【Bab 6】 Jamur Jizong
Hutan perawan (pristine forest). Dinamai perawan karena belum dirusak oleh manusia.
Bagi hutan, manusia layaknya sel kanker: menebang, merampas, dan menjajah. Sangat sedikit orang yang tidak mengambil apapun saat berkunjung. Ada terlalu banyak harta karun di sini, dan celakanya, manusia sangat menyukai harta karun.
Changyang tidak terkecuali. Setiap hari, dia akan masuk ke hutan untuk mengumpulkan jamur, di mana banyak spesiesnya dapat dikonsumsi oleh manusia. Salah satunya adalah jamur jizong (Termitomyces).
****
Pagi-pagi sekali Changyang sudah masuk ke hutan. Saat fajar belum menyingsing, pengunjung masih sepi, sehingga dia bisa mengumpulkan lebih banyak jamur. Sudah lama dia memimpikan jamur jizong, namun tak kunjung menemukannya. Walaupun jamur ini banyak dijual dari satu lapak ke lapak lain di pasar sayur Tianyi, sudah lama Changyang tidak memetiknya sendiri. Mencari jamur jizong bukanlah perkara tenaga, melainkan keberuntungan. Changyang tidak pernah merasa bahwa dia adalah orang yang beruntung; sejak kecil hingga dewasa, segala hal yang dia dapatkan selalu hasil dari perjuangannya sendiri. Namun, setelah sekian lama berada di pegunungan, ekspektasinya terhadap hal-hal duniawi kian memudar. Segala hasratnya dilepaskan kepada alam semesta, dan sifatnya pun menjadi semakin liar menyatu dengan alam.
Sebuah pepatah usang, "Biarkan alam mengambil jalannya (go with the flow)", telah mengakar dalam di hati Changyang. Di hutan belantara, tidak ada satu hal pun yang bisa dipaksakan oleh manusia.
Kicauan burung di hutan terdengar lebih merdu dari musik ciptaan manusia mana pun. Telinganya seperti baru saja dicuci bersih; jika mendengarkan musik pop lagi, rasanya seperti masuk ke tempat pembuangan sampah. Di hutan, selain jejak manusia, juga ada beruang. Beruang Da dan Beruang Er yang sering dilihat di film animasi, jika benar-benar muncul di depan mata, itu bukanlah lelucon, melainkan ancaman nyawa.
Setelah berjalan beberapa saat, Changyang merasa ada yang mengikutinya. Suara langkah kaki yang pelan dan terputus-putus terdengar samar-samar. Ini pasti bukan beruang; beruang tidak akan menyembunyikan langkah kakinya dari manusia, mereka hanya akan menerkam atau mundur menjauh.
Changyang menyalakan senternya dan menyorotkannya berkeliling. Hutannya terlalu luas dan langit terlalu gelap, sehingga cahaya senternya tidak bisa menjangkau apapun. Dia terus berjalan. Keranjangnya sudah setengah penuh, cukup untuk dimakan berdua. Namun dia benar-benar terobsesi dengan jamur jizong, dia sangat ingin keluarganya mencicipi jamur jizong yang baru dipetik. Jadi, dia tidak berniat untuk pulang sekarang dan memutuskan untuk mencari lagi.
Melewati sebuah aliran sungai kecil, jalan setapak di gunung itu menjadi semakin curam. Changyang sangat mengenal tempat ini. Dia belajar dari Azha, jika tersesat di hutan perawan, siapapun yang bisa memanjat pohon akan bisa menemukan jalan keluar. Azha pernah mendemonstrasikannya kepada Changyang; memanjat hingga ke puncak pohon, melihat sekeliling sejenak, dan langsung menemukan arah pulang. Setelah bertahun-tahun belajar dari Azha, Changyang pun bisa memanjat, namun tetap tidak selincah penduduk asli. Ini bukan lagi tentang keterampilan, melainkan tentang gen—gen yang tidak dimiliki oleh orang luar.
Changyang berjongkok di rerumputan mencari jamur. Begitu dia menghentikan langkahnya, suara-suara dari luar pun terdengar lebih jelas. Dia yakin ada sesamanya (manusia) yang sedang mengikutinya.
Mengidentifikasi arah dari suaranya, Changyang tiba-tiba berdiri dan menyorotkan senternya, diikuti dengan teriakan keras, "Keluar!"
Teriakan Changyang terdengar cukup garang. Orang yang berdiri di kejauhan sana sampai terkejut dan menjatuhkan beberapa jamur dari pelukannya, lalu serentak menyalakan senter menyorot ke arah Changyang.
Setelah melihat orang itu dengan jelas, Changyang mendadak merasa tak berdaya. Entah ekspresi apa yang harus ditunjukkan di wajahnya—tertawa rasanya tidak pas, marah pun bukan.
"Kalau kamu mau masuk ke gunung beritahu aku. Bagaimana kalau kamu sampai tersesat saat diam-diam membuntutiku? Ada beruang di gunung ini." Changyang mendekati Qinglang sambil mengomel. Saat ini dia sama sekali tidak terlihat seperti adik laki-laki, melainkan seperti orang tua yang sedang memarahi anaknya dengan penuh keyakinan.
Qinglang, yang baru saja dimarahi, malah menanggapi dengan santai. Sambil tertawa, dia mengingat sebuah lelucon lama, "Apakah beruangnya besar?"
"Aku tidak bercanda, benar-benar ada beruang." Changyang semakin merasa tidak berdaya. Tatapannya tertuju pada wajah Qinglang bak sedang melihat seorang anak kecil; hatinya perlahan-lahan mulai luluh oleh si penguntit ini.
Qinglang memeluk seikat jamur tanpa memasukkannya ke dalam keranjang. Dia tahu bahwa beberapa jamur di Tianyi sangat beracun. Jamur yang tidak bisa dimakan ini, meskipun dipungut, hanya akan sia-sia.
Cahaya senter Changyang menyorot ke arah jamur di pelukan Qinglang, dan pupil matanya membesar secepat kilat, "Jamur Jizong! Dari mana kamu memungutnya?"
"Ini jamur jizong?" Qinglang pernah mendengarnya, bahkan pernah memakannya, namun dia belum pernah melihat bentuk aslinya sebelum dimasak. Dia juga terkejut, namun tidak seantusias Changyang, karena dia tidak tahu betapa sulitnya mencari jamur jizong.
Qinglang menambahkan, "Tadi aku mau mencari informasinya di internet, tapi ternyata tidak ada sinyal."
"Kalau kamu tidak menemukan jamur jizong, apa kamu akan terus bersembunyi?"
Qinglang melemparkan jamurnya ke dalam keranjang. Changyang memungut yang jatuh di tanah, mematahkan sepotong, lalu melemparkannya ke dalam mulutnya.
"Aku yang memimpin jalan, ayo kita cari tempat di mana aku tadi memungut jamur jizong," ujar Qinglang. "Di hadapanmu aku ini sudah sangat tidak berguna, setidaknya aku harus memiliki sedikit nilai guna."
Dia melihat Changyang sedang memakannya mentah-mentah, "Apakah kamu tidak akan melihat 'orang kerdil' kalau memakannya mentah-mentah?"
Melihat 'orang kerdil' adalah pengetahuan umum terkait keracunan jamur. Setiap tahun saat musim jamur tiba, seluruh internet akan dipenuhi oleh sebuah lagu anak-anak, "Payung merah, batang putih...". Qinglang tidak ingat lirik selengkapnya, tapi dia tahu bahwa jika jamur tidak dimasak sampai matang, akibatnya bisa fatal, apalagi jika dimakan mentah-mentah.
Dengan santai Changyang menjawab, "Bisa saja", sambil menyuapkan sepotong ke dalam mulut Qinglang. Tak sempat menghindar, Qinglang pun mencicipi rasanya. Bayangan kematian di benaknya langsung sirna seketika, dan dia memujinya, "Wanginya sangat harum."
Changyang menyorotkan senternya ke kejauhan, "Lihat itu? Ada orang yang tergantung di pohon."
Qinglang kaget melihat sekelebat cahaya putih di depan matanya. Saat dia menyadari bahwa dia baru saja ditipu oleh anak nakal itu, dia langsung mengejar dan memukul Changyang.
"Jamur jizong adalah satu-satunya jamur yang bisa dimakan mentah." Sambil menghindar, Changyang menjelaskan layaknya seorang guru. Hanya guru yang mengajar dengan menarik yang bisa membuat murid-muridnya paham.
Kembali ke sarang jamur jizong, mereka kembali menemukan lebih banyak lagi. Changyang menjelaskan bahwa ini disebut "jamur yang tumbuh dalam sarang", dan jika sarangnya disembunyikan dengan baik, jamur itu akan tumbuh lagi tahun depan. Qinglang mencabutnya satu per satu, menjepit jamur yang baru saja menembus tanah, teksturnya terasa sangat pas di tangan. Ini adalah pertama kalinya seumur hidup Qinglang memetik jamur; terhubung dengan bumi melalui makanan adalah pengalaman yang begitu nyata.
"Tahun lalu, temanku dari Shangjing memintaku untuk mengirimkan jamur. Hasilnya, dia keracunan. Karena di Shangjing tidak ada rumah sakit yang bisa mendetoksifikasi racun jamur, dia harus terbang ke Tianyi untuk berobat. Tahun ini dia kembali memintaku mengirim jamur, dan aku bilang padanya bahwa aku hanya bisa mengirim jamur jizong. Tapi, aku butuh dua tahun untuk menemukan satu sarang jamur jizong," celoteh Changyang, benar-benar merasa dirinya tidak cukup beruntung.
"Sesedikit itu?" tanya Qinglang.
"Saat jamur jizong menembus tanah, kelezatannya sebanding dengan seluruh hidangan laut. Bukan aku yang mengatakannya, tapi ditulis oleh seorang penulis. Kamu terlalu beruntung, baru pertama kali masuk gunung sudah bisa menemukan jizong. Aku bahkan bermimpi tentang memungut jizong, aku sangat terobsesi dengannya." Changyang menutupi kembali tempat jamur itu tumbuh, lalu melihat sekelilingnya. "Pohon ini sudah kulewati belasan kali tahun ini."
"Baru setelah aku yang lewat, jizong-nya muncul." Qinglang akhirnya menyadari betapa beruntungnya dia; sangat beruntung karena baru pertama kali masuk gunung langsung menemukan jamur jizong, dan juga beruntung karena... Qinglang tidak melanjutkan pikirannya, membiarkan pikirannya berhenti di situ, menyimpannya di sarang jamur tersebut. Dia tidak berani lagi menggantungkan ekspektasi pada siapapun.
Changyang berjalan di depan, menebas dahan pohon yang menghalangi jalan. Sesampainya di bendungan sungai, Qinglang yang bersemangat langsung melepas sepatunya untuk bermain air. Peringatan "Licin" dari Changyang tak bisa menghentikannya; penampilannya benar-benar mencerminkan tingkah seseorang yang baru pertama kali masuk gunung.
Manusia yang terlalu lama terkungkung di kota, memandang segala sesuatu di hutan sebagai sesuatu yang baru dan menakjubkan.
Changyang yang mengenakan sepatu air mengejar dan menggandeng tangan Qinglang. Dia memperhatikannya saat dia berteriak lantang ke arah ujung hutan, dan menyaksikan sinar matahari menyinari tubuhnya melalui celah dedaunan. Di sini tidak ada angin, hanya ada cahaya.
"Kamu tidak sekolah, setiap hari pergi ke gunung untuk bekerja?" Qinglang menerima teh yang disodorkan Changyang, lalu duduk untuk menyantapnya.
Changyang memetik beberapa tanaman liar untuk dimasak saat pulang nanti, "Gunung besar adalah guru terbaik."
"Maksudnya?"
Changyang berpikir sejenak, "Di dalam buku pelajaran dikatakan, jika kita menemukan burung kecil yang terluka, kita harus membawanya pulang untuk menyelamatkannya. Namun di gunung, jika bertemu burung yang terluka, mengantarkannya pergi adalah bentuk mengembalikannya ke alam. Aku pernah melakukan eksperimen: burung yang kubawa pulang mati dengan mata terbuka. Tapi saat aku meninggalkannya di hutan, keesokan harinya saat aku pergi melihatnya lagi..."
"Matanya sudah tertutup?" tebak Qinglang.
"Sudah dimakan oleh binatang lain." Changyang tertawa terbahak-bahak saat menangkap kayu yang dilemparkan Qinglang, "Ini adalah hukum alam. Meratap dalam sebuah ritual hanyalah milik manusia yang merasa dirinya penuh dengan emosi."
"Penulis mana yang mengatakannya?"
"Xu Changyang." Tawanya semakin lepas, dan kayu yang dilemparkan Qinglang pun semakin banyak.
Anak ini memang selalu suka menjebak orang dengan kata-katanya. Sedikit saja Qinglang tidak waspada, dia akan langsung terjerumus. Semua orang menyukai orang pintar, tetapi Changyang terlalu pintar, kemampuannya berada di luar jangkauan orang biasa. Bahkan dia bisa memprediksi jawaban, sehingga pada saat bertanya, dia sudah mengambil alih kendali. Dia juga bisa membaca isi pikiranmu dan menanamkan pancingan, misalnya, "Pilihan pertamamu biasanya tidak akurat, sebenarnya kamu ingin minum kopi". Qinglang baru menyadari sekarang, siapa sebenarnya yang dimaksud dengan pilihan pertamanya itu.
Changyang sama sekali tidak terlihat seperti pemuda berusia dua puluh tahun. Kalaupun ada yang bilang tubuhnya telah dirasuki oleh makhluk dimensi tinggi, Qinglang pun akan mempercayainya.
"Lihat lumut itu sangat bersih." Changyang menunjuk ke lumut di tanah, menyela lamunan Qinglang, "Lumut di hutan ini jauh lebih bersih daripada mulut manusia."
Qinglang menyukai kalimat terakhirnya itu; mulut manusia memang organ paling kotor selain hati. Secara tidak sadar Qinglang kembali masuk perangkap; tanpa perlawanan, dia mematahkan batasan sifat 'orang banyak tingkah' yang dimilikinya. Menurut logika, tidak mungkin dia membiarkan bibirnya menyentuh lumut di alam liar—itu adalah bibir mahal yang bahkan harus mengantre untuk dioleskan lip balm mewah. Namun, hanya karena sepatah kata dari Changyang, Qinglang pun menyerah.
"Aroma tanah dan rumput." Bahkan dia meresapinya dengan sungguh-sungguh.
Untuk mendobrak kognisi bawaan, yang dibutuhkan hanyalah sebuah pengalaman. Dan Changyang sedang membawanya untuk mengalami hal itu.
Qinglang terus mengikuti langkah Changyang, sesekali merekam video dengan ponselnya. Sesekali jika melihat ada sampah botol plastik atau kantong plastik yang dibuang oleh manusia di jalan, Changyang akan langsung memungutnya.
Dia adalah sang pengumpul di hutan, sekaligus sang pembersih.
Qinglang ingin memposting foto 'sang pembersih' ini di Weibo. Dia memilih foto punggung yang terlihat sedikit buram, dengan efek refleksi dari air sungai, yang memberikan kesan stream-of-consciousness yang kuat.
"Aku boleh memposting satu fotomu di Weibo, kan?" tanya Qinglang kepada Changyang sambil memegang ponselnya di depan meja makan.
"Fotoku?" Changyang mencondongkan tubuhnya ke depan, "Kapan kamu mengambilnya?"
"Saat sedang menguntitmu," sahut Qinglang bangga.
Changyang melihatnya dengan saksama, "Posting saja, toh tidak jelas apakah itu orang atau hantu."
*****
Keduanya makan bersama. Baru saja Changyang memasak jamur jizong yang baru dipetik tadi, Qingtian langsung berlari menghampiri layaknya kelinci gunung yang mencium baunya.
"Jamur jizong! Kalian berdua makan tanpa aku!" Begitu masuk pintu, Qingtian langsung menuju meja makan, hidungnya hampir menempel di piring.
"Kakakmu yang memungutnya," ujar Changyang sambil pergi ke dapur untuk mengambil mangkuk.
"Kalau begitu aku harus makan semangkuk."
Setelah selesai memposting di Weibo, barulah Qinglang sadar bahwa adiknya sudah datang. Dia langsung merebut mangkuk dari tangan Changyang dan bertanya kepada Qingtian, "Kamu seperti orang yang belom makan, main rebut mangkuk makanku saja."
"Peduli amat aku sudah makan atau belum," balas Qingtian yang langsung duduk dan ikut makan, lalu beralih menatap Changyang, "Nanti kamu antar aku memetik teh dari pohon kuno berusia dua ratus tahun itu."
"Oke," jawab Changyang singkat; toh, hari ini dia memang harus turun ke kebun untuk memetik teh.
Setelah selesai makan, Qingtian bertanya apakah kakaknya mau ikut. Namun, Changyang menjawab mewakili Qinglang, "Tidak usah, dia tidak perlu ikut. Siang ini mataharinya terik, nanti agak sorean kita kembali." Changyang duduk di sofa, sangat dekat dengan Qinglang, "Nanti aku antar kamu ke rumah Guru Fu. Kalau siang merasa lapar, kamu bisa panaskan sendiri makanannya."
Qinglang, yang masih membaca komentar di Weibo, melirik sekilas ke arah Changyang dan berkata, "Aku tidak bisa."
Saat Qingtian sedang membereskan meja, Changyang mendekat lagi dan bertanya, "Benar-benar tidak bisa memanaskannya?"
"Tidak bisa."
Qinglang tidak menengadahkan kepalanya. Sikapnya ini menunjukkan mood yang sedang tidak baik. Mayoritas aktor memang emosional; yang tidak emosional justru bukanlah aktor yang baik. Namun, beruntungnya Changyang adalah orang yang bertemperamen baik, setidaknya di depan Qinglang. Dia merampas ponsel Qinglang, menatapnya, dan berkata, "Kalau begitu, aku akan pulang dan memanaskannya untukmu."
Qinglang balas menatap Changyang dan berkata, "Aku tidak makan sisa lauk."
"Aku akan memasakkan yang baru untukmu nanti."
Changyang merapikan peralatannya dan keluar rumah bersama Qingtian. Qinglang yang tidak ada kerjaan teringat pada hasil rekaman drone yang baru saja diambil kemarin, lalu bertanya kepada Changyang di mana dia menyimpannya.
"Ada di komputerku, tapi komputerku dipasangi kata sandi. Nanti saja kalau aku sudah pulang baru kutunjukkan padamu."
Setelah keduanya pergi dan Qinglang menutup pintu, dia menyadari bahwa kini hanya dirinya sendiri yang berada di rumah Changyang, memberikannya sensasi puas seolah baru saja berhasil menguasai sebuah pangkalan. Dia menelepon Xu Wenshu dan menginterogasinya, "Dulu, apakah kamu pernah mendengar Qingtian membicarakan seseorang?"
"Siapa?" Saat itu di Inggris sedang malam hari, sehingga suara Xu Wenshu terdengar penuh kantuk, tidak sesadar Qinglang.
"Seorang petani teh di gunung."
"Dia memang sering bercerita tentang petani teh."
Qinglang jelas tidak pandai merangkai pertanyaan. Andai yang bertanya adalah Changyang, jawabannya pasti sudah ditemukan sejak tadi.
Qinglang berpikir sejenak, lalu melanjutkan, "Apakah dia pernah menyebutkan nama seseorang secara khusus? Misalnya, memberikan deskripsi mendetail, sering membicarakannya, atau bahkan memberitahumu namanya."
"Memangnya ada apa? Qingtian sedang jatuh cinta?" Secara mengejutkan, panduan acak Qinglang justru membawa pikiran Xu Wenshu ke arah sana.
Arahan Qinglang sedikit melenceng dan membuat lawan bicaranya salah mengartikan maksudnya. Sambil mengobrol, dia telah menaiki lantai dua, membuka pintu kamar Changyang, dan duduk di depan komputernya. "Tidak juga sih, aku dan dia punya standar estetika yang berbeda."
"Kamu yang sedang jatuh cinta?" tebak Xu Wenshu yang memiliki imajinasi liar.
"Bukan juga." Setelah berputar-putar tanpa henti tanpa menyentuh inti pembicaraan, kesabaran Qinglang hampir habis.
Membuka laptop Changyang, pikiran Qinglang melayang, dan dia asal memasukkan sebuah kata sandi.
Laptop itu pun terbuka.
Tampilan layar berlatar belakang hutan hijau langsung menyala. Qinglang segera menutup panggilannya. Layaknya menemukan benua baru, dengan diiringi sedikit rasa bersalah bak sedang mengintip, dia mulai memeriksa isi laptop Changyang. Di desktop terdapat sebuah folder DJI yang tertata rapi; materi rekaman kemarin bisa dengan mudah ditemukan berdasarkan tanggalnya.
Namun saat ini, yang ingin Qinglang lihat bukanlah panorama matahari terbenam dari hari kemarin, apalagi sekadar mengecek apakah dirinya terekam dengan tampan atau tidak. Dia sangat ingin menembus desktop tersebut, dan menggali lebih dalam jejak-jejak yang tertinggal di komputer ini.
Tetapi Qinglang adalah orang yang beradab dan taat hukum; melakukan invasi privasi adalah hal yang sangat sulit baginya. Qinglang pun menutup kembali laptop itu. Menghembuskan napas panjang sambil menyandarkan diri ke kursi, dia dilanda keraguan antara harus melihat atau tidak. Dari mulut Xu Wenshu dia tidak berhasil mengorek sehelai petunjuk pun; mungkin jika dia melihatnya sendiri, dia akan menemukan jawabannya.
Qinglang kembali membuka laptop itu dan memasukkan sandinya. Kali ini, dia akhirnya menyadari sesuatu—mengapa dia bisa menggunakannya seperti laptop miliknya sendiri? Kata sandinya sama? Qinglang mencobanya sekali lagi, dan laptop itu berhasil terbuka lagi. Dia tidak lagi merasa memiliki beban moral karena telah mengintip.
Kalau kamu saja berani memakai tanggal lahirku sebagai kata sandi, memangnya kenapa kalau aku melihat-lihat? Ini adalah komputerku sendiri.
Ada file terenkripsi yang tidak bisa dibuka, jadi Qinglang pun membuka browser untuk melihat riwayat pencariannya. Secara mengejutkan, situs web pertama di daftar riwayat tersebut adalah tautan unduhan cloud drive dari film pemenang penghargaan miliknya. Menelusuri lebih jauh ke bawah, halaman-halaman selanjutnya juga berkaitan dengan karya-karyanya.
Qinglang tiba-tiba merasa takut. Dia menutup laptop dan mulai merenung.
Xu Wenshu mengirimkan sebuah pesan WeChat, "Orang yang ingin kamu bicarakan itu, apakah dia Changyang?"
Qinglang langsung menghubungi Xu Wenshu kembali, "Kamu kenal Changyang?"
"Marga kami sama," jawabnya singkat, sekaligus memperjelas hubungan mereka.
Qinglang sudah bisa menebak gambarannya, namun dia masih merasa ragu, "Jangan bilang padaku bahwa dia adalah adikmu."
"Benar." Terdengar senyuman dari suara Xu Wenshu.
Namun Qinglang merasa lelucon ini terlalu kelewatan, "Brengsek, yang benar saja!"
Lelucon yang lebih mengejutkan lagi adalah, "Qingtian juga aku yang memperkenalkannya ke sana."
Xu Wenshu menceritakan semua hal, dari yang pernah dipikirkan hingga yang tak terpikirkan oleh Qinglang. Berbaring di ranjang Changyang, mendengarkan kisahnya, untuk waktu yang lama Qinglang tidak ingin mengatakan sepatah kata pun.
Orang yang begitu rumit ini, siapa sebenarnya yang sedang dia kacaukan hatinya.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.