Baby Scandal - Chapter 16

Setelah melangkah masuk ke dalam kafe yang tenang dan mungil yang terletak di pinggiran kota Seoul, aku bergegas melepas dan merapikan mantelku, lalu keluar menuju lobi tempat piano berada.

Tempat yang memancarkan atmosfer kuno dan klasik ini adalah satu-satunya tempat kerja paruh waktu yang tidak kukorbankan, sekaligus menjadi tempat yang paling kusukai.

Karena lokasinya tidak begitu jauh dari pusat kota Seoul dan pekerjaannya pun tidak melelahkan, Cha Juheon memberikan izin—dan ini satu-satunya hal yang dia izinkan—untuk tetap mempertahankan pekerjaan ini.

Dia bukannya tidak tahu kalau aku akan merasa bosan jika hanya berdiam diri saja di rumah, dan dia juga paham bahwa musik memberikan pengaruh yang baik bagi janin, sehingga dia tidak sampai melarang pekerjaan yang satu ini.

Dia mengizinkannya pasti karena ini bukanlah jenis kerja fisik yang menguras tenaga atau memicu stres dengan intensitas tinggi.

Tempat ini adalah tempat yang membuatku tidak sepenuhnya memutus tali dengan musik. Mungkin karena itulah pertunjukan musik di sini tidak terasa sebagai sebuah pekerjaan bagiku, bahkan malah menjadi tempatku untuk bernapas lega.

Lebih dari segalanya, tempat ini terasa cukup berharga bagiku karena mampu memberikan perasaan seolah mempertemukanku kembali dengan diriku yang di masa lalu.

Hal ini pun lambat laun harus kuhentikan seiring dengan perutku yang semakin membesar, tetapi saat ini aku merasa lega karena tidak harus menghentikannya secara paksa.

Tempat ini bukan sekadar posisi yang menghasilkan uang bagiku, melainkan sebuah pekerjaan bermakna yang membuatku menengok kembali sosok seperti apa diriku ini sebenarnya.

Akan jauh lebih baik jika saja tidak ada si Alpha yang sedang berdiri termangu di sebelah sana itu …. Sambil menekan tuts piano untuk melemaskan jari-jari tanganku, aku memandangi Cha Juheon yang sedang berdiri dengan posisi canggung di area sudut.

Orang itu, Cha Juheon, yang bersikeras mengantarku ke tempat ini, padahal dia tidak perlu selalu mengikuti ke mana pun aku pergi, tetapi tampaknya dia merasakan semacam tanggung jawab yang aneh terhadapku.

Padahal ada banyak taksi dan aku juga bisa pergi bersama dengan pemain musik lainnya yang berangkat bersama, tetapi dia tetap bersikeras mengantarku sampai ke sini.

Orang yang biasanya selalu menunggu di dalam mobil atau langsung pergi lagi setelah menurunkanku ke mana pun kami pergi, entah angin apa yang meniupnya hari ini sampai-sampai dia ikut masuk mengekor ke dalam tempat ini.

Aku kembali menyadarinya, orang itu benar-benar membuat tidak nyaman hanya dengan keberadaannya saja. Bukannya aku membencinya atau bagaimana, tapi rasanya agak mengusik pikiran?

Karena dia adalah orang yang memberikan ketegangan yang aneh, aku tidak bisa menenangkan hatiku dengan santai. Aku bahkan merasa kepikiran kalau-kalau permainanku hari ini akan salah di hadapan orang itu ….

“Padahal menempel ke dinding tidak bisa dan duduk pun tidak bisa, kenapa malah masuk ke dalam dan menyusahkan diri sendiri, sih.”

Bagaimanapun juga, aku mengamati lekat-lekat sosok Cha Juheon yang mencari perkara dengan ikut masuk dan menyusahkan diri sendiri tanpa alasan.

Melihat dirinya yang bahkan tidak terpikir untuk mengambil tempat dan duduk karena menganggapnya kotor, benar-benar membuatku kepikiran setengah mati.

Wajar saja jika merasa terganggu saat orang yang mengikutiku bertingkah seperti itu di depan mata.

Jika tidak bisa duduk di kursi, alangkah baiknya jika dia setidaknya bersandar dengan nyaman di dinding, fakta bahwa dia bisa masuk ke tempat ini dengan germaphobianya saja sudah merupakan hal yang mengejutkan, tetapi karena dia sudah terlanjur datang, aku ingin dia bisa berada di sini dengan sedikit lebih nyaman.

Seberapa pun kulihat dia tetap tampak sangat tidak nyaman, padahal dia bisa menunggu dengan nyaman di dalam mobil.

“Apa tidak ada cara, ya?”

Aku mengedarkan pandangan ke sekitar tanpa alasan sambil memutar otak memikirkan cara yang tidak kunjung keluar.

Namun, bahkan jika aku menyemprotkan seluruh cairan sanitasi tangan yang kupunya, dia pasti tidak akan sudi duduk di meja dan kursi itu. Tetap saja, untung saja dia tidak mengenakan pakaian aneh yang membungkus rapat seluruh tubuhnya itu mumpung di sini adalah lokasi pertunjukan musik.

Sambil mengerutkan dahi dan menggaruk dahi, tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di benakku.

“Ah, benar juga, jaketku.”

Begitu melihat kait untuk menggantung tas atau pakaian di atas dinding tempat Cha Juheon berdiri, aku langsung teringat pada pakaian luarku yang kutinggalkan dalam keadaan tergantung di kantor kafe.

Bagaimana kalau kuberikan itu saja kepadanya? Jika kuperhatikan baik-baik, secara aneh Cha Juheon tidak memiliki rasa penolakan terhadap diriku.

Karena tidak bisa menanyakannya secara langsung, aku sudah merasa penasaran sendirian sejak beberapa waktu lalu.

Berbeda dengan peringatan-peringatan yang kuterima dari Pimpinan maupun Kepala Sekretaris ruang pimpinan, Cha Juheon tidak merasa tidak nyaman berada di dalam satu ruangan yang sama denganku.

Ini aneh, tetapi karena bisa saja ini hanya perasaanku saja, aku selalu melewatkannya begitu saja setiap waktu. Namun, semakin kulihat, tindakan Cha Juheon bukanlah sekadar perasaanku belaka.

Dia justru tidak merasa jijik ataupun menunjukkan reaksi antipati saat ada kontak fisik yang singkat sekalipun. Aku pun tidak tahu apa alasannya. Tentu saja, bukan berarti aku sengaja menciptakan situasi yang sekiranya akan membuat Cha Juheon merasa tidak nyaman.

Karena aku sangat menyadari kecenderungannya, aku masih tetap berhati-hati terhadap hal-hal yang sekiranya membuat Cha Juheon merasakan ketidaknyamanan.

Setelah itu pun, Cha Juheon tidak merasa jijik saat pakaianku berpapasan dengan tubuhnya atau saat menatap lurus ke wajahku, dan sesekali dia bahkan membantuku membawakan barang-barangku.

Padahal itu adalah si Cha Juheon yang bahkan tidak bisa menyentuh barang milik orang lain. Dia masih tetap sangat sensitif terhadap lingkungan yang asing dan orang lain di luar diriku.

Mau tidak mau muncul pertanyaan kenapa dia hanya bersikap seperti ini kepadaku saja. Aku bahkan sempat mencari tahu di internet apakah reaksi seperti ini ada hubungannya dengan kehamilan, tetapi aku tidak berhasil menemukan jawaban yang spesial.

Kesimpulan paling mendekati yang berhasil kurunut adalah ini: Bahwa dia cukup serius terhadap kontrak ini. Aku menarik kesimpulan bahwa hal itu disebabkan karena rasa sayangnya yang luar biasa terhadap bayi yang tercipta dari kontrak setelah berhasil menemukan pihak donor yang sesuai dengan hatinya dengan susah payah.

Demi bayi ini, dia sedang berusaha dengan mengerahkan seluruh tenaganya bahkan sampai mengalahkan germaphobianya yang akut. Sudah pasti dia melakukannya demi membuat hatiku merasa nyaman demi sang bayi.

Oleh karena itu, agar usahanya tidak sia-sia, aku juga sedang menerima pertimbangannya tanpa menunjukkan tanda-tanda apa pun. Cha Juheon sedang melakukan yang terbaik demi kontrak ini.

Dan mungkin karena aku sudah mulai terbiasa dan sering melihatnya, aku juga bisa merasakan dengan pasti bahwa penolakannya terhadap diriku jauh lebih sedikit secara signifikan dibandingkan terhadap orang lain.

Sesekali saat di rumah sakit sedang ramai orang, ada kalanya dia merangkulkan tangan ke bahuku untuk melindungiku, jadi mungkin saja tidak apa-apa jika pakaianku menyentuh tubuhnya.

Daripada berdiri tegak seperti itu, akan jauh lebih nyaman bersandar di dinding dengan menumpukan tubuh di atas pakaianku yang setidaknya tidak begitu membuatnya jijik. Karena toh dia tidak akan pernah duduk di kursi sampai mati pun.

Karena waktu yang tersisa sebelum pertunjukan dimulai tinggal beberapa menit lagi, aku bergegas mengambil pakaianku.

Kemudian, aku melangkah cepat mendekati tempat dia berada. Saat aku mendekat secara tiba-tiba, Cha Juheon menatapku tanpa menyembunyikan rasa herannya.

Aku tidak memberikan jawaban atas ekspresinya dan langsung menggantungkan pakaian luarku pada gantungan baju yang terpasang di dinding.

Karena ukurannya panjang, jika dia bersandar di sini, tubuhnya tidak akan sampai menyentuh dinding secara langsung.

Setelah merapikan pakaian tersebut, aku mendorong pelan tubuh Cha Juheon yang sedang berdiri termangu ke arah pakaianku.

Terkejut oleh tindakanku yang tidak disangka-sangka, Cha Juheon secara refleks menunjukkan rasa penolakan dan menarik tubuhnya ke belakang. Namun, terlepas dari dia mau atau tidak, aku kembali mendorong Cha Juheon ke arah dinding dengan sentuhan ringan.

“Direktur, waktu yang tersisa sampai pertunjukan selesai masih sangat lama. Anda akan kelelahan jika terus-menerus berdiri dengan posisi tegap seperti itu.”

“Silakan bersandar di pakaian saya yang ini. Karena tubuh Anda tidak akan menyentuh dinding melainkan menyentuh pakaian saya, tidak papa, kan?”

Entah firasat aneh dari mana, aku memiliki semacam keyakinan bahwa dia tidak akan menolak usulanku. Kepada Cha Juheon yang kebingungan dan terbata-bata karena panik akibat usulan yang tiba-tiba ini, aku melanjutkan ucapanku tanpa memberinya celah untuk menjawab.

Aku justru bertindak sedikit lebih berani dengan memegang pundaknya dan memosisikan tubuhnya agar bersandar dengan nyaman pada pakaianku yang tergantung di dinding. Kali ini, dia pun tidak menolak tindakan yang kulakukan dan mengikuti apa yang kuperintahkan.

“Pakaiannya tidak kotor, kok. Jangan khawatir dan silakan berada di sini dengan sedikit lebih nyaman. Anggap saja ini sebagai sebuah pelindung. Lalu, kalau Anda benar-benar merasa tidak nyaman, Anda boleh menunggu di dalam mobil.”

Cha Juheon mengangguk tanpa sadar, dan aku bergegas kembali ke arah piano setelah menyampaikan kata-kata yang tersisa seolah sedang menumpahkannya begitu saja.

Dan baru setelah duduk di atas kursi piano, rasa khawatir atas tindakanku barusan mulai melanda.

Rasa cemas seketika menyerang memikirkan bagaimana jika dia tiba-tiba terkejut lalu mengalami kejang dan pingsan saat bersandar di pakaianku, atau bagaimana jika dia sampai mengalami kesulitan bernapas.

Sambil berpura-pura menyesuaikan posisi kursi piano, aku terus memperhatikan Cha Juheon. Untungnya, dia tidak mengalami kejang maupun pingsan, dan tetap berada di sana sambil melihat ke arah sini dengan mempertahankan posisi yang telah kuatur untuknya.

“Ternyata penurut sekali, ya?”

Jangan-jangan dia pingsan dalam posisi berdiri seperti itu? Huh ... Kenapa pula tempat dia berdiri terlihat begitu jelas dari sini? Pemilihan lokasinya pun sangat luar biasa tepat.

Cha Juheon sedang menatapku lekat-lekat dengan wajah yang tidak bisa ditebak apa yang sedang dipikirkannya. Karena aku tidak bisa menemukan emosi apa pun dari ekspresi wajah itu, tanpa alasan bagian dalam hatiku terasa bergejolak.

Apa aku akan dipukul satu kali setelah pekerjaan ini selesai? Entahlah. Urusan yang sudah terlanjur terjadi, lebih baik selesaikan pertunjukan musik ini dengan baik saja.

Apa karena Cha Juheon sedang menatapku lekat-lekat? Berbeda dengan hari-hari biasanya, rasa tegang mengalir deras dengan hebatnya sehingga aku mengembuskan napas dalam-dalam sebelum memfokuskan diri pada pertunjukan.

Juheon berdiri tanpa bergerak sedikit pun karena merasa canggung dengan posisi tubuhnya yang menempel di dinding. Dia tidak bisa mempercayai tindakan Baek Eunwoo.

Rasanya bukan seperti sedang menyandarkan tubuh pada pakaian Baek Eunwoo yang tergantung di dinding, melainkan seperti tubuhnya sedang dibenamkan sepenuhnya ke dalam pakaian tersebut.

Karena ini adalah situasi yang belum pernah dia alami satu kali pun seumur hidupnya, dia merasa panik, tetapi yang pasti perasaannya sama sekali tidak buruk.

Alih-alih aroma dingin dan tidak menyenangkan yang keluar dari dinding, aroma familier khas Eunwoo justru menenangkan hatinya.

Begitu hatinya menjadi tenang, barulah sosok Eunwoo yang sedang memainkan piano masuk ke dalam pandangan matanya.

Sosok yang sedang larut dalam pertunjukan dengan ekspresi serius itu terasa berbeda lagi dengan saat dia sedang memanggang roti atau saat sedang menghadapi dirinya.

Rasanya seolah-olah pemuda itu sedang berada di tempat yang memang seharusnya menjadi miliknya.

Penampilannya saat berada di depan oven pun sebenarnya tidak buruk, tetapi penampilannya saat berada di depan piano jelas terasa jauh lebih cocok untuknya. Seolah-olah dia telah menemukan dan mengenakan pakaian yang pas untuk dirinya sendiri.

Hingga saat ini, Juheon telah mendengarkan pertunjukan dari para pemain musik papan atas tingkat dunia yang jumlahnya tak terhitung.

Mengenai musik klasik, dia juga bangga dan menganggap dirinya memiliki pandangan yang tidak kalah dari pakar mana pun. Dia telah menikmati satu buah lagu dalam berbagai macam versi melalui interpretasi dari banyak pemain musik.

Eunwoo yang sedang bermain di hadapan Juheon saat ini jelas berbeda dari seorang pemain musik profesional. Dia memang sempat menapakkan kaki di jalur program studi jurusan musik, tetapi sebagai hasilnya, saat ini dia bukanlah seorang profesional.

Namun, dia tidak tahu kenapa pertunjukan musik ini bisa terasa begitu spesial dan menarik baginya. Juheon memutuskan untuk mengesampingkan sejenak hal-hal yang seberapa pun dia pikirkan tetap tidak dia ketahui jawabannya, lalu memfokuskan diri pada musik.

Dia ingin melupakan pikiran-pikiran rumit dan menikmati musik serta atmosfer yang terdengar di telinganya saat ini secara murni.

Saat ini, ruang tempat Juheon berdiri sepenuhnya dipenuhi oleh Baek Eunwoo. Aroma pemuda itu yang menyenangkan bergetar hebat di ujung hidungnya, dan di sana ada Baek Eunwoo yang tampak bersinar menerima terpaan cahaya lampu yang temaram.

Seiring dengan nada-nada piano yang keluar dari ujung jari-jarinya memenuhi bagian dalam kafe, tempat ini pun menjadi penuh oleh sosok Baek Eunwoo.

🐾

🐾

🐾

indah banget…

2.005 kata

Baby Scandal - Chapter 16

My Donation

Dukung translator

hye • Baby Scandal

dukung hye dalam bentuk donasi~ terima kasih juga udah baca pj hye dan selalu nunggu updatean-updatean pj hye ^o^

e-wallet lengkap ada di saweria, oke? channel telegram juga ada di saweria, silakan yang mau gabung, tetep patuhi rules ya, sayang <3.

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.