Aku tidak tahu sudah berapa lama aku melamun. Sambil menatap bulan sabit yang begitu tajam seperti goresan kuku di langit malam yang hitam pekat, Seo Chiyoung yang tadinya terpaku tiba-tiba bergidik dan mengedikkan bahu saat hawa dingin menyelinap masuk ke tengkuknya.
Tepat saat itu, dari balik pintu kaca terdengar suara, "Tolong bir satu botol lagi di sini!" Melihat para pelanggan itu sudah duduk cukup lama namun memesan bir lagi, sepertinya mereka masih belum punya niat untuk pulang dalam waktu dekat.
Chiyoung membawakan bir untuk mereka, lalu keluar lagi ke area dapur usang di luar pintu kaca. Di dalam bangunan tambahan yang terbuat dari atap seng tua itu hanya ada empat meja besi berkarat dan sebuah lemari es minuman. Sementara kompor gas tempat memasak berada di luar bangunan, di depan bangku panjang yang bisa diduduki oleh tiga atau empat orang sekaligus, mirip seperti kedai tenda (pojangmacha).
Musim dingin belum sepenuhnya berlalu, jadi area luar masih dikelilingi oleh tirai plastik. Mungkin dalam sebulan ke depan, tirai itu sudah bisa dilepas. Hari ini pun, meski bulan Februari belum berakhir, udara malam terasa cukup hangat sehingga dia bisa berdiri di luar hanya dengan sweter dan jaket tipis tanpa merasa kedinginan.
"Bujang, belum selesai? Bibi pulang duluan ya."
Pemilik toko lauk-pauk di seberang jalan sempit itu menyapa sambil menepuk tangannya setelah menurunkan pintu gulung toko. Jika toko lauk yang paling terakhir tutup di pasar ini sudah tutup, maka hanya kedai inilah satu-satunya yang masih menyala di gang ini.
"Iya, hati-hati di jalan. Sampai jumpa besok."
Chiyoung membungkuk sambil tersenyum, lalu melirik jam. Benar saja, 10 menit menuju tengah malam. Bibi toko lauk itu selalu tepat waktu.
Melihat punggung wanita itu yang menjauh dengan langkah cepat sambil merapatkan kerah baju, Chiyoung pun ikut merapatkan kerahnya. Udara memang tidak terlalu dingin, tapi ini tetaplah malam musim dingin. Sekali rasa dingin meresap, biasanya sulit untuk hilang.
Chiyoung melirik ke belakang. Di dalam kedai hanya ada tiga wanita muda yang menempati satu meja. Karena berada di area pemukiman, terkadang ibu-ibu, bapak-bapak, atau gadis-gadis dengan pakaian santai sering mampir ke sini.
Menu yang dijual hanya usus babi goreng (gopchang) dan sedikit minuman keras. Ada beberapa camilan sederhana, tapi tidak lebih dari dua atau tiga jenis. Dan hampir tidak ada orang yang datang ke sini memesan menu selain gopchang.
Radio kecil yang diletakkan di rak bawah peralatan masak mengumumkan tengah malam. Chiyoung kembali menatap bulan sabit seolah jiwanya melayang.
Kedai ini biasanya tidak buka terlalu lama. Karena pasar tradisional ini terletak di tengah pemukiman, kedai gopchang yang menyajikan alkohol sekalipun berbeda dengan kawasan hiburan malam; pengunjung mulai berkurang saat mendekati tengah malam. Meski dia berencana tutup sekitar jam dua belas, biasanya pelanggan yang sudah duduk minum tidak mudah untuk segera beranjak. Akibatnya, terkadang dia baru bisa tutup pada jam satu atau dua pagi.
Botol minuman yang dia bawakan tadi bahkan belum berkurang seperempatnya. Entah mereka akan pulang setelah botol itu habis, atau malah memesan lagi. Chiyoung mengusap kelopak matanya yang kaku dan mengerjapkan mata yang terasa lelah.
Namun, rasa lelah seperti ini tidak ada apa-apanya. Jika dibandingkan dengan beberapa tahun lalu, saat dia bahkan tidak punya waktu untuk duduk karena harus berlarian mencari uang receh sejak membuka mata hingga tidur kembali, saat ini bisa dibilang adalah surga.
Utang yang membuat dadanya terasa sesak meski hanya dengan memikirkannya memang masih ada, tapi setidaknya sekarang dia tidak merasa tercekik sampai ingin mati di setiap detiknya. Memang benar dia masih kesulitan bahkan hanya untuk membayar bunganya saja, tapi setidaknya dia bisa sedikit melemaskan rahangnya yang selama ini terkatup rapat karena menahan beban.
Saat itu, salah satu pelanggan melihat jam dan mulai memakai jaketnya sambil berkata harus segera pulang. "Ya sudah, ayo habiskan ini saja lalu pergi," kata pelanggan lain sambil menuangkan minuman ke gelas masing-masing. Orang yang tadinya bersiap bangun pun duduk kembali untuk mengangkat gelas, namun sepertinya mereka akan segera pulang.
Chiyoung mulai merapikan perlengkapan memasak seadanya agar tidak mengganggu mereka. Sepertinya hari ini dia bisa tutup tanpa terlalu larut. Terkadang saat pelanggan tidak mau beranjak, dia harus berjaga dengan bengong sampai jam tiga atau empat pagi.
Saat dia sedang menutup tutup wadah bumbu, sayuran, dan gopchang satu per satu, ponsel di sakunya berbunyi pendek. Dia mengusap tangannya yang kering ke handuk secara refleks lalu mengeluarkan ponsel. Ada sebuah pesan masuk.
'Aku beli miras khas Haenam. Besok malam kalau sudah sampai Seoul, aku mampir ya.'
Itu adalah Kim Kyung-chol, seorang pengantin baru yang baru menikah bulan lalu dan sedang dalam masa bulan madu, namun menggerutu karena harus pergi dinas selama seminggu karena atasannya yang bujangan bersikap usil. Dia adalah salah satu dari sedikit teman sekolah menengah yang masih berhubungan dengannya hingga sekarang. Karena sangat suka minum, dia sering mampir membawa botol minuman, namun sejak menikah dia belum pernah menampakkan wajahnya lagi meski sesekali berkirim pesan atau telepon.
Chiyoung tersenyum tipis lalu menekan tombol satu per satu.
'Istrimu pasti menunggu, besok langsung pulang saja ke rumah, datanglah lain kali.'
Tak lama setelah pesan dikirim, jawaban langsung datang.
'Memikirkanmu yang menangis sendirian sebagai teman jomblo terakhir yang tersisa, tenggorokanku tersedak sampai tidak tahanㅠㅠ'
Sepertinya dia bersikeras akan datang besok. Di antara teman sekolah menengah memang sudah tidak ada lagi yang melajang, meski sebenarnya teman sekolah Chiyoung sangat sedikit, dan di antara kenalan sebaya lainnya justru lebih banyak yang sudah menikah. Namun, karena Chiyoung sudah tahu niat Kim Kyung-chol yang hanya ingin mencari teman minum dengan alasan "tenggorokan tersedak", dia hanya tersenyum saja. Toh Chiyoung hampir tidak minum alkohol, jadi Kyung-chol akan menghabiskan botol itu sendirian, dan justru itulah alasan kenapa temannya itu sangat suka minum bersamanya.
Chiyoung pun, meski tidak menikmati alkohol, menyukai suasana saat minum bersamanya. Karena kesibukan masing-masing mereka jarang bertemu, tapi teman sekolah yang dikenal sejak kecil selalu terasa dirindukan dan berharga. Jika dihitung dari SD, SMP, hingga SMA, mungkin hanya ada tiga atau empat teman yang masih bisa dihubungi. Selama sekolah temannya tidak sesedikit itu, namun selama belasan tahun setelah lulus SMA, di tengah napas yang memburu karena hidup yang berat, perlahan-lahan kontak mereka pun terputus.
"Berapa semuanya?"
Pelanggan terakhir akhirnya keluar. "Gara-gara kami sepertinya Kamu jadi belum bisa tutup ya," kata mereka sambil tersenyum ramah. Chiyoung segera menggelengkan kepala untuk menyangkalnya, lalu menghitung total biaya makanan dan minuman mereka di dalam kepala.
Begitu pelanggan terakhir membayar dan pergi, hari bagi Chiyoung pun berakhir. Jam menunjukkan pukul setengah satu. Masih terhitung awal untuk hari ini.
Chiyoung menurunkan satu sisi pintu gulung lalu mulai merapikan kedai. Membereskan meja, memasukkan sisa bahan makanan ke kulkas, mencuci piring, membersihkan lantai, lalu membuang sampah—maka selesailah tugasnya.
Dia memasukkan piring-piring berminyak ke dalam bak cuci dan baru saja menumpuk wadah lauk untuk dimasukkan ke kulkas ketika dia merasakan seseorang menyingkap tirai plastik.
"Ah, di sini. Dulu waktu lewat sini, Kanghee bilang tempat ini enak. Selera makan anak itu kan cukup pemilih, jadi bisa dipercaya. ……Wah, kalau sekali dihentak saja sepertinya bangunan ini bisa roboh. Ha, tempat seperti inilah yang biasanya punya rasa enak."
"Entahlah, aku tidak terlalu suka gopchang."
"Kalau begitu mau ke tempat lain?"
"Tidak, sudahlah. Sepertinya tidak ada tempat lain yang buka di sekitar sini, malas juga mencari lagi. Ayo minum di sini saja."
Suara tawa yang santai dan riang seperti sore hari yang cerah—meski waktu sudah larut malam—bercampur dengan suara dingin yang terkesan tidak peduli masuk ke dalam tenda. Chiyoung yang sedang membungkuk untuk memasukkan wadah ke kulkas pun menegakkan tubuhnya dengan canggung lalu menoleh ke arah mereka.
"Mohon maaf, pelanggan. Untuk hari ini kami sudah tutup……."
"Oh, benarkah? Padahal aku ingin mencobanya sekali……."
Di samping pria yang bergumam dengan nada kecewa itu, seorang pria lain yang tubuhnya sedikit lebih kecil menatap ke arah gang dengan wajah datar. "Semua toko sudah tutup ya," gumamnya, seolah sedang memastikan apakah ada toko lain yang buka.
Chiyoung terdiam di tengah kalimatnya dan menatap mereka tanpa berkedip.
Bagaimana ini? Karena sudah malam apakah sebaiknya mereka pulang saja, atau coba lihat di gang sebelah sepertinya ada beberapa toko, gumaman percakapan kedua pria itu terus berlanjut. Mungkin tatapan Chiyoung yang memperhatikan mereka terlalu terang-terangan.
Pria yang tadinya menggaruk kepala dengan wajah serba salah sepertinya merasakan tatapan itu lalu menatap balik ke arah Chiyoung. Begitu mata mereka bertemu, pria itu memberikan senyum mata yang hangat dan menyapa Chiyoung dengan ramah.
"Kami hanya akan minum satu atau dua gelas bir sebentar, tidak bisakah Kamu menggorengkan satu porsi saja untuk kami?"
"……. Iya, silakan duduk."
Setelah bergumam dengan kaku, Chiyoung mengeluarkan kembali wadah-wadah yang baru setengah dimasukkan ke kulkas. "Terima kasih," kata kedua pria itu sambil duduk berdampingan di bangku panjang di depan dapur. "Minta satu botol bir dulu," kata mereka. Chiyoung membawakan bir dan gelas terlebih dahulu lalu menyalakan api gas pada plat besi, sambil terus menutup mulutnya. Biasanya jika area dalam kosong dia akan berkata, "Di luar dingin, silakan duduk di dalam," tapi saat ini kata-kata seperti itu pun tidak terpikirkan olehnya.
"Kanghee bilang tempat ini enak?"
"Iya. Bahkan dia sampai menyuruhku ke sini. Jadi aku terpikir untuk mampir kapan-kapan, tapi jarang ada kesempatan."
"Padahal dia tinggal tidak terlalu jauh dari sini."
Pria berwajah datar yang sedari tadi melihat kedai tua yang seolah hampir roboh itu bicara dengan curiga, sementara pria di sampingnya tertawa lebar.
"Begitu sampai di rumah kan selalu tengah malam, mana kepikiran mau keluar lagi cari camilan. Yah, mulai sekarang sepertinya akan sedikit lebih santai sih. ……Paman, tolong kasih yang banyak ya. Ba-nyak."

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.