Sesaat, aku tidak bisa mengenali siapa pria yang memanggil namaku itu. Namun tidak lama kemudian, aku berhasil mengingat siapa dia. Begitu mengingat sosok yang sempat terlupakan itu, rasa panik seketika ikut melanda.
Semakin pria itu mendekat ke arahku, tubuhku semakin kaku seiring dengan jarak yang terkikis. Bagaimana bisa aku bertemu orang itu di sini? Aku harus berusaha keras agar ekspresiku yang berantakan tidak ketahuan akibat kebetulan yang tidak menyenangkan ini.
“Wah, ternyata kau benar Eunwoo, kan? Bagaimana bisa kita bertemu di sini? Senang melihatmu!”
“Kyumin Hyung ....”
Kang Kyumin. Dia adalah kakak tertua yang terpaut usia 4 tahun dengan Kyuho. Bagaimana bisa ada kebetulan seperti ini? Aku perlahan bangkit dari dudukku dan menghadapi orang yang kehadirannya sama sekali tidak kuperlukan itu.
Karena Kyumin Hyung sudah mandiri dan keluar rumah saat aku baru masuk ke rumah utama mereka, kami tidak punya banyak kesempatan untuk sering bertemu. Paling hanya melihatnya sebentar sesekali di akhir pekan?
Itu pun lebih jarang lagi karena aku hampir selalu berada di luar. Namun, bersama dengan ayah Kyuho, dia adalah salah satu orang yang paling membuatku tidak nyaman.
Dia tidak seperti ayah atau adik bungsunya yang terang-terangan menyindirku. Rasanya lebih seperti jenis ketidaknyamanan yang hanya bisa kurasakan sendiri?
Ekspresi angkuh penuh rasa superioritas dan tatapan mata kasihan seperti melihat orang lemah saat berhadapan denganku selalu memberikan rasa tidak nyaman.
Di luar hal itu, hubungan kami sebenarnya mendekati saling tidak peduli, tetapi karena dia adalah kakak yang cukup diandalkan oleh Kyuho, dalam banyak hal dia mau tidak mau terasa tidak nyaman bagiku.
Dia pasti sudah mendengar banyak hal tentangku dari Kyuho. Pertemuan singkat saat kelulusan SMA setelah aku keluar dari rumah itu adalah yang terakhir, jadi ini benar-benar pertemuan yang sudah sangat lama.
“... Halo. Apa kabar? Bagaimana bisa bertemu di sini? Ajaib sekali .... Tapi, ada urusan apa Hyung di sini?"
Aku terpaksa menggerakkan otot-otot wajahku yang kaku demi menciptakan seulas senyuman.
“Ah, aku ke sini karena ada seminar hari ini. Di sini memang sering diadakan acara seperti simposium atau pelatihan.”
Seminar? Benar juga, Hyung juga seorang dokter.
Karena ini rumah sakit yang sangat besar, aku tahu dari desas-desus bahwa pertemuan para dokter sering diadakan di sini. Tetap saja, aku tidak menyangka akan berpapasan langsung seperti ini.
Aku berusaha keras menarik ujung bibirku ke atas sambil memandangi kakak yang sudah lama tidak kutemui ini. Entah dia tahu isi hatiku atau sengaja berpura-pura tidak tahu, dia menanyakan kabarku dengan begitu santai.
“Justru aku yang harus bertanya ada urusan apa kau di sini? Aku datang karena pekerjaan, tapi Eunwoo ada urusan apa di rumah sakit? Bukan sekadar rumah sakit biasa, tapi rumah sakit tersier .... Apa kau sedang sakit? Atau Ibu yang kondisinya kurang baik?”
Menghadapi pertanyaannya yang sengaja diucapkan dengan nada terkejut, aku menggelengkan kepala dan membuat alasan seadanya.
“Tidak. Bukan karena sakit. Aku mau bertemu seseorang.”
“Di sini?” Melihat ekspresinya yang benar-benar terkejut, aku menyesal dan berpikir seharusnya aku mencari alasan lain saja.
Di mata seorang dokter, apalagi di rumah sakit yang skalanya paling besar di antara rumah sakit tersier lainnya, orang yang ditemui di sini pasti akan langsung dianggap sebagai pasien. Kalau begitu, dia yang tahu situasiku secara alami akan langsung memikirkan ibuku.
Aku khawatir ini malah akan menciptakan desas-desus yang akan disampaikan ke sana kemari tanpa alasan. Lagi pula, aku sama sekali tidak ingin membicarakan masalah pribadi dan tidak mau membuat orang berspekulasi yang tidak-tidak, jadi aku bergegas mengalihkan pembicaraan.
“Ya. Ini urusan pribadi. Tapi Hyung terlihat sehat-sehat saja seperti biasanya.”
Apa ucapan yang kulontarkan sambil menghindari kontak mata itu terdengar terlalu formal? Dia melepaskan tawa kecil yang pendek. Sepertinya dia sadar kalau aku malas berbicara lebih mendalam.
“Terlihat sehat apanya. Aku ini sudah layu karena kelelahan. Ngomong-ngomong, meskipun angkatan kita berbeda jauh, kita kan kuliah di universitas yang sama, tapi aku tidak pernah sekalipun melihat wajahmu di kampus. Kau sudah lulus, kan?”
“Jurusan kita berbeda dan kampus juga sangat luas. Lalu, aku belum lulus. Aku sedang cuti kuliah.”
“... Cuti?”
Begitu kata ‘cuti kuliah’ keluar, mata Hyung sedikit membelalak karena terkejut. Mengingat aku masuk ke sekolah itu dengan mengerahkan seluruh kemampuanku, berita kalau aku mengambil cuti pasti terdengar mengejutkan.
Dan segera setelah itu, dia mulai bertanya secara halus seolah-olah sedang menginterogasiku. Sekarang aku tahu betul bahwa pertanyaan itu diajukan bukan murni karena dia penasaran padaku. Kakak ini benar-benar masih sama seperti dulu.
“Begitu rupanya. Pasti ada alasannya, tapi apa mungkin kau mau bermusik lagi?”
“Bukan karena itu. Lagipula tidak terjadi sesuatu yang besar juga. Aku hanya ingin istirahat sebentar. Ingin bermalas-malasan saja, dan ….”
“Ah, masa-masa seperti itu memang ada. Istirahat sejenak juga tidak buruk. Kau pasti sudah memikirkannya baik-baik.”
Itu adalah alasan yang tidak masuk akal, tetapi tidak ada alasan bagiku untuk menceritakan bahwa kesehatan ibuku memburuk sehingga aku tidak bisa lagi fokus pada studi. Karena jika diceritakan, dia pasti akan menatapku lagi dengan pandangan kasihan yang sok bersimpati itu.
Hidupmu masih tetap sama saja, ya. Tidak ada satu pun yang berubah, masih tetap malang. Pasti pikiran seperti itu yang ada di kepalanya.
Kenyataannya, situasiku sekarang jauh lebih buruk daripada saat itu hingga aku harus mengambil pilihan menjadi ibu pengganti, tetapi aku sama sekali tidak ingin hal itu terdengar sedikit pun oleh telinga orang-orang dari keluarga tersebut. Lagipula secara kontrak, aku juga tidak boleh mengatakannya.
“Ah, Eun-woo. Apa kau masih berhubungan dengan Kyuho?”
Padahal dia tahu lebih baik dari siapa pun kalau kami tidak berhubungan, tetapi aku tidak tahu kenapa dia bertanya. Pertanyaan yang tidak diketahui maksudnya yang diajukan dengan hati-hati seolah sedang memancingku itu terasa tidak nyaman.
“... Tidak. Sama sekali tidak.”
Aku menggelengkan kepala sambil menunjukkan senyum tipis. Hyung pasti tidak mungkin tidak tahu tentang perasaan halus yang ada di antara aku dan Kyuho saat itu. Mungkin karena dia mengetahuinya, dia bertanya untuk memastikan perasaanku.
“Waktu itu aku bahkan tidak tahu kalau Kyuho pergi ke Amerika. Aku baru tahu kalau dia pergi mendadak setelah diceritakan oleh orang lain.”
Hari itu, saat Kyuho yang perlahan-lahan menjauhiku tiba-tiba menghilang, terlintas kembali di benakku. Mengingatnya lagi pun tetap bukan memori yang menyenangkan.
“Ah ... itu. Jadwalnya yang tiba-tiba padat membuatnya sangat sibuk. Tepat setelah dia gagal masuk Universitas Hanguk, tidak ada waktu untuk memikirkan hal lain.”
“Karena tidak ada waktu untuk menunda-nunda, dia harus segera beralih ke rencana berikutnya. Bukan hanya kau saja, Eunwoo, yang tidak tahu kalau Kyuho pergi ke Amerika.”
“Karena perginya sangat mendadak, mungkin semua orang juga tidak tahu. Ini kan bukan urusan lain, melainkan masa depan anak itu yang dipertaruhkan.”
“Benar juga.”
Mana mungkin. Teman-teman Kyuho yang lain, di luar diriku, semuanya tahu kalau dia telah pergi ke Amerika. Di antara orang-orang di sekitar Kyuho, satu-satunya orang yang tidak tahu fakta bahwa dia pergi ke Amerika hanyalah aku.
Usaha Hyung yang melontarkan rentetan pembelaan untuk adiknya sungguh membuat terharu hingga ingin menangis. Namun sayangnya, bagiku sosok bernama Kang Kyuho sudah tidak penting lagi. Karena dia adalah orang dari masa lalu yang sudah berlalu, tidak akan ada urusan lagi di masa depan.
“Kyuho baik-baik saja di sana. Rencananya sedikit berubah, tapi sepertinya dia beradaptasi dengan baik. Dia masuk ke universitas yang lumayan bagus dan mengambil jurusan biologi.”
“Karena kalau mau masuk sekolah kedokteran pascasarjana, sepertinya jalur itu lebih bagus. Sistem proses kedokteran di sana kan agak berbeda dengan di sini.”
“Dia mendapatkan berbagai macam pengalaman, jadi melihatnya begitu baik, rasanya malah melegakan dia tidak masuk ke Fakultas Kedokteran Universitas Hanguk. Kau penasaran kan bagaimana keadaannya?”
Sama sekali tidak.
Aku, dalam arti yang sebenarnya, sama sekali tidak penasaran bagaimana jalannya kehidupan Kang Kyuho di Amerika.
Dan di sini pun, gaya bicara Hyung yang aneh kembali menonjol. Sangat baik di Amerika sampai-sampai melegakan karena tidak masuk Universitas Hanguk? Bicara itu yang benar saja.
Kang Kyuho itu bukan tidak masuk ke Universitas Hanguk, melainkan tidak bisa masuk. Gengsinya yang menolak mengakui kalau dia gagal dan berusaha membungkusnya agar terlihat bagus masih tetap sama seperti dulu.
“Sekarang Eunwoo juga harus cepat-cepat kembali kuliah dan bersiap mencari kerja. Di tengah situasi yang sulit begini, bukankah lebih baik cepat mandiri? Lagipula nama kampusmu kan punya nama, jadi asal kau berusaha keras, kamu pasti bisa masuk ke perusahaan yang bagus.”
Di dalam ucapan yang terdengar seperti kekhawatiran dan nasihat itu, masih terselip rasa kasihan yang tidak berguna yang ditujukan kepadaku.
Melelahkan. Sebelum suasananya menjadi semakin tidak menyenangkan, sepertinya lebih baik menyapa dengan pantas lalu pergi dari tempat ini.
“Dan lagi, Ibu banyak mengkhawatirkanmu. Kenapa kau tidak coba menghubungi sesekali? Sungguh melegakan bisa bertemu di sini. Boleh minta nomor ponselmu?”
“... Ya?”
Uh ... tidak, aku tidak ingin memberitahunya. Karena aku sama sekali tidak sudi untuk terlibat lagi dengan mereka. Tidak mungkin juga aku bilang tidak punya ponsel padahal jelas-jelas ada ….
Aku tidak tahu bagaimana cara menolaknya. Apa aku harus bilang ponselku rusak dan sedang tidak punya? Aku memutar otak dalam waktu singkat untuk mencari jawaban yang paling tidak canggung. Namun, tepat pada saat itu.
“Tuan Eunwoo. Anda ada di sini?” Dari arah belakang, terdengar suara yang sangat melegakan yang sama sekali tidak kusangka-sangka.
Merespons suara itu, aku dengan cepat menoleh ke belakang dan mendapati Cha Juheon sudah berdiri tepat di belakangku sambil menatapku, entah sejak kapan dia datang. Aku tidak pernah merasa semanit ini mendengarnya.
“Apa Anda menunggu lama? Maaf saya terlambat.”
Waktu kemunculan Cha Juheon benar-benar sangat tepat. Seketika senyuman merekah di wajahku, dan aku menyambutnya dengan senyuman paling cerah yang pernah kuberikan sejak mengenalnya.
Cha Juheon, yang diam-diam memandangiku yang sedang tersenyum ke arahnya, menarik masker yang tergantung di dagunya ke atas, lalu kembali menyembunyikan wajah tampannya itu.
Berkat hal itu, aku tidak bisa tahu ekspresi seperti apa yang sedang dipasangnya. Meskipun kemungkinan besar berekspresi datar tanpa ada perbedaan seperti biasanya.
“Tidak papa. Saya tidak menunggu lama kok.”
“Pemeriksaannya berjalan lambat. Maaf ya. Ayo cepat pergi. Anda pasti lelah.”
Cha Juheon sama sekali tidak melirik sedikit pun ke arah Kyumin Hyung yang berada tepat di depannya, seolah-olah menganggap pria itu tidak ada.
Kemudian, setelah merangkul punggungku dengan hati-hati, dia langsung membalikkan badan bahkan tanpa memberiku celah untuk berpamitan pada Hyung.
“Eh, tunggu dulu, Eunwoo?”
Akibat kemunculan tiba-tiba Cha Juheon, Hyung yang posisinya menjadi agak memalukan memanggil namaku dengan nada panik.
Ya. Wajar saja kalau dia panik. Jika itu orang biasa, umumnya meskipun tidak saling kenal, jika ada seseorang di depannya, minimal mereka akan saling menyapa dan tidak akan mengabaikan secara terang-terangan seperti ini.
Aku juga merasa situasinya agak canggung sehingga aku melirik ke atas ke arah Cha Juheon. Namun, dia tampaknya sama sekali tidak berniat untuk menyapa Kyumin Hyung.
Hyung yang terburu-buru mendekat memanggilku sambil memegang pelan lenganku yang sudah berbalik akibat tuntunan Cha Juheon, dan Cha Juheon seketika menyorotkan tatapan mata yang tajam seolah merasa tidak senang dengan sentuhan dari orang asing.
“Eunwoo, tunggu sebentar. Kyuho dalam waktu dekat akan pulang ke Korea. Kita harus bertemu bersama saat itu. Ambil ini.”
Hyung yang menahan kami dengan memegang lenganku menyelipkan kartu namanya ke tanganku. Namun, bahkan sebelum aku sempat menyentuh kartu nama itu, Cha Juheon mengangkat kartu nama tersebut menggunakan dua jari—seolah-olah sedang memegang sesuatu yang kotor.
Dalam posisi canggung seperti itu, dia sempat melihat sekilas tulisan yang tertera di kartu nama, lalu meletakkan kertas itu ke atas meja di sebelah kami seakan sedang membuangnya.
Setelah itu, dia mengeluarkan cairan sanitasi dari dalam tasnya. Kenapa tiba-tiba dia mengeluarkan benda itu sekarang?
“Direktur?”
Tanpa keraguan sedikit pun, Cha Juheon mulai menyemprotkan cairan sanitasi ke lenganku dan area di sekitarnya.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.