Berbeda dengan rasa tegang yang kurasakan akibat diawasi oleh Cha Juheon, pertunjukan hari ini pun berakhir dengan memuaskan. Begitu pertunjukan selesai, tepuk tangan terdengar dari suatu tempat, dan aku bisa langsung tahu bahwa itu adalah Cha Juheon.
Cha Juheon, yang telah merapikan pakaianku dengan apik lalu menggantungkannya di kursi, tampaknya sudah kembali ke mobil terlebih dahulu karena dia sudah tidak ada di posisinya.
Seperti biasa, berkat pemilik kafe yang membawakanku berbagai macam hal setelah pertunjukan selesai, aku melangkah menuju mobil Cha Juheon dengan kedua tangan penuh membawa bungkusan makanan.
Sambil memandangi kantong yang penuh dengan biji kopi dan sirup buah, tanpa alasan aku merasa khawatir bagaimana jika Cha Juheon tidak menyukainya karena mengeluarkan bau.
Setelah menyampaikan rasa terima kasih kepada pemilik kafe, aku bergegas membalikkan langkah kaki.
Aku merasa bersalah sekaligus tidak enak hati karena dia selalu mengantarku seperti ini setiap waktu. Aku tahu bahwa berada di antara orang-orang yang tidak dikenal di dalam ruang yang asing adalah hal yang sangat berat baginya.
Terkadang, saat harus mengobrol atau menyapa orang-orang karena diriku, wajahnya akan memucat seolah bagian dalam perutnya sedang tidak enak, dan ada kalanya dia sampai memukul-mukul dadanya.
Entah apa arti seorang bayi bagi dirinya, penderitaan Cha Juheon benar-benar bukan main.
Begitu menemukan mobil Cha Juheon dan berjalan mendekatinya, dia yang tadinya berada di kursi kemudi langsung turun dan membukakan pintu mobil untukku seperti biasa.
Meskipun berterima kasih atas hal itu, rasanya tetap saja tidak kunjung terbiasa sehingga aku masuk ke dalam mobil dengan senyuman canggung.
Tepat saat aku menurunkan kantong pemberian pemilik kafe ke dekat kaki dengan hati-hati dan sedang merapikannya, Cha Juheon menatap ke arah bawah kakiku.
“Apa itu semua?”
“Ah ... ini, ya?”
Karena merasa sungkan kalau-kalau dia akan mengomel lagi seperti saat insiden hamburger beberapa waktu lalu, tanpa alasan aku mengaburkan akhir kalimatku. Dia tidak akan memprotesku karena menerima sembarang barang, kan?
“Ini diberikan oleh pemilik kafe di sini. Karena saya menyukai kopi di sini. Pemilik kafe sering kali memberikan ekstrak kopi cold brew dan sirup buah seperti ini. Lagipula, beliau sengaja membungkusnya secara terpisah agar diberikan kepada Direktur juga, tapi ….”
Meskipun aku sudah terlanjur menerimanya, aku tahu kalau Cha Juheon tidak akan mengambilnya. Pemilik kafe menyiapkannya karena mengira dia adalah kenalanku tanpa mengetahui situasi bahwa Cha Juheon mengidap germaphobia.
Berkat bagian makanan miliknya yang terlanjur kubawa karena tidak enak untuk menolaknya, situasiku menjadi agak dilematis. Benar saja, sesuai dengan perkiraanku, dia langsung menggelengkan kepala seketika.
“Saya berterima kasih atas ketulusannya, tetapi saya hanya akan menerima niat baiknya saja. Seperti yang Anda ketahui, saya hanya memakan apa yang biasa saya makan. Namun, pastikan untuk menyampaikan salam terima kasih saya.”
“Baik, akan saya lakukan.”
“Bagian yang diberikan untuk saya sebaiknya dimakan oleh Tuan Eunwoo saja.”
Dia tidak memprotesnya? Dia justru menyerahkan makanan itu dan menyuruhku memakannya dengan patuh. Sambil memandangi Cha Juheon yang menyalakan mesin mobil, aku mengangguk merespons ucapannya.
Pria yang katanya hanya memakan makanan yang dibuat oleh koki khusus di rumah. Di luar itu, dia juga merupakan orang yang sama sekali tidak akan memasukkan buah, minuman, maupun makanan luar lainnya ke dalam mulut.
Aku yang melihat hal itu merasa tidak nyaman, tetapi orang yang bersangkutan tampak sangat santai. Mengingat dia mengidap misofobia, karena dia sudah hidup seperti itu sepanjang hidupnya, berubah justru akan terasa tidak nyaman baginya.
“Tapi, bukankah sudah lama Anda melepaskan tangan dari piano? Saya terkejut karena kemampuan bermain Anda berada di atas perkiraan. Berkat hal itu, saya bisa mendengarkan pertunjukan yang bagus setelah sekian lama.”
Itu adalah pujian yang tidak disangka-sangka dari seorang Cha Juheon yang pemilih. Karena tidak menduga kata-kata seperti itu akan keluar, aku menoleh ke arahnya.
Dia yang memasang ekspresi teramat datar hingga tidak memancarkan kesan seperti orang yang baru saja melontarkan pujian dengan ramah, sedang memfokuskan diri pada kemudi.
Meskipun itu adalah kata-kata yang diucapkan sekadar basa-basi, perasaanku sama sekali tidak buruk. Aku justru merasa sangat senang sampai-sampai pipiku merona merah. Tadi suara tepuk tangannya juga terdengar keras ….
“Terima kasih karena sudah mendengarkannya dengan baik. Sebenarnya, adalah fakta bahwa tangan saya tidak seperti dulu lagi, tetapi karena saya tidak benar-benar meninggalkan pertunjukan dengan cara seperti ini, bukan berarti saya sama sekali tidak berlatih.”
“Ah, tentu saja intensitasnya sama sekali bukan porsi latihan saat saya masih bersekolah di SMP Seni dan SMA Seni dulu. Hanya sekadar agar tangan saya tidak kaku saja.”
“Tentu saja begitu. Bagaimanapun juga karena arah jalan karier Anda telah berubah. Tapi, bukankah tetap luar biasa bisa terus mempertahankannya seperti ini di tengah-tengah kesibukan? Tampaknya Anda sangat menyukai piano.”
Apa aku sangat menyukai piano? Begitukah? Kata-kata yang tidak disangka-sangka merangsek masuk dengan cepat. Apa aku menyukai piano? Orang yang menyukai piano bukanlah diriku, melainkan ayahku.
Ayah sangat menyukai musik klasik, dan untungnya aku menunjukkan bakat dalam bermain piano. Karena itulah aku memulainya. Atas kehendak ayah dan bukannya kehendakku sendiri, tentu saja, aku pun tidak membencinya. Namun, hal itu tidak memberikan kebahagiaan bagiku.
Proses memainkan piano terasa sangat melelahkan sekaligus menjemukan. Porsi latihannya terlalu banyak, dan aku sama sekali tidak merasa bahagia saat harus memainkan piano secara mekanis sesuai perintah di usiaku yang masih belia.
Kenapa bagian ini tidak bisa? Kenapa tanganku sangat lambat? Kenapa pula ketukannya sangat sulit, aku ingin pergi keluar dan bermain. Pikiranku hanya dipenuhi hal-hal seperti itu saja.
Jalan menuju tempat les terasa menakutkan dan pundakku terasa berat, serta profesor pun terasa menyeramkan. Aku sampai merasa penasaran apa murid-murid lain benar-benar bermusik dengan sangat gembira saat menerima les atau saat sedang berlatih.
Aku bahkan berada di tahap ingin tahu apakah hanya aku saja yang merasa kesulitan dan kepayahan seperti ini, dan seberapa besar orang lain menikmati musik. Itu adalah beban hidupku pada masa itu, di mana aku harus menjadikan piano sebagai mata pencaharian.
Aku justru mulai menyukai piano setelah aku berhenti bermain piano. Perasaan itu mungkin saja merupakan emosi yang tercipta akibat rasa sesal dan kerinduan yang harus kupendam karena terpaksa berhenti padahal sudah melangkah sejauh SMA Seni Cheonghwa.
Namun, apa pun bentuknya, adalah fakta bahwa hal itu terus terpikirkan dan membuat hatiku terasa sakit.
Oleh karena itu, meski tidak sering, berkat bantuan dari profesor lesku, aku terkadang berlatih di ruang latihan dan juga berpartisipasi dalam konser pertunjukan para murid.
Teman-teman seangkatanku pada masa itu terus mengajakku ikut serta dalam pertunjukan demi diriku hingga saat ini. Pekerjaan paruh waktu pertunjukan di kafe ini pun direkomendasikan oleh teman-teman seangkatan SMA Seni, sehingga aku masih mempertahankan hubungan yang erat dengan piano. Ini sungguh hal yang patut disyukuri.
“Anda terlihat nyaman selama melakukan pertunjukan sehingga sangat menyenangkan untuk dilihat. Sampai-sampai Anda tidak terlihat seperti orang yang sedang bekerja.”
“... Apa terlihat seperti itu?”
Aku menjadi malu mendengar ucapan Cha Juheon, tetapi hal itu tidak salah. Jelas sekali bahwa kelonggaran telah tercipta dalam pola pikirku saat mendekati musik dibandingkan dengan masa-masa ketika aku hidup di bawah tekanan les.
Yah, ini pun merupakan pola pikir amatir yang khas.
Memainkan musik dengan bahagia.
Para pemain musik profesional maupun orang-orang yang mengambil program studi jurusan musik memiliki apa yang dinamakan batas ekspektasi dan menjadikannya sebagai mata pencaharian, sehingga mereka tidak bisa selalu menghadapi pertunjukan dengan hati yang bahagia.
Seorang amatir bisa menikmati dan memainkan musik dengan perasaan ringan tanpa beban karena sedikit kesalahan pun akan diampuni.
Hal ini pun bisa terjadi karena ini hanyalah sebuah hobi. Karena berada di posisi di mana seseorang bisa dipahami dan dimaafkan dengan mudah.
“Hmm, kalau begitu mari kita beli satu buah piano. Saya akan menghadiahkannya untuk Anda. Bukankah bagus jika Tuan Baek Eunwoo bisa memainkannya kapan pun Anda mau. Bagus juga untuk pendidikan stimulasi janin. Jika ada piano, Anda tidak perlu sengaja pergi ke ruang latihan lagi, kan?!”
Itu benar-benar ucapan yang tiba-tiba. Menghadiahkan sebuah piano … harganya bukanlah satu atau dua won, dan aku bahkan tidak mengharapkan hal seperti itu. Niatnya yang ingin menghadiahkan piano mahal seolah-olah bukan masalah besar juga terasa membebani bagiku.
“Ya? Tidak usah. Saya juga tidak begitu banyak berlatih, dan karena ini adalah apartemen, ada masalah peredam suara juga. Ditambah lagi setelah melahirkan nanti toh saya harus pindah rumah lagi jadi akan merepotkan.”
Karena aku sama sekali tidak memiliki niat untuk menerima piano, tanpa alasan aku menjadikannya sebagai alasan kepindahan rumah untuk menolak usulannya.
“Latihannya tinggal diperbanyak saja, pengerjaan ruang peredam suara tinggal dilakukan saja, dan saat pindah rumah tinggal dipindahkan saja. Apa yang menjadikannya masalah?”
Saat Cha Juheon memasang wajah yang seolah bertanya apa masalahnya, aku pun kehilangan kata-kata. Sebaliknya, wajahnya yang mendengar ucapanku justru dipenuhi dengan rasa heran.
Dia menatapku dengan wajah yang seolah bertanya apa hubungannya hal-hal tersebut dengan urusan membeli sebuah piano.
Begitu melihat wajah itu, aku tahu bahwa jika aku tidak membeli piano, perdebatan ini akan menjadi panjang. Dan aku tahu pada akhirnya aku pun akan tetap membeli piano.
Itu adalah hasil akhir yang bisa diketahui hanya dengan melihat rekam jejak tindakannya selama ini. Huh, benar-benar … orang ini mulai lagi. Dia pasti akan terus merongrongku sampai aku menerimanya.
Aku tidak tahu apa yang sebaiknya kulakukan dalam situasi sepihak seperti ini. Apa sebaiknya aku memilih yang paling praktis dan paling murah saja? Ya sudah. Mari kita pikirkan dari sisi baiknya saja terlebih dahulu.
Seperti kata Cha Juheon, jika ada satu buah piano, aku tidak perlu sengaja pergi ke ruang latihan, dan aku bisa melakukan stimulasi janin sembari berlatih. Kebetulan akhir-akhir ini tanganku terasa semakin kaku, jadi mari kita anggap ini sebagai hal yang bagus.
Kalau begitu, bukankah sebaiknya membeli sesuatu yang praktis? Piano digital yang tidak membutuhkan ruang peredam suara sekalipun?
Mengingat aku bisa memainkannya dengan ringan dan memakai headset sehingga hanya terdengar olehku sendiri, dalam berbagai aspek itu adalah jalan keluar yang paling bagus.
“Kalau Anda memberi tahu merek yang Anda inginkan, saya akan memesannya. Ah, apa akan lebih baik jika kita pergi mencobanya secara langsung lalu memutusakannya? Bagaimanapun juga, akan lebih baik jika instrumennya terasa nyaman di tangan, kan?”
“Piano digital apa saja yang standar tidak apa-apa, kok. Karena di masa sekarang saya tidak akan pilih-pilih dan memperhitungkan ini itu dengan sensitif lagi.”
“Piano digital? Apa akan baik-baik saja dengan itu? Rasa saat menekan tutsnya pasti akan berbeda …. Kalau begitu, mumpung topiknya sudah keluar, mari kita pergi melihatnya bersama sekarang. Anda tidak ada jadwal lain kan malam ini?”
“Ya? Jadwal sih tidak ada, tapi sekarang? Apa waktu Direktur tidak papa?”
Mendengar pertanyaanku, dia mengangguk ringan. Usulan Cha Juheon selalu langsung diwujudkan ke dalam tindakan seketika. Kemampuan eksekusinya secepat itu.
Oleh karena itu, terkadang aku sering kali tidak bisa langsung mengikuti tindakannya yang cepat secara langsung. Seperti sekarang ini.
“Apa benar-benar tidak papa dengan yang ini? Ini adalah instrumen yang tidak ada di dalam rencana ….”
Wajahnya yang tertutup masker dipenuhi dengan ketidakpuasan, dan Cha Juheon memandangi diriku serta piano dengan ekspresi tidak senang.
Dia sedang menunjukkan ketidakpuasan secara terang-terangan ke arah piano yang kupegang erat seolah-olah aku sangat menyukainya setengah mati. Tentu saja, aku mengabaikan reaksinya yang seperti itu dengan bersih.
“Saya kan sudah bilang dengan jelas kalau saya akan membeli piano digital.”
Bahkan dari semua pilihan, ini adalah pilihan terbaik yang kupilih dari antaranya. Tadinya aku berniat membeli piano elektronik kecil yang hanya mengeluarkan suara dengan baik saja.
Entah seberapa hebat kemajuan teknologi zaman sekarang, saat melihat penampilan luarnya saja, benda yang mirip seperti piano upright biasa ini katanya adalah sebuah piano digital, sehingga langsung merebut hatiku dalam sekali lihat.
Ditambah lagi, karena prinsip pembuatannya sama, sensasi sentuhannya tidak ada bedanya dengan piano biasa. Benar-benar kemajuan teknologi yang luar biasa.
Di dalam apartemen, tidak ada instrumen yang lebih baik daripada ini. Di tengah rasa canggung, perasaanku cukup baik karena berhasil menemukan piano yang sesuai dengan hati.
Aku menjabarkan seratus alasan kenapa piano ini sangat bagus kepadaku. Namun, bahkan saat mendengarkan hal itu pun, pipi Cha Juheon tampak mengerucut.
Tampaknya suasana hatinya memburuk karena aku tidak membeli piano yang dia rekomendasikan. Namun, piano berharga mahal seperti Steinway atau Bösendorfer yang direkomendasikan oleh Cha Juheon kepadaku sama sekali tidak akan bisa kurawat dengan levelku saat ini.
Aku bukanlah wadah yang sanggup menampung instrumen-instrumen tersebut.
Bukan hanya masalah harganya yang menembus angka ratusan juta won, tetapi perawatannya juga luar biasa rumit. Itu adalah instrumen-instrumen yang sensitif terhadap cuaca dan kelembapan sehingga tidak akan sanggup kutangani.
Bahkan terhadap ucapan Cha Juheon yang berkata akan merawatnya secara ketat melalui tuner profesional pun, aku menunjukkan penolakan yang ekstrem.
Jika aku tidak bisa membeli instrumen yang ringan dan bisa kumainkan dengan bahagia sesuai dengan levelku, bukankah lebih baik tidak membeli sama sekali? Instrumen yang biasa digunakan di gedung pertunjukan seperti itu sama sekali tidak ada gunanya bagiku.
“Coba lihat yang ini, Direktur. Penampilannya tampak seperti upright biasa, tapi di sini bisa diatur dengan sistem digital seperti ini, bisa dimainkan sebagai piano biasa, dan bisa diatur agar tidak menimbulkan kebisingan. Benar-benar sepenuhnya sesuai dengan hati saya.”
“... Saya sama sekali tidak memikirkan hal yang seperti ini. Tentu saja saya menduga sebuah grand piano.”
“Grand …. Jika itu memang diperlukan, saya akan membelinya sendiri setelah pindah rumah nanti. Terlalu banyak hal yang merepotkan jika memasukkan grand piano ke dalam rumah yang sekarang. Dan saya sangat menyukai yang ini. Saya mau yang ini saja.”
Begitu aku mendesaknya dengan tatapan mata yang seolah berkata harus memiliki benda ini bagaimanapun caranya, Cha Juheon mengangguk seolah tidak bisa menang.
Merespons reaksinya, aku menunjukkan senyuman yang merekah lebar dengan tulus. Aku merasa senang karena ke depannya telah tercipta hal yang bisa kulakukan di rumah setiap kali merasa bosan.
Meskipun tidak diduga, berkat Cha Juheon, seorang teman yang baik telah tercipta.
🐾
🐾
🐾
orkay mah bebas ye pak 😝

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.