Setelah mengirimkan pesan kepada Eunwoo, saat sedang membereskan pekerjaan sore, Juheon menerima sebuah berkas yang diserahkan oleh sekretarisnya.
Itu adalah berkas penyelidikan mengenai Gaon Medical dan Kang Kyuho yang dia minta beberapa waktu lalu. Penyelidikan berjalan lebih cepat dari perkiraan, dan Juheon bisa menerimanya lebih awal dari yang dia duga.
Ekspresi Juheon yang berfokus pada dokumen itu terlihat lebih serius dari biasanya. Dia duduk tanpa bergerak sedikit pun dan tidak bisa mengalihkan pandangannya dari berkas tersebut.
Jika bukan karena gerakan halus dari jari-jari yang menopang rahang bawahnya atau tatapan matanya yang menyipit, orang-orang bahkan tidak akan tahu apa dia sedang membuka mata atau tidak.
Gerakan Juheon yang begitu sunyi seperti ini juga menandakan bahwa hatinya sedang merasa sangat tidak nyaman. Sekretaris Juheon yang mengetahui hal itu, memperhatikan sosoknya dari tempat yang agak jauh dengan perasaan tegang.
Meskipun belum lama bekerja bersama, sekretaris itu kini sudah bisa memahami bagaimana kondisi atasannya hanya lewat perubahan ekspresi yang samar atau gerakan kecilnya.
Entah tahu atau tidak dengan ketegangan sang sekretaris, Juheon sibuk berfokus pada dokumen tersebut. Dokumen yang diselidiki dengan cukup mendetail itu memiliki lumayan banyak informasi dan isinya pun memuaskan.
Mulai dari Kang Kyumin yang berada bersama Eunwoo beberapa waktu lalu, tentu saja beserta anggota keluarganya, hingga data pribadi Kang Kyuho yang namanya sempat beberapa kali disebut-sebut. Ada banyak konten yang menarik minat.
Namun, semakin dia membaca hasil penyelidikan itu ke bawah, hanya tawa kecil tak habis pikir yang meledak dari mulut Juheon. Karena sosok mereka ternyata terlalu biasa saja dan tidak ada apa-apanya dibanding perkiraan Juheon.
Mereka yang tidak berada di posisi hebat mana pun, hanyalah sekadar keluarga dokter dari kalangan yang sangat umum yang melahirkan seorang dokter.
Mereka sama sekali bukanlah sosok yang menduduki sebuah posisi di dunia medis atau bisa memberikan pengaruh yang besar. Gelar ‘dokter’, hanya itulah segalanya bagi mereka.
“... Sungguh tidak habis pikir ….”
Berbeda dengan sikap angkuh dan sewenang-wenang yang ditunjukkan saat memandang rendah Eunwoo, Juheon merasa benar-benar kehilangan gairah karena latar belakang mereka yang tidak ada yang istimewa untuk dipamerkan.
Mengingat kedua orang tua dan kakek-nenek dari kedua belah pihak semuanya berlatar belakang dokter, mereka mungkin bangga dan menganggap diri mereka sendiri sebagai kaum elit, tetapi keluarga dokter seperti itu sangatlah umum hingga bisa ditemukan di mana saja.
“Aku mengira mereka adalah keluarga yang setidaknya telah menelurkan seorang doktor bidang kedokteran atau profesor, tapi ini sih levelnya sama saja seperti mengoperasikan toko kelontong di lingkungan rumah.”
“Rumah sakitnya pun bukan rumah sakit umum daerah yang skalanya besar, melainkan klinik yang ada di setiap lingkungan warga, dan aku tidak percaya mereka berani bersikap sekurang ajar itu kepada Baek Eunwoo hanya dengan level sekecil ini.”
“Tidak ada apa-apanya dibanding bualannya. Sampai-sampai aku tidak bisa mempercayai apa yang kulihat ….”
Wajah Juheon berkerut saat teringat pada Kyumin yang memperlakukan Eunwoo waktu itu.
Tadinya dia berniat untuk membalaskan penghinaan itu demi Baek Eunwoo, tetapi karena pihak lawan adalah lawan yang sangat tidak berarti hingga membuatnya kehilangan minat bertempur, dia bahkan merasa tidak sudi untuk meladeninya.
“Tapi, Direktur, rasanya agak kurang pas jika mengibaratkan rumah sakit yang berada di Gangnam sebagai toko kelontong lingkungan.”
“Apanya yang kurang pas, lihat saja sendiri, perumpamaan saya ini sangat tepat.” Ju-heon mendengus geli mendengar ucapan hati-hati dari sekretarisnya.
“Zaman sekarang, tidak sedikit dokter yang lebih memilih membuka klinik sendiri daripada menjadi dokter kontrak rumah sakit universitas atau rumah sakit umum. Bagaimanapun juga, karena di rumah sakit umum jumlah gajinya lebih kecil dibanding beban kerja, dan tubuh juga menjadi sangat lelah.”
“Tapi, sebanyak itu pula perbedaan level yang membentang di antara keduanya. Ini bukan sesuatu yang bisa dibandingkan.”
Ucapan sekretaris juga tidak sepenuhnya salah. Jika dilihat dari sudut pandang orang-orang pada umumnya, mereka bukanlah orang-orang yang kekurangannya mencolok seperti itu.
Mungkin perumpamaan toko kelontong juga tidak sepenuhnya tepat. Ini bukanlah pedesaan yang sepi tanpa orang, dan jika itu adalah rumah sakit yang menggunakan seluruh bangunan 3 lantai yang terlihat jelas di Jalan Raya Gangnam, maka skalanya tidak bisa dibilang kecil.
Ditambah lagi, jika itu adalah klinik spesialis penyakit dalam murni untuk pengobatan di Gangnam, dan bukannya klinik kulit atau bedah plastik yang bertujuan untuk kecantikan, maka kemampuan mereka juga tidak mungkin tidak ada.
Bagi orang-orang, harga diri mereka yang seperti itu mungkin akan terlihat, tetapi hal itu sama sekali tidak memuaskan di mata Juheon yang hidup di dunia yang benar-benar berbeda.
Satu-satunya hal dari mereka yang masih bisa dipandang lumayan oleh Juheon adalah fakta bahwa seluruh anggota keluarga itu merupakan lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Korea.
“Tapi itu pun sama saja. Baru bisa dibilang hebat jika membuka klinik setelah menjabat posisi profesor di rumah sakit universitas.”
“Kalau membuka klinik tanpa memiliki satu pun karier yang bisa dipamerkan, apa yang bisa dilihat dari sana. Apa bisa dipercaya? Bukankah dokter-dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Korea adalah tipe yang bisa ditumpangi di jalanan saking banyaknya.”
“... Karena orang-orang yang Anda temui, Direktur, semuanya adalah orang-orang yang sangat hebat, tampaknya hal itu tidak begitu terasa bagi Anda.”
“Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Korea bukanlah orang-orang yang bisa diabaikan seperti itu. Karena itu adalah fakultas kedokteran terbaik di negara kita dan semua orang menjadikannya sebagai tujuan.”
Juheon mengangguk asal-asalan merespons ucapan sekretaris lalu beralih ke halaman dokumen berikutnya. Di tempat itu, ada sosok yang paling membuat Juheon penasaran. Sosok yang sendirian gagal masuk ke Universitas Korea yang paling dibanggakan oleh anggota keluarga rumah ini.
Kang Kyuho yang menjadi masalah. Entah bagaimana, itu adalah nama yang sering dia dengar di sana-sini. Hal yang dipilih oleh Kang Kyuho setelah gagal masuk ke universitas tersebut adalah melarikan diri ke Amerika.
Tampaknya dia dengan cepat memutar haluan ke arah yang setidaknya bisa menyelamatkan harga dirinya di dalam situasi terburuk. Karena rumahnya juga punya banyak uang, kuliah di luar negeri ke Amerika pasti telah menjadi pilihan terbaik.
Meskipun perumpamaan melarikan diri terdengar agak lucu, tetapi itu bukanlah kata yang salah. Namun, bagaimanapun juga karena dia memiliki otak dasar yang ada, dia pasti bisa diterima di universitas Amerika dalam waktu singkat. Tentu saja, dia pasti sudah mempersiapkannya terlebih dahulu untuk berjaga-jaga jika saat-seperti itu tiba.
Berkat status Kang Kyuho sebagai warga negara Amerika, pilihan universitas yang bisa diambilnya pasti sangat luas. Tampaknya dia terlebih dahulu memilih universitas lalu menyusun strategi dengan baik, hingga berhasil masuk ke jurusan biologi di universitas yang lumayan bagus.
Tujuan terbesarnya pasti adalah lulus dari sini dengan nilai yang memuaskan lalu masuk ke sekolah kedokteran pascasarjana yang mentereng tanpa ada masalah.
“Kalau sampai level ini, harga dirinya pasti sudah pulih.”
Jika dilihat dari sudut pandang umum, lingkungan atau latar belakang yang dimiliki Kang Kyuho tidaklah buruk. Namun, tidak bisa dibilang menonjol secara luar biasa juga hingga menarik perhatian.
Tentu saja, ini adalah standar pribadi Juheon. Seberapa pun dia memikirkannya, pemikiran bahwa mereka bukanlah keluarga yang pantas untuk merendahkan Eunwoo seperti itu tetap tidak berubah.
Hanya dengan memegang satu gelar dokter yang sangat umum lalu memandang Baek Eunwoo dengan tatapan mata seperti itu benar-benar sangat tidak menyenangkan hingga terasa aneh.
Mulai dari gaya bicara hingga tatapan mata yang dipenuhi rasa superioritas seolah sedang memandang rendah orang yang levelnya berada di bawahnya.
Penampilan Eunwoo yang agak tegang akibat hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Juheon mengernyitkan dahi.
Rasanya sama sekali tidak menyenangkan saat pihak kontrak yang mengandung anaknya menerima perlakuan seperti itu.
“Hati saya baru pertama kali merasa senyaman itu. Tempat yang sangat-sangat sempit itu bagi saya terasa lebih luas daripada istana.”
“Karena rasanya sangat bebas. Saya tidak harus menahan panas dan dingin, bisa masuk kapan saja, kalau lapar bisa memakan nasi yang sudah disediakan, dan bisa bangun kesiangan sampai waktu yang saya inginkan. Yang terpenting, karena saya tidak perlu memperhatikan ekspresi orang lain, rasanya sangat nyaman.”
“Bagi saya, tempat itu benar-benar lebih baik daripada surga. Mungkin karena itulah belajar saya juga berjalan lancar, dan waktu itu sungguh menjadi waktu yang membahagiakan bagi saya.”
Kerutan terbentuk di antara alis Juheon saat teringat pada percakapan kedua orang itu. Sudah pasti dia menerima perlakuan seperti itu. Tanpa melihat pun, situasinya sudah bisa ditebak secara garis besar.
Seberapa tidak nyamannya lingkungan itu sampai-sampai dia bisa merasakan kebebasan di dalam sebuah goshiwon. Jika tempat yang sempit itu sampai terasa seperti istana, maka semuanya sudah jelas tanpa perlu dikatakan lagi.
Tentu saja, bagi anggota keluarga yang sudah ada, bertambahnya satu orang asing bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Namun, bukan berarti mereka boleh memperlakukan seseorang dengan cara seperti itu hanya karena alasan tersebut.
“Kyuho itu, dia merasa sakit hati karena hanya kau yang lolos ke Universitas Korea sedangkan dia sendiri gagal. Apalagi kau lolos ke jurusan lain yang tidak ada hubungannya dengan musik, dan bukannya fakultas musik yang awalnya kau pelajari, jadi harga dirinya terluka. Padahal saat kalian berdua mengikuti ujian CSAT, hubungan kalian tidak buruk, kan?”
Rasa rendah diri. Sudah pasti itu adalah rasa rendah diri.
Seperti yang bisa disimpulkan dari ucapan pemilik kafe, jika hubungan mereka awalnya baik-baik saja sebelum ujian CSAT lalu tiba-tiba memburuk, kemungkinan besar rasa rendah diri lah yang bekerja. Ucapan bahwa Kang Kyuho pergi tanpa sepatah kata pun juga terus berputar-putar di dalam kepalanya.
Pada akhirnya, Eu-woo telah dicampakkan oleh teman yang paling dia andalkan di dalam rumah tempat dia harus selalu memperhatikan ekspresi orang lain.
Juheon tidak bisa membiarkan pihak kontraknya yang berharga menerima stres akibat terlibat lagi dengan manusia-manusia seperti ini.
Mengingat sikap Eunwoo hari itu, dia tampaknya tidak akan menghubungi duluan, tetapi pemikiran pihak lawan tampak berbeda. Pria itu menunjukkan sikap seolah-olah berniat untuk menghubungi bagaimanapun caranya dan akan membuat Eunwoo kesulitan lagi.
Tentu saja, dia tidak bisa membiarkannya begitu saja. Bagaimana bisa dia membiarkan pihak kontrak yang telah ditemukannya dengan susah payah ini terganggu.
Baik urusan mencari seorang Omega Dominan, maupun urusan bisa memiliki bayi dengan materi genetik dari Omega Dominan itu sendiri adalah hal yang langka terjadi. Secara harfiah, dia adalah pihak kontrak berharga yang benar-benar ditemukan dengan sangat sulit.
Tubuh dan hatinya harus nyaman agar anaknya sendiri bisa lahir dengan sehat dan membawa materi genetik yang unggul. Zat-zat asing seperti ini cukup dihalangi oleh Juheon sendiri dengan caranya sendiri.
Karena bagaimanapun juga ini adalah urusan yang berkaitan dengan kontrak, jadi ini bukanlah hal yang tidak ada hubungannya dengan Juheon. Oleh karena itu, ini adalah tindakan yang legal dan dapat dibenarkan.
“Lalu, mengenai pertemuan rumah sakit yang lalu, telah datang laporan bahwa urusan tersebut telah diproses sesuai dengan keinginan Anda, Direktur.”
“Mereka mengatakan bahwa semua pertemuan telah dipindahkan ke lokasi yang Anda beritahukan, kecuali untuk satu seminar yang dijadwalkan dalam beberapa hari ke depan.”
“Begitu, kah? Padahal saat berbicara di telepon dia sempat merasa kesulitan, tapi ternyata dia menyelesaikannya dengan cepat, ya? Baiklah. Saya akan menghubungi Direktur Utama secara terpisah nanti.”
Pada awal tuntutan Juheon, Direktur Utama tidak bisa menyembunyikan ekspresi kesulitannya.
Wajar saja, karena menyuruh membatalkan seluruh pertemuan yang jadwalnya sudah penuh hingga tahun depan bukanlah hal yang bisa dipahami dengan mudah. Namun, Juheon juga bukannya bersikeras menyuruh membatalkan semuanya secara sepihak tanpa kompensasi.
Biaya sewa yang harus dikembalikan kepada mereka diputuskan akan dibayarkan oleh Juheon ke pihak rumah sakit sebagaimana adanya.
Ditambah lagi, karena dia menawarkan untuk memindahkan lokasi ke hotel dengan kondisi yang lebih baik bagi pihak asosiasi, serta berkata akan mengabulkan apa saja yang mereka minta jika diperlukan, maka itu pasti merupakan tawaran yang sama sekali tidak merugikan bagi mereka.
Ini telah menjadi situasi yang baik bagi Baek Eunwoo maupun bagi mereka semua.
“Apakah Anda tidak akan memeriksa berkas mengenai Tuan Baek Eunwoo sekarang?”
Sekretaris bertanya dengan nuansa heran ke arah Juheon yang meletakkan tabletnya dengan ekspresi puas lalu mencari ponselnya. Menanggapi pertanyaannya, Juheon menatap lekat-lekat ke arah tablet yang diletakkan di atas meja.
Di dalam benda itu, selain informasi mengenai Kang Kyuho, data mengenai Baek Eunwoo juga telah dimasukkan sebagai tambahan. Namun, saat ini dia tidak ingin melihat data mengenai Baek Eunwoo dengan terburu-buru. Dia ingin memastikannya dengan sedikit lebih santai dan memiliki waktu luang.
“Saya akan membacanya jika ada waktu luang. Saya akan memanggilmu jika ada yang diperlukan. Silakan kembali bekerja.”
Tidak ada alasan untuk terburu-buru, kan. Karena waktu masih banyak, dia memutuskan untuk tidak tergesa-gesa dan akan memeriksa hal-hal mengenai Baek Eunwoo secara perlahan saja. Begitulah isi hati Ju-heon saat ini.
🐾
🐾
🐾
KELAZZ BANGET PAK 🤣🔥

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.