The Prosecutor’s Office Proposal - Chapter 76

"Aku bertanya padamu mengapa metode pembunuhannya diubah. Sebuah pisau dengan noda darah telah ditemukan, jadi apa kau pikir kau akan aman hanya dengan bertahan sampai akhir?"

Jaksa Joo mencoba membentaknya, tetapi Lee Hyunsu menolak untuk mengakui kesalahannya hingga akhir. Dia diinterogasi untuk waktu yang lama setelah itu sebelum dikirim kembali ke penjara pada larut malam.

Waktu menunjukkan pukul 8 malam saat Jaksa Joo dan aku kembali ke kantor kejaksaan. Pada titik ini, aku bahkan tidak mempertimbangkan untuk pulang kerja, jadi aku berbicara kepada Jaksa Joo lebih dulu.

"Saya akan meninjau kembali kesaksian orang tua korban."

"Petugas Lee."

"Ya."

Wajah Jaksa Joo, yang sedikit miring, tampak kelelahan. Cahaya lampu neon yang pucat dan suram memancarkan rona kebiruan pada wajah kedua orang yang berdiri di dalam kantor tersebut.

"Petugas Lee, apa kau memercayai Lee Hyunsu? Bahwa Ahn Dongjin mencuri pisau itu dan membunuh mereka, dan dia sendiri tidak melakukannya?"

"...Mempertimbangkan bukti-bukti yang ada, saya tidak bisa memercayainya. Lee Hyunsu mengklaim hal itu, tetapi Ahn Dongjin dan Han Sujin tidak punya kesempatan untuk mengembalikan pisau tersebut. Sang ibu langsung melapor segera setelah dia menemukan jasad anak-anaknya, dan polisi menangkap Lee Hyunsu keesokan harinya. Sampai saat itu tiba, tak satu pun dari mereka memiliki kesempatan untuk pergi ke rumah Lee Hyunsu. Terlebih lagi, Lee Hyunsu sendiri menyatakan bahwa dia tetap di rumah karena merasa sedang tidak enak badan. Dia pada dasarnya telah membantah klaimnya sendiri bahwa sang ayah mencuri lalu mengembalikan pisau itu."

"Itu benar. Bukti fisiknya sempurna."

"Tapi...."

"Tapi apa?"

"Ekspresi sang ayah terlalu tenang, bukan?"

"Memang."

Jaksa Joo, yang mengangguk dengan tenang, sepertinya tengah diliputi oleh kecurigaan lain.

Dalam kasus ini, karena bukti fisiknya sudah pasti, polisi menyelidikinya secara asal-asalan lalu melimpahkannya. Bahkan di pihak kejaksaan sekalipun, dalam kasus-kasus seperti ini, mereka hanya berfokus untuk mendapatkan pengakuan tersangka. Mengingat peluang untuk kalah di pengadilan sangatlah kecil selama senjata pembunuhannya telah ditemukan, sekalipun Lee Hyunsu tidak mengaku sampai akhir, jaksa lain mana pun pasti akan segera menyusun surat dakwaan dan membawanya ke persidangan tanpa perlu bersusah payah.

Aku penasaran kecurigaan lain apa yang tengah mengusik benak Jaksa Joo.

"Untuk saat ini, periksa kembali kesaksian Ahn Dongjin dan Han Sujin. Aku akan menyelidiki masalah asuransi jiwa itu."

"Baik, Pak Jaksa."

Sembari menatap Jaksa Joo yang sedang duduk, aku bertanya dengan hati-hati.

"Perlukah aku keluar untuk membeli gimbap?"

"Kau lapar?"

"Tidak, bukan begitu, hanya saja...."

Sebenarnya aku sedikit lapar, tetapi karena merasa sungkan, aku hanya bergumam tidak jelas. Jaksa Joo berkata seraya bangkit dari tempat duduknya.

"Kedai gimbap di depan melayani pesan-antar. Aku yang akan memesan, jadi kau pilih saja."

Dia berjalan mendekati meja Petugas No dan mencabut salah satu brosur yang tertempel di sana. Para staf pegawai biasanya hafal di luar kepala mengenai restoran-restoran yang ada di sekitar kantor kejaksaan.

Aku melihat berbagai pilihan menu pada brosur gimbap tersebut dan menjatuhkan pilihan pada salah satunya.

"Gimbap telur."

"Apakah gimbap tanpa nasi yang hanya berisi tumpukan telur bisa dihitung sebagai makanan yang layak? Pilih yang lain."

"Kalau begitu, gimbap kecil saja."

"Kau ini sudah dewasa, untuk apa makan gimbap kecil? Porsinya terlalu sedikit. Makan yang lain."

"...Kalau begitu, aku pesan gimbap daun perilla saja."
"Makanlah tuna atau daging sapi. Kau butuh asupan protein. Makanya badanmu kurus begitu, Petugas Lee."

"...Kalau begitu, gimbap daging sapi saja."

Kalau ujung-ujungnya akan seperti ini, kenapa dari awal dia menyuruhku memilih? Aku merasa mulai mengerti mengapa Jaksa Joo tidak pernah menanyakan apa yang ingin kupesan setiap kali kami pergi ke restoran bersama. Sepertinya dia memiliki semacam kebutuhan psikologis untuk mengendalikan orang lain.

Aku pernah belajar di kelas psikologi kriminal bahwa seseorang tidak seharusnya berkencan dengan orang yang obsesif atau suka mengontrol. Aku jadi bertanya-tanya apakah tidak masalah jika hubungan kami hanyalah sebatas partner seks, bukan sebuah jalinan asmara.

Tentu saja itu tidak mungkin.

Karena sudah mengetahui jawabannya, diam-diam aku menghela napas pelan dan berkata.

"Jika saya harus memilih dengan cara seperti ini setiap saat, lain kali Pak Jaksa saja yang langsung memesankan apa pun itu. Saya bisa makan apa saja."

"Itu lebih baik. Mulai lain kali, aku saja yang akan memesan."

"..."

"Dan sarkasme tidak mempan padaku."

Kukira aku sudah menyembunyikannya dengan baik, tetapi sepertinya aku ketahuan.

Jaksa Joo menelepon kedai gimbap dan memesan beberapa menu tambahan yang tidak kami diskusikan sebelumnya. Meskipun begitu, sembari membaca kembali berkas catatan orang tua korban, aku membatin, haruskah aku bersyukur karena Pak Jaksa memesankannya secara langsung untukku?

Mengikuti jejak Jaksa Joo, aku mulai mencermatinya dengan penuh kecurigaan. Setelah membaca ulang kesaksian tersebut sekitar tiga kali, bagian-bagian yang janggal mulai terlihat jelas. Aku pun berbicara kepada Jaksa Joo.

"Kesaksian kedua orang itu jelas-jelas terasa janggal."

Jaksa Joo, yang sedari tadi sedang memeriksa dokumen asuransi, mendongak.

"Katakan padaku."

"Pertama, mengenai Han Sujin yang mengatakan bahwa anak-anaknya telah meninggal. Jika Anda melihat foto-foto rekonstruksi TKP, selimut semua anak itu ditarik hingga menutupi wajah mereka saat pertama kali ditemukan oleh Han Sujin. Dalam kondisi seperti itu, orang-orang biasanya akan menyatakan bahwa mereka mengira anak-anak tersebut sedang tidur. Namun, Han Sujin sama sekali tidak pernah mengatakan bahwa dia mengira mereka sedang tidur, baik dalam kesaksian awalnya kepada pihak kepolisian maupun dalam kesaksiannya di kantor kejaksaan hari ini."

"Lalu?"

"Kesaksian Ahn Dongjin juga janggal. Sama sekali tidak ada luapan emosi yang terlihat darinya, entah itu rasa sedih, marah, ataupun kesulitan dalam menerima kenyataan. Meskipun seseorang tidak menitikkan air mata, wajar jika terlihat tanda-tanda kelelahan pada postur tubuh maupun tatapan mata mereka, tetapi dia terlihat terlalu acuh tak acuh."

"Kau benar. Jika kau melihat catatan polisi, kakak perempuan Han Sujin justru menunjukkan duka cita yang jauh lebih mendalam."

"Apakah saya sudah menemukan semuanya?"

"Sebenarnya, ada satu lagi."

"Satu lagi?"

"Hubungan mereka sedemikian buruknya hingga tidur di kamar terpisah, lalu mengapa dia bersikeras untuk mengenalkan suaminya kepada sang kakak perempuan pada selarut itu? Apakah dia bahkan tidak tahu kalau suaminya akan pergi melakukan perjalanan bisnis ke luar kota?"

Dia mengetuk meja dengan jari telunjuknya yang memakai bidal seolah itu adalah sebuah kebiasaan, lalu menghela napas panjang dan menambahkan.

"Pasangan suami istri itu dua-duanya aneh. Mungkinkah mereka bersekongkol bersama untuk menjebak Lee Hyunsu?"

"Tidak mungkin.... Han Sujin memang memiliki kontradiksi dalam kesaksiannya, tetapi dia benar-benar terlihat sedang berduka. Dan apakah mereka akan bersekongkol untuk membunuh anak-anak mereka di saat hubungan mereka sedang sangat buruk hingga memikirkan perceraian?"

"Siapa yang tahu. Kekejaman manusia itu tidak ada batasnya."

Aku melangkah dengan hati-hati di atas batu pijakan yang telah dipersiapkan oleh Jaksa Joo untukku dan bergerak maju perlahan-lahan. Namun, pada akhirnya aku tetap tiba di jalan buntu gara-gara pisau yang berlumuran darah anak pertama tersebut.

"Tetap saja, bukti fisiknya terlalu pasti. Baik Ahn Dongjin maupun Han Sujin tidak punya waktu untuk mengembalikan pisau itu. Setelah anak-anak itu meninggal, Lee Hyunsu berada di rumah. Ada kesaksian dari orang yang mengantarkan makanan, dan catatan digital dari TV yang menyala dan mati pada selang waktu tersebut. Sekalipun kita berasumsi bahwa salah satu dari pasangan itu mencuri pisaunya, mereka pasti butuh kepastian bahwa teman mereka sedang tidak ada di rumah agar bisa mengembalikannya setelah membunuh anak-anak tersebut. Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa mereka bertiga saling berkomunikasi pada hari itu. Hasil forensik telepon seluler juga bersih."

"Itu benar.... Itu adalah penalaran yang logis. Melihatnya seperti yang diinterpretasikan oleh Petugas Lee adalah langkah yang tepat untuk saat ini. Terlepas dari itu, mari kita coba lihat apakah besok kita bisa mematahkan klaim Lee Hyunsu sepenuhnya."

"Apakah kita akan turun ke lapangan untuk melakukan penyelidikan?"

"Kita harus melakukannya."

Tepat saat itu, telepon Jaksa Joo berdering. Gimbap pesanan kami telah tiba. Jaksa Joo menahanku saat aku hendak bangkit dari tempat dudukku.

"Tetaplah duduk. Biar aku yang mengambilnya."

"Terima kasih."

Saat melihat momen-momen seperti ini, bahkan Jaksa Joo yang biasanya tampak otoriter pun ternyata memiliki sisi yang rendah hati. Meskipun hal itu hanya terjadi sesekali.

Begitu Jaksa Joo kembali dengan membawa kantong-kantong berisi gimbap, aku berdiri, mengambilnya, lalu masuk ke ruang dalam. Selagi aku mengeluarkan makanan dan bersiap untuk makan, terdengar suara gemerisik dari ruangan seberang. Aku bisa membayangkan dengan jelas pemandangan di mana jari-jarinya yang panjang dan ramping tengah merapikan dokumen-dokumen asuransi yang baru saja dia baca dengan saksama.

Terdengar suara pintu ditutup tepat di belakangku. Dia menarik sebuah kursi lalu duduk di sebelahku, alih-alih duduk berhadapan denganku seperti biasanya.

"Kenapa di sebelah...."

Sebelum aku sempat menyelesaikan pertanyaan itu, wajahnya mendekat, dan bibir kami bertaut. Jari-jariku, yang tadinya sedang membuka bungkusan makanan, seketika menegang, dan rona panas menyebar dengan cepat di tengkukku layaknya bunga sakura di bulan April.

Bibir kami saling bersentuhan dengan lembut, bagaikan embusan angin musim semi yang membelai kelopak bunga. Deru napas kami beradu perlahan. Memanfaatkan celah singkat saat bibirnya—yang sedari tadi menekan dan melumat bibirku—sedikit menjauh, aku berhasil membuka suara dengan susah payah.

"Pintunya, Anda harus menguncinya...."

"Aku sudah menguncinya saat masuk tadi, jadi rilekskan saja bibirmu. Kau bisa berhenti menyiksaku, karena aku sudah dibuat hampir gila seharian ini."

Seharian ini.... Padahal hal itu sama sekali tidak terlihat dari luar.

Merasakan telapak tangannya yang besar menangkup tengkukku, aku memejamkan mata dan perlahan membuka bibirku. Lidahnya yang basah dan lembut perlahan menyelinap ke dalam mulutku dan bertaut dengan lidahku dengan hati-hati.

1.535 kata

The Prosecutor’s Office Proposal - Chapter 76

My Donation

Dukung translator

lovesis227 • The Prosecutor’s Office Proposal

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.