melewati deretan meja tanpa menoleh ke belakang. Saat aku lewat di belakang kelas, aku melihat tong sampah di depan cermin.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Aku langsung membuang buku latihan yang sedang kupegang ke tempat sampah.
Ketika aku tiba-tiba mengangkat kepalaku, aku melihat bayangan Kang Jun di cermin. Wajahnya selalu tenang. Ya, wajahku tidak menunjukkan kelemahan apa pun. Ia menyembunyikan fakta bahwa aku masih tersentuh oleh Go Yohan, bahwa satu kalimat darinya saja sudah cukup untuk membunuhku sedikit demi sedikit.
Wajah dingin yang sempurna. Kerja bagus, Kang Jun. Kau masih baik-baik saja. Kang Jun tidak menunjukkan kesedihan atau kemarahan, hanya berjalan langsung ke pintu belakang dan membukanya.
Namun begitu aku melangkah keluar, mataku bertemu dengan Lee Seokhyun dan Kim Seokmin yang berdiri di lorong.
“…”
Mungkin tidak ada momen yang lebih memalukan dari itu. Saat aku bertatapan dengan dua orang yang sedang tidak yakin dengan apa yang sedang mereka pikirkan, aku segera pergi. Tidak, lebih tepatnya aku mencoba untuk melarikan diri.
"Kau mau pergi ke mana?"
Sebuah tangan kekar mencengkeram bahuku, memutar tubuhku dengan kuat.
Sial, tubuhku yang lemah tidak sanggup menahan kekuatan Go Yohan. Aku ditarik kembali ke dalam kelas. Dalam prosesnya, sebuah kancing kemeja terlepas, memperlihatkan salah satu bahuku.
"…Ah."
Aku menyadari bahwa sekalipun aku ingin keluar, aku tidak bisa. Tubuh tak berguna ini selalu menuruti setiap gerakan Go Yohan. Aku selalu menjadi yang tidak diunggulkan dalam hal kekuatan. Wajahku memerah karena malu. Aku segera memegang bajuku yang robek, menundukkan kepala dan menggigit bibirku.
Brengsek.
Lengannya yang panjang terulur ke bahuku. Terkejut dengan tindakan itu, aku secara refleks meringkuk ketakutan.
Tangannya menciptakan hembusan angin kencang saat dia membanting pintu kelas. Di tengah gema suara itu, aku berusaha menjaga penampilanku agar tidak takut, sambil menegakkan kepalaku dengan kaku.
Bahkan di saat-saat terakhir, aku masih mencoba berjuang.
Go Yohan menatapku, perlahan menutup matanya, lalu membukanya lagi. Sama sepertiku, dia menggigit bibirnya begitu keras hingga masuk dalam sudut mulutnya. Ia mencengkeram bahuku lagi, jari-jarinya yang panjang mengencang seakan hendak menusuk dagingku, lalu mengguncang tubuhku kuat-kuat seakan mendesakku.
“Aku bertanya padamu kemana kau akan pergi.”
“…”
“Ketika kau berbicara dengan seseorang, kau harus menanggapinya, sial… Bukankah begitu?”
“…”
“Kenapa kau mengabaikan orang-orang ketika mereka berbicara kepadamu?”
Dulu, kaulah yang pertama kali mengabaikanku. Aku berusaha menjaga badanku tetap stabil, tidak goyah. Tubuhku secara naluriah bergoyang sehingga aku mencoba melangkah maju untuk menjaga keseimbangan. Saat aku bergerak, tangan Go Yohan yang sedang mengguncang tubuhku tiba-tiba berhenti.
Inilah kesempatannya. Aku segera memutar tubuhku agar dapat lepas dari cengkeramannya.
Jari-jari seperti cakar yang menempel di bahuku terlepas dari tubuhku. “Uh…” Kudengar Go Yohan berseru pelan. Karena takut akan dicengkeram lagi, aku segera mundur selangkah.
Aku harus menjawab dengan cerdik. Jangan sampai aku terjebak dalam perangkap Go Yohan. Orang ini hanya sedang menghitung cara untuk menjatuhkanku. Dia bisa mengkhianatiku kapan saja dan itulah yang terjadi.
Seperti bagaimana orang memperlakukan Han Taesan, aku juga bisa menjadi target berikutnya. Aku tidak akan membiarkan diriku dipandang rendah. Aku harus melindungi diriku sendiri, apa pun yang terjadi. Aku mengetuk-ngetuk pahaku pelan-pelan guna menenangkan diri.
Aku harus menjawab dengan cerdik.
“Bukankah semuanya sudah berakhir?”
Pada akhirnya, aku memilih jalan pengecut.
Aku tidak dapat melewati Go Yohan, jadi aku membungkuk lebih rendah lagi. Saat menoleh ke belakang, aku melihat dua sosok yang kabur di balik pintu kaca buram. Suaraku langsung menurun.
"…Apa?"
“Bukankah ini sudah berakhir? Kau bilang begitu."
Aku mengerti. Jadi, silakan berhenti di sini. Jangan menyeretku lebih jauh. Silahkan pergi. Daripada diganggu terus menerus, menghentikan semuanya di sini akan menjadi pilihan yang lebih baik.
“Kupikir itu artinya kita harus kembali menjadi orang asing…”
'Jadi berhentilah menggangguku. Aku akan mengabaikanmu dan menjauhimu. Aku akan meninggalkan hidupmu. Sama seperti aku pernah dengan tegas mengakhiri hubunganku dengan Han Junwoo, mengakhiri hubunganku dengan Go Yohan dalam waktu setengah tahun saja tidak akan sulit.'
“Tolong, jangan ganggu aku lagi."
“…Hah!”
Go Yohan yang sedari tadi diam mendengarkan, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Tetapi wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun yang lucu.
Dia tertawa tak percaya, memperlihatkan senyuman aneh. Tanpa berkata apa-apa lagi dia hanya mencibir seperti itu. Aku merasakan sedikit kemenangan dalam hatiku. Bukannya aku berharap menang melawan Go Yohan, aku hanya ingin sisa hari di sekolah berlalu dengan damai.
Aku terus berpikir, mencoba mencari cara untuk menghindari pelecehan lebih lanjut. Lebih baik diabaikan daripada menderita hinaan orang lain karena tindakannya. Aku hanya perlu menjaga semuanya sebagaimana adanya. Aku hanya harus bersabar selama setengah tahun lagi.
Aku membuka mulut untuk bicara sambil menoleh ke belakang, memastikan bahwa dua orang lainnya masih berdiri di luar pintu.
Masih dua bayangan yang sama. Sialan, berapa lama mereka akan berdiri di sana? Aku berusaha menjaga suaraku tetap pelan, secukupnya agar tidak terdengar dari balik pintu.
“Aku tahu aku membuatmu tidak nyaman.”
Jadi tinggalkan aku sendiri. Jika kau berhenti bersikap seperti itu, aku akan melupakannya, seperti yang telah kau lakukan.
“Aku mengerti maksudmu. Aku akan melakukan apa pun yang kau inginkan. Aku tidak akan menimbulkan masalah atau mengatakan apa pun lagi. Oke?"
Karena tidak dapat menahan diri, suaraku tanpa sadar menjadi sarkastis dan berduri.
Bahkan dalam situasi ini, harga diriku masih belum mengizinkanku menundukkan kepala. Namun Go Yohan tidak marah, dia hanya diam saja. Tolong, katakan sesuatu. Jari-jari kakiku tergulung di dalam kaus kakiku.
Tiba-tiba dari luar pintu, aku mendengar suara langkah kaki bergerak. Saat perhatianku sedang terfokus kembali, Go Yohan tiba-tiba menarik kursi di dekatnya dan melemparkannya dengan keras ke lantai.
“…”
Suara keras itu membuatku menggigil. Semua fokus ada di depan. Tentunya orang-orang di luar mendengar suara itu. Namun Go Yohan, seperti biasa, tidak peduli.
Dia tersenyum lagi, senyum yang gila sekaligus menyeramkan. Rasa dingin menjalar ke tulang belakangku, dan tanpa sadar aku mencengkeram ujung kemejaku.
Setelah melampiaskan amarahnya dengan melempar kursi, Go Yohan menghela nafas dan mengangkat kepalanya.
"Oh, begitu."
Apa?
“Kau melakukan ini dengan sengaja, bukan?”
“…”
“Oh, benar. Kau melakukannya dengan sengaja."
"Dengan sengaja? Apa yang sedang kau bicarakan?"
Go Yohan menunjuk ke arahku, menyeringai mengejek, lalu mundur beberapa langkah. Tangan yang tidak diarahkan kepadaku, naik ke lehernya, lalu membelai poni keningnya. Go Yohan mengusap lembut rambutnya dengan jari, sambil menatapku seolah mengerti segalanya.
“Kau benar-benar pandai membuat orang merasa buruk, ya? Wah, dasar gila.”
"Apa yang sedang kau bicarakan? Aku tidak pernah membuatmu merasa seperti itu.”
“Sialan, apa yang kau lakukan padaku sekarang!!!”
Tiba-tiba Go Yohan berteriak. Aku membuka mataku lebar-lebar, dan refleks menolehkan kepalaku. Masih bayangan gelap yang sama. Sialan. Aku mengerutkan kening. Siapakah pembicara sebenarnya di sini? Aku merendahkan suaraku, berusaha tetap tenang dan berkata.
“Pelankan suaramu. Ada orang lain di luar.”
“Apakah kau khawatir seseorang akan mendengar? Apakah kau takut?"
Go Yohan melangkah mendekat, bayangan besarnya menutupi wajahku.
“Apakah kau takut sekarang?”
"…Benar. Jadi, bisakah kau berbicara lebih pelan?”
Go Yohan tertawa lagi. Dia menatapku dari atas ke bawah, matanya tidak bersahabat.
“Bahkan dalam situasi ini, kau masih memikirkan orang lain.”
“…”
“Bahkan dalam situasi seperti ini, masih saja bersikap sombong… Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka, kan?”
Wajah muram Go Yohan dipenuhi dengan ejekan.
“Kang Jun.”
“…”
Sialan, Kang Jun ini. Kang Jun itu. Kang Jun!
Aku menatap Go Yohan seperti ingin membunuhnya. Rasanya sangat pahit dan tak berdaya. Bagaimana dia bisa membalikkan keadaan semudah itu? Aku ingin berteriak padanya tentang betapa mudahnya dia menggangguku, tetapi harga diriku tidak mengizinkannya. Aku takut kalau jawabanku 'ya', aku akan menangis di depan Go Yohan.
"Katakan padaku yang sebenarnya."
Go Yohan terus bicara dengan nada sarkastis, sama sekali tidak menyadari perasaanku.
“Kau benar-benar ingin berbaikan denganku, kan?”
“…”
“Kau takut dengan situasi saat ini, tetapi harga dirimu tidak akan membiarkanmu menundukkan kepalamu, kan?”
Hatiku jatuh ke dasar jurang. Kata-kata yang ingin aku katakan tersangkut di tenggorokanku, aku hanya bisa menggerakkan bibirku tetapi tidak dapat mengatakan apa-apa. Mustahil. Ini tidak mungkin. Lebih baik diam daripada terlihat bodoh. Aku mencoba menutup mulutku, menatap Go Yohan.
“Sayang sekali, tundukkan saja kepalamu sedikit.”
Melihat aku tak berkata apa-apa, Go Yohan seolah mengira dirinya menang. Sudut bibirnya yang gemetar melengkung membentuk senyum puas. Go Yohan membungkuk, menatap lurus ke arahku dan berkata dengan berani.
“Tepat seperti yang kupikirkan.”
Aku ditekan oleh Go Yohan dan perasaan aneh dari dua orang di seberang pintu. Aku tidak bisa membiarkan Go Yohan mempermainkanku seperti itu. Aku memutuskan untuk memainkan kartu terakhirku. Aku merendahkan suaraku, cukup pelan hingga hanya Go Yohan yang bisa mendengar.
"Tidak."
Go Yohan berhenti sejenak.
“Sejujurnya, aku tidak mengerti.”
Aku perlahan mengangkat kepalaku, memperlihatkan wajah tanpa ekspresi yang sangat aku banggakan. Rasa bangga yang kuat mencengkeramku. Ya, itulah penyakit bawaanku.
“Kau bilang semuanya sudah berakhir? Kenapa kau baru sadar kalau kau menyesalinya sekarang? Kaulah yang bergantung.”
Go Yohan terdiam, tampak sedikit bingung. Aku menyadari kekurangannya pada saat itu. Saat Go Yohan masih berdiri tertegun, aku segera berbalik. Aku harus melarikan diri sebelum aku tertangkap. Mungkin punggungku terlihat lebih menyedihkan daripada yang kukira, tetapi itu masih lebih baik daripada tertahan.
Saat aku membuka pintu, aku melihat Lee Seokhyun dan Kim Seokmin menempel di jendela.
Dasar orang-orang bodoh.
Aku melewati mereka dan bergegas keluar menuju lorong. Meski begitu, aku tetap takut kalau-kalau Go Yohan akan mengejarku. Aku pun semakin cepat melangkah, meskipun telapak kakiku terasa sakit. Tubuhnya terhuyung ke depan.
"…Sialan."
Kalau ketahuan lagi, entah kritikan apa lagi yang akan kudengar, omelan apa lagi yang akan kudapat. Memikirkannya saja membuatku takut. Aku tidak tahu apakah aku lebih takut pada kehancuran Go Yohan atau kritikannya. Tetapi yang kutahu aku sangat takut hingga tidak dapat memutuskan.
Meski takut langkahku yang ceroboh terlihat orang lain, aku tak berani melambat. Ketika aku sampai di ujung lorong, tanpa sadar aku berbalik. Mungkin Go Yohan ada di sana.
“…”
Namun Go Yohan tidak mengejarku.
Dia tidak datang.
Seketika tubuhku terasa lelah. Kang Jun bodoh, bertingkah manja pada seseorang yang tidak peduli. Aku menatap lorong kosong itu sejenak, lalu melirik ke cermin. Bayanganku di sana tampak menyedihkan. Melihat ekspresi itu aku mengepalkan tanganku. Kalau saja di tanganku ada sesuatu, pasti aku sudah memecahkannya sekarang.
Karena tidak ingin melihat wajah bodoh itu lagi, aku pun memalingkan mukaku. Aku hendak melarikan diri dengan menuju tangga, tapi kemudian aku melihat wajah yang familiar. Shin Jaehyun. Dia beruntung, atau mungkin tidak beruntung. Shin Jaehyun mengangkat kepalanya dan melihatku berdiri di sana.
"Hah?"
“…”
Aku pasti kurang beruntung. Sial, sangat sial.
"…Sialan."
Aku meraih pegangan tangan dan hendak melangkahi Shin Jaehyun. Tidak peduli apa yang terjadi, hal-hal seperti ini selalu ketahuan. Sial, ini membuatku frustrasi. Tetapi yang lebih membuatku jengkel adalah kata-katanya yang lembut.
Shin Jaehyun sengaja menahanku saat aku lewat.
“Apakah kau menangis?”
"Tidak!"
Aku segera merespons. Aku menggunakan kakiku yang hendak melangkah ke bawah dan berteriak, lalu memejamkan mataku rapat-rapat. Sial, sial, sungguh memalukan. Aku hanya ingin jatuh dari tangga dan mati sekarang juga. Jawaban itu bahkan tanpa menangis membuat orang lain mengira aku menangis. Itu semua karena Shin Jaehyun tiba-tiba angkat bicara. Sungguh menyebalkan.
“Aku tidak menangis.”
Kang Jun yang terpantul di jendela jelas tidak meneteskan air mata. Tapi kenapa Shin Jaehyun mengira aku menangis? Aku mencoba tersenyum alami dan mengusap pipiku yang kering. Tidak mungkin aku menangis. Untuk menutupi kesalahanku, aku segera memperbaikinya.
“Mungkin kau salah lihat. Aku tidak menangis."
"Maaf."
Shin Jaehyun menarik tangannya dari lenganku dengan ekspresi bersalah di wajahnya.
"Itu benar. Jangan menangis."
“Terima kasih atas perhatianmu, tapi bolehkah aku pergi sekarang?”
“Apakah kau butuh bantuanku?”
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja."
“Aku akan membantumu.”
"Aku bilang tidak perlu."
Aku kesal dengan sikap Shin Jaehyun, dia terus melewati batas yang sudah aku buat. Aku mengerutkan kening, mengangkat tangan untuk menghentikannya, tetapi dia tetap mendekat dan memegang lenganku, mengabaikan penolakanku. Sungguh orang yang positif, tidak apa-apa. Sekarang aku mengerti kenapa orang-orang memanggilnya tipe orang yang kasar.
"Tidak apa-apa. Aku memang mencarimu.”
Apa? Aku mengerutkan kening karena bingung. Apa yang sedang dia bicarakan? Shin Jaehyun tiba-tiba mengeluarkan sekotak yoghurt dari sakunya dan memberikannya kepadaku. Aku bersandar, menatap kotak yoghurt dengan bungkusnya yang berwarna merah muda.
"Apa ini?"
"Yoghurt. Penutup makanan di sekolah hari ini.”
“….”
“Korea Selatan tampaknya tidak terlalu peduli dengan siswa yang memiliki alergi laktosa.”
“Kenapa kau memberikannya padaku?”
"Aku khawatir kau hanya akan makan roti lagi."
Terlepas dari reaksiku, Shin Jaehyun tetap tersenyum ramah dan terus berbicara.
“Ini untukmu.”
"Tidak perlu. Kau bisa memberikannya kepada orang lain."
Aku benar-benar tidak ingin makan. Tepat saat aku hendak menolak dan pergi…
“….”
Sungguh sial. 19 tahun sungguh malang. Aku tersipu dan memegang perutku yang tiba-tiba berbunyi. Aku belum makan apa pun untuk makan siang karena Go Yohan tiba-tiba muncul. Dan dia berhenti mengejarku.
"…Brengsek."
Ya, aku tidak layak diikuti lagi. Aku orang buangan. Aku menelan ludah dan menundukkan kepala, suaraku mungkin sedikit kasar.
“Aku tidak lapar.”
"Benarkah? Sayang sekali."
Shin Jaehyun tampak benar-benar menyesal, lalu memasukkan yoghurt itu ke dalam sakuku.
“Kalau begitu kau bisa memberikannya kepada orang lain. Siapa pun."
"Tidak. Kau simpan saja."
“Itu agak sulit.”
Dia pasti mempunyai lebih banyak teman daripada aku, namun dia masih mengatakan itu sulit? Aku, yang kini tidak punya siapa-siapa untuk diberi, berusaha tersenyum, menahan kekesalanku.
“Tidak, menurutku itu tidak sulit, Jaehyun.”
“Terima kasih padamu. Berikan saja pada seseorang. Jika kau tidak memakannya sekarang, itu akan rusak.”
"Kenapa?"
"Aku akan pergi ke kelas untuk membaca dengan tenang."
Ucap Shin Jaehyun sambil merapikan sakunya yang menggembung.
“Sudah hampir musim panas, produk susu mudah rusak.”
“Tapi sekarang tidak sepanas itu.”
“Ya, kurasa semuanya akan baik-baik saja sampai kau bertemu orang lain.”
Shin Jaehyun mengakhiri kalimatnya dengan senyuman. Senyumnya seolah-olah dia sudah mengambil keputusan, tidak berniat mengatakan apa-apa lagi. Aku melihat sakunya yang menggembung dan memutuskan untuk tidak berdebat lebih jauh dengannya. Buang-buang waktu saja. Aku tidak ingin peduli dengan Shin Jaehyun saat ini. Ya, itu hanya sekotak yoghurt.
"Baiklah."
“Ya, terima kasih.”
Kenapa dia berterima kasih padaku? Sungguh tidak masuk akal sampai-sampai aku hanya bisa menggelengkan kepala. Aku berbalik, berpegangan pada pegangan tangga, dan mulai menuruni tangga. Satu langkah, dua langkah, suara langkah kaki mendekat ke arah yang berlawanan denganku. Pada saat itu aku didesak oleh sesuatu dan tiba-tiba berbalik. Mulutku terbuka secara otomatis.
“Jangan pergi ke kelas.”
Mendengar kata-kataku, Shin Jaehyun berhenti. Dia pun menoleh ke arahku. Melihatnya lebih dekat, aku menyadari bahwa Shin Jaehyun cukup tinggi. Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benakku. Ya, pasti ada alasan kenapa dia selalu terlihat begitu tenang. Sama seperti anjing besar biasanya lebih tenang dan lembut daripada anjing kecil. Karena selalu yakin akan menang.
"Kenapa?"
“Di kelas ada Go Yohan dan teman-temannya.”
Mata Shin Jaehyun melebar, lalu perlahan tersenyum. Itu adalah senyuman yang sedikit tidak bisa dipercaya. Kenapa dia tersenyum seperti itu? Aku mengerutkan kening lagi.
“Bukankah kau temannya Go Yohan?”
“……”
Orang ini benar-benar tahu cara membuat orang terdiam.
“Terima kasih. Sepertinya ruang kelas bukan tempat yang ideal untuk membaca buku.”
“……Mungkin begitu.”
"Baiklah, baiklah."
Shin Jaehyun dengan lembut berbalik dan mulai berjalan. Dia melewatiku, menuruni setengah anak tangga lagi. Saat dia hendak mengubah arah, dia tiba-tiba mengangkat kepalanya.
"Kau mau ikut?"
“……”
“Aku akan ke ruang seni.”
Shin Jaehyun perlahan mengeluarkan kunci dari sakunya, lalu mengayunkannya di hadapanku seolah sedang pamer.
“Aku ketua klub seni, jadi aku punya kuncinya.”
“……”
Mungkin kalau sebelumnya aku tidak akan memperdulikannya dan terus saja menuruni tangga. Aku akan menolaknya dengan halus, sambil tetap menjaga sikap baikku yang palsu. Itu Kang Jun sebulan yang lalu. Tapi masalahnya, aku bukan lagi Kang Jun yang sama seperti sebulan yang lalu. Aku tidak pernah menyangka dunia bisa berubah semudah itu.
Eighteen's Bed - Chapter 12.1 - Vol. 3 Chapter 12.1 - Kehidupan yang salah arah
4.960 kata
Eighteen's Bed - Chapter 12.1 - Vol. 3 Chapter 12.1 - Kehidupan yang salah arah

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.