Baby Scandal - Chapter 18

Setelah menentukan pilihan akhir untuk piano, aku merasa sayang jika langsung pergi begitu saja, jadi aku berkeliling melihat-lihat ruang pameran sedikit lebih lama.

Karena para staf juga mempersilakanku menyentuh instrumen dengan nyaman, dan Cha Juheon pun sedang mengobrol dengan staf mengenai masalah pengiriman, aku bisa berkeliling sendirian dengan santai.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tidak mendatangi toko instrumen musik seperti ini. Terlebih lagi, instrumen semahal ini tidak bisa dengan mudah kulihat bahkan di masa-masa ketika aku sedang giat-giatnya belajar dulu. Bisa memainkannya saat kompetisi atau pertunjukan rutin sekolah saja sudah merupakan segalanya.

Saat ayah masih hidup, rumah kami pun terbilang cukup berkecukupan, tetapi terlepas dari hal itu, memasukkan instrumen yang harganya menembus angka ratusan juta won ke dalam rumah secara cuma-cuma tetap bukanlah urusan yang mudah.

Namun, sosok seperti apa sebenarnya Cha Juheon itu sampai-sampai bersedia membelikannya seolah bukan masalah besar .... Sambil mengenakan masker hingga ke bawah mata, aku memandangi Cha Juheon yang sedang berbicara dengan staf dengan tatapan takjub.

Mungkin karena di tempat ini hanya ada barang-barang yang teramat mahal, aku bahkan sedang mengalami keajaiban di mana harga di kisaran 100 juta won terasa murah. Di antaranya, sebuah piano yang sering digunakan di gedung pertunjukan menarik perhatianku, jadi aku menekannya dengan hati-hati.

Sensasi mendebarkan yang bermula dari ujung jari terus mengalir hingga ke ujung kepala. Berkat sensasi yang membekas di ujung jari, getaran yang menggema di dalam ruangan, serta melodi yang begitu bening dan jernih hingga membuat merinding, bulu kuduk di sekujur tubuhku seketika berdiri.

“Seperti dugaan, yang ini memang bagus, ya? Anda boleh membatalkan yang tadi dan mengubahnya dengan yang ini.”

Entah kapan dia datang, suara Cha Juheon terdengar dari balik kepalaku. Namun, bahkan tanpa sempat menoleh ke arahnya, aku terus menekan tuts piano.

Mendengar ucapan Cha Juheon yang berkata tidak apa-apa jika ingin mengubahnya, aku teringat akan harga yang diberitahukan oleh staf beberapa saat lalu, hingga membuatku tertawa sendiri. Kesenjangannya terlalu besar bahkan untuk sekadar memicu rasa serakah.

“Untuk saat ini saya sudah puas dengan instrumen yang tadi. Kalau saya benar-benar menginginkannya, saya akan membelinya sendiri setelah pindah rumah nanti. Sekarang saya sudah punya banyak uang, kok. Direktur dan Pimpinan kan sudah memberikan banyak kepada saya.”

“Itu adalah imbalan yang setimpal. Jangan membuang-buang uang Anda sendiri untuk urusan piano, dan katakan saja kapan pun Anda menginginkannya. Atau, saya akan menghadiahkan yang ini pada hari Anda pindah rumah nanti.”

Padahal itu adalah kata-kata yang kuucapkan tanpa maksud apa-apa hanya untuk mengalihkan pembicaraan, tetapi Cha Juheon meresponsnya dengan cukup serius. Karena merasa repertoar yang sama akan terus berulang jika aku tidak mengalah, aku mengangguk pasrah tanpa sadar.

“Direktur. Terima kasih atas instrumen musiknya. Berkat Anda, sepertinya saya bisa berlatih dengan nyaman. Saya juga akan sering memperdengarkannya kepada bayi.”

“... Silakan lakukan. Urusan bayi memang begitu, tapi kalau Tuan Eunwoo merasa senang, maka itu sudah cukup.”

Aku memandangi lekat-lekat punggung Cha Juheon yang melangkah pergi setelah melontarkan kata-kata itu dengan acuh tak acuh. Aku selalu berpikir bahwa segala hal yang dia lakukan untukku selalu demi sang bayi semata. Dan hal itu pun merupakan sebuah fakta ....

Namun, semua tindakan yang dia tunjukkan hari ini benar-benar hanya membuatku merasa bingung. Urusan membelikan piano masih bisa kupahami sebagai bentuk kemurahan hati kepada diriku yang sedang mengandung anaknya, tetapi apa sebenarnya arti dari perkataannya barusan?

Apa normal memberikan kata-kata seperti itu kepada seorang pihak kontrak? Aku tidak tahu. Karena aku tidak mengetahui maksudnya, aku menjadi semakin bingung.

Kami, secara harfiah, hanyalah pihak yang bertemu dalam suatu jenis hubungan bernama ibu pengganti dan eksis demi sebuah kontrak semata. Oleh karena itu, kata-kata ramah tersebut mengganjal di dalam dada dan terasa agak tidak nyaman.

Karena aku tidak bisa mengetahui apa niat baik yang terkandung di dalam perkataan itu ditujukan untuk diriku sebagai seorang pribadi manusia, ataukah itu sekadar kata-kata yang diucapkan karena mengkhawatirkan pihak kontraknya, maka sangatlah wajar jika kecurigaan seperti ini muncul.

Namun, apa pun alasannya, mengingat kepribadian Cha Juheon, terlintas pemikiran bahwa hal itu tidak mungkin merupakan sebuah omong kosong belaka.

Karena ketulusannya yang ingin menunjukkan tanda terima kasih kepada pihak kontrak yang telah mengandung bayinya pasti bersifat jujur. Perasaanku terasa aneh, tetapi hal itu pun tidak bisa dibilang buruk.

[Apa Anda sudah makan? Pastikan untuk meminum vitamin juga setelah makan siang.]

Ting.

Sesaat kemudian, terdengar suara balasan yang datang dari Eunwoo. Biasanya balasan selalu datang seketika setelah dia mengirimkan pesan, tetapi hari ini balasan baru tiba setelah sekitar 15 menit berlalu.

Karena itu adalah pesan yang tiba tepat di saat dia sedang penasaran apakah terjadi sesuatu atau tidak, Juheon memeriksa balasannya tanpa ragu-ragu.

[Makan siang sudah, vitamin juga sudah diminum. Jus buahnya juga. Sekarang saya sedang bermain piano. Apa Anda mau mendengar suaranya sekali?]

Bersamaan dengan pesan teks tersebut, sebuah berkas audio segera tiba tidak lama kemudian. Begitu membuka berkasnya, jari-jari tangan yang panjang dan cantik langsung masuk ke dalam pandangan mata.

Jari-jari tangan ramping yang memenuhi layar ponsel itu bergerak tanpa henti sembari memperdengarkan suara yang indah. Merespons suara tersebut, Juheon membawa ponselnya sedikit lebih dekat.

Padahal itu hanyalah pesan kabar yang biasa dia kirimkan, tetapi video yang tidak disangka-sangka justru datang. Seolah sedang memberikan laporan kepada Juheon yang telah membelikan piano, Eunwoo mengirimkan video pertunjukan musik yang singkat.

Meskipun itu hanyalah video yang hanya memperlihatkan tuts piano dan jari-jari tangan saja, anehnya suasana hati Eunwoo yang sedang bersemangat tampak terlihat dengan jelas.

Juheon tidak bisa mengalihkan pandangan matanya dari video dengan ekspresi tertarik. Dan tanpa disadari, dia sedang memutar ulang video pendek yang durasinya tidak sampai 1 menit itu secara berulang-ulang.

Sambil memfokuskan diri pada video dengan senyuman samar yang bahkan terlihat di sudut bibirnya, Juheon mengalihkan kepalanya ke arah tablet.

Di dalam benda itu, berkas berisi informasi mengenai Eunwoo yang diselidiki bersamaan dengan keluarga Kang Kyuho oleh sekretarisnya beberapa waktu lalu, sedang dalam keadaan terbuka.

Mungkin karena instruksinya yang menyuruh menyelidiki semua hal yang bisa diketahui mengenai Eunwoo, jumlah halamannya terbilang cukup banyak. Juheon membaca isinya ke bawah seolah tidak ingin melewatkan apa pun.

Baek Eunwoo, lahir di antara seorang ayah Alpha Dominan dan seorang ibu Omega. Berkat sang ayah yang memimpin sebuah badan usaha yang sukses, dia hidup dengan berkecukupan sembari berpindah-pindah antara Amerika dan Selandia Baru di masa kecilnya.

Oleh karena itu, dia fasih berbahasa Inggris, dan hal itu tampaknya memberikan pengaruh sampai batas tertentu terhadap pilihannya mengambil jurusan sastra Inggris setelah berhenti dari piano.

Berkat hobi sang ayah yang menyukai musik, dia sudah bersentuhan dengan musik klasik dan menerima les sejak usia dini, hingga akhirnya menapakkan kaki di jalur program studi jurusan musik.

Karena keluarganya berkecukupan, dia menerima dukungan tanpa kekurangan apa pun dan bisa mengepakkan kemampuannya sepuas hati. Kehidupan Baek Eunwoo yang begitu kaya raya seketika berubah sepenuhnya akibat sebuah insiden yang terjadi saat dia duduk di kelas 1 SMA.

Amukan si jago merah yang bermula dari lantai bawah dalam sekejap melahap rumah Eunwoo, dan akibat kebakaran tersebut, ibunya mengalami luka parah sementara ayahnya secara tragis harus mengakhiri hidupnya.

Beruntung di antara kemalangan, hanya Eunwoo yang sedang berada di sekolah yang bisa menghindari kecelakaan tersebut. Akibat hilangnya sang ayah yang meninggal dunia seperti itu, bisnis menjadi berantakan dan akhirnya memicu kebangkrutan hingga menyisakan utang.

Meskipun sebagian besar masalah berhasil diselesaikan dengan baik, akibat utang yang tersisa dan cedera sang ibu, Eunwoo harus menjadi kepala keluarga di usianya yang masih muda.

Jalan penderitaan seketika terbuka bagi Eunwoo yang tidak tahu cara melakukan apa pun dan dibesarkan dengan penuh kelembutan hanya untuk bermusik saja. Pada masa inilah, Eunwoo merelakan musik tanpa penyesalan dan melanjutkan pendidikan ke SMA umum.

Hal itu dilakukan karena dia menilai tidak bisa melanjutkan musik yang memakan banyak biaya dan sulit untuk mendapatkan pekerjaan.

Mungkin karena keunggulan genetik dari seorang Omega Dominan, Eunwoo yang pada dasarnya memiliki otak yang cerdas berhasil beradaptasi dengan materi pelajaran dan isi buku teks dalam waktu singkat, lalu menjalani hari-harinya sembari menyelingi belajar dan kerja paruh waktu secara bersamaan.

“Orang yang membantunya pada masa ini ternyata adalah ibunya Kang Kyuho itu, ya. Di saat dia sedang sensitif-sensitifnya, sialnya dia malah masuk ke dalam rumah itu.”

Tindakan ibu Kang Kyuho jelas merupakan sebuah niat baik. Namun, niat baik itu pada akhirnya justru menjadi awal dari luka yang lain. Jalan penderitaan yang sesungguhnya telah terbuka bagi Eunwoo yang kehilangan orang tuanya.

Di dalam lingkungan yang sulit itu, Eunwoo bertahan dan terus bertahan, hingga akhirnya mengambil keputusan untuk menjadi ibu pengganti dengan mengandung anak Juheon.

Di luar itu, di dalam berkas tersebut juga memuat banyak informasi yang terbilang cukup sepele, seperti hubungan pertemanan yang standar dan baik, hingga fakta bahwa dia menerima kepercayaan dari para guru. Sambil memandangi berkas tersebut, Juheon menyandarkan kepalanya ke kursi dan memejamkan mata.

Saat pertama kali melihatnya, sosoknya yang masih muda dan belia terlihat dengan jelas sehingga Juheon pun sempat dibuat lumayan panik. Konflik batin sempat muncul dan hati nuraninya merasa tersentil memikirkan apakah boleh meminta dan menuntut kontrak seperti ini kepada orang yang begitu muda.

Namun, Juheon begitu membutuhkan Eunwoo hingga di tahap dia mengabaikan hati nuraninya yang tersentil itu. Penampilan yang rapi, kebiasaan hidup yang higienis, serta sosok yang rajin hingga di tingkat yang terkesan bodoh.

Ditambah lagi dengan gen dominan yang sangat dia dambakan itu. Eunwoo yang muncul di hadapan Juheon benar-benar sempurna dalam segala hal. Termasuk sosoknya yang sama sekali tidak menimbulkan rasa penolakan. Oleh karena itu, dia mutlak membutuhkan bayi yang lahir dari dalam tubuh pemuda itu.

Padahal ini hanyalah pertemuan yang terjalin murni karena kontrak, tetapi anehnya dia terus kepikiran. Sejak momen di mana dia merasakan perasaan misterius saat aroma feromon miliknya sendiri keluar dari tubuh pemuda itu, tidak ada satu hari pun di mana dia tidak merasa kepikiran.

Benar. Segalanya bermula sejak saat itu. Sejak momen pertama kali melihatnya, Baek Eunwoo tidak menimbulkan rasa penolakan.

Juheon adalah orang yang bahkan tidak bisa melihat wajah orang lain karena merasa mual, dan hal itu pun masih sama saja hingga saat ini.

Fakta bahwa semua orang di luar Eunwoo terasa najis tetap tidak berubah. Secara aneh, Eunwoo tidak terasa kotor maupun tidak menyenangkan, dan dia bahkan sampai menyandarkan tubuhnya pada pakaian pemuda itu.

Dia adalah orang yang membuat segala hal menjadi rumit dan tidak bisa dimengerti.

Di dalam kepala Juheon yang sedang memejamkan mata, sosok Eunwoo muncul secara berulang-ulang. Sosok yang sedang memainkan piano di bawah cahaya lampu yang nyaman dan hangat terasa sangat berbeda dengan sosok yang selalu diperlihatkannya setiap kali sedang bersama Juheon.

Berbeda dengan binar mata yang selalu dipenuhi ketegangan serta tindakan yang penuh kehati-hatian, di tempat itu dia tampak penuh vitalitas dan bersemangat.

Sosok Eunwoo yang mengobrol seru dan tertawa lepas sembari bercanda tanpa canggung bersama rekan-rekan sesama pemain musik terasa asing baginya. Juheon yang melihat hal itu menjadi tahu bahwa Eunwoo ternyata adalah orang yang bisa tertawa dengan cara seperti itu.

Jika lingkungannya tidak berubah, dia pasti akan selalu tertawa cerah seperti itu sembari menjalani kehidupan yang dia impikan. Meskipun itu adalah urusan yang tidak ada hubungannya dengan Juheon, entah mengapa hatinya terasa rumit.

Juheon yang membuka mata dan menatap lekat-lekat ke arah tablet, mengulurkan tangannya ke arah ponsel. Dan pada akhirnya, dia melakukan tindakan yang selama ini tidak pernah dia lakukan.

[Musik Anda sangat enak didengar. Saya harap video berikutnya adalah video pertunjukan musik yang diselesaikan sampai akhir. Saya ingin melihatnya lagi. Saya akan menantikannya.]

Juheon yang telah menyelesaikan kalimatnya tidak menggerakkan jari-tangannya tanpa bergerak sedikit pun untuk beberapa saat. Kemudian, setelah sempat didera konflik batin sejenak, jari tangannya menekan tombol ‘kirim’dengan hati-hati.

1.921 kata

Baby Scandal - Chapter 18

My Donation

Dukung translator

hye • Baby Scandal

dukung hye dalam bentuk donasi~ terima kasih juga udah baca pj hye dan selalu nunggu updatean-updatean pj hye ^o^

e-wallet lengkap ada di saweria, oke? channel telegram juga ada di saweria, silakan yang mau gabung, tetep patuhi rules ya, sayang <3.

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.