A Winter Sun Wakes The Wind In Spring Hills Dream - Chapter 5 - Tersembunyi

【Bab 5】 Tersembunyi

Keseharian di Molie sangatlah santai: makan dengan sungguh-sungguh, menikmati teh, dan tidur dengan nyenyak, semuanya terasa sangat membumi. Sejak Qinglang melangkah ke dunia hiburan, kakinya seolah tidak pernah menyentuh tanah. Raganya terbang di angkasa, jiwanya melayang di internet. Keterpisahan antara raga dan jiwa sudah menjadi hal yang biasa baginya, dan saat dia bergabung dengan kru untuk berakting, dia bahkan merasa lebih terpecah belah lagi.

Bisa dibilang, perjalanannya masuk ke pegunungan bersama Qingtian kali ini merupakan kebetulan sesaat yang didorong oleh rasa kesal.

Setelah variety show Qinglang dan Shi Yuhao diumumkan secara resmi, apartemen miliknya di Shangjing menjadi tidak bisa ditinggali.
Setiap hari dia dicegat dan dikepung oleh sasaeng dan paparazi. Mau tak mau, Qinglang pindah kembali ke rumah ibunya yang juga berada di Shangjing. Untungnya tempat itu cukup tersembunyi, sehingga tidak ada yang mengetahuinya.

Sebelum variety show dimulai, Qinglang tidak berminat menerima pekerjaan lain. Dia pun memutuskan untuk mengambil cuti dari perusahaannya, bersantai di rumah bak pangeran yang tidak perlu mengkhawatirkan urusan makan dan minum. Selain berolahraga dan makan, sebagian besar waktu sadarnya dihabiskan untuk berselancar di internet, meringkuk di sofa sambil terus menggulir layar ponselnya. Komentar-komentar itu datang bertubi-tubi dengan ganas, namun seakan memiliki sihir; semakin banyak dibaca, semakin dia tidak bisa berhenti memikirkannya.

Qingtian berjalan mondar-mandir di ruang tamu sambil menelepon. Suaranya yang membesar membuat Qinglang memutar bola matanya ke arah sang adik.

"Ide yang bagus," puji Qingtian. Entah dengan siapa dia sedang bertelepon, bicaranya tiada henti, "Kedengarannya butuh banyak biaya. Baiklah, kita bahas saat aku sampai di sana nanti. Tahun ini aku bisa tiba beberapa hari lebih awal. Nanti kalau sudah kutentukan tanggalnya akan kukabari, aku harus memastikan waktunya dengan Guru dulu, dia masih ada beberapa kuliah di akademi. Ya, bisa. Sudah kuterima, semuanya direbut oleh kakakku. Kamu tidak perlu mengirimnya lagi, nanti aku ambil sendiri saat ke rumahmu. Dia tidak bisa ikut, orangnya banyak tingkah, aku tidak sanggup melayaninya."

Qinglang tidak bisa mendengar apa yang dikatakan orang di seberang telepon, tetapi 'orang yang banyak tingkah' yang keluar dari mulut Qingtian pasti ditujukan padanya.

"Kamu ini bisa stop tidak? Kamu sedang membicarakanku, kan?" Mulut Qinglang melontarkan protes sementara matanya masih menatap layar ponsel.

"Sungguh sangat tahu diri," balas Qingtian kepada kakaknya, lalu melanjutkan obrolan teleponnya, "Haha, dia sedang di rumah. Akhir-akhir ini selalu dikejar paparazi, jadi tidak bisa pulang ke tempat tinggalnya sendiri."

Mendengar ucapan itu, orang di seberang sana pasti sedang menanyakan tentang kakaknya.

"Tunggu sebentar, aku tanya dia dulu." Qingtian berjalan ke belakang Qinglang, menyalakan pengeras suara ponsel, dan bertanya, "Bintang besar, tahun ini aku masuk ke gunung, kamu mau ikut tidak?"

"Ikut." Tanpa sadar Qinglang mengiyakan dengan cukup tegas. Entah dari mana datangnya keberanian itu, gunung tandus dan hutan belantara pun berani dia sanggupi.

"Kamu serius?" Qingtian membelalakkan matanya dan bertanya, "Tidak bercanda?"

"Ikutlah. Kalau kamu pergi, aku ditinggal sendirian di rumah, setiap hari cuma ikut Ibu melantunkan sutra." Ucapan Qinglang kali ini benar-benar tidak terdengar seperti sedang bercanda.

Qingtian menghela napas sambil bergumam, "Ya ampun," lalu mendekatkan ponselnya dan berkata kepada orang di seberang, "Ah, itu... dia benar-benar mau ikut."

Menyebalkan. Jelas sekali, dia merasa kakaknya yang ikut masuk ke gunung ini akan merepotkan temannya di seberang sana. Dia meraba-raba mencari kata karena takut temannya itu akan merasa kesal duluan.

"Datang saja." Orang itu berbicara dengan santai. Suaranya terdengar sangat muda, tidak lebih tua dari Qingtian, tetapi hanya dari dua kata itu sudah terdengar hembusan napasnya yang sangat tenang. Dia pasti orang yang bisa diandalkan.

Qinglang melirik telepon searah dengan datangnya suara itu, lalu memberi perintah kepada Qingtian, "Carikan aku hotel bintang lima."
Qingtian langsung melontarkan kata "Enyahlah!", lalu menimpali, "Di pelosok gunung mana ada hantu yang menginap di hotel bintang lima."

Setelah mengkritik kakaknya yang duduk di sofa, Qingtian buru-buru menjelaskan kepada temannya, "Dengar, kan? Dia ini kebanyakan tingkah, ini cari masalah untuk diri sendiri."

Orang itu berkata, "Tinggal di rumahku saja. Toh, kamu juga akan menginap di rumah Guru."

Mendengar nada bicara lawan bicaranya yang sepenuhnya menerima, Qingtian seakan menelan pil penenang, "Kalau begitu, syukurlah. Oke, aku tutup dulu, kalau waktunya sudah pasti akan kukabari."
Qingtian mematikan telepon, berjalan memutar ke depan sofa dan duduk di sebelah kakaknya untuk memastikan sekali lagi, "Feng Qinglang, kamu benar-benar mau ikut denganku ke Molie?"

"Kenapa tidak?"

"Bukannya sebentar lagi kamu mau syuting variety show?"

"Masih lama."

Kedua kakak beradik itu saling melempar argumen, hingga akhirnya Qingtian merasa ini adalah saat yang tepat untuk membuat kesepakatan dengan kakaknya.

"Kita sepakati dari awal, ya. Di gunung itu sedang musim sibuk memanen teh, tidak akan ada yang mau menuruti perintahmu. Kamu tidak boleh bawa asisten, kamu sendirian saja sudah cukup merepotkan, jangan sampai tambah satu mulut lagi. Kalau sampai di gunung kamu banyak pilih-pilih, langsung angkat kaki. Tidak ada orang yang mau mengubah kebiasaannya demi kamu. Selain itu, banyak kebiasaan burukmu yang harus ditahan. Kalau kamu ikut denganku, akulah yang akan menanggung malu."

Qinglang meletakkan ponselnya, menatap tajam adiknya, Feng Qingtian, "Aku belum ngapa-ngapain sudah membuatmu malu? Memangnya aku seburuk itu?"

"Iya." Qingtian menjawab dengan tegas. Dia memukul bahu Qinglang sekali, lalu langsung bangkit dan berlari.

Qinglang mencoba menangkapnya namun meleset. Dia duduk mematung dengan perut penuh amarah, "Aku sengaja ikut untuk membuatmu malu!"

Pada hari ketika Qinglang sedang dalam perjalanan, Changyang kembali mengingat segala hal tentang tamu kehormatan yang akan dia sambut. Video di komputernya diputar berulang kali. Sambil memperkirakan waktu, Changyang menelepon Qingtian untuk bertanya
"Sudah sampai mana?". Begitu mendengar jawaban "Sudah melewati Xigui", Changyang langsung memberikan perkiraan yang sangat akurat,
"Sebelum hari menjelang malam pasti sampai."

Setelah meletakkan ponselnya, Changyang berbaring di ranjang. Baru saja sebelah tangannya diselipkan di bawah kepala, dia teringat lagi pada ponselnya. Dia bangkit untuk mengambilnya, lalu berbaring kembali. Tubuhnya bolak-balik mengikuti ritme kegelisahan di dalam hatinya. Sungguh ini adalah Changyang; dia masih bisa menjaga ketenangannya menjelang kedatangan orang itu. Coba saja kalau penggemar yang menyambutnya, pasti sedari tadi sudah menjerit-jerit gemetaran, tak tahu harus berbuat apa.

Orang yang akan datang itu adalah bintang papan atas di industri hiburan, Feng Qinglang. Lagunya mengalun dari ponsel Changyang. Setelah mendengarkannya selama tiga kali dan menyadari waktunya sudah hampir tiba, Changyang pun bersiap untuk pergi keluar.
Sebelum berangkat, dia memeriksa kembali setiap sudut rumah dengan saksama, terutama kamar tidur yang disiapkan untuk Qinglang, ruang tamu bersama, dan kamar mandi yang sudah disemprot pewangi serta disinfektan berkali-kali selama beberapa hari terakhir. Tingkat ketelitiannya pasti jauh melebihi pelayanan hotel bintang lima.

Setelah memastikannya, Changyang mengambil alat pancing dan ember ikan, lalu memanggul tas drone DJI-nya dan melangkah keluar rumah.
Di tepi waduk, Azha sedang memancing. Changyang mengatur alat pancingnya, lalu berkata kepada Azha, "Hari ini aku tidak masuk ke gunung. Nanti kutukar ikan dengan jamurmu."

"Kamu yakin bisa dapat ikan?" balas Azha bertanya.

"Kapan aku pernah dapat lebih sedikit darimu!"

Changyang mengendalikan DJI-nya untuk mengudara. Azha yang memandangnya dengan heran pun bertanya, "Kamu mau merekam ikannya saat memakan umpan?"

"Pulanglah, siapkan jamurnya, lalu antarkan ke rumahku. Nanti ikannya kutaruh di halaman, ambil saja sendiri, aku tidak punya waktu untuk mengantarnya." Changyang mengatur semuanya dengan cermat agar tamu yang datang nanti bisa menikmati jamur segar di malam hari. Tamu itu tidak suka makan ikan; seseorang pernah mengatakannya di Weibo. Entah itu benar atau tidak, hal itu tidak penting, yang terpenting adalah untuk berjaga-jaga.

Di hari yang cerah, Changyang menerbangkan alatnya, menunggu kedatangan sang tamu.

*****
"Apakah kamu merasa video diriku yang sedang mempermalukan diri sendiri itu sangat berharga?"

Setelah keduanya pulang dari mengambil sisa rekaman, Qinglang akhirnya memegang ponsel Changyang dan menonton video dirinya yang turun dari mobil lalu muntah pada hari sebelumnya.
Changyang mendidihkan air untuk menyeduh teh, lalu bertanya kepada Qinglang, "Kira-kira bisa dijual berapa harganya?"

"Lebih berharga dari daun tehmu," jawab Qinglang dengan bangga.

"Lebih dari delapan juta? Kalau begitu aku harus merekam lebih banyak lagi." Changyang merebut kembali ponselnya, sangat takut jika Qinglang akan menghapus video tersebut.

"Tehmu seharga delapan juta?" Qinglang yang mabuk dan mudah lupa pun kembali menyinggung topik obrolan kemarin.

"Pagi ini aku sudah menjualnya padamu, dan masih membuatmu mendapat untung bersih dua ratus."

Ah benar, bukan kemarin, tapi hari ini. Qinglang teringat akan harga dasar delapan puluh ribu per kilogram yang berujung membengkak menjadi delapan juta dan sepuluh juta.

Changyang menyodorkan cangkir teh ke hadapan Qinglang, namun Qinglang masih meributkan perihal aibnya, "Kamu tidak boleh menyebarkan videoku itu."

"Memangnya kamu pikir aku mau." Changyang bergumam pelan. Dia sangat jarang berbicara seperti ini, sampai-sampai Qinglang tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkannya, yang kemudian ditutupi oleh Changyang dengan kalimat berikutnya, "Malam ini minum teh matang Xigui, biar tidurnya nyenyak."

Qinglang melihat layar ponselnya, menggulir hingga ke daftar karya filmnya yang dirangkum oleh netizen, lalu bertanya kepada Changyang, "Kamu pernah menonton filmku?"

"Yang mana?" Changyang balik bertanya.

Qinglang menelan ludah, mendekatkan layar ponselnya ke depan wajah Changyang, dan memerintahnya, "Geser."

Changyang tertegun sejenak, lalu mulai menggesernya satu per satu. Pandangan matanya yang terhalang oleh ponsel tampak sedikit menghindar, terutama ketika matanya menangkap poster film yang berhasil memenangkan penghargaan.

"Ada yang pernah kutonton." Changyang memberikan jawaban ambigu untuk menghindari inti pertanyaannya.

"Qingtian yang merekomendasikannya padamu, kan?" tanya Qinglang.
Changyang membalas "Hm", berpikir bahwa akhirnya dia berhasil lolos dari pertanyaan tersebut. Siapa sangka Qinglang masih terus mendesaknya, "Filmku yang dapat penghargaan itu, kamu sudah tonton, kan?"

Pertanyaan ini benar-benar tidak berani dia jawab secara langsung; rasanya lebih sulit diucapkan daripada mengakui bahwa dia pernah menonton film debut Qinglang. Di mata publik, laki-laki normal tidak akan menonton film semacam itu. Penggunaan istilah 'laki-laki normal' di sini mungkin agak sedikit bias, tetapi harus disampaikan demikian agar bisa dipahami.

Changyang kembali mengalihkan tajamnya pembicaraan, dan balik bertanya kepada Qinglang, "Apakah kalian selalu menganggapnya sungguhan saat berakting?"

"Kalau tidak sungguh-sungguh, mana bisa berakting."

"Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk keluar dari karakter tersebut?" tanya Changyang lagi.

"Tidak pasti," kata Qinglang. "Bisa jadi sangat cepat, bisa juga sangat lama."

"Film yang dimainkan secara sungguh-sungguh juga akan ditonton dengan sungguh-sungguh. Pantas saja banyak penggemar yang masih mendukung (nge-ship) CP kalian dari tujuh tahun yang lalu."
Changyang benar-benar jago dalam mengarahkan alur percakapan. Hanya dengan beberapa kalimat, dia berhasil membelokkan topik dari film pemenang penghargaan, menjadi pertanyaan yang paling ingin dia ketahui jawabannya.

Apakah perasaan Qinglang terhadap Shi Yuhao masih ada atau tidak, itulah yang Changyang pedulikan.

Qinglang yang tidak menyadari jebakan itu pun menimpali, "Ternyata kamu tahu banyak, ya."

"Qingtian yang selalu mengatakannya." Melihat Qinglang tidak ada niatan untuk melanjutkan topik tersebut, Changyang melemparkannya kepada Qingtian.

Qinglang tiba-tiba meletakkan cangkir teh dan ponselnya, mengamati Changyang dengan saksama. Seorang adik laki-laki yang cekatan, masih muda dan kuat secara fisik, serta tidak canggung dengan dunia hiburan; orang seperti ini benar-benar cocok dijadikan asisten.
Qinglang berbicara dengan sungguh-sungguh, "Jangan mengurus teh lagi, turunlah dari gunung dan jadilah asistenku."

Changyang tersenyum dan balik bertanya kepadanya, "Delapan juta sebulan?"

"Sebulan segitu? seleramu besar sekali!" Qinglang sama sekali tidak menyangka bahwa seorang petani teh kecil berani mematok harga selangit.

"Mari kita hitung apa saja yang bisa kukerjakan." Changyang mulai menghitungnya dengan rapi, "Menghidangkan teh dan menuangkan air, mencuci baju dan memasak, mengangkat koper hingga merapikan tempat tidur."

Qinglang menyela ucapannya, "Itu semua bukan pekerjaan yang butuh keahlian teknis, kan."

"Menerbangkan drone udara?"

"Juga tidak perlu menyuruhmu melakukan setiap hari," bantah Qinglang.

Changyang melanjutkan hitungannya, "Menyetir mobil, memijat, dan membereskan beberapa—"

Ketika ketiga hal ini disatukan, bagaimana pun terdengar rasanya aneh. Wajah Qinglang seketika memerah, dan Changyang pun menyadari bahwa perkataannya kurang pantas. Dia lantas menuangkan secangkir teh dan langsung menambahkan kalimatnya, "Situasi darurat."

Qinglang menyesap tehnya untuk meredakan kekagetannya, lalu memuji, "Kamu memang cukup serbabisa."

"Gaji bulanan delapan juta boleh dipertimbangkan." Ini adalah sekadar candaan, tetapi Changyang sengaja mengatakannya untuk mencairkan rasa canggung tadi, sekaligus untuk menutupi isi pikiran dalam hatinya yang hampir tidak bisa disembunyikan.

Qinglang melontarkan kata "Perampokan", dan Changyang pun mengikuti arus candaan tersebut, "Merampok selebriti, lagipula aku masih punya banyak videomu."

Changyang meminum habis tehnya, membersihkan meja ala kadarnya. Ketika Qinglang kembali mengejarnya dengan bertanya "Ada video apa lagi?", Changyang sudah melangkah pergi membawa DJI miliknya.

"Aku harus naik ke atas untuk tidur, semalaman kemarin aku belum tidur sama sekali. Kalau kamu belum ngantuk, lanjutkan saja minum tehnya." Begitu sampai di lantai dua, Changyang berkata lagi ke arah bawah, "Besok pagi aku akan masuk ke gunung untuk mencari jamur. Kamu tidur saja sampai siang, pulangnya nanti biar aku yang masak."

Adik laki-laki ini benar-benar praktis dan cekatan; dia tidak akan melewatkan untuk menyiapkan makanan, apalagi asal-asalan memasak. Dia bahkan jauh lebih rajin daripada ibu Qinglang. Di mana lagi bisa menemukan asisten sebaik ini? Hasrat Qinglang untuk membawanya kembali ke kota sungguh-sungguh bergejolak.

Qinglang berbaring di sofa sambil menggulir layar ponselnya. Saat merasa lelah, dia beristirahat sejenak. Namun ketika meletakkan ponselnya, dia tidak sengaja menyentuh sebuah video. Suara berisik dari video itu terus diputar berulang kali; sekali dengar pun sudah tahu bahwa itu adalah ulah penggemar CP dari Hao-Qing Wanzhong.

"Aku benar-benar harus menyinggung soal Bao Bao dan Mao Mao kita ini. Perusahaan Kaisar Lang sedang syuting di Tianyi, lokasi alamat IP dari unggahan terakhir Kaisar Lang juga ada di Tianyi. Semenjak itu tidak ada satupun informasi dari paparazzi yang menunjukkan dia telah meninggalkan Tianyi, yang membuktikan bahwa saat ini Kaisar Lang masih berada di Tianyi. Tuan Hao baru saja muncul di kolom komentar, dan alamat IP-nya juga menunjukkan Tianyi. Ini artinya apa? Ini berarti Bao Bao dan Mao Mao sedang bersama! Mereka sedang melakukan pemanasan awal untuk variety show. Ah! Aku hidup lagi! Aku tidak tahan lagi!"

Pikiran Qinglang sedang tidak tertuju pada ponselnya, dia bahkan tidak menyadari sudah berapa kali video itu terputar. Jika saja Kak Lan tidak meneleponnya, dia pasti masih melamun tak tentu arah, entah memikirkan apa.

"Kak Lan," Qinglang mengangkat telepon.

Xing Lan bertanya, "Sudah tidur?"

"Belum. Siang tadi tidur seharian, jadi belum mengantuk."

"Tidak sengaja kepencet?" tanya Kak Lan dengan sangat berhati-hati.
Awalnya Qinglang tidak mengerti, "Kepencet apa?"

Namun saat dipikir lagi dia pun paham; lambang hati kecil di samping video sebelum dia mengangkat telepon tadi ternyata berwarna merah. Qinglang mengubah ke mode pengeras suara, membuka ponselnya untuk mengecek konten tadi, dan ternyata jari sialannya ini benar-benar tidak sengaja memencet tombol suka (like).

Sialan, batin Qinglang merutuk saat membayangkan beberapa hantu serasa melayang-layang dalam benaknya.

"Shi Yuhao pasti akan mulai membuat sensasi dan artikel tentang ini lagi." Xing Lan berkata dengan nada serius, "Coba kutanya, apakah kamu masih punya perasaan padanya?"

"Mana mungkin." Jawaban Qinglang yang dilontarkan tanpa sadar, tanpa keraguan maupun pertimbangan, membuktikan bahwa dia mengatakan yang sebenarnya.

Xing Lan merasa tidak habis pikir, lalu membalas bertanya, "Lalu kenapa kamu setuju untuk ikut variety show itu?"

Qinglang berpikir sejenak, "Aku juga tidak tahu kenapa aku menerimanya. Saat Kak Guo menunjukkan proposal acara itu kepadaku, aku menyetujuinya tanpa banyak berpikir."

Setelah menjelaskan tindakannya waktu itu, Qinglang kembali merenung, "Mungkin karena aku ingin tahu apa sebenarnya yang dia rencanakan. Tapi yang pasti bukan karena masih ada perasaan."

"Kalau sudah tidak ada perasaan, jangan habiskan tenagamu untuknya." Xing Lan selalu bertindak dengan ketegasan, "Biar aku atas nama perusahaan membantumu mundur dari acara itu."

"Tidak perlu, Kak Lan. Aku ingin menyelesaikannya sendiri."

Qinglang masih menunggu; menunggu untuk memutuskan hubungan dengan pria itu. Sering kali, sebuah hubungan bagaikan kembang api busuk yang dilempar ke tanah karena gagal meledak; dia akan mengeras menjadi bongkahan batu dalam hati seseorang. Jika simpul kerumitan ini tidak diuraikan, rintangan itu tidak akan pernah bisa dilewati, dan napas yang menyesakkan dada ini tidak akan pernah bisa dihembuskan dengan lega.

Shi Yuhao adalah bongkahan batu yang mengendap dalam diri Qinglang selama tujuh tahun. Pada tahun-tahun sebelum debut, jalan yang mereka lalui bersama sangat dipenuhi dengan kasih sayang. Bahkan di kamar hotel dengan ranjang terpisah, Shi Yuhao selalu memeluk Qinglang, rela berdesakan di atas satu ranjang yang sama untuk tidur. Karena merasa dicintai, Qinglang pun jatuh terlalu dalam.
Dia terlalu mudah memberikan perasaannya, mudah memercayai ketulusan hati seseorang tanpa berniat untuk membuktikannya.
Setelah mereka debut, segalanya ikut berubah. Tak terlihat siapa yang sedang memegang kendali, tetapi seolah ada sebuah tangan takdir yang menggerakkan segalanya dari belakang layar. Mengikuti tarikan kekuatan ini, Qinglang dan Shi Yuhao perlahan-lahan saling menjauh, hingga tiba saat di mana pesan yang dikirim Qinglang hanya dibaca oleh Shi Yuhao tanpa pernah dibalas. Disusul dengan respons resmi yang dikirimkan oleh perusahaannya. Shi Yuhao sepenuhnya memutuskan kaitan perasaan pribadi dari dalam kehidupannya.
'Hubungi perusahaanku untuk segala urusan' — balasan sedingin es ini adalah kalimat terakhir yang dia tinggalkan di WeChat Qinglang. Sampai tujuh tahun kemudian, telepon dan pesan kembali membanjiri hanya demi sebuah variety show.

Qinglang memandangi deretan panggilan tak terjawab dari Shi Yuhao yang memerah di layar ponselnya selama setengah bulan. Perasaan ini sungguh sangat melegakan batinnya. Setelah tujuh tahun berjuang keras, dia akhirnya berhasil mendaki hingga ke puncak, membuat orang itu kembali bertekuk lutut menjilat di hadapannya.

Kesenangan dari balas dendam pun datang, namun di saat yang sama, hati Qinglang menjadi semakin rumit. Berkali-kali dia memastikan pada dirinya sendiri, apakah sesungguhnya dia masih menyimpan perasaan pada Shi Yuhao. Jawaban yang dia berikan kepada Kak Lan barusan sangatlah akurat; dia memang sudah tidak memiliki perasaan apapun. Bahkan di detik ini, rasa benci terhadap Shi Yuhao pun ikut meluap pergi. Batinnya kini dipenuhi oleh semangat kebebasan liar dari Molie, di mana sebuah hubungan yang baru sedang tumbuh bersemi.

*****
Shi Yuhao mengendarai mobil dan menerobos masuk ke lokasi syuting kru Kak Lan. Proyek film baru ini merupakan remake dari film debut dirinya dan Qinglang dulu. Dua aktor pendatang baru, Qi Haoyu dan Han Lu, masing-masing memerankan karakter yang sebelumnya dimainkan oleh Shi Yuhao dan Qinglang. Menariknya, dua anak muda ini dicari dengan kriteria yang mirip dengan mereka berdua di masa lalu.
Kebetulan yang sangat mengejutkan; Qi Haoyu sama seperti Shi Yuhao, kontrak agensinya tidak berada di bawah perusahaan Kak Lan. Dulu, Xing Lan pernah merugi besar gara-gara masalah ini, namun kini film baru tersebut malah kembali mengambil jalan yang sama. Tetapi demi kualitas film itu, Kak Lan tetap memilih Qi Haoyu. Setidaknya, dengan status kekuatan perusahaan Jia Lan Shan Ying saat ini, perusahaan-perusahaan lainlah yang harus datang memohon untuk bekerja sama. Kak Lan merasa situasinya dapat dikendalikan.
Walaupun terjadi insiden yang membuat mereka gagal mendapat untung, film ini setidaknya tidak akan rugi.

Shi Yuhao menghentikan proses pengambilan gambar di lokasi. Saat sutradara sedang sibuk memaki-maki, pria pemilik mobil itu sudah berjalan tiba di hadapan kenalan lamanya.

"Kak Lan, aku ingin bertemu Qinglang." Shi Yuhao berbicara terus terang.

Fang Jialin yang berwatak pemarah dan meledak-ledak di sampingnya langsung memaki, "Memangnya kau bisa bertemu seenaknya? Shi Yuhao, kau masih punya muka?"

Xing Lan menghentikan amarah Jialin. Kakak perempuan yang emosional itu lantas memalingkan wajahnya, malas melihat Shi Yuhao. Dia sama sekali tidak lupa akan kejadian di mana saat dia sedang hamil dulu, dia diserang secara verbal hingga bungkam oleh orang tak tahu malu ini.

Dengan ekspresi teraniaya, Shi Yuhao berkata, "Dia tidak mengangkat teleponku, dan kalaupun diangkat, dia hanya bicara satu dua patah kata."

Jialin mendengus sinis bagaikan desisan ular berbisa, dalam hatinya membatin: Akhirnya tiba juga harimu. Dulu, seluruh anggota perusahaan memohon-mohon padamu agar kamu mau berbicara, namun kau tak membalas sepatah kata pun.

"Apa yang ingin kamu bicarakan saat bertemu dengannya?" tanya Xing Lan.

"Kita akan segera berpartisipasi dalam variety show bersama, jadi tidak mungkin kan kita bertemu dengan saling bermusuhan. Aku tidak bermaksud lain, hanya ingin menghabiskan waktu bersamanya beberapa hari untuk bernostalgia." Shi Yuhao paling mahir memasang wajah memelas saat meminta tolong; ketulusannya seolah-olah menyatakan bahwa di dunia ini semua orang adalah penipu kecuali dirinya.

"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan efek acaranya nanti." Ujar Xing Lan, "Berhubung Qinglang sudah mengambil tawaran variety show ini, dia pasti akan menyelesaikan pekerjaannya dengan serius. Tetapi dia tidak akan mau bekerja sama denganmu untuk mencari sensasi CP. Kalau niatmu hanya untuk hal itu, kusarankan lebih baik kamu mundur saja dari acara ini."

Dalam lubuk hatinya, Xing Lan sangat tidak ingin Qinglang mengurus kekacauan ini. Mengingat Qinglang adalah bintang besar (top tier), untuk apa menurunkan harga diri dan menguras energi meladeni seorang rekan lama yang sudah tujuh tahun tidak pernah berhubungan. Karena Shi Yuhao sudah datang sendiri, dia akan menasihatinya semampunya. Jauh lebih baik bila langsung membuatnya mundur, agar Qinglang tidak perlu repot.

"Kak Lan, kalau Kakak bilang begitu, ini jadi tidak masuk akal. Kalau bukan untuk membuat hype CP, untuk apa aku mengundangnya ke acara ini? Memang benar, aku butuh mendompleng popularitasnya agar kembali tenar."

Ucapan Shi Yuhao tersebut justru membuat Xing Lan tercengang. Dalam pandangannya, anak ini tidak pernah bersikap jujur sebelumnya. Dia tidak pernah mau mengatakan apa yang dia inginkan secara terang-terangan; selalu bersembunyi-sembunyi saat mengambilnya. Dia tak berani menyuarakan keinginannya, yang mana sangat berbanding terbalik dengan Qinglang. Jika Qinglang menginginkan sebuah penghargaan, dia akan mengatakannya; niatnya untuk menjadi bintang internasional pun ditunjukkannya dengan tulus dan dengan tujuan yang jelas. Tetapi Shi Yuhao berbeda. Di mulut dia terus berkata tidak ingin populer, tidak butuh sorotan, dan merasa cukup asalkan bisa menjadi aktor lapis kedua atau ketiga yang penting mendapat proyek syuting. Namun kenyataannya, di balik itu dia menikmati pundi-pundi popularitas tanpa tahu malu. Menginginkan sesuatu tapi tak mau mengaku, sungguh kelakuan munafik sejati.

"Yuhao." Xing Lan memanggil namanya dengan lembut, nadanya terdengar penuh wejangan seperti di masa lalu, "Aku senang bisa melihatmu bersikap sangat terus terang sekarang. Tujuh tahun lalu, andai saja sikap kerjamu juga seperti ini, berani menyatakan langsung apa yang kau inginkan dan berani melakukannya, semua masalah itu tak akan terjadi. Pada saat itu kau dan Qinglang sudah membesarkan nama bersama; kau tak mungkin hanya berada di posisi seperti sekarang ini."

Xing Lan berbicara terlalu tenang. Fang Jialin yang tidak tahan mendengarnya akhirnya menoleh dan langsung memotong tajam, "Dulu saat Qinglang mengirimkan pesan, kau sama sekali tidak membalasnya. Sekarang kau malah ingin dia meresponmu? Shi Yuhao, bumi ini tidak berputar mengelilingimu. Jangan kira kami tidak tahu apa yang pernah kau lakukan. Demi peran yang waktu itu yang diperjuangkan mati-matian oleh Qinglang, andai saja perusahaanmu tidak menikungnya diam-diam dari belakang——"

"Jialin."

Ucapan Fang Jialin kembali disela oleh Xing Lan. Sambil menelan amarahnya, dia menuntaskan sisa kalimatnya, "Baguslah, film itu tidak jadi dia bintangi. Karena bermain di film yang satu lagi, dia malah berhasil meraih penghargaan."

Percakapan dari tiga arah dan tiga tujuan itu diinterupsi oleh penata rias, Dong Jingjing, "Qi Haoyu merasa kurang puas dengan gaya rambutnya."

Wakil Direktur Fang Jialin yang notabene adalah mantan penata gaya dipanggil kembali ke lapangan, sementara Xing Lan tidak akan pernah memberitahukan lokasi keberadaan Qinglang kepada Shi Yuhao.
Tidak ada gunanya berbicara lebih panjang lagi. Shi Yuhao pun berlalu pergi dengan muka memelas dan menanggung rasa malu.
Pria itu sudah tidak mendapat tempat di hati Qinglang. Semenjak hari di mana dia menikam dari belakang dan memutuskan kemitraan mereka secara sepihak, jalur rel takdir ini telah terbentang.

3.803 kata

A Winter Sun Wakes The Wind In Spring Hills Dream - Chapter 5 - Tersembunyi

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.