Dia tidak ingin memperlihatkan ini. Bukan karena takut pria itu akan menganggapnya payah, konyol, atau memalukan. Ya, jika harus dikatakan, rasanya sama seperti saat dia bertemu Ui-geon di taman—atau di bar tempat dia mengikutinya—beberapa waktu lalu.
Ada rasa hampa dan getir yang samar.
Sama seperti saat itu, dia tahu Jang Ui-geon akan menertawakannya dan menganggap ini hal sepele, jadi seharusnya dia cukup menenangkan dirinya sendiri. Namun, rasa sesak itu enggan beranjak dari dadanya.
Melihat Chi-young yang terus membisu dan tak mampu mengangkat kepalanya yang tertunduk, Jang Ui-geon kembali bertanya setelah jeda sejenak.
“Kau punya kekasih?”
Seo Chi-young menggelengkan kepala dengan sangat lemah, nyaris tak terlihat.
“Kalau begitu, hanya cinta satu malam?”
Kali ini dia ragu karena tidak tahu harus menjawab apa.
Dia tidak tahu bagaimana menjelaskan kecelakaan kecil yang bahkan tidak bisa disebut cinta satu malam itu. Bukan berarti sulit untuk menjelaskannya, hanya saja lidahnya terasa kelu mendengar suara tenang yang bertanya begitu santai seolah hal itu biasa saja baginya.
“Kulihat kau selalu sibuk, di mana kau bertemu dengannya? Di tempat kau menyetir saat malam?”
Saat Chi-young kembali mengangguk pelan, keheningan yang lebih panjang menyelimuti mereka.
“...Padahal katamu tidak ada orang yang menarik, tapi ternyata ada orang yang bisa diajak bersenang-senang semalam?”
“I-itu... bukan begitu...”
Seo Chi-young terbata-bata mencoba membuka mulut, meski sebenarnya dia tidak perlu memberikan penjelasan apa pun. Dia tahu benar bahwa memberi penjelasan hanya akan membuatnya merasa semakin hina, apalagi jika Jang Ui-geon hanya tertawa santai dan tidak memedulikannya.
“Hanya saja, terkadang ada, orang yang mabuk dan mengacau, ...jadi, itu terjadi begitu saja. Karena itu...”
“....... Berarti ini bukan yang pertama kalinya.”
Haha. Suara tawa kering terdengar singkat. Tawa yang terdengar seolah dia sedang tercengang itu entah kenapa terasa dingin, meski mungkin dia tidak bermaksud demikian.
Seo Chi-young memberanikan diri mengangkat pandangannya. Namun, dia segera terdiam karena tersentak.
Di depannya, wajah Jang Ui-geon tampak membeku tanpa ekspresi, sesuatu yang tak terbayangkan jika hanya mendengar suaranya yang tenang tadi. Seolah-olah darah yang mendidih hingga ke puncak kepala seketika membeku, Jang Ui-geon menatap Chi-young dengan mata yang sedingin es.
Dia pernah melihat wajah seperti ini sebelumnya. Saat itu pria ini sedang sangat marah hingga berada di dekatnya saja terasa seperti akan teriris sembilu. Tidak, bahkan saat itu pun tidak semengerikan ini. Kapan itu terjadi? Rasanya itu saat——.
“Mengacau saat mabuk... Benar, pekerjaan sopir pengganti memang berurusan dengan orang mabuk, jadi pasti ada saja orang yang keterlaluan. ...Chi-young, berhenti bekerja di sana.”
Ucapnya dengan suara rendah yang tertahan. Sepertinya Jang Ui-geon sendiri menyadari bahwa emosinya sudah di luar batas normal, karena suaranya terdengar seolah dia sedang berjuang keras untuk menahan diri.
“Eh, tidak... tidak perlu sampai seperti itu. Pelanggan tidak melakukan hal seperti itu...”
Saat Seo Chi-young berbicara terbata dengan wajah pucat, sudut bibir Jang Ui-geon berkedut. Dia mendengus pendek, dan suaranya merendah lebih dalam lagi.
“Kalau begitu maksudmu rekan kerjamu yang melakukannya? Itu artinya kau harus lebih cepat berhenti.
...Tidak, ikutlah denganku. Jika kau sulit mengatakannya, biar aku yang bicara bahwa kau berhenti. Aku ingin bertemu atasan yang membiarkan bawahannya berkelakuan seperti itu, dan aku juga ingin melihat wajah orang yang melakukannya.”
Melihat Jang Ui-geon memeriksa jam tangan, Seo Chi-young sempat panik sebelum akhirnya tampak serba salah. Ini tidak benar. Ada sesuatu yang salah di sini. Chi-young menatapnya sejenak, lalu menggelengkan kepala perlahan.
“Aku tidak akan berhenti.”
Jang Ui-geon mengernyitkan dahi seolah akan meledak marah dan mengalihkan tatapannya pada Chi-young. Namun, Chi-young justru membungkukkan kepalanya dengan sopan.
“Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku. Tapi aku tidak apa-apa. Sungguh. Orang itu juga bukan orang jahat, dan... lagi pula, ...ini bukan urusan yang harus kau campuri.”
Suara Seo Chi-young terdengar tenang namun tegas.
Jang Ui-geon terpaku. Dia menatap Chi-young dengan mata terbelalak seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil. Mulutnya sedikit terbuka hendak mengatakan sesuatu, namun tidak ada kata yang terucap.
Dia mengatupkan mulutnya kembali, menatap tajam Chi-young dalam diam, lalu kembali membuka suara dengan nada rendah. Suara yang keluar dari sela giginya terasa tajam.
“Kau tidak mau berhenti meski sudah diperlakukan seperti itu? Padahal hal yang sama bisa saja terjadi lagi?”
Seo Chi-young ragu sejenak, lalu mengangguk.
Sejak awal dia tidak pernah berpikir ini akan menjadi pekerjaan yang mudah. Dia sudah menduga bahwa dia mungkin akan mengalami hal-hal kasar. Meski dia sama sekali tidak membayangkan hal semacam ini, dia sudah bersiap untuk situasi yang lebih buruk sekalipun, jadi ini masih bisa dia tanggung.
Dari semua ini, hal yang paling menyakitkan adalah saat ini. Saat tatapan sedingin es milik Jang Ui-geon menghujamnya.
Pria itu terdiam lama sekali. Seo Chi-young tidak memalingkan wajah. Dia merasa jika dia memalingkan wajah sekarang, dia tidak akan pernah bisa melihat wajah pria itu lagi. Begitu dingin raut wajahnya saat ini.
Akhirnya.
“Bahkan jika hal itu terjadi lagi, kau pasti akan mengatakan hal yang sama. Bahwa kau tidak apa-apa. Bahwa ini bukan urusanku.”
Ucap Jang Ui-geon perlahan. Suara tenang itu memang keluar dari mulutnya, namun rasanya itu bukan suaranya.
“Bukan urusanku...”
Jang Ui-geon bergumam seperti bicara pada diri sendiri. Tiba-tiba dia terdiam. Ada getaran di dadanya dan dia tampak menahan napas sejenak. Rahangnya mengeras seolah sedang berjuang keras menelan emosi yang meluap-luap.
Untuk sesaat, Chi-young berpikir pria itu mungkin akan memukulnya.
Meski Jang Ui-geon tidak pernah membentak atau berteriak padanya, kedinginan yang mencekam ini justru terasa lebih menakutkan. Setelah menatap tajam Chi-young dengan sorot mata mengerikan, sedetik kemudian dia berbalik tanpa kata.
Tanpa sepatah kata pamit pun, Jang Ui-geon langsung keluar dari kedai. Seo Chi-young secara refleks hendak memanggilnya, namun dia menutup mulutnya kembali sebelum satu kata pun terucap. Dia hanya bisa berdiri mematung menatap punggung pria itu yang melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun, hingga sosoknya menghilang dari pandangan. Suara langkah kaki penuh amarah yang menyusuri gang pun perlahan menjauh, hingga akhirnya senyap sepenuhnya.
Sepertinya dia sangat marah. ...Tidak, dia pasti marah besar.
“Bagaimana ini...”
Seo Chi-young bergumam pada diri sendiri entah untuk yang keberapa kalinya sambil terus menatapi kemudi mobil.
Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya Jang Ui-geon berbalik pergi dengan kemarahan sebesar itu padanya. Terkadang dia memang menunjukkan raut tidak senang atau bicara dengan kaku, tapi dia selalu menyelesaikannya saat itu juga dan tidak pernah membawa perasaan negatif itu berlarut-larut. Dan yang terpenting, dia tidak pernah marah sampai membuat jantung orang lain terasa membeku seperti hari ini.
Apa yang membuatnya semarah itu? Rasanya tidak ada hal yang sampai perlu memicu kemarahan sedemikian rupa. Memikirkan hal itu, Seo Chi-young hanya bisa menggeleng sambil mendesah rendah.
Meski dia tetap berpikir bahwa itu adalah masalah yang sudah melewati batas campur tangan Jang Ui-geon, namun mungkin saja dia memang terlalu tegas menarik garis pembatas. Kau cukup sampai di sini. Tidak ada yang bisa kau bantu. ...Begitu.
Bukan karena da ingin menjaga jarak, tapi mungkin pria itu merasa demikian dan merasa tersinggung.
...Benar juga. Kalau dipikir-pikir, jika pria itu hanya tertawa santai seolah hal ini sama sekali bukan urusannya, mungkin dia akan merasa lebih depresi.
Seo Chi-young menghirup napas panjang, mencoba menghibur diri sendiri. Namun, meski dia berusaha menenangkan hatinya, perasaannya yang berat tak kunjung membaik.
Tadi, setelah Jang Ui-geon pergi begitu saja, Seo Chi-young sempat berdiri mematung cukup lama seolah tubuhnya telah membeku. Dia baru tersadar dan mulai merapikan kedai dengan linglung setelah mendengar sinyal waktu radio yang menunjukkan pukul dua belas malam.
Gara-gara itu, dia sampai lupa membawa bahan-bahan untuk Gopchang. Meski tubuhnya bergerak mekanis seperti boneka, pikirannya sepenuhnya tersita oleh Jang Ui-geon. Dia baru teringat soal Gopchang dan berdecak menyesal setelah berangkat dari rumah.
Begitu teringat, dia langsung mengirim pesan pada Yoon Jun-young: 'Maaf, sepertinya hari ini aku tidak bisa membuatkan nasi goreng Gopchang. Minggu depan aku pasti akan membuatnya. Maaf ya.' Namun, tidak ada balasan.
Kalau dipikir-pikir, banyak hal yang dia lupakan.
Dia lupa menempelkan tulisan 'Hari Ini Tutup' di pintu gulung kedai, dan dia juga lupa memberitahu Jang Ui-geon bahwa besok dia tidak bisa bertemu karena harus pergi ke luar kota.
Memikirkan hal itu, Seo Chi-young kembali menghela napas.
Lagipula, meski dia tidak mengatakannya pun, sepertinya Ui-geon tidak akan menghubunginya besok setelah pergi dengan kemarahan semengerikan itu.
Nanti, saat kemarahannya sudah sedikit mereda, dia akan mencoba mengirim pesan. Tapi kapan kemarahannya akan mereda?
Wajah Seo Chi-young tampak muram.
Karena dia jarang sekali melihat Jang Ui-geon marah—dan kalaupun marah, biasanya hanya sebentar dan cepat reda—dia tidak tahu berapa lama kemarahan itu akan bertahan jika pria itu sampai pergi seperti tadi. Berapa lama lagi dia harus menunggu sebelum menghubungi? Ataukah lebih baik langsung menghubunginya sekarang?
“…….”
Sambil memandangi ponselnya, Seo Chi-young sudah membuka layar pesan dan ragu cukup lama sebelum akhirnya menutup ponselnya kembali.
Tidak ada kata-kata yang terlintas. ...Dan dia takut. Takut jika kali ini, dia akan menerima jawaban yang menarik garis pembatas dengan dingin.
Seo Chi-young menggaruk kepalanya. Ini malam yang suram.
Begitu sampai di tempat kerja, ternyata rumor sudah menyebar luas. Seorang sopir lain yang hanya pernah dia temui beberapa kali menghampirinya sambil tersenyum lebar. “Manajer bilang mulai sekarang aku yang akan mengantar Lee Seon-mi. Jadi kau tidak perlu bertemu wanita itu lagi, tenang saja.
Kerja bagus selama ini,” ucapnya sambil memberi hiburan dengan senyum yang ganjil. Si penjaga pintu pun terkekeh dan berkata, “Baguslah,” karena dia memang melihat sendiri kejadian kemarin. Bahkan seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam kelab pun memberikan senyuman manis padanya.
Alih-alih merasa harga dirinya terluka atau marah, dia justru merasa sedih. Dan yang paling membuatnya sedih adalah wajah Jang Ui-geon yang seolah membeku, yang terus melekat di sudut pikirannya dan enggan pergi.
Seo Chi-young menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kemudi yang dia miringkan sedikit ke belakang, lalu menghela napas. Namun, baru beberapa detik dia menutup mata, tiba-tiba terdengar suara pintu kursi penumpang dibuka dengan kasar.
Padahal baru jam dua lewat sedikit, siapa yang sudah pulang secepat ini? Chi-young bangun dengan heran. Namun, begitu melihat sosok yang duduk di kursi penumpang dan menutup pintu, Seo Chi-young hanya bisa mengerjapkan mata lebar-lebar dan menatapnya dengan linglung.
“…..Jun-young-Ssi.”

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.