"Namun, untungnya—atau mungkin malangnya—ibuku hamil sebelum dia sempat melakukannya. Anak itu adalah aku. Dan berkat belenggu yang jauh lebih sehat dan konstruktif itu, dia tidak perlu dicekoki obat agar tunduk. Dia tetap tinggal."
Dia memberikan senyum yang getir.
"Sampai hari ini, ibuku masih membenci ayahku. Meskipun ayah sudah menghabiskan dua puluh tahun terakhir untuk memanjakannya, memberikan apapun yang dia mau, dan mencoba segala cara untuk memenangkan hatinya."
Kisah yang pasti sudah dia dengar sejak kecil itu—entah dari ibunya sendiri, atau dari para penggunjing—sangat jauh berbeda dari kisah cinta indah yang sering diceritakan oleh orang-orang romantis mengenai Ling Huirong dan istri mudanya.
Yuri memikirkan ibu Ling Xinlu, kemudian ayahnya.
Cantik dan melankolis bak bunga hortensia, wanita itu tidak pernah tersenyum cerah di hadapan suaminya. Mungkin dia pernah melakukannya saat tidak ada yang melihat, namun Yuri belum pernah mendengar siapa pun mengatakannya.
"Hubungan mereka tidak buruk. Mereka cukup rukun dengan cara mereka sendiri. Ibuku memperlakukan ayahku dengan baik. Namun meski begitu, mereka tidak pernah benar-benar mengisi hati satu sama lain. Dan itu mungkin akan terus seperti itu sampai salah satu dari mereka meninggal."
"Obsesi untuk mengikat seseorang di sisimu, bahkan jika itu berarti harus menghancurkan mereka hingga hanya menyisakan raga kosong... sepertinya memang berakhir seperti itu," ucap Ling Xinlu sembari mengedikkan bahu pelan.
Ekspresi yang samar, antara senyum dan seringai masygul, melintas di wajahnya saat dia menatap Yuri dengan tajam.
"Kau tidak bisa menahan seseorang dengan narkoba. Tae-hyung juga mengatakan hal itu..."
Kepahitan mewarnai kata-katanya. Sembari memperhatikannya, Yuri menghela napas pelan.
"Jeong Taeui tidak tinggal bersamamu, Ling Xinlu, bukan karena kau kurang baginya. Ketika hati sudah berkelana, tidak ada yang bisa menahannya."
Itu bukan kesalahan Ling Xinlu. Bukan juga kesalahan Jeong Taeui, atau siapa pun. Itu murni karena hatinya telah berpaling kepada Riegrow.
Tidak ada cara untuk mempertahankan seseorang yang hatinya sudah pergi. Bahkan jika kau bisa memaksa mereka untuk tinggal melalui cara-cara koersif, itu tidak akan sama dengan memiliki mereka sepenuhnya di sisimu. Sejak saat itu, Jeong Taeui bukan lagi milik Ling Xinlu.
Yuri menatap Ling Xinlu dengan pandangan yang lembut.
"Carilah seseorang yang tepat untukmu. Aku yakin mereka ada di luar sana."
Pada saat itu, tatapan mata Ling Xinlu yang gelap dan cekung berubah. Wajahnya seketika mengeras bagai es, matanya yang terbelalak terpaku pada Yuri tanpa berkedip.
Lalu, matanya tampak berkaca-kaca, berubah menjadi biru yang mengerikan.
"Siapa orang itu?"
Suaranya sedingin dan seringkih tatapannya. Seolah nyaris tak mampu mempertahankan ketenangannya, wajah pucat Ling Xinlu gemetar. Suaranya bergetar saat dia melanjutkan.
"Seseorang yang tepat untukku? Siapa itu? —Kenapa kau melakukan ini padaku? Kau tahu segalanya. Kenapa kau berpura-pura? Kenapa kau melakukan ini padaku?!"
Suaranya yang gemetar kian meninggi, kata-kata terakhirnya menggema di seluruh ruangan layaknya sebuah teriakan. Yuri tertegun sejenak.
—Kau tahu segalanya.
Tangisan penuh kebencian itu terngiang di telinganya. Dia tahu. Dia tahu apa yang ingin disampaikan Ling Xinlu. Dia tahu apa yang sedang ditatap oleh mata gelap yang penuh kerinduan itu.
Dia tidak tahu mengapa, atau kapan semua itu dimulai. Mungkin Ling Xinlu sendiri pun tidak tahu. Namun setidaknya pada saat ini, apa yang dia inginkan dan apa yang dia coba katakan sudah sangat jelas.
Rasanya entah bagaimana terasa tidak nyata. Tatapan tenangnya bertemu dengan tatapan Ling Xinlu di tengah situasi yang sangat nyata ini, namun rasa bingung masih menggelayut.
Dia merasa bimbang sekaligus anehnya merasa senang melihat Ling Xinlu bergantung padanya layaknya seorang anak kecil.
Mungkin itulah sebabnya ketidakamanan pria itu tampak begitu nyata.
"Aku menyukaimu, Ling Xinlu," ucap Yuri pelan, mengulangi kata-kata yang telah berkali-kali dia ucapkan sebelumnya.
Namun dia tidak sekadar mengulanginya. Seperti biasa, dia telah mempertimbangkan kata-kata itu dengan saksama sebelum berucap.
Apakah ada yang berubah sejak kemarin? Apakah dia benar-benar memahami perasaannya sendiri? Dia berusaha untuk jujur, setidaknya kepada dirinya sendiri.
Ling Xinlu, yang tampak pucat dan tegang, balas menatapnya tanpa ekspresi. Dia terlihat rapuh, bagaikan kepingan kaca halus yang hampir pecah.
"Dan jika kau mau, aku akan memperbarui kontraknya. Tahun ini, tahun depan—dan mungkin selama yang kau inginkan. Selama aku mampu."
Ini pun merupakan kata-kata yang sudah pernah dia ucapkan. Dan kini, setelah merenungkannya kembali, kata-kata itu tetap terasa benar. Selama Ling Xinlu menginginkannya, selama dia mampu, Yuri akan tetap berada di sisinya.
Namun, Ling Xinlu tetap merasa cemas. Ketidakamanannya tidak kunjung hilang, terlepas dari kata-kata Yuri.
"Selama kau menginginkanku, aku akan tetap di sini. Dan ya, selama waktu itu, kita bisa melanjutkan hubungan seperti sekarang, dengan kau yang menginginkanku sebagaimana aku menginginkanku. Namun apa lagi yang kau inginkan?"
Apa lagi? Bagaimana caranya?
Apa yang bisa dia katakan, apa yang bisa dia lakukan agar pria itu bisa kembali tersenyum cerah dan bahagia dengan tulus? Dia tidak ingin melihat pria yang menawan ini menderita begitu hebat dan merasa begitu tidak aman.
Yuri bangkit untuk duduk, meski sekujur tubuhnya terasa nyeri. Gerakan duduk itu saja sudah membuatnya merasa pening, namun dia menepis perasaan itu dan menghadapi Ling Xinlu.
Ling Xinlu memperhatikannya dalam diam, wajahnya pucat pasi.
"Kontrak seumur hidup? Apakah hanya itu yang diperlukan? Cukup tanda tangan di atas selembar kertas?"
Bukan itu yang dia inginkan. Dia tidak butuh tanda tangan. Memperbarui kontrak secara berulang pun akan memberikan hasil yang sama saja. Apa pentingnya selembar kertas?
Namun di sisi lain, jika memang sesederhana itu, dia bisa saja memberikan tanda tangan itu kepadanya.
Dia akan melakukan apa pun untuk meringankan penderitaan pria itu. Jika satu tanda tangan saja bisa memberinya ketenangan...
Tetapi tidak sesederhana itu.
Ling Xinlu, yang terdiam dengan mata gelap terpaku pada Yuri, sudah tahu bahwa selembar kertas bukanlah hal yang benar-benar dia dambakan.
"Inginkan aku lebih lagi," bisik Ling Xinlu tiba-tiba.
"Jadilah lebih egois terhadapku. Selalu tatap aku, inginkan aku lebih lagi, lebih, dan lebih lagi. Cukup untuk meredakan kecemasanku."
"Seperti ini, dengan kerinduan yang begitu tak tertahankan, sama besarnya dengan caraku mendambakanmu, hingga habis terlahap oleh gairah ini."
Menatap ke dalam mata Ling Xinlu yang gelap dan bergejolak, Yuri mengerjap, kehilangan kata-kata.
Bukannya dia tidak mau. Dia ingin memberikan segala yang diminta pria itu. Dia sudah begitu peduli padanya, jadi apa sulitnya untuk terus melangkah dan peduli lebih dalam lagi?
Namun...
Ling Xinlu memintanya untuk mencintai dengan cara yang berbeda dari sifat alami Yuri.
Bukan aliran kasih sayang yang tenang dan stabil, melainkan gairah yang nyata, intens, dan membara yang mampu memuaskan hatinya yang cemas dan gelisah. Seperti cara Ling Xinlu menginginkannya. Itulah sebabnya Yuri tidak bisa langsung menjawab.
Ini adalah masalah kepribadian. Sebuah sifat bawaan yang berada di luar kendalinya. Ibarat hewan pemakan rumput yang tidak mungkin berubah menjadi predator buas, ini adalah hal yang tidak bisa diubah hanya dengan upaya.
Ling Xinlu sepertinya mampu membaca ekspresi gundah di wajah Yuri.
Dia pasti sudah menebak alasannya, membedah apa yang ada di pikiran Yuri.
Dia beranjak meninggalkan kamar dengan mata yang berkilat, dan ketika kembali, dia meletakkan sesuatu di hadapan Yuri.
Selembar kertas, sebuah kontrak, mendarat di atas selimut.
Ling Xinlu mengambil sebuah pena dan menuliskan kata "Seumur Hidup" di kolom durasi kontrak. Dia menandatangani namanya di bagian pemberi kerja lalu menyerahkannya kepada Yuri.
"Katakan bahwa kau akan lebih egois demi aku. Inginkan aku lebih dari sekarang, jauh lebih besar, sebesar dambaanku padamu. Tandatangani ini dengan makna tersebut."
Yuri menatap kontrak itu, kolom tanda tangannya menjadi satu-satunya yang masih kosong. Dia mendongak. Ling Xinlu sedang memperhatikannya, wajahnya tampak kaku dan tegang. Kecemasan serta rasa tidak aman yang terukir di raut wajahnya membuatnya tampak seolah sedang marah.
"Aku akan memberimu waktu. Kau masih punya beberapa hari lagi sampai kontrakmu berakhir. Putuskan saat itu juga. Apakah kau akan menandatanganinya, atau membiarkan kontrak ini berakhir."
"Ini bukan sesuatu yang bisa kukendalikan dengan usaha atau tekad."
"Kalau begitu paksa dirimu untuk mencoba."
Ling Xinlu berbicara dengan tegas. Dia tahu dirinya sedang bersikap keras kepala yang tidak masuk akal, tetapi dia tidak bisa menahan diri. Dia menutup mulutnya rapat-rapat.
Sekali lagi, Yuri menatap kontrak itu dengan gundah. Dia mendongak, menyambut tatapan Ling Xinlu yang tak tergoyahkan.
"Aku tidak ingin membuat janji yang tidak bisa kutepati."
"Kalau begitu, itu justru menjadi alasan kuat bagimu untuk membuat janji tersebut, lalu menepatinya."
Ling Xinlu tidak mundur sedikit pun. Matanya, yang berkilau karena air mata yang tertahan, menatap tajam ke arah Yuri.
Namun Ling Xinlu juga tahu bahwa dirinya sedang bersikap tidak masuk akal. Alasan Yuri tidak menyinggung hal itu adalah karena dia tahu Ling Xinlu menyadarinya, namun tetap bersikeras dengan keras kepala.
"Apakah kau marah? Apakah kau mulai bosan denganku?" Ling Xinlu tiba-tiba bertanya, suaranya tercekat oleh kecemasan, ditujukan kepada Yuri yang sedang menatap kontrak dengan ekspresi gundah.
Aku benar-benar tidak ingin mendengar suara seperti itu, pikir Yuri sambil mendongak.
"Jangan marah. Aku sungguh takut saat kau marah, Tuan Gable."
Justru karena Yuri jarang marah. Jika dia sampai marah, dia mungkin akan benar-benar membencinya.
Ling Xinlu, yang tampak lesu, berbisik sambil menjulurkan tangan. Dia ragu-ragu di dekat pergelangan tangan Yuri, seolah takut untuk menyentuhnya.
Meskipun Yuri tidak akan menarik diri jika dia menggenggam tangannya, Ling Xinlu tampak ketakutan; tangannya melayang di udara sebelum akhirnya mencengkeram selimut. Seolah dia perlu memegang sesuatu, apa pun itu, dalam rasa frustrasinya.
"Aku akan mencoba hal lain," pintanya.
"Aku akan menyesuaikan diri denganmu dalam hal lain, Tuan Gable. Tapi tidak yang satu ini. Aku tidak bisa, sepertimu, merasa puas dengan jarak yang jauh, menjalani hidup masing-masing dengan tekun, sesekali bertukar pesan dan saling mendoakan, mencintai dengan tenang dan damai. Aku tidak bisa melakukannya."
Ling Xinlu menggelengkan kepala, memohon.
Dia telah memikirkannya selama berhari-hari. Selama malam-malam tanpa tidur, hari-hari yang dihabiskan dengan memikirkan Yuri, dia telah mempertimbangkannya.
Namun sekeras apa pun dia mencoba, itu mustahil.
Membayangkan Yuri merasa puas tanpa dirinya di sisi saja sudah membuat dunianya terasa gelap gulita.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.