Sebenarnya Sunbae-lah yang merundingkan tarif Haewon. Sunbae mungkin sedang menjajaki kemungkinan, menganggap jumlah tersebut layak. Jika Hyun Woojin tidak menyukainya, cia akan menurunkan harganya, dan jika dia menyukainya, Sunbae akan menyesal karena tidak meminta lebih.
"Hubungi saja aku langsung."
"Apa itu berarti kau akan menjawab teleponku mulai sekarang?"
Haewon selama ini mengabaikan panggilan Hyun Woojin. Jika Haewon tidak menjawab, Hyun Woojin akan menghubungi Orkestra Han Kyung, dan Sunbae akan merundingkan tarifnya dengan pria itu. Hal ini lebih dari sekadar tidak menyenangkan bagi Haewon.
"Akan kujawab, jadi jangan hubungi mereka."
"Memangnya kenapa kalau aku menghubungi mereka?"
"Bukan masalah besar, tapi itu menjengkelkan."
"Kenapa ada begitu banyak orang yang menempel padamu dengan menyebalkan, Moon Haewon? Lingkungan sekitarmu sangat berantakan."
Dia hampir saja membalas bahwa Hyun Woojin adalah salah satu dari mereka, tetapi dia mengurungkan niatnya karena berpikir mobil ini tidak akan pernah jalan jika dia mengatakannya.
"Aku perlu membereskannya."
Dia berujar dengan nada yang penuh makna.
"Ayo jalan."
Setelah sempat tertunda, Hyun Woojin akhirnya menjalankan mobilnya. Hutan musim dingin yang tak ingin dikunjungi kembali oleh Haewon itu pun perlahan menjauh di belakang mereka.
Mereka berkendara dalam diam selama beberapa saat hingga tiba di depan apartemen.
"Berhenti di sini."
Mengabaikan upaya Haewon untuk turun, mobilnya justru masuk ke area parkir apartemen. Karena tidak ada ruang kosong, mereka terus berputar turun hingga ke lantai bawah tanah keempat. Lantai bawah tanah keempat yang remang-remang itu hanya terisi oleh beberapa mobil saja.
Dia memarkir mobil di tempat yang terpencil dan mematikan mesin. Tak lama kemudian, kesunyian menyelimuti mobil tersebut. Haewon memutar tubuhnya untuk mengambil biola dari kursi belakang. Hyun Woojin dengan santai merentangkan lengannya untuk menghalangi celah di antara kursi. Haewon mendongak menatapnya.
"Bukankah sebelumnya kau bilang aku tidak serius?"
"......"
"Hari ini, aku merasa ingin mulai serius dengan Moon Haewon."
"Aku tidak punya niat seperti itu."
"Apa kau sedang menjalin hubungan dengan seseorang?"
"Tidak."
"Kalau begitu baguslah. Aku tidak perlu menyingkirkan siapa pun."
"Apa yang akan kau bereskan?"
"Sudah kubilang tadi. Lingkungan sekitarmu sangat berantakan, jadi perlu dibersihkan."
"Itu bukan urusanmu."
"Sekarang jadi urusanku. Jika kau ingin tahu apa maksudku dengan menjadi serius, kau boleh menemui siapa pun yang kau mau."
"Sudah kubilang aku tidak punya niat untuk menjadi serius."
"Kau tahu apa arti kata 'hancur'?"
"......"
"Bagi kami, itu berarti menghabisi seluruh keluarga."
"......"
"Oh, tapi itu hanya berlaku bagi mereka yang telah melakukan kejahatan."
Merasa terintimidasi, Haewon merasakan pipinya disentuh lembut oleh pria itu. Hal yang paling buruk dari Hyun Woojin adalah tangannya yang hangat. Dengan tenang, dia mengucapkan kata-kata yang menunjukkan niatnya yang mengerikan. Haewon menatapnya dengan ekspresi jijik. Tangan yang tadinya hanya menyentuh ringan, kini telah menutupi pipi dan telinga Haewon sepenuhnya.
Dia memiringkan kepalanya dan mendekati Haewon. Haewon, yang mengerjapkan matanya perlahan tanpa menatap ataupun memalingkan wajah dari pria itu, akhirnya bersuara.
"Jangan."
"Jika memang begitu, seharusnya kau tidak tampil tadi."
"Sudah kubilang, jangan."
"Bukannya aku jadi bergairah setelah menonton itu," ucapnya dengan nada menenangkan, seolah sedang membujuk seseorang yang sedang merajuk.
"Apa kau mengatakan hal yang sama kepada Taeshin? Bahwa kau ingin mulai serius?"
"......"
Cengkeraman tangan yang melingkari leher Haewon melonggar, seakan dia merasa jijik karena nama Taeshin disebut bahkan dalam situasi seperti ini. Hyun Woojin menarik napas dalam-dalam.
Melihat dadanya yang naik-turun secara langsung ternyata sama efektifnya dengan taktik seringai sinisnya yang muncul di saat tepat. Haewon menatapnya dengan tegang.
"Kau tidak pernah mendengarkan orang lain, ya?"
"Apa menurutmu aku akan mendengarkanmu?"
"Kalau begitu, aku akan memaksamu mendengarkan."
"......"
"Moon Haewon, kau akan datang merangkak padaku dengan kedua tangan dan kakimu."
Dia membuka kunci pintu mobil seolah mempersilakan Haewon pergi. Haewon bergegas menyambar biolanya dan keluar dari mobil Hyun Woojin layaknya orang yang sedang melarikan diri.
Dentum pintu mobil yang dibanting bergema keras di area parkir bawah tanah. Tak lama kemudian, kesunyian yang mencekam memenuhi ruang yang ditinggalkan oleh suara itu.
Saat mobil Hyun Woojin melaju cepat meninggalkan tempat parkir, decit ban yang bergesekan dengan lantai terdengar tajam di telinga Haewon.
∞ ∞ ∞
Selama beberapa hari, Haewon tidak keluar dari apartemennya. Dia terus bermain biola sampai jari-jarinya sakit dan ujungnya membengkak merah, meski seharusnya kapalan di jarinya bisa meredam rasa sakit itu. Setiap kali dia menyelesaikan sebuah lagu dan terengah-engah, bisikan Hyun Woojin seolah bergema.
'Dia sudah mati.'
Haewon akan segera memainkan lagu lain dengan terburu-buru, dan saat lengannya terasa pegal hingga dia harus meletakkan bow-nya, Hyun Woojin seakan-akan ada di sana, berbisik di telinganya.
'Dia sudah mati.'
Haewon sama sekali tidak tertarik padanya. Benar-benar tidak. Dari ujung kepala sampai ujung kaki, Hyun Woojin sama sekali tidak menarik. Haewon tidak suka caranya bicara. Dia benci cengkeraman tangannya yang begitu kuat.
Dia tidak peduli pada rambut hitam pria itu yang mengingatkannya pada hutan musim dingin. Dia benci bagaimana mata dan rambut pria itu memiliki warna yang sama. Dia benci caranya menatap yang seolah-olah bisa menembus dirinya.
Dan yang paling da benci adalah tangannya yang hangat. Jari-jarinya yang panjang. Kelembutan konyol yang membuat pria itu melonggarkan cengkeraman karena ingat bahwa Haewon adalah seorang pemain biola—rasanya seperti secercah cahaya di dalam lubang tikus.
Haewon melewatkan satu hari penuh tanpa makan.
Sambil memegangi perutnya yang lapar, Haewon menggeledah isi lemari es. Sebuah botol air, bir, wortel yang sudah layu, dan roti berjamur teronggok di bawah cahaya lampu kuning.
Haewon menyalakan ponselnya. Rentetan panggilan tak terjawab langsung membanjiri layar. Meski dia tidak menyimpan nomor tersebut, dia mengenali digit terakhirnya sebagai nomor Hyun Woojin.
Pria itu sudah bersumpah akan membuat Haewon datang merangkak padanya seperti anjing. Setelah mengatakan hal itu, tidak mungkin dia akan menelepon duluan. Sunbae juga menelepon berkali-kali. Haewon pun menelepon balik Sunbae.
— Haewon.
Sunbae menjawab dengan suara terkejut sebelum nada deringnya sempat berbunyi lama.
"Aku lapar."
— Apa? Apa katamu?
"Aku lapar."
— Kau di mana?
"Di rumah."
Haewon yang kelaparan bersandar pada pintu lemari es dan merosot turun. Baru setelah dia duduk berjongkok, dia menyadari bahwa ini bukan hanya sehari; sudah tiga hari berlalu. Ujung jarinya yang bengkak dan sensitif akibat bermain biola tanpa henti selama tiga hari, terasa berdenyut sakit bahkan karena gerakan sekecil apa pun.
— Haruskah aku ke sana?
"Bawakan aku sesuatu untuk dimakan."
— Mau makan apa?
"Apa saja."
— Kau ada di apartemen sebelah Gedung Donghwa, kan?
"Iya."
Haewon menutup telepon. Dia membiarkan dirinya terduduk di lantai setelah merosot tadi. Sambil duduk dengan wajah yang ditenggelamkan di lutut, dia menatap kosong ke depannya. Debu telah menumpuk di bawah wastafel. Ruangan itu tampak seolah-olah sudah tidak dihuni selama berbulan-bulan.
Dia sama sekali tidak ingin melakukan hal seperti itu. Menyukai pria yang dicintai oleh temannya yang sudah meninggal terasa lebih buruk daripada sebuah perselingkuhan, bahkan lebih keji daripada pengkhianatan terhadap keluarga sendiri. Menjalin hubungan gelap mungkin masih lebih baik. Segala bentuk dosa terasa lebih mendingan daripada merasa tertarik pada seseorang yang pernah dicintai oleh temannya yang memilih untuk bunuh diri.
Mungkin semua ini tidak akan menjadi masalah jika saja Taeshin tidak meninggal. Hyun Woojin bahkan tidak memiliki andil sepeser pun atas kematian Taeshin.
Hyun Woojin mengaku tidak tahu mengapa Taeshin mengambil keputusan ekstrem tersebut. Taeshin tidak pernah mengatakan kepada Haewon bahwa dia ingin mati atau berhenti menjalani hidup.
Meski Taeshin sering mengalami cinta bertepuk sebelah tangan, dia bukanlah tipe orang yang suka mengasihani diri sendiri. Dia tidak pernah memandang dirinya sebagai tokoh utama dalam sebuah tragedi.
Jika dia menyukai seseorang, dia akan hanyut dalam perasaannya. Jika orang itu tidak menyukainya, dia akan menerimanya. Jika orang itu membalas perasaannya, dia akan bahagia meskipun hanya dimanfaatkan. Cinta tak terbalas yang dialami Taeshin bukanlah sesuatu yang ekstrem atau tragis.
Namun, dia pasti sangat menyukai pria itu. Mengingat kembali masa lalu, sepertinya dia menyukai pria itu lebih dari siapa pun yang pernah ada. Meski begitu, Taeshin tidaklah sebodoh itu sampai rela mengakhiri hidupnya hanya demi seorang pria.
Hyun Woojin sempat menduga bahwa mungkin Taeshin memiliki lingkungan pertemanan yang buruk, atau karya seni Taeshin mungkin telah disalahgunakan untuk pencucian uang, sehingga dia memilih kematian karena takut terseret ke dalam sesuatu yang mengerikan.
Dia mengatakan bahwa Taeshin memiliki sebuah buku harian. Jika mereka membacanya, mungkin mereka akan mengerti alasan di balik kematiannya. Namun, pria itu justru membuangnya begitu saja. Tanpa membacanya, tanpa berkabung, tanpa sedikit pun keinginan untuk mengenang.
Tidak, kau tidak menyukai orang ini, kan...?
Kau tidak mungkin begitu mencintainya sampai ingin mati, kan?
Haewon bertanya kepada mendiang Taeshin, meskipun dia tidak akan peduli apa pun jawaban Taeshin seandainya pria itu masih hidup. Taeshin baru memberikan pengaruh besar padanya justru setelah kematiannya.
Dia mendongak saat mendengar suara bel pintu. Sunbae pasti sudah sampai. Saat dia membuka pintu, Sunbae berdiri di sana, terengah-engah seolah-olah dia baru saja berlari kencang. Dia membawa kantong plastik dari toko roti terdekat. Haewon mengambil kantong itu dari tangannya. Saat dia mencoba menutup pintu, S
Sunbae yang tampak gugup dengan cepat menahan pintu yang nyaris tertutup itu.
"Haewon?"
"Ya?"
"Kau tidak membiarkanku masuk?"
"Masuklah jika kau mau."

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.