Di sebuah desa terpencil yang hanya memiliki sungai besar dan gunung curam untuk dilihat, di sebuah wilayah kecil bernama Dan-gang-gun yang populasi penduduknya bahkan tidak mencapai 40.000 jiwa, pusat pelatihan mewah milik konglomerat paling terkenal di Korea Selatan, Black Panther (Heuk-pyo), telah dibangun.
Sesuai dengan namanya, perusahaan Black Panther dipimpin oleh kaum beastkin macan kumbang. Meskipun ada orang-orang yang beranggapan bahwa nama perusahaan itu kurang kreatif, banyak yang berpendapat bahwa nama yang lugas dan tanpa basa-basi justru lebih mudah diingat.
Jeong-seo pun berpikiran demikian. Tanpa perlu penjelasan panjang lebar, "Black Panther"—nama yang sangat keren dan berwibawa! Benar-benar terasa seperti predator sejati.
Jeong-seo memandangi lokasi konstruksi yang tengah sibuk dengan pembangunan gedung dari kejauhan.
Di musim panas yang terik, karena suhu udara yang panas, telinga di atas rambutnya yang berwarna cokelat tampak terkulai lemas. Sambil menggigit es loli rasa soda, Jeong-seo menyeka keringat yang mengalir di dahinya, lalu segera berlari menuju halte bus.
Sebentar lagi bus yang akan membawanya pulang akan tiba. Jika ia melewatkan bus ini, bus berikutnya baru akan datang tiga jam lagi.
***
Saat menginjak kelas 2 SMA, bersamaan dengan selesainya pembangunan pusat pelatihan tersebut, seorang murid pindahan datang. Dia adalah putra dari perusahaan Black Panther yang membangun pusat pelatihan itu.
Nama murid pindahan yang datang bahkan belum genap seminggu setelah sekolah dimulai itu adalah Pyo Yoon-tae.
Di sekolah yang hanya memiliki lima kelas untuk setiap tingkatannya, kepindahan Pyo Yoon-tae tentu saja menarik perhatian besar.
Kepindahan seseorang sendiri merupakan hal yang langka, apalagi karena orang tersebut adalah anak dari konglomerat, tentu saja hal itu menjadi pembicaraan hangat. Pyo Yoon-tae pasti akan langsung menjadi orang paling populer di SMA Dangang begitu dia pindah.
Tentu saja, jika bukan karena kalimat pertama yang ia ucapkan di depan kelas.
Dengan tubuh besar yang tampak mencapai 190 cm, alis tebal dan gelap, serta tatapan mata yang tajam, alih-alih memperkenalkan diri, dia justru berkata seperti ini:
“Para predator, jangan ajak aku bicara.”
Mendengar ucapan itu, bukan hanya wali kelas yang berada di sampingnya, tetapi semua anak di dalam kelas menatap Pyo Yoon-tae dengan mata yang gemetar karena bingung. Meski ditatap seperti itu, ia tampak acuh tak acuh, seolah sama sekali tidak peduli.
Jeong-seo, yang duduk di barisan paling belakang, menegakkan telinga cokelatnya dan berpikir.
'Wah, aku juga tidak bisa mengajaknya bicara.'
Di antara beastkin predator, cukup banyak kelompok yang membenci predator lain seperti diri mereka sendiri. Hal ini berasal dari psikologi yang menolak "keberadaan kuat" yang dianggap bisa menginvasi wilayah mereka, karena insting untuk menjaga wilayah sendiri masih tertinggal kuat di alam bawah sadar. Meskipun sangat jarang ada orang yang menunjukkannya secara terang-terangan seperti itu.
Padahal, kupikir aku akan mendapatkan teman baru. Jung-seo mengunyah tomat ceri yang ia bawa di dalam gelas. Wali kelas tampak ingin marah karena sesuatu, namun ia sepertinya ciut dengan ukuran tubuh Yoon-tae yang besar.
"Yoo-Yoon-tae, sepertinya kamu merasa canggung karena ini hari pertamamu. Tapi, jangan katakan hal seperti itu lagi ke depannya. Tempat duduk Yoon-tae, ya, di sana."
Ujung jari wali kelas menunjuk ke kursi kosong di sebelah Jeong-seo.
"Sampai waktu pergantian tempat duduk berikutnya, duduklah di samping Jeong-seo."
Karena satu-satunya kursi kosong adalah yang berada di samping Jeong-seo, sudah bisa diprediksi bahwa Pyo Yoon-tae akan duduk di sebelahnya. Oleh karena itu, alih-alih terkejut, Jeong-seo hanya merasa sayang karena ia mendapatkan teman sebangku tapi tidak bisa mengajaknya mengobrol.
Jeong-seo menatap Pyo Yoon-tae yang mendekat dengan kedua pipi yang penuh oleh tomat ceri. Semakin dia mendekat, tubuhnya tampak semakin besar. Seperti yang diharapkan dari beastkin macan kumbang, bahkan saat berwujud manusia pun tubuhnya sangat besar, tidak seperti remaja pada umumnya.
Sreett, kursi ditarik dan Pyo Yoon-tae melemparkan tasnya ke atas meja dengan kasar lalu duduk.
"Tomat..."
Jeong-seo, yang tadinya tanpa sadar ingin menyapa, menutup mulutnya kembali. Akan merepotkan jika tiba-tiba terjadi perkelahian. Karena macan kumbang bukanlah lawan yang mudah.
Walaupun jika bertarung dengan sungguh-sungguh, mungkin dirinyalah yang akan menang.
'Aku mengalah saja, deh.'
Jeong-seo yang memalingkan wajah ke arah jendela, melanjutkan memakan tomat cerinya. Karena mendengar akan ada murid pindahan hari ini, ia membawa lebih banyak dari biasanya dengan niat untuk berbagi, jadi jumlahnya masih banyak.
"Hei."
Suaranya rendah dan kasar, persis seperti penampilannya. Namun, siapa yang sedang ia panggil?
Jeong-seo pura-pura tidak tertarik dan tetap melihat ke arah jendela, tetapi telinga kecil yang muncul di atas kepalanya sudah condong sedikit ke arah Pyo Yoon-tae dan bergerak-gerak.
"Kenapa pura-pura tidak dengar."
Benar juga. Siapa orang itu, cepatlah menjawab. Saat Jeong-seo sedang penasaran percakapan apa yang akan terjadi selanjutnya, itulah yang terjadi.
“Aduh!”
“Apa telingamu itu cuma pajangan?”
Tiba-tiba telinganya ditarik dengan kasar. Merasakan nyeri yang menyengat, Jeong-seo mengernyitkan wajah dan menoleh. Pyo Yoon-tae sedang menatapnya tajam dengan ekspresi garang.
“A-apa yang kau lakukan! Apa kau tidak diajari kalau menarik telinga orang sembarangan itu tidak sopan?”
“Lepaskan!” Jeong-seo berusaha melepaskan tangan yang mencengkeram telinga kanannya itu dengan menariknya balik. Murid pindahan ini bukan cuma punya fobia terhadap predator, tapi kepribadiannya juga sangat buruk.
Citra Pyo Yoon-tae di mata Jeong-seo hancur lebur dalam sekejap.
“Telinga itu... kau punya empat, tapi apa sopan mengabaikan ucapan orang?”
“Kau memanggilku?”
Bukankah tadi dia sendiri yang bilang jangan ajak predator bicara? Apakah kalau dia sendiri yang memulai pembicaraan itu pengecualian? Jeong-seo membelalakkan mata cokelatnya ke arah Yoon-tae, dan barulah pria itu melepaskan telinganya.
“Ya, kau. Apa kau sudah lama tinggal di sini?”
Bukan menanyakan nama, melainkan asal-usulnya—apakah itu cara orang kota menyapa orang lain? Jeong-seo mengangguk bingung. Pyo Yoon-tae pun menyipitkan mata, seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Siapa namamu?”
Tadi guru sudah menyebutkan namanya saat menyuruhnya duduk di sebelahku, apa dia sudah lupa?
“Aku So Jeong-seo.”
So Jeong-seo. Namanya pun terasa seperti dirinya sendiri.
“Oke, Jeong-seo. Mohon bantuannya, ya?”
Berbanding terbalik dengan ucapannya di depan kelas yang sangat menyeramkan soal tidak ingin bicara dengan predator, Pyo Yoon-tae kini menunjukkan matanya yang melengkung ramah. Mungkinkah meski punya fobia predator, dia sebenarnya menyukai diriku?
Meski terlihat menakutkan karena tubuhnya yang besar, Pyo Yoon-tae memiliki wajah yang sangat tampan. Alisnya tebal namun rapi, dan pangkal hidungnya tajam.
Saat anak yang tampak seperti selebritas yang hanya ia lihat di televisi itu tersenyum manis padanya, Jeong-seo memutuskan untuk memaafkan kesalahan Yoon-tae yang tadi menarik telinganya.
“Tentu saja, aku sudah lama tinggal di sini jadi aku tahu banyak hal. Tanyakan saja apa pun kalau kau tidak tahu.”
Jeong-seo menyombongkan diri dengan mengangkat bahunya, dan telinga kecilnya bergerak-gerak halus. Pyo Yoon-tae tertawa kecil melihat tingkah itu dan mengangguk.
“Ya, terima kasih.”
“Ini tomat ceri, mau?”
Jeong-seo mendorong gelas berisi tomat ceri ke arah Pyo Yoon-tae. Ukurannya kecil dan bentuknya tidak rata, persis seperti barang sisa yang tidak terjual. Saat Pyo Yoon-tae hanya diam memperhatikannya, Jeong-seo buru-buru menambahkan.
“Ini aku tanam sendiri di rumah, jadi meski agak jelek, rasanya lumayan kok. Sedikit hambar memang, tapi masih layak makan. Tapi, tidak perlu dipaksa kalau tidak mau.”
“Akan kumakan.”
Jeong-seo yang diam-diam merasa gugup akhirnya merasa lega saat Pyo Yoon-tae mengambil satu butir tomat ceri. Ternyata Pyo Yoon-tae orang yang baik.
Mungkin tadi di depan kelas dia hanya benar-benar gugup seperti yang dikatakan guru. Dirinya sendiri pun sering bicara melantur kalau sedang gugup.
“Yoon-tae, aku tidak menyangka kau yang akan mengajak bicara duluan, syukurlah.”
Jeong-seo tersenyum lebar. Sementara itu, Yoon-tae yang sudah memakan satu butir dan sedang memainkan tomat ceri lainnya di tangan, mengernyitkan satu alisnya.
“Kau bukan predator, kan. Jadi tidak masalah.”
Senyum di bibir Jeong-seo perlahan memudar. “Aku ini predator!”
Dahi Pyo Yoon-tae berkerut. Dia menatap Jeong-seo sekali lagi, sosok yang dengan percaya diri mengaku sebagai predator.
Di antara hewan herbivora pun, tubuhnya tergolong sangat kecil, dan telinga yang tidak ia sembunyikan itu ujungnya tumpul dan mungil, sebanding dengan ukuran tubuhnya.
Wajahnya pun, meski sudut matanya sedikit naik, bentuk matanya bulat, dan bibirnya kecil meruncing—hampir menyerupai kesan yang imut. Kalau digambarkan dalam bentuk emoji, mungkin terlihat seperti (OㅅO). Jika dilihat dari wajah saja, ini adalah tipe idealnya. Bahkan ada tahi lalat kecil di bawah bibirnya yang membuat orang ingin menciumnya.
Tubuhnya saja sepertinya tidak akan cukup untuk sekali gigit, kok bisa dibilang predator?
Pyo Yoon-tae memiringkan kepalanya. Tidak mungkin ini lelucon, dia terlihat sangat serius. Alisnya yang berwarna cokelat seperti rambutnya tampak menegang marah.
“Predator macam apa?”
“Aku musang, aku juga memangsa ular.”
Musang. Spesies yang meski tubuhnya kecil, dikenal memiliki temperamen yang sangat ganas. Selain itu, banyak cerita yang bilang mereka serakah dan licik.
Baru menyadari mengapa So Jeong-seo begitu kecil, Pyo Yoon-tae menghapus senyumnya.
'Jadi musang memang sekecil itu ya.'
Pyo Yoon-tae membuang tomat ceri yang dipegangnya kembali ke dalam gelas seolah melempar, lalu memalingkan wajah. Melihat perubahan sikap yang drastis itu, Jeong-seo menatapnya dengan bingung.
“Yoon-tae...”
“Kukira kau tikus.”
“Apa? Apa yang baru saja kau katakan!”
Merasa dihina karena dianggap tikus padahal dirinya adalah predator, sang musang pun naik pitam. Meski Jeong-seo berteriak marah, Pyo Yoon-tae tampak tidak peduli dan mendorong gelas berisi tomat ceri itu dengan jarinya hingga menjauh.
“Lagipula, tomat cerimu rasanya menjijikkan. Makan saja sendiri sampai puas.”
Gelas itu terguling ke samping, membuat tomat-tomat ceri yang jelek itu berhamburan di atas meja.
Wajah Jung-seo memerah padam semerah tomat ceri tadi. Ia bangkit berdiri dengan kasar, dan tak lama kemudian terdengar suara krak, suara jahitan celananya yang robek.
Para siswa yang menoleh ke arah keributan itu melihat So Jeong-seo yang sedang murka, mengibas-ngibaskan ekor cokelatnya dengan ganas ke kiri dan ke kanan.
"Aku ini musang! Tikus itu mangsaku, tahu!"
Seorang murid beastkin hamster yang duduk di barisan depan menggigil. "Kecil-kecil kok garang sekali, sampai menggeram begitu," pikirnya.
Pyo Yoon-tae menatap ekor Jeong-seo yang panjang dan tegak berdiri itu dengan tatapan datar seolah merasa heran.
"Dia ini bocah atau apa? Sampai tidak bisa menyembunyikan ekornya saat sedang emosi, memangnya dia umur berapa?" Pikir Yoon-tae. Menganggap bahwa Jeong-seo tidak layak untuk diladeni lagi, Pyo Yoon-tae dengan acuh tak acuh kembali menatap ke depan.
Jeong-seo yang tadi sibuk meluapkan amarahnya, baru sadar belakangan bahwa celananya robek di bagian bokong. Dia harus menjahitnya sebelum semakin memalukan, tapi bel keburu berbunyi.
Pintu depan kelas terbuka. "So Jeong-seo, apa yang kau lakukan? Duduk. Bel sudah bunyi."
Guru masuk ke dalam kelas. Jeong-seo terpaksa duduk kembali, sementara ekornya yang berbulu tegak itu terus mencambuk udara dengan kesal sampai pelajaran selesai.
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 1
Ini chapter pertama Chapter Berikutnya
1.777 kata
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 1
Ini chapter pertama Chapter Berikutnya
My Donation
Dukung translator
senjanity • Predator Alert / Beast Alert!
Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.
Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.