Bahkan saat dia melumuri batang tebalnya yang dipenuhi urat-urat menonjol, punggung bawahku yang tegang terus melengkung ke atas. Botol pelumas yang dilemparkan Jaksa Joo mendarat di atas ranjang, dan tangannya merengkuh bagian depanku. Setelah meremas lembut bagian depanku yang telah menegang sempurna, dia menarik tangannya dan kembali membuka bokongku yang licin oleh pelumas.
"Milikmu menegang dengan cukup baik. Aku akan masuk perlahan, jadi jangan takut."
"Baik, hiks...."
Aku menjawab tanpa banyak berharap, karena sejak awal dia bilang akan bersikap lembut tetapi pada kenyataannya terus memaksaku menuruti kemauannya sesuka hati.
"Kau harus menundukkan pinggang dan mengangkat pinggulmu agar lubangmu bisa mencengkeram milikku dalam-dalam. Kau bahkan belum tahu apa yang akan membuatmu gila...."
Suara decakan lidah pelan terdengar dari belakangku. Aku mengerti instruksi itu, tetapi keteganganku tak kunjung mereda, dan aku tidak bisa menahan diri saat punggung bawahku terus melengkung setiap saat. Syukurlah, Jaksa Joo tidak memarahiku lebih jauh dan perlahan mulai mendorong kejantanannya masuk.
"Uung... ah, ngh...."
Batang tebal itu melesak masuk seolah hendak mengoyak tubuhku. Keringat bermunculan di kulitku seakan ada hawa lembap yang tengah menyebar. Dia menghabiskan waktu yang cukup lama untuk memasukkannya perlahan-lahan.
"Ngh...."
"Sekarang setelah setengahnya masuk, aku akan mencoba bergerak sedikit, hah...."
Mungkin dia memang berniat untuk bersikap lembut, mengingat dia memberikan peringatan yang tak terduga penuh pengertian. Kemudian, dia benar-benar menariknya keluar sedikit sebelum perlahan mendorong kejantanannya masuk kembali; pengulangan ini terus berlanjut. Gerakan dorongan yang dangkal itu dengan cepat memancing hawa panas di perutku.
Dorongan yang awalnya hanya menyisakan rasa sakit itu perlahan mulai berbaur dengan secercah kenikmatan seiring dengan pengulangannya. Dia menarik bokongku semakin dekat, perlahan menambah kedalaman hujamannya.
Pinggulku bergetar tak terkendali menahan sakit, tetapi dibandingkan dengan terakhir kali, jelas ada bentuk pengertian yang dia berikan. Keyakinan bahwa dia tidak akan memulainya dengan kasar seperti sebelumnya perlahan tertanam di benakku. Sesuai janjinya, dia hanya bergerak dangkal sampai aku cukup beradaptasi, baru setelahnya dia mulai melesakkan miliknya masuk sepenuhnya.
"Ngh...."
Saat kejantanannya akhirnya melesak masuk hingga ke pangkal, kepalaku yang basah oleh peluh mendongak ke belakang dan sekujur tubuhku bergetar hebat. Tekanan yang kurasakan di dalam perutku terasa begitu kuat. Dia menampar bokongku yang berlumur pelumas, memberiku peringatan dengan makna yang jelas berbeda dari sebelumnya.
"Karena kau sudah cukup longgar, sekarang aku akan menghantammu habis-habisan."
"Ya... uung... ah! Ngh...."
Jari-jarinya yang berbuku tebal mencengkeram bokongku, menariknya kuat-kuat, dan mulai menghujam. Akibat pelumas yang dioleskan Jaksa Joo pada bokongku, setiap kali dia menghujam dalam, pergesekan kulit kami menimbulkan suara decakan basah saat saling menempel dan terlepas. Aku tak mampu lagi menahan suaraku seiring dengan sensasi asing nan erotis dari penyatuan kulit basah yang merengkuhku dan tekanan yang menumbuk bagian terdalamku perlahan menguasai diri ini.
"Ah... uung, ngh...."
Dengan susah payah aku bertahan menggunakan jari-jari kaki yang nyaris kehilangan tenaganya. Punggung bawahku masih melengkung dengan canggung.
Meskipun begitu, sensasi batang tebal yang membelah dinding bagian dalamku terasa begitu kuat, dan beban tubuhnya yang membentur bagian belakangku lalu menjauh terasa begitu merangsang, hingga aku mengerang tanpa sadar dengan rahang ternganga. Tanpa kusadari, bulu mataku telah basah oleh air mata dan untaian air liur memanjang di sela-sela bibirku. Dari balik bulu mataku yang bergetar, noda tempat air liur yang menetes dan membasahi seprai, serta punggung tanganku yang memerah karena gesekan, terpampang dengan jelas.
"Sial, bagian dalam ini... hah, terus mencengkeram milikku dan tidak mau melepaskannya."
"Ya, ngh...."
"Di sini. Tempat yang membuatmu gila."
"Ah! Uung, ngh... ya... hiks...."
Menerima rangsangan yang bahkan membuat paha bagian dalamku bergetar, aku mengangguk cepat, membenarkannya bahkan tanpa menyadarinya. Ujung kejantanannya, yang tadinya kupikir tidak bisa masuk lebih dalam lagi, menekan kuat dan licin pada bagian dalamku yang memanas.
Sepertinya aku lebih merasakannya setiap kali dia merangsang area tersebut. Setiap kali sentuhan daging yang tebal itu menekan turun seolah melumat titik itu dan batangnya ditarik keluar dengan cepat, seluruh tubuhku dari pinggul hingga ujung kaki bergetar oleh kenikmatan yang begitu asing. Air mata berjatuhan seiring dengan setiap hujaman. Setiap kali dia mendorong masuk hingga ke ujung dan membuka bagian bawahku sampai batasnya, napasku tercekat seolah-olah sedang dicekik.
"Hoo... kau bilang ini pertama kalinya buatmu, tapi melihat caramu merasakannya, kau punya bakat alami."
Kemampuanku menahan pinggul agar tetap terangkat juga sudah hampir mencapai batasnya.
"Ah, ngh, kumohon... hiks, pelan-pelan...."
"Jangan mengatakan hal-hal yang tidak sungguh-sungguh kau maksudkan. Kau sangat menyukainya.... Berbeda dengan mulutmu, Petugas Lee, warna kulitmu tidak bisa berbohong."
Hujamannya justru menjadi sedikit lebih kasar. Setiap kali dia membenturku, pergesekan kulit yang berlumur pelumas itu seolah menciptakan jaring laba-laba lengket yang menghubungkan kulit kami. Setiap kali tubuh kami berbenturan dengan suara nyaring, suara decakan basah itu bergema dengan keras di seisi ruangan.
Tangannya mengangkat bokongku setiap kali posisinya merosot karena kakiku kehilangan tenaga. Terkadang, dia bahkan menamparnya dengan kasar. Aku membenamkan wajah di seprai, nyaris tak sanggup menopang tubuhku dengan berjinjit, kehilangan akal sehat saat digagahi oleh Jaksa Joo, sampai tangannya mencengkeram kedua sikuku dan memaksa tubuh bagian atasku untuk bangkit.
Hujaman yang sedari tadi menderaku tanpa jeda akhirnya berhenti sejenak. Saat aku mendongakkan kepala ke belakang dan menatapnya dengan mata yang berlinang air mata, dia balas menatapku dari atas. Joo Taeson, setelah menjilat kelopak mataku yang basah, menarik rambutku dan membiarkan air liurnya menetes di sela-sela bibirku yang sedikit terbuka. Sensasinya terasa berbeda dengan yang ada di celah bawah sana. Apakah ini semata-mata karena aku berada dalam keadaan yang begitu terangsang?
Saat aku menelan air liur yang dia teteskan, Joo Taeson semakin menundukkan kepalanya, menempelkan bibir kami sekilas sebelum menariknya kembali. Lidahnya yang panas menjilat bibirku dengan ringan sebelum benar-benar menjauh.
"Ngh, ung...."
Bahkan belaian sekecil itu pun terasa begitu merangsang hingga tak tertahankan, jadi aku bergetar hebat, mengulurkan tangan ke belakang, dan meremas pahanya. Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi napasku tercekat, dan tak satu pun kalimat utuh terlintas di benakku. Aku bahkan tak sanggup untuk sekadar mengucapkan kata-kata. Rasanya seolah aku telah ditaklukkan oleh kenikmatan yang terlalu luar biasa untuk ditanggung.
Jaksa Joo merengkuh bagian belakang lututku dan mengangkat tubuhku. Takut tubuhku akan jatuh ke lantai, aku mencengkeram pinggangnya erat-erat dan menoleh ke belakang.
"Ja, Jaksa...."
"Mari kita lakukan ini sambil menatap cermin. Mengerang saja tidak cukup. Aku ingin melihat ekspresi Petugas Lee saat kumasuki dari belakang."
Dia membawaku dengan langkah-langkah panjang menuju cermin seluruh badan di kamar tidur. Saat aku memalingkan wajah karena tidak ingin melihat, dia menggigit cuping telingaku seolah sedang menegurku.
"Anggap saja kau sedang menatap wajahku. Aku melakukan ini bukan untuk menggodamu."
Nada bicaranya terdengar seakan dia sedang menenangkan seorang anak kecil. Sepertinya dia benar-benar sedang menunjukkan kasih sayang, persis seperti yang dia katakan di awal. Tentu saja, dengan cara Jaksa Joo sendiri.
Sambil menggigit bibir, dengan ragu aku mengangkat wajahku dan menatap Jaksa Joo di belakangku melalui pantulan cermin. Aku sempat berusaha memalingkan muka, tetapi seperti yang dia katakan sebelumnya, kulitku telah merona merah menyala di mana-mana. Aku tidak bisa menemukan satu bagian pun yang bersih di sekujur tubuhku, saking penuhnya oleh tanda kemerahan akibat betapa luar biasanya sensasi yang kurasakan saat ditembus olehnya.
Aku tidak tahu apakah hal ini disengaja, tetapi karena rasa malu, aku berusaha untuk hanya menatap wajah Jaksa Joo. Setidaknya, hal itu tidak secanggung melihat kondisi tubuhku sendiri. Dia mengunci pandangannya denganku melalui cermin dan melesakkan lidahnya ke dalam telingaku. Mataku mulai terpejam dengan sendirinya saat mendengar suara decakan basah itu, tetapi aku memaksa mataku untuk tetap setengah terbuka demi mengamati ekspresinya saat dia menjilatku.
"Uung... ah...."
"Bagian bawahmu berkedut hebat saat aku menjamah bagian dalam telingamu."
"Ngh...."
Di sela-sela godaannya di bagian dalam telingaku, dia menyesap bagian luar dan cuping telingaku. Tidak seperti biasanya, rambut Jaksa Joo yang berantakan dan basah oleh peluh, serta pupil hitamnya—yang tatapan dinginnya telah melebur karena gairah—terpantul dengan jelas di cermin.
Meskipun terasa memalukan melihat bayanganku sendiri, aku sama sekali tidak benci menatap wajahnya. Saat dia melakukannya dari belakang, sebelumnya aku hanya merasa kewalahan dan terguncang oleh gerakannya, tanpa menyadari tatapan yang dipenuhi gairah panas tersebut.
Dia terlihat begitu berantakan, sangat kontras dengan penampilannya yang selalu rapi saat berada di kantor kejaksaan. Sepertinya dia lebih larut dalam percintaan ini, bahkan lebih dari hari pertama kami menyatukan tubuh kami.
"Aku akan mulai bergerak sekarang. Tatap lurus ke arah cermin."
"Ya, uung... ah!"
Tidak mudah menampung kejantanannya saat tubuhku tertahan di udara. Aku tahu dia merengkuhku dengan erat, tetapi aku terus mencengkeram tubuhnya dengan ujung-ujung jari yang putus asa, merasa seolah tubuhku akan jatuh terjerembap ke depan.
Di cermin, bukaanku, yang meregang lebar karena menerima kejantanannya yang begitu besar, terpampang dengan gamblang. Batang itu begitu tebal hingga rasanya aneh jika pinggulku tidak terbelah dua dibuatnya.
Setiap kali dia menghujam, warna kulitku bereaksi dengan cara yang paling kentara. Kepalaku, yang tadinya menghadap lurus ke depan, perlahan tertunduk, dan untaian air liur kembali memanjang dari sela-sela bibirku yang terbuka.
"Ngh, uung... ah...."
"Hah, sudah kubilang tatap ke cermin."

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.