The Prosecutor’s Office Proposal - Chapter 83

Aku kembali ke kantor cabang, mengirimkan surat resmi permohonan kerja sama ke kantor polisi, dan bahkan berbicara secara terpisah dengan detektif yang bertugas. Awalnya detektif itu tidak mengerti mengapa target tersangka tiba-tiba diubah, tetapi dia akhirnya setuju setelah memeriksa rekaman CCTV dari toko perkakas.

— Saya akan segera mengerahkan orang untuk melakukan pengawasan, Penyelidik.

"Terima kasih."

Setelah menutup telepon, tidak ada waktu untuk sekadar mengatur napas. Karena kami harus segera menangkap Han Sujin, aku melampirkan barang bukti, menyusun draf surat perintah penangkapan, dan mengirimkannya kepada Jaksa Joo.

Aku ingin menyelesaikan kasus Han Sujin secepat mungkin. Hanya dengan begitu kami bisa memulai penyelidikan terhadap Tuan Kim, seorang Koryo-in yang terekam dalam CCTV toko perkakas tersebut.

Aku baru saja membuka berkas penyelidikan untuk mencari foto Tuan Kim sebagai keperluan interogasi saksi ketika telepon kembali berdering. Melihat nama yang tertera di layar, sepertinya panggilan itu dari detektif yang baru saja berbicara denganku.

"Saya Penyelidik Lee Chaeha dari Divisi Kriminal 1, Kantor Cabang Danhyeon."

— Ini Detektif Ma. Han Sujin belum kembali ke rumah saudarinya sejak Penyelidik melihatnya.

"Apakah dia sudah melarikan diri?"

Aku bisa merasakan tatapan Jaksa Joo saat aku mengajukan pertanyaan itu. Ternyata kami tidak menemukan bukti apa pun dan malah memberi Han Sujin celah untuk melarikan diri. Fakta bahwa dia mampir ke rumah di saat yang bersamaan... Kami sungguh tidak beruntung.

— Untuk saat ini, kami akan melakukan pengintaian semalaman. Ponselnya sedang mati, tetapi saya akan terus memantau kalau-kalau ponselnya kembali aktif.

"Ya, tolong lakukan itu. Terima kasih atas kerja keras Anda."

Segera setelah aku menutup telepon, Jaksa Joo bertanya.

"Apa firasatmu, Petugas Lee?"

"Menurut saya, dia langsung melarikan diri saat itu juga."

"Sudah kuduga...."

"Haruskah kita serahkan pada polisi untuk berjaga-jaga kalau dia kembali?"

"Mari kita ikuti firasatmu, Petugas Lee."

Aku bisa merasakan pandangannya yang tertuju padaku sedikit goyah. Jelas, reaksi hatiku berbeda dibandingkan saat Kepala Song mengakui kemampuanku. Ini pasti karena aku sangat menghormati Joo Taeson dan mengaguminya dengan tulus.

"Saya akan menelepon lagi sekarang untuk memastikan lokasi terakhir sinyal ponselnya. Itu masuk dalam wilayah hukum Kantor Polisi Danhyeon, bukan?"

"Ya, itu berada di bawah wilayah hukum Detektif Ma."

Jari-jarinya yang panjang segera meraih gagang telepon.

Aku memutar-mutar pelindung jari biruku dan menatap kalender meja. Meskipun aku tahu betul bahwa hari ini adalah hari Rabu, aku ingin memastikannya sekali lagi. Ini adalah hari yang telah kutunggu-tunggu selama beberapa waktu, tetapi karena perkembangan kasus ini sangat sibuk, aku cemas rencananya akan berantakan.

Tiba-tiba, aku teringat saat dia mencoba memakai pelindung jari itu di jarinya sendiri di ruangan jaksa yang sedang kosong. Terkadang aku ingin bertanya kepadanya mengapa dia melakukan itu.

Setelah lewat pukul enam, Kepala Song dan Petugas No beranjak dari kursi mereka satu per satu dan pamit pulang. Jaksa Joo tampak fokus bekerja seperti biasa, tetapi dia langsung menutup berkas-berkasnya begitu jam menunjukkan pukul tujuh.

"Ayo berdiri."

"Baik."

Aku bangkit dari kursiku dan merapikan meja. Saat mengenakan mantel yang sebelumnya dia gantung, dia melontarkan sebuah komentar.

"Kenapa kelihatan jelas sekali kalau kau sedang menunggu?"

"...Saya?"

"Kau terus-terusan melihat jam sejak siang. Gara-gara itu, perasaanku malah jadi makin tidak karuan."

"Apakah perasaan Anda juga ikut tidak karuan, Jaksa?"

"Ada beberapa kali di tengah pekerjaan tadi aku nyaris meraih tanganmu dan menyeretmu keluar."

Mungkin dia merasa gerakanku saat membereskan tas dan mengenakan mantel terlalu lambat, sebab Jaksa Joo melangkah menghampiri dan mengancingkannya untukku.

"Saya bisa melakukannya sendiri."

"Biar aku saja."

Aku menunduk menatap jari-jarinya yang tebal saat mengaitkan kancing-kancing itu, lalu menyandang tasku dengan pipi yang sudah merona.

Kini aku sudah terbiasa dengan mobil Jaksa Joo. Namun, pergi ke apartemennya masih terasa sedikit asing.

Segera setelah memasuki rumahnya, aku meletakkan tasku dengan canggung dan mencari kamar mandi terlebih dahulu.

"Saya akan mandi dan segera keluar."

"Mau mandi bersama?"

"Itu agak...."

Saat aku menolak dengan ragu, dia mengernyit sesaat, tetapi kemudian menunjuk ke arah kamar tidur dengan tangannya seolah menyuruhku untuk bergegas mandi. Sepertinya dia berniat menggunakan kamar mandi di lorong. Ini adalah pertama kalinya aku memasuki kamar tidur itu tanpa Jaksa Joo, jadi aku melihat sekeliling dengan canggung, melepas pakaianku, dan masuk ke dalam.

Akhir pekan lalu aku tidak menyadarinya karena pikiranku sedang teralihkan, tetapi sampo, kondisioner, dan sabun mandinya... semuanya beraroma seperti Jaksa Joo. Aku membalut seluruh tubuhku dengan aromanya dan membilas busa putih itu di bawah kucuran air panas. Aku mengeringkan rambutku dengan saksama lalu keluar, tetapi aku terkejut karena Jaksa Joo sudah duduk di ranjang mengenakan jubah mandi. Aku menutupi tubuhku dengan handuk yang kupegang dan menggapai pakaianku, tetapi Jaksa Joo berdiri dan merampas kemeja itu dari tanganku.

"Untuk apa dipakai kalau ujung-ujungnya akan dilepas lagi?"

"Hanya saja... saya sedikit malu."

"Kau lamban sekali saat mandi, Petugas Lee. Kerjamu memang cepat, tapi kau tidak cepat dalam hal-hal lainnya."

"Itu karena saya mengeringkan rambut."

"Kenapa repot-repot mengeringkan rambut kalau ujung-ujungnya bakal basah oleh keringat? Membuat orang gelisah ternyata juga sebuah bakat."

"Tetap saja...."

Suara detak jantungku menjadi begitu keras hingga kata-kata yang hendak kuucapkan tertahan di tenggorokan. Telinga dan ujung-ujung jariku terasa berdesir. Tubuhku gemetar sampai-sampai aku khawatir Jaksa Joo mungkin bisa merasakan setiap detak jantungku jika dia menyentuh kulitku.

Aku masih mencengkeram handuk dengan erat, tetapi dia tidak menyingkirkannya dan justru memulai dengan melepaskan jubah mandi yang melekat di tubuhnya sendiri. Kemudian, dia merengkuh punggung bawahku dan perlahan menundukkan kepalanya. Untuk memangkas perbedaan tinggi badan kami, aku pun berjinjit. Sama seperti yang kami lakukan di ruang kerja jaksa, aku perlahan membuka bibirku dan menyambutnya.

Jaksa Joo memulai sentuhan itu dengan penuh kehati-hatian. Dia perlahan mengecap bagian dalam mulut dan bibirku, sementara tangannya membelai bagian belakang kepalaku.

Aku tidak menaruh harapan tinggi saat datang ke rumahnya. Aku bahkan tidak menyangka dia akan bersikap selembut ini. Kupikir sesuatu yang mirip dengan akhir pekan lalu akan terjadi, tetapi ciuman ini di luar dugaan terasa begitu sopan dan manis. Setiap kali lidah kami bertaut dan kehangatan itu menyelusup masuk, sebuah erangan terlepas. Berbeda dengan saat di kantor jaksa, aku senang karena di sini aku bisa mengerang sesukaku.

"Ah...."

"Aku akan bersikap lembut hari ini. Sesuai aturanku."

Ucap Jaksa Joo, menempelkan bibirnya di pipi dan ujung hidungku.

"Kalau ada sesuatu yang tidak kau sukai, Petugas Lee, katakan padaku."

"Lalu, apakah Anda akan berhenti?"

"Tidak, aku akan tetap melanjutkannya. Tapi akan kupertimbangkan."

Aku tidak ingin berharap terlalu banyak tanpa alasan, tetapi ciuman berikutnya terasa begitu lembut. Cukup untuk melelehkan seluruh tubuhku dalam kehangatan.

Bahkan saat mencecap ujung lidahku lekat-lekat, dia segera melesakkan lidahnya seolah ingin menyumbat tenggorokanku, menciptakan sensasi menyesakkan yang justru semakin membangkitkan gairahku. Aku berjinjit semakin tinggi untuk berpegangan, dan menyambut lidahnya yang basah. Celah di antara bibir kami yang bertautan terasa licin oleh penyatuan air liur.

"...Ung... ngh...."

Saat aku tak kuasa lagi menahan erangan yang meluap-luap, Jaksa Joo membaringkanku di atas ranjang.

Punggungku menyentuh kasur yang empuk, dan tautan bibir kami pun terlepas. Sentuhan basah nan panas itu kini berpindah ke leherku. Dia menyesap beberapa titik di leherku, kembali menekan perlahan dengan giginya tepat di tempat bekas akhir pekan lalu masih tersisa. Aku meronta mencoba mendorong bahunya yang bidang agar menjauh, karena aku sadar tanda yang baru saja memudar itu akan kembali memerah jelas, tetapi dia tidak bergeming sedikit pun.

"Ngh, Jaksa... nanti berbekas."

"Aku tahu. Karena itulah aku menyesapnya di situ."

"...Uung...."

"Aku ingin menyesap seluruh tubuhmu. Kulitmu begitu pucat, rasanya aku harus meninggalkan tanda agar semua ini terasa nyata."

"Apa maksudnya... Ah...."

Jaksa Joo terlalu larut mencecap tubuhku dan menorehkan tanda di sana. Kejantanannya yang telah menegang keras terus bergesekan dengan pahaku, tetapi dia sepertinya belum berniat untuk melepaskan dekapannya dari punggungku.

Bibir yang sebelumnya menyiksa leherku kini berpindah ke bagian dalam lengan bawahku. Saat menyentuh kulit yang lembut itu, Jaksa Joo sama sekali tidak menahan diri, dan justru menancapkan giginya. Dia menggigitnya pelan sedikit demi sedikit untuk meninggalkan rona kemerahan, lalu mencengkeram dan menahan lenganku saat aku berusaha menariknya karena kesakitan. Aku menggigit ujung jariku untuk meredam jeritan yang nyaris lolos begitu saja.

"Ah, sakit... ngh... kumohon...."

Tadi aku sempat berharap karena dia bilang akan bersikap lembut, tetapi seperti dugaan, harapan itu segera dipatahkan. Baru setelah kedua lengan bawah dan dadaku dipenuhi tanda, dia menjauhkan jari yang sedari tadi kugigit untuk menahan eranganku.

Seperti yang kusadari pada pengalaman sebelumnya, aku sangat sensitif di bagian jari. Ujung lidahnya yang lembut bergerak melingkar di atas sidik jariku. Hanya dengan sentuhan itu, kelopak mataku terpejam dengan sendirinya. Kenikmatan tanpa rasa sakit yang datang menyusul belaian menyakitkan sebelumnya meruntuhkan pertahananku dengan begitu mudah.

"Perlukah aku menggigit jarimu juga?"

"Ah... ngh...."

Saat aku menggelengkan kepala tanpa daya—bahkan tak sanggup membuka mata dengan benar sembari terus mengerang—dia menyesap ujung jariku dan terkekeh pelan. Setiap kali lidahnya yang basah menyapu celah-celah jariku dan ujung jariku berada di dalam mulutnya yang panas, kepalaku mendongak ke belakang. Handuk yang sedari tadi kupegang sudah lama terlepas dan jatuh dari ranjang.

1.476 kata

The Prosecutor’s Office Proposal - Chapter 83

My Donation

Dukung translator

lovesis227 • The Prosecutor’s Office Proposal

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.