The Prosecutor’s Office Proposal - Chapter 73

Han Sujin, sang ibu, memasuki ruangan dengan mengenakan jaket tebal pendek yang usang dan kotor, sembari menyibakkan rambutnya yang berantakan. Bahunya bersandar pada sang suami. Karena keluarga korban sering datang berkunjung tiba-tiba tanpa membuat janji temu, aku tidak panik dan melangkah maju untuk menyapa pasangan itu lebih dulu.

"Anda bisa duduk di sebelah sini."

"Baik, Pak Jaksa."

"Saya adalah penyelidik, dan orang di sebelah saya ini adalah Jaksa Joo Taeson."

Aku sudah tak ingat lagi entah keberapa kalinya aku harus mengatakan kalimat itu. Rasanya aku ingin menempelkan papan nama saja di kemejaku.

"Ah, begitu rupanya. Halo, Pak Jaksa."

"Saya Jaksa Joo Taeson dari Divisi Kriminal 1."

Saat Ahn Dongjin mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku, secara naluriah aku menyambutnya lalu melepaskannya. Dia juga mengulurkan tangan ke arah Jaksa Joo, tetapi Jaksa Joo mengabaikan uluran tangan Ahn Dongjin, memilih duduk, dan langsung ke pokok permasalahan. Ahn Dongjin menurunkan tangannya yang tak disambut itu dengan raut wajah canggung.

"Rencananya kami akan segera menghubungi Anda untuk panggilan pemeriksaan, jadi apa yang membawa Anda datang ke sini?"

"Istri saya bilang ada yang ingin dia sampaikan."

Aku mengamati ekspresi dan sikap sang suami dengan saksama. Aku bisa merasakan Jaksa Joo, yang duduk di sebelahku, juga tengah meneliti mereka berdua dengan lekat, meski dia berpura-pura sebaliknya.

Meskipun wajar bagi seorang ayah untuk tetap berusaha setenang mungkin, raut wajah Ahn Dongjin terlihat sangat datar tanpa ekspresi. Istrinya, Han Sujin, bersusah payah membuka kelopak matanya yang bengkak dan nyaris tidak sanggup untuk sekadar membuka mulut.

"Tolong hukum si keparat Lee Hyunsu itu, hukum dia seberat-beratnya, Pak Jaksa. Saya datang untuk menyampaikan hal itu. Dia telah membunuh anak-anak saya, yang sudah seperti darah daging saya sendiri.... Padahal akhirnya saya sudah berhasil membesarkan mereka semua...."

Han Sujin berhenti berbicara saat tangisnya kembali pecah. Wajahnya sepucat mayat tanpa tenaga sedikit pun, dan bahunya bergetar karena isak tangis yang memilukan. Suaminya hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat sambil merangkulkan tangan ke lengan sang istri.

"Hal-hal yang Anda katakan barusan dapat digunakan sebagai kesaksian di pengadilan. Apakah Anda setuju untuk dibuatkan berita acara resmi?"

Jaksa Joo bertanya kepada pasangan itu dengan lugas. Pernyataan seperti itu biasanya baru dilontarkan setelah menunggu air mata sedikit mereda, tetapi kepribadiannya yang dingin dan tak kenal pengecualian, sama sekali tidak berubah meskipun orang tua korban ada di hadapannya. Han Sujin mengambil tisu yang kutarik dan kusodorkan kepadanya, mengusap matanya yang mulai membengkak, lalu mengangguk.

"Ya. Asalkan itu bisa membantu menghukum si keparat Lee Hyunsu."

"Petugas Lee, bawa laptopmu dan buat berita acaranya."

"Baik, Pak Jaksa."

Aku tidak akan pernah bisa terbiasa melihat kesedihan dari orang tua yang kehilangan anak-anak mereka. Aku menatap punggung pasangan itu sekilas dan memberikan isyarat lewat mata kepada Jaksa Joo agar bersikap sedikit lebih lembut, tetapi permintaan itu langsung ditolaknya mentah-mentah. Dia tetap sama seperti biasanya, bahkan saat berhadapan dengan orang tua korban sekalipun. Dia tengah mengamati keluarga korban itu secara mendetail dengan tatapan tajam, seolah-olah sedang menatap seorang tersangka.

Sungguh menarik melihat bagaimana objektivitasnya yang teliti dan intuisinya yang tajam seolah tumpul begitu saja hanya jika berhadapan dengan Oh Jahyeon.

Kurasa itu membuktikan betapa dia sangat terobsesi dengan kasus ini. Jaksa Joo adalah sosok yang berpikir secara rasional dan fleksibel berdasarkan bukti fisik serta keterangan saksi. Namun, jika dihadapkan pada hipotesis bahwa Oh Jahyeon adalah pelakunya, pendiriannya tidak akan goyah sedikit pun, terlepas dari logika apa pun yang kusampaikan.

Saat aku kembali membawa laptop dan duduk, Han Sujin mengusap pipinya yang kering, lalu mulai berbicara.

"Saat saya pulang bersama kakak perempuan saya dan mengecek ke dalam, anak-anak saya sudah meninggal semua."

"Pukul berapa Anda menemukan mereka?"

"Pukul 10? Pukul 11 malam? Sekitar waktu itu. Begitu sampai di rumah, saya langsung sadar ada perampok yang masuk. Ruang tengah sudah berantakan, jadi saya bergegas memeriksa kamar anak-anak, dan kemudian...."

Kami sebenarnya sudah mengetahui semua yang diceritakan sang ibu karena telah membaca berkas keterangan yang dilimpahkan oleh pihak kepolisian. Namun, karena aku paham bahwa orang tua korban ingin jaksa dan penyelidik mendengar penuturan yang sama secara langsung, aku tetap mendengarkannya dengan saksama. Setelah itu, aku menanyakan situasi selanjutnya.

"Apa yang Anda lakukan setelah menemukan anak-anak Anda?"

"Saya langsung menelepon polisi dan 119. Petugas pemadam kebakaran yang datang mengatakan bahwa mereka sudah meninggal cukup lama."

"Apakah Anda menelepon suami Anda?"

"Tidak, pikiran saya sudah sangat kacau saat itu...."

Tatapan Jaksa Joo tertuju pada sang suami.

"Bapak Ahn Dongjin, Anda berada di mana pada waktu itu?"

"Saya sedang bekerja di luar kota, Pak Jaksa."

"Sejak pukul berapa?"

"Sejak pukul 5 sore."

"Pukul berapa Anda berangkat dari rumah?"

"Sekitar pukul 4 menggunakan mobil. Istri saya sedang tidak ada di rumah saat itu, jadi tidak ada yang bisa memastikannya, tapi... saya melihat anak-anak sedang tidur siang sebelum saya berangkat."

Kali ini, aku bertanya kepada Han Sujin.

"Apakah anak-anak biasanya tidur siang pada waktu tersebut?"

"Ya, mereka berdua memang banyak tidur."

Han Sujin menjawab dengan suara yang pelan dan lirih.

Sang suami berangkat dari rumah pada pukul 4. Itu adalah rentang waktu yang ambigu.

Karena selimut listrik dinyalakan hingga suhu 50 derajat, rentang perkiraan waktu kematian menjadi cukup lebar. Jika dia membunuh mereka lalu bergegas pergi, waktu tersebut mungkin saja cukup baginya untuk melakukan pembunuhan.

Aku mencatat keterangan pasangan suami istri itu dengan saksama dan mengajukan pertanyaan tambahan kepada Han Sujin.

"Saya dengar petugas medis bahkan tidak melakukan CPR karena sudah dipastikan bahwa mereka telah meninggal."

"Ya."

"Apakah Anda sendiri sempat mencoba melakukan CPR, Ibu Han Sujin?"

"Tidak. Bahkan bagi penglihatan saya sendiri, sudah sangat jelas bahwa mereka telah tiada."

"Apakah Anda yakin dengan kondisi kedua anak Anda?"

"Ya."

Jaksa Joo, yang sedari tadi mendengarkan kesaksian tersebut dalam diam, akhirnya angkat bicara. Sebuah pertanyaan tak terduga meluncur dari bibirnya. Pertanyaan itu berkaitan dengan sesuatu yang tidak dapat dipastikan dari berkas kepolisian.

"Ibu Han Sujin, mengapa Anda pulang ke rumah bersama dengan kakak perempuan Anda?"

"Karena saat itu sudah larut malam. Kakak saya bilang dia akan mengantar saya pulang."

"Mengapa kakak Anda tidak langsung pulang, melainkan masuk ke dalam rumah bersama Anda, Ibu Han Sujin?"

"Saya memintanya mampir untuk minum kopi sebelum pulang. Saya juga bermaksud memintanya menyapa suami saya jika dia sudah pulang. Pak Jaksa, si keparat Lee Hyunsu itu melihat anak-anak saya tumbuh besar namun tega melakukan hal seperti itu. Bagaimana bisa dia membunuh anak temannya sendiri hanya demi uang yang tidak seberapa? Kami bertiga berteman. Jadi tolong, hukum dia seberat-beratnya."

Jaksa Joo menjawab dengan agak dingin.

"Akan lebih baik jika Anda menyampaikan hal itu kepada hakim."

Dia menanyakan beberapa pertanyaan lagi setelah itu. Awalnya Han Sujin meratap pilu, tetapi seiring berjalannya waktu, dia mulai bisa menjelaskan situasinya dengan tenang tanpa menangis.

Ahn Dongjin sendiri tidak mengatakan apa pun atau menunjukkan emosi apa pun kecuali saat Jaksa Joo dan aku mengajukan pertanyaan. Dia begitu tenang sampai-sampai orang akan percaya jika dia mengaku sebagai tetangga, bukannya ayah korban. Kecurigaan yang tajam menggelitik benakku dan membuatku merasa tidak nyaman.

"Kita selesaikan pengambilan keterangannya sampai di sini, dan kami akan menghubungi Anda kembali jika ada pertanyaan lain."

"Baik, Pak Jaksa. Saya serahkan semuanya pada Anda."

Han Sujin membungkuk berkali-kali, sementara Ahn Dongjin berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Bagaimana seseorang bisa menyelami hati seorang ibu yang harus mengantar kepergian anak-anaknya mendahului dirinya? Merasa iba kepadanya, aku mengikuti mereka keluar untuk mengantar kepergian mereka. Aku menahan tubuhnya ketika dia mencoba membungkuk kepadaku juga.

"Tidak perlu memohon. Penyelidikan adalah tugas yang wajib kami lakukan dengan saksama; Anda tidak perlu memintanya."

"Terima kasih, Pak Penyelidik. Tolong selesaikan kasus anak-anak kami."

"Jangan khawatir. Hati-hati di jalan."

"Meski begitu, saya merasa sedikit lebih lega setelah menyampaikannya. Terima kasih."

Dia menundukkan kepalanya beberapa kali lagi, lalu beranjak pergi menyusuri lorong yang dingin bersama suaminya, kembali ke arah kedatangan mereka.

Setibanya di rumah nanti, dia takkan bisa lagi berbicara dengan anak-anaknya atau memeluk mereka. Dia juga takkan bisa melihat senyum di wajah mereka. Memikirkan hal itu, hatiku terasa berat.

Apakah kedua putra Kang Woosung juga menangis seperti itu sepanjang pemberian kesaksian mereka?

Sejak hari Sabtu, aku memikirkan keluarga Bapak Kang Woosung—yang bahkan tidak kukenal—lebih sering daripada memikirkan ayahku sendiri. Walaupun ada beberapa hal yang mencurigakan, setelah melihat kesaksian putra keduanya dan hasil analisis DNA pada alat penusuk itu, aku tidak bisa menyangkal bahwa sang ayah adalah pembunuhnya. Rasa bersalah yang dingin merayap di punggungku.

Baru setelah ujung rok Han Sujin berbelok di sudut lorong dan menghilang ke arah lift, aku membalikkan badan. Wajah pucat anak-anak yang terlampir dalam berkas itu terbayang di pelupuk mataku.

Korban pertama ditikam di bagian dada dengan pisau, sementara korban kedua meninggal karena dibekap dan tubuhnya bersih tanpa luka luar. Tentu saja, mati lemas bukan berarti tidak meninggalkan tanda sama sekali pada tubuh. Karena pelaku menduduki kedua lengan anak itu dengan tubuhnya dan membekapnya menggunakan bantal, terdapat luka memar di kedua lengan serta bintik-bintil kecil berwarna merah dan ungu yang muncul akibat pecahnya pembuluh darah kapiler di balik kelopak matanya.

Sudah hampir waktunya untuk pergi ke ruang interogasi, jadi aku kembali ke ruang kantor bagian dalam. Aku menutup pintu dan melontarkan sepatah kata kepada Jaksa Joo, yang masih saja tanpa ekspresi.

"Tidak bisakah Anda bersikap sedikit lebih ramah? Dia adalah ibu dari anak-anak yang meninggal itu."

1.535 kata

The Prosecutor’s Office Proposal - Chapter 73

My Donation

Dukung translator

lovesis227 • The Prosecutor’s Office Proposal

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.