Baby Scandal - Chapter 13

Baru setelah menyemprotkan cairan sanitasi dalam jumlah banyak ke lengan dan area di sekitarku dengan sepuasnya, Cha Juheon memasukkan kembali cairan tersebut ke dalam tasnya dengan wajah puas.

Dia tampak sama sekali tidak tertarik pada siapa pria yang baru saja mengobrol denganku, dan bertingkah seolah-olah tidak ada orang lain di tempat ini selain aku. Singkatnya, saat ini dia sedang mengabaikan Kakak Kyuho secara terang-terangan.

“Tuan Eunwoo.”

“Ya?”

“Daripada membuang waktu seperti ini, bukankah lebih baik Anda menerima suntikan vitamin lagi? Bagaimana kalau Anda tertular penyakit karena berdekatan dengan sembarang orang seperti ini?”

“Bukankah sudah berulang kali saya katakan untuk sebisa mungkin menghindari hal-hal yang kotor dan tidak bersih?”

Cha Juheon mengomel seperti biasa sambil menatap lenganku yang sempat dipegang oleh Hyung tadi. Sambil menyipitkan mata memandangi lenganku, dia mengulurkan tangan dan mulai menepis area di sekitar lenganku seolah sedang membersihkan debu.

Secara terang-terangan, dia hanya menepis bagian yang sempat dipegang Hyung seolah-olah ada sesuatu yang kotor menempel di sana.

Wah, baru pertama kali aku melihat orang seperti ini. Dia bersikap tidak sopan dengan cara yang sangat elegan.

Tindakan dan ucapan yang ditunjukkan olehnya saat ini, di mata siapa pun, adalah tindakan yang sangat tidak sopan. Sebab, terlihat jelas adanya pengabaian yang terang-terangan terhadap pihak lawan.

Sialnya, bahkan tindakan tidak sopan itu pun dilakukan oleh Cha Juheon dengan cara yang sopan dan bermartabat. Dengan sangat angkuh, dia mengabaikan Kakak sepenuhnya di ruang ini.

“Ah, itu, Direktur ….”

“Wah, waktu sudah sangat telat ternyata. Anda pasti lapar, jadi ayo cepat pergi. Lagipula akhir-akhir ini Anda adalah orang yang makan banyak, jadi gawat kalau sampai melewatkan waktu makan.”

Ekspresi Cha Juheon yang mengatakan bahwa gawat jika melewatkan waktu makan sambil mengerutkan dahi terlihat sangat serius.

Seolah-olah telah melewatkan urusan yang teramat penting, gumpalan rasa sesal membayangi ekspresinya. Dalam situasi seperti ini, apa masalahnya kalau terlambat makan sekali saja?

“Ya? Rasa-rasanya tidak sampai segawat itu ... tapi omong-omong, bagaimana Anda bisa tahu kalau saya makan banyak?”

Aku tahu ini adalah ucapan yang tidak sesuai dengan situasi, tetapi meskipun tahu, mau tidak mau aku memberanikan diri untuk bertanya.

Karena aku benar-benar penasaran …. Sungguh sangat penasaran. Bagaimana bisa seorang direktur tahu seberapa banyak yang kumakan sampai-sampai melontarkan ucapan seperti itu.

“Tentu saja karena saya juga bukannya tidak tahu seberapa banyak bahan makanan yang masuk ke rumah itu.”

“Makanan apa yang disukai dan tidak disukai, serta berapa porsi untuk sekali makan, semua itu adalah bagian yang harus saya ketahui, jadi tidak mungkin saya tidak tahu.”

“Karena jangan sampai terjadi masalah pada tubuh Anda. Jangan-jangan Anda mengira saya tidak memeriksa hal sepenting itu?"

“... Ya.”

Sama sekali tidak. Aku bahkan tidak menduga kalau dia akan menaruh perhatian sebesar ini kepadaku. Aku hanya mengira bahwa segala hal tentang kehidupan sehari-hari diriku diurus dan diperhatikan oleh Pimpinan secara mandiri.

Namun tampaknya bukan seperti itu. Selama ini, Cha Juheon memeriksa setiap hal yang kumakan satu demi satu tanpa melewatkannya begitu saja.

Mungkin bukan hanya makanan, tetapi bagian lain dari kehidupan sehari-hariku juga diam-diam sedang diawasi olehnya.

Ini adalah momen di mana aku sekali lagi menyadari betapa pentingnya bayi ini bagi mereka, dan juga betapa seriusnya mereka terhadap kontrak ini. Rasa tegang yang sempat agak mengendur kini kembali mengetat dengan kencang.

“Kalau sudah tahu, ayo cepat pergi.”

Cha Juheon memindahkan langkah kaki seolah-olah mendorong punggungku bagai orang yang tidak ingin berada di tempat itu barang sesaat pun.

Saat beranjak dari tempat tersebut dengan langkah yang agak cepat, dari arah belakang terdengar suara yang sempat terlupakan.

“Hei, Eunwoo! Hyung tidak tahu ini situasi apa, tapi pokoknya Kyuho sebentar lagi akan pulang, jadi kalau bisa bertemu lagi, ayo kita kumpul bersama!”

Mau pulang atau tidak, aku sama sekali tidak berniat untuk bertemu dengan Kyuho lagi. Tetap saja, mengakhiri pertemuan dengan cara yang tidak jelas seperti ini terasa mengganjal dan kurang sreg, sehingga aku ingin menutupnya dengan salam perpisahan yang benar.

Namun, karena tidak mampu melawan kekuatan Cha Juheon yang memegang erat dan mengunci tubuhku, hal itu pun tidak bisa kulakukan.

Terpaksa aku memutar kepala setengah jalan dan bisa memastikan wajah panik Hyung yang melihat ke arah sini, tetapi hanya sampai di situ. Salam perpisahan pada akhirnya tidak bisa diucapkan dan pertemuan itu pun berakhir.

Di dalam mobil dalam perjalanan kembali pun, Cha Juheon tidak banyak bicara. Dia tidak bertanya kepadaku siapa pria itu dan kenapa kami berada bersama. Karena itu, aku juga tidak bisa menanyakan hal yang membuatku penasaran kepadaku.

Aku ingin bertanya karena penasaran kenapa dia bertindak seperti itu, dan atas dasar apa dia membawaku keluar dengan cara seperti itu.

Cha Juheon, meskipun biasanya ketus, adalah orang yang memiliki sopan santun dasar, sehingga dia tidak pernah melakukan tindakan tidak sopan kepada orang lain.

Maka dari itu, kejadian hari ini benar-benar tidak bisa dipahami. Namun, selama Cha Juheon tidak membuka suara, aku juga tidak bisa bertanya duluan.

Lebih nyaman bagi hatiku untuk menafsirkannya dan memikirkannya sendiri saja. Anggap saja karena sifatnya yang bersih secara higienis dan berlebihan itu, dia tidak suka melihatku berdekatan dengan orang asing yang tidak dia kenal.

Karena dia memang tidak menyukai orang asing dan hal-hal yang tidak familier. Lagi pula, apa pun alasannya, berkat hal itu aku bisa lolos dari tempat tersebut, jadi ada sisi melegakan juga.

“Apa ada yang ingin Anda makan? Karena Anda sudah terlalu lama berada di luar, bagaimana kalau kita membungkusnya saja? Lebih baik makan dengan nyaman setelah sampai di rumah. Karena jangan sampai tubuh Anda kelelahan.”

Dia berbicara dengan ekspresi yang cukup bertekad.

“Bagi saya tidak masalah yang mana saja, tapi Direktur juga belum makan kan. Apa Anda akan pulang ke rumah?”

“Tidak. Saya akan kembali lagi ke perusahaan.”

“Ya? Kalau begitu makan siangnya … sekarang kan jam ….”

Mendengar jawabannya yang akan kembali ke perusahaan, pandanganku secara alami tertuju ke arah jam. Memang tidak mungkin Cha Juheon akan makan bersamaku, tetapi hal itu tetap mengusik pikiran.

Meskipun dia bilang melakukan pemeriksaan pribadi, bagaimanapun juga agenda utamanya adalah pemeriksaan rutin diriku.

Karena hal itu, dia sengaja meluangkan waktu di pagi hari untuk bergerak bersama, jadi ketika mendengar dia pergi bekerja tanpa makan, mau tidak mau hatiku merasa tidak enak.

“Hal seperti itu tidak papa. Saya cukup makan yang simpel saja. Pikirkan saja makanan Tuan Eunwoo sendiri. Anda mau makan apa?”

Sikapnya yang berulang kali menanyakan apa yang ingin kumakan terasa begitu serius hingga hampir membuatku tertawa. Padahal ini hanta urusan makan sekali saja, apa perlu sampai seserius itu?

Namun, karena tujuannya bukanlah diriku melainkan bayi di dalam kandungan, hal itu bisa kupahami. Karena jika aku makan dengan baik, bayi juga akan tumbuh dengan baik.

“Saya mau hamburger. Rasa-rasanya cukup makan hamburger yang simpel saja.”

“Ah, hamburger, tunggu sebentar.” Begitu mendengar jawabanku, Cha Juheon langsung mengangkat ponselnya dan mulai mencari sesuatu.

“Hmm, karena saya tidak makan hamburger jadi saya kurang tahu, tapi di daerah sini ada restoran hamburger buatan tangan yang ulasannya lumayan bagus.”

“Restoran hamburger buatan tangan?”

Aku penasaran apa yang sedang dilakukannya, ternyata dia sedang mencari toko hamburger buatan tangan dengan ponselnya.

Hamburger yang dia cari tampaknya memiliki perbedaan dengan apa yang ada di dalam pikiranku. Alih-alih hamburger biasa yang dijual di pasaran, dia pasti sedang mencari jenis hamburger yang harganya puluhan ribu won per buah seperti itu.

“Direktur, jangan yang seperti itu, cukup delivery saja dari aplikasi pengiriman. Makanan akan sampai dengan cepat jadi jangan terlalu dipikirkan.”

“Delivery?”

Mendengar kata ‘delivery’, reaksi Cha Juheon langsung seketika eperti orang yang salah dengar, dia menatapku lekat-lekat dengan ekspresi tidak senang. Itu adalah ekspresi yang mengandung arti seolah-olah aku sedang membuat orang repot saja.

“Makanan yang dipesan dari aplikasi pengiriman itu kan makanan cepat saji.”

“Ya, benar. Karena hamburger biasanya memang makanan cepat saji, kan?” Cha Juheon mendengus geli dan menyanggah ucapanku.

“Ha, tentu saja bukan. Berani-beraninya membuat generalisasi seperti itu …. Zaman sekarang ada banyak hamburger yang dibuat secara sehat dengan bahan-bahan yang bagus, jadi tunggu sebentar lagi. Jangan memikirkan hal yang seperti itu.”

“... Direktur. Yang ingin saya makan bukanlah hamburger buatan tangan yang dijual di restoran, melainkan hamburger makanan cepat saji.”

Meskipun ini adalah tanggapan yang terlalu malu-malu untuk sebuah bantahan, bagaimanapun juga aku telah menyampaikan apa yang ingin kumakan dengan jelas.

Dengan menunjukkan titik penekanan yang jelas seperti ini, dia juga tidak akan berpikiran untuk memaksaku makan hal lain.

“Saya tahu betul niat Anda yang memikirkan bayi, tetapi karena ini bukan makanan yang sering dikonsumsi, rasanya tidak akan berdampak buruk bagi tubuh.”

Ketika aku tetap tidak goyah dari pikiranku hingga akhir dengan suara yang merayap kecil, dia yang sedari tadi hanya melihat ponsel kini menoleh ke arahku.

“Dokter bilang saya harus memakan apa yang ingin saya makan ….”

Apa karena dia tidak menyukai diriku yang mengeluarkan kartu dokter layaknya kartu as, mata Cha Juheon langsung menyipit.

“Karena saya belum pernah memakan hamburger yang ingin dimakan oleh Tuan Baek Eunwoo, saya tidak tahu apa perbedaan rasanya.”

“Namun, bukankah tidak ada salahnya jika Anda mengikuti saran saya? Dari segi bahan maupun kesegaran, makanan cepat saji tidak akan bisa mengejarnya, jadi Anda tidak akan rugi apa-apa.”

Di dalam ucapannya, terlihat jelas bahwa dia sama sekali tidak bisa memahamiku. Namun hal itu berlaku sama untuk diriku. Aku tidak sedang berniat memperhitungkan untung rugi untuk makanan sekali makan. Aku memakannya hanya karena aku sedang ingin memakannya ….

“Saya juga belum pernah memakan hamburger yang Direktur maksud, jadi saya tidak bisa berkomentar apa-apa, tetapi memakannya sesekali sama sekali tidak buruk untuk kesehatan. Lagipula sebenarnya hamburger bukanlah makanan yang buruk bagi tubuh.”

“Tentu saja saya juga tahu kalau itu bukan makanan yang buruk bagi tubuh. Karena itu adalah hal yang sering dikonsumsi orang-orang.”

“Maksud saya bukan seperti itu, melainkan mumpung mau makan, makanlah sesuatu yang dibuat dari bahan yang sedikit lebih bagus. Bukankah bagaimanapun juga hal itu akan lebih baik untuk janin?”

Dia benar-benar memikirkan bayinya dengan sangat luar biasa.

“Saya tahu betul apa maksud Direktur, tapi katanya selama masa kehamilan, menghindari stres itu jauh lebih baik daripada urusan makanan.”

“... Apa? Stres?”

“Hah? Ya ….”

“Stres?”

Cha Juheon yang mengulang kata ‘stres’ memandangku dengan emosi paling bergejolak sejak kami bertemu. Ekspresi itu dipenuhi dengan rasa ngeri dan syok. Kenapa dia merespons sampai sejauh itu? Akibat reaksi tajam yang tidak terduga ini, aku kembali menjadi tegang.

“Bagian yang membuat saya stres itu adalah ….”

“Ha, Tuan Baek Eun-woo adalah orang pertama yang mengatakan bahwa mereka menerima stres akibat ucapan saya.”

“Ya?”

Orang pertama?

“Tidak ada seorang pun yang menerima stres karena saya. Tidak ada siapa pun hingga saat ini. Tidak ada juga orang yang mengatakan bahwa mereka stres.”

“Tapi kenapa hanya Tuan Baek Eunwoo yang merespons dengan sangat sensitif? Tidak ada seorang pun yang merespons ucapan saya seperti ini.”

Apa orang ini sedang bercakap lelucon? Namun Cha Juheon memasang ekspresi yang benar-benar tidak habis pikir dan sungguh tidak tahu apa penyebabnya.

Dari reaksi itu, aku lagi-lagi bisa merasakan perbedaan lingkungan di antara kami. Maksudku, secara realistis, tentu saja tidak ada seorang pun di sekitarnya yang berani bicara jujur.

Siapa pula di dunia ini yang mau mendebat dan berkata bahwa mereka stres akibat ucapan dari seorang direktur sekaligus calon pemimpin masa depan, dan bukan sekadar atasan biasa?

Siapa yang memiliki keberanian untuk mengeluarkan kata-kata itu dari mulutnya seberapa pun stresnya mereka. Kecuali kalau sudah gila, mereka pasti akan menelannya sendiri di dalam hati.

Aku mengatakan apa yang ingin kukatakan karena aku bukanlah karyawannya, tetapi mana mungkin para karyawan berani melakukan hal seperti itu.

Memikirkan bahwa dia menerima reaksi para karyawan tersebut dengan tulus, dia benar-benar layaknya seorang pangeran sejati.

Membuat gemas saja, sungguh.

Aku pun menutup mata sambil mengabaikan pertanyaan gigih Cha Juheon tentang kenapa aku menerima stres.

🐾

🐾

🐾

WKWKWK lucu banget debatnya 🤣🤣

1.935 kata

Baby Scandal - Chapter 13

My Donation

Dukung translator

hye • Baby Scandal

dukung hye dalam bentuk donasi~ terima kasih juga udah baca pj hye dan selalu nunggu updatean-updatean pj hye ^o^

e-wallet lengkap ada di saweria, oke? channel telegram juga ada di saweria, silakan yang mau gabung, tetep patuhi rules ya, sayang <3.

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.