Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 108

Meskipun dinding bagian dalamnya terasa lemas, tekanan saat benda raksasa itu merobek masuk terasa sangat nyata. Bersamaan dengan rasa sakit yang seolah membelah tubuhnya menjadi dua, feromon pekat yang menyerbu memicu kenikmatan yang aneh. Jeong-seo mengatupkan bibirnya rapat-rapat, bahkan lupa untuk bernapas, sementara jemarinya mencengkeram sprei hingga kusut.
"Hhhg……."
Pyo Yoon-tae, yang terlambat menyadari wajah Jeong-seo yang memucat, seketika menghentikan gerakan pinggangnya. Sensasi dinding dalam yang begitu panas dan kenyal memeluk penisnya terasa begitu intens hingga hampir mustahil untuk menjaga kewarasan. Baru setengah jalan saja rasanya sudah seperti ini, ia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika penisnya masuk hingga ke pangkal.
Dengan susah payah, ia menekan dorongan untuk menghujam dalam satu hentakan dan mengembuskan napas panas. Ia melepaskan cengkeramannya dari pinggang Jeong-seo, lalu mengusap dahi pria itu yang basah oleh keringat dengan lembut.
"Apa sakit, Jeong-seo? Apa aku harus mengeluarkannya dulu?"
Dinding dalam tubuh Jeong-seo bergetar, menjepit penis yang tertanam di dalamnya seolah mencoba mengusirnya, sementara aroma cokelat yang pekat semakin intens. Namun, jelas ada perbedaan antara feromon yang mengental karena gairah alami dengan feromon yang dipicu untuk menahan rasa sakit.
Melihat feromon Jeong-seo yang kini bercampur dengan rasa menderita, Pyo Yoon-tae menatapnya dengan cemas. Ia mengusap bibir Jeong-seo yang terkatup rapat dengan ibu jarinya lalu berkata,
"Kau akan mati lemas kalau begini, Jeong-seo. Lepaskan keteganganmu, ayo bernapas."
Jelas sekali ia terlalu terburu-buru. Pyo Yoon-tae hendak menarik pinggangnya ke belakang untuk memberi ruang agar ia bisa melunak lebih lama, namun saat itulah—
Jeong-seo, yang mengembuskan napas seolah ledakan, menindih tangan Pyo Yoon-tae di atas punggung tangannya dan menggeleng kuat-kuat.
"Tidak, jangan…… jangan dikeluarkan, Yoon-tae. Sedikit…… jujur ini memang cukup sakit, tapi entah kenapa……."
Aku bahagia. Dengan wajah pucat pasi karena menahan beban yang begitu hebat, Jeong-seo tersenyum.
Biasanya pun ia tahu betapa Pyo Yoon-tae mencintainya, namun saat tubuh mereka terhubung seperti ini, ada rasa kepuasan dan kebahagiaan yang berbeda. Lebih dari sekadar tindakan demi kenikmatan fisik, ia merasakan ikatan khusus dan mendalam yang tak mungkin ia rasakan dengan siapa pun selain pria ini.
Mendengar So Jeong-seo mengatakan hal seperti itu di tengah situasi ini, mustahil bagi Pyo Yoon-tae untuk menahan diri lagi. Iris kuningnya bergetar hebat saat ia mengeluarkan erangan tertahan yang seolah mendidih. Pyo Yoon-tae membungkuk dan mengecup dahi Jeong-seo ringan sebelum berbisik,
"Jeong-seo, maafkan aku."
Jeong-seo bahkan tidak punya energi untuk bertanya kenapa ia meminta maaf. Sebab, penis yang tadinya hanya tertanam setengah jalan, kini menembus dinding dalam tubuhnya dengan satu dorongan yang dalam.
"Ah, hhhgg……!"
Ujung penis yang tumpul itu menggores titik sensitif yang sudah membengkak. Tubuh Jeong-seo yang sangat sensitif karena gairah seketika dilanda aliran listrik yang membuat pinggangnya melengkung hebat. Kenikmatannya jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah ia rasakan, hingga ia merasa ada kilatan cahaya di depan matanya.
Napasnya memburu seolah baru saja berlari kencang, dan perutnya berkedut kejang. Jeong-seo yang setengah sadar menatap ke bawah dengan mata yang buram; ia melihat cairan putih pekat telah memercik hingga ke bagian dada pakaiannya yang belum sempat dilepas.
Hanya karena penetrasi saja ia sudah mencapai klimaks, dan Jeong-seo tampak bingung, mengedipkan mata perlahan tanpa memahami situasinya. Pyo Yoon-tae mengumpat dalam hati karena dinding dalam Jeong-seo yang menjepit kuat saat mencapai puncak, lalu menarik pinggangnya ke belakang.
"Hhhng……. Ah, ugh……!"
Mungkin karena perbedaan ukuran yang mencolok antara tubuh yang sempit dan penis yang tebal, dinding dalam berwarna kemerahan itu melekat erat pada penis yang ditarik keluar. Bagi Jeong-seo, sensasi aneh ini kini tidak lagi terasa sakit, melainkan sebuah denyutan aneh di perut yang membuatnya berkaca-kaca.
Penis yang baru ditarik setengah jalan itu kembali menghujam dengan kasar. Suara daging yang saling berbenturan dan basah bergema keras di ruangan itu, dan Jeong-seo melepaskan erangan panjang. Tanpa henti, gerakan pinggang Pyo Yoon-tae menjadi semakin liar.
Seolah memang sengaja, ia terus-menerus menghujam tepat pada titik prostat Jeong-seo, memicu gelombang kenikmatan yang terasa seperti kegilaan. Feromon yang tadinya memancarkan aroma manis buatan untuk meredam rasa sakit kini berubah perlahan, meluap dan menempel di kulit, seolah memohon untuk diserap.
Pyo Yoon-tae dengan tangkas menangkap perubahan itu dan secara naluriah mulai menghentak dengan lebih kuat. Setiap kali ia menghujam tanpa memberinya celah untuk bernapas, pandangan Jeong-seo kembali memutih.
"Haa, hhhgg……. Ah, Yu, Yoon-tae……!"
Jeong-seo meronta karena merasa perutnya akan hancur, namun usahanya sia-sia. Pyo Yoon-tae, yang kini benar-benar kehilangan fokus, mengembuskan napas kasar, mencengkeram pinggul Jeong-seo, dan menghujam sekuat tenaga.
Karena tidak ada celah tersisa, penis itu masuk lebih dalam dari sebelumnya. Bersamaan dengan itu, cairan bening yang bahkan tak bisa disebut sebagai sperma memuncrat dari milik Jeong-seo, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ujung jemari tangan dan kakinya mencengkeram erat hingga kehilangan aliran darah.
Hup, hhhgg, Jeong-seo terisak, mengusap wajahnya yang basah oleh air mata dengan punggung tangan. Ia tidak ingin menangis, namun kenikmatan yang tak tertahankan itu membuatnya tak sadar meneteskan air mata. Sambil terisak, ia merasa takut tubuhnya telah rusak karena kejang-kejang kecil yang tak kunjung berhenti.
"Yu, Yoon-tae……. ini…… terasa aneh……."
"Jeong-seo……. kau merasa sangat nikmat, kan?"
"Apa maksudmu, ah! Ugh…… tunggu, hhhng……!"
Belum sempat Jeong-seo menyelesaikan kalimatnya, penis yang tadinya tenang kembali membengkak dan menghujam dinding dalamnya. Pyo Yoon-tae tahu persis apa yang baru saja terjadi pada So Jeong-seo, dan fakta itu membuat sisa-sisa kewarasan yang ia pegang seketika putus.
"Ah, hhh, Yu, Yoon-tae……!"
"Ha……. sejujurnya, aku sangat gemetar dan gugup, Jeong-seo."
Pyo Yoon-tae menggenggam erat jemari Jeong-seo yang melambai di udara, lalu membungkuk. Dinding dalam yang masih sensitif dari klimaks sebelumnya terasa seperti terbakar setiap kali bersentuhan dengan penisnya. Meski mengaku gemetar dan gugup, Pyo Yoon-tae menghujam dengan lebih kuat.
"Ugh, ah……. Pembohong……!"
Jeong-seo menatap tajam Pyo Yoon-tae yang berbohong tanpa berkedip. Entah pria itu menyadarinya atau tidak karena tubuh mereka terus bergetar, namun tiba-tiba satu tangan Jeong-seo ditarik dan diletakkan tepat di atas dada Pyo Yoon-tae. Begitu bersentuhan, detak jantung yang berdegup kencang langsung terasa jelas di telapak tangannya.
"Itu benar. Sudah kubilang ini pertama kalinya bagiku, aku benar-benar gugup. Tapi, Jeong-seo."
Syukurlah sepertinya kau menikmatinya, gumam Pyo Yoon-tae yang mengakhiri kalimatnya dengan senyum lelah. Senyuman yang tampak begitu tenang itu sangat kontras dengan situasi mereka, namun itu membuat wajah Jeong-seo terasa meleleh karena panas yang berlebih.
Seirama dengan detak jantung Pyo Yoon-tae yang cepat di telapak tangannya, denyut nadi Jeong-seo pun mulai berpacu. Perasaan aneh yang sulit dijelaskan membuat otot perut bagian bawahnya menegang.
"Ugh…… jangan menjepit tiba-tiba, Jeong-seo."
Pyo Yoon-tae menyipitkan mata, lalu menurunkan tangan Jeong-seo dari dadanya dan menahannya di atas tempat tidur seolah memborgolnya. Dengan mata yang bersinar, Pyo Yoon-tae memulai kembali serangannya. Mungkin karena jeda singkat tadi, atau mungkin karena ekspresi yang ditunjukkan Pyo Yoon-tae barusan, penis Jeong-seo kembali mengeluarkan cairan bening yang terasa encer.
Semakin lama mereka bersatu, dinding dalam tubuh Jeong-seo semakin erat melilit ujung dan batang penis pria itu, membuat Pyo Yoon-tae juga semakin mendekati puncak. Gerakan pinggangnya menjadi semakin ganas. Pyo Yoon-tae yang sudah mulai mengerti ritmenya, kini hanya fokus menghujam titik-titik yang paling memuaskan Jeong-seo.
Jeong-seo sudah mencapai puncak berkali-kali sendirian, namun Pyo Yoon-tae tampaknya tidak berniat memberi ampun. Terjebak dalam kenikmatan yang begitu intens, Jeong-seo akhirnya menangis tersedu-sedu memohon ampun, namun Pyo Yoon-tae hanya mengusap wajahnya dengan tatapan kasihan tanpa menghentikan gerakannya sedikit pun.
Buk, buk, suara gesekan daging yang basah bergema keras. Pyo Yoon-tae mengerutkan kening, menarik pinggangnya sejauh mungkin ke belakang sebelum menghujam dengan ganas. Penisnya masuk hingga ke titik paling dalam, membuat pinggang Jeong-seo tersentak hebat.
"Haaa……. ah…… ahhhgg……!"
Pyo Yoon-tae memeluk erat tubuh Jeong-seo yang terengah-engah, dan saat merasakan dinding dalam yang menjepit penisnya dengan kuat, ia akhirnya melepaskan ejakulasinya. Ia membenamkan gigi-giginya ke bahu Jeong-seo sambil menempelkan tubuh mereka hingga tak ada celah lagi. Setelah waktu yang terasa lama, Pyo Yoon-tae akhirnya bangkit dengan napas yang berat.
Saat ia menyisir rambut hitamnya yang basah oleh keringat ke belakang, telinga hitamnya mencuat dan tegak. Saat ia perlahan menarik penisnya keluar, cairan putih pekat terlihat menetes keluar dari kondom tersebut. Jeong-seo, yang seluruh tenaganya telah terkuras habis, hanya bisa menatap pemandangan itu dengan tatapan kosong.
Jeong-seo menyadari satu hal dengan sangat menyakitkan: hubungan yang ia jalani dengan Pyo Yoon-tae selama ini hanyalah puncak gunung es dari apa yang sebenarnya mampu pria itu lakukan. Saat ia merasa sangat mengantuk dan ingin segera terlelap, suara gemerisik di dekat telinganya membuatnya terjaga. Penasaran dengan suara itu, ia membuka matanya dan mendapati Pyo Yoon-tae sedang merobek kemasan kondom baru.
Pupil mata Jeong-seo bergetar hebat.
"……Yoon-tae-ya……?"
Padahal Pyo Yoon-tae baru saja berejakulasi, namun penisnyas masih berdiri dengan angkuh dan mengancam. Itu adalah hal yang tidak wajar. Terlebih lagi, pria itu dengan gerakan yang sangat luwes kembali memasang kondom tersebut. Dengan sepasang mata kuning yang berkilat tajam, Pyo Yoon-tae melebarkan kedua kaki Jeong-seo lebih jauh lagi, menyelaraskan posisi bagian bawah tubuh mereka, lalu berbisik,
"Jeong-seo, masa birahimu baru saja dimulai."
"Aku harus membantumu."

1.551 kata

Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 108

My Donation

Dukung translator

senjanity • Predator Alert / Beast Alert!

Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.