Into the Thrill - Chapter 40 - Chapter 40 - Into The Thrill - CH. 4.2.1

"Dia memberiku jam tangan yang harganya lebih mahal dari gaji setahunnya sebagai hadiah Natal, tapi dia tetap saja dicampakkan."

"Setidaknya kau harus berpura-pura ingin melayaninya. Dia menghabiskan seluruh hartanya demi sebuah jam tangan untuk memikatmu, tapi kau berlagak tidak tahu apa-apa. Itulah sebabnya dia berakhir seperti itu."

"Melakukan hal semacam itu hanya akan membutakanmu."

"Mata pria itu baik-baik saja."

"Kita lihat saja nanti."

"Aku harus pergi. Berhentilah mengoceh."

Seolah-olah dia adalah seorang kekasih yang enggan berpisah, Hyun Woojin mencoba menciumnya lagi, namun Haewon menghindar. Bibir Hyun Woojin menyentuh pipi dan pelipis Haewon. Desah napas yang tertahan terdengar jelas di telinganya.

"Lakukan itu sekali lagi, dan akan kugigit lidahmu sampai putus."

Sejenak melupakan bahwa baru saja da mengulum lidah Hyun Woojin dengan penuh gairah, Haewon memperingatkannya. Seolah sedang mengecap rasa dari bibir Haewon, Hyun Woojin mengatupkan mulutnya dan menikmati sesuatu.

Dia berbicara kepada Haewon, yang tengah mencari celah untuk melarikan diri dari situasi yang tak terelakkan itu.

"Aku dan Moon Haewon bertemu setelah Taeshin meninggal. Kau tidak merebut kekasih teman, dan aku juga tidak sedang berselingkuh. Jangan salah paham."

"Memangnya siapa yang bertanya padamu?"

"Kenapa kau ragu dan merasa sangat bersalah? Jika kau memang sebegitu merasa bersalah, seharusnya kau menjawab teleponnya. Kau seharusnya menjawab sebelum dia melompat. Apa gunanya merasa sentimental dan kasihan sekarang? Apa Lee Taeshin akan hidup kembali jika kau mendorongku menjauh karena rasa bersalahmu? Itukah yang kau inginkan?"

Hyun Woojin berbicara seolah-olah dia bisa membaca setiap isi pikiran Haewon. Itu adalah pemikiran yang keliru, sebuah penalaran yang cacat.

Dia mencondongkan tubuhnya mendekat. Karena tak mampu membantah omong kosong itu, Haewon hanya menatap kosong ke arah bibir yang tengah membisikkan sesuatu tersebut.

"Kenapa kau jadi seserius itu sendirian? Aku tidak seserius itu padamu sampai-sampai kau harus bereaksi berlebihan seperti ini."

Hyun Woojin tidak ingin Haewon menyadari sedikit getaran di tubuhnya, jadi dia sengaja menatapnya dengan tajam. Hyun Woojin menyentuh pipi Haewon dengan lembut.

"Itu artinya kau tidak perlu menganggapnya serius."

"Jangan. Akan kugigit."

Bibirnya semakin lama semakin mendekat. Itu bukan sekadar lelucon. Haewon memperingatkannya sekali lagi. Bibir itu mengabaikan peringatan tersebut dan membentuk lengkungan tipis yang halus.

"Mmph...!"

Bibir sang pelahap cahaya itu menyerang Haewon.

∞ ∞ ∞

Setelah mendengar kabar bahwa profesor telah kembali usai menyelesaikan seminarnya, Haewon mengunjungi kampus setelah sekian lama. Begitu merampungkan pelajaran dengan menyelesaikan karya yang belum sempat dia selesaikan sebelumnya, dia pun meninggalkan ruang latihan.

Meskipun sedang libur musim dingin, ruang-ruang latihan departemen musik tetap dipadati mahasiswa seperti saat masa perkuliahan. Suara dentingan piano yang dimainkan tanpa irama yang jelas terdengar mengeras lalu mengecil seiring langkah kakinya.

Walaupun kemampuan bermain mereka masih buruk, mungkin karena faktor usia yang masih muda, permainan para mahasiswa itu memiliki semacam keberanian yang canggung sekaligus kemilau yang murni. Datang ke kampus selalu berhasil menyegarkan kembali suasana hati Haewon.

"Halo."

— Apa kau bisa bicara?

"Ya, tidak apa-apa."

— Pekerjaan yang sama muncul lagi. Kau mau mengambilnya?

Terlepas dari tekadnya untuk tidak mengandalkan bantuan sang ayah, baru-baru ini Haewon menerima kartu darinya. Tidak ada yang lebih menyakitkan dan melelahkan daripada mengajar seseorang, dan pekerjaan seperti itu pun tidak banyak tersedia.

Dia harus membersihkan instrumennya, memperbarui asuransi biolanya, dan masih banyak pengeluaran lainnya. Penghasilan dari kerja paruh waktunya nyaris tidak cukup untuk menutupi semua biaya itu, apalagi untuk biaya hidupnya.

Haewon menyerah dengan cepat. Akhirnya, dia menghubungi ayahnya. Kini dia memiliki dua kartu yang tidak akan dipertanyakan oleh siapa pun. Jadi, tidak ada kebutuhan untuk mengambil pekerjaan lain.

Dia berencana untuk fokus memulihkan kondisinya dan berlatih untuk sementara waktu, setelah sempat kehilangan ritme hidupnya akibat berbagai masalah belakangan ini.

"Tidak, aku tidak bisa melakukannya."

— Bukankah kau bilang kau butuh uang?

"Ayahku memutuskan untuk tetap menyokongku."

— Oh, syukurlah.

"Bagaimanapun, terima kasih sudah memikirkanku."

Menanggapi balasan Haewon, Sunbae menghela napas dan berkata:

— Apa kau ingat pertemuan dengan Presiden Kim Jeonggeun waktu itu?

"Ya."

Dia sudah sering mendengar namanya di surat kabar dan berita, tetapi ini adalah pertama kalinya dia melihat sosok aslinya, pemimpin praktis dari Grup Han Kyung. Beliau adalah seseorang yang bisa mengapresiasi musik klasik.

Meskipun pertemuan itu singkat, pengetahuan musiknya yang mendalam serta sikapnya yang baik dan rendah hati sebagai pimpinan grup besar meninggalkan kesan yang kuat.

— Sebenarnya, beliau secara khusus memintanya. Sepertinya beliau ingin mendengar permainan solomu.

"Soloku?"

— Beliau sangat menyukai penampilanmu waktu itu. Aku sudah telanjur berjanji kepada pihak Han Kyung karena sebelumnya kau bilang kau butuh uang. Bagaimana sekarang?

Sambil berjalan perlahan melintasi kampus dan berbicara dengan Sunbae di telepon, Haewon menghentikan langkahnya.

"Seharusnya kau bertanya padaku terlebih dahulu."

— Maafkan aku. Aku berasumsi kau akan menerimanya dan tidak berpikir panjang.

"Tolak saja, tolong."

— Kau tahu sendiri sulit bagiku untuk menolak permintaannya. Istrinya berada di dewan yayasan kita, dan Kim Jeonggeun-lah yang mengganti konduktor waktu itu. Dia bilang repertoarnya terlalu mirip setiap tahun. Itu adalah bentuk ketidakhormatan. Bagaimana mungkin aku menolak orang seperti itu?

Berkat ayahnya, Haewon sebenarnya tidak lagi membutuhkan uang, namun baru-baru ini dia memang meminta pekerjaan yang menguntungkan kepada Sunbae. Sunbae telah sengaja membantunya, sehingga dia merasa memiliki kewajiban moral.

Namun, dia tetap tidak ingin melakukannya. Dia enggan karena ini adalah permintaan pribadi. Tampil di gedung konser tidak masalah, tetapi dia tidak suka ide mengadakan resital di hadapan Kim Jeonggeun dan beberapa kenalannya saja.

Terlebih lagi, Kim Jeonggeun mengenal Hyun Woojin. Haewon sempat menggigit bibirnya. Sejak saat itu, dia belum pernah lagi bertemu dengan Hyun Woojin yang pergi dalam keadaan terluka. Dia tidak ingin menemuinya lagi atau memberikan kesempatan sekecil apa pun agar pertemuan itu terjadi.

"Maaf. Aku tidak mau melakukannya."

— Haewon. Moon Haewon.

Suara yang memanggil namanya dengan penuh keputusasaan itu tiba-tiba terdengar menyedihkan. Ini pasti masalah yang sulit bagi Sunbae, seorang karyawan Han Kyung Symphony sekaligus kepala rumah tangga.

Dari sudut pandang Sunbae yang ingin membina hubungan dengan Grup Han Kyung, dia tidak punya pilihan selain memohon padanya. Namun, hanya karena merasa kasihan bukan berarti Haewon harus menurut, dan dia merasa tidak nyaman dengan sikap Sunbae yang memohon-mohon seperti itu.

Sunbae berasumsi bahwa jika dia terus mendesak, Haewon akan setuju. Padahal, urutan yang benar adalah bertanya kepada orang yang bersangkutan sebelum membuat janji semacam itu. Menerima tawaran ini hanya akan membuatnya lebih sulit untuk menolak di lain waktu.

Jika dia menyetujui satu permintaan, mereka akan meminta dua hal di waktu berikutnya, dan setelah itu, sepuluh. Meski terdengar kejam, begitulah tabiat Sunbae. Itulah sebabnya Haewon juga menolak tawaran Sunbae untuk meminjamkannya ruang latihan pribadi.

"Aku tidak ingin melakukan resital solo. Jika itu adalah bantuan pribadi, penontonnya tidak akan banyak, dan aku merasa tidak nyaman tampil di hadapan mereka."

— Kenapa tidak? Anggap saja ini latihan dan berpura-puralah tidak ada siapa-siapa di sana. Penampilanmu sangat bagus waktu itu. Kenapa kau jadi seperti ini?

"Aku tahu kau mencoba membantuku, Sunbae. Tapi aku benar-benar tidak ingin melakukannya. Tolong tolak saja. Jika sulit untuk menolak, katakan saja aku mengalami kecelakaan mobil."

— Haewon, aku memohon satu hal ini padamu. Dia akan membayarmu 10 juta won per lagu.

"Apa?"

— Dia bilang dia akan membayar 10 juta won per lagu.

Jadi, ujung-ujungnya ini memang soal uang.

Seseorang seperti concertmaster dari simfoni ternama ternyata menjadi pesuruh bagi orang kaya. Memperkenalkan musisi yang sesuai dengan selera mereka dan mengantongi uang layaknya seorang makelar—itulah yang sedang dia lakukan kepada Haewon sekarang.

"Mau 10 juta atau 20 juta pun, aku tidak akan melakukannya."

— Jangan bicara begitu. Dengarkan aku dulu.

"Sudah kubilang, aku tidak butuh uang lagi."

— 1,5 juta per lagu. Bagaimana kalau 1,5 juta?

"Apa yang sedang kau lakukan sekarang?"

— Haewon, ini adalah kesempatan. Presiden memiliki pengetahuan musik yang sangat dalam. Jika semuanya berjalan lancar, kau bisa mendapatkan sponsor. Dengan begitu, kau tidak perlu lagi meminta bantuan ayahmu, dan kau bisa fokus sepenuhnya untuk belajar di luar negeri.

Haewon tidak pernah membahas kekayaan ayahnya secara perinci kepada siapa pun. Meski sempat kekurangan uang untuk waktu yang singkat, dia sebenarnya bisa belajar ke luar negeri kapan pun dia mau. Dia hanya baru saja menolak tawaran ayahnya.

"Jika aku memainkan sepuluh lagu hari itu dengan bayaran masing-masing 1,5 juta, apakah itu berarti aku akan mendapatkan 150 juta? Atau jika aku memainkan dua puluh lagu, jadi berapa? Tiga ratus juta?"

— 1,5 juta per jam itu bukan jumlah yang kecil.

"Siapa yang bilang itu kecil? Aku tidak melakukan ini karena harga diri. Aku hanya sedang tidak ingin melakukannya. Aku tutup teleponnya."

— Haewon! Tunggu, tunggu, jangan ditutup!

Pria itu memanggil nama Haewon dengan putus asa. Menyesal karena telah meninggikan suaranya, dia bergeser mencari tempat yang lebih tenang dengan napas yang memburu. Setelah pindah ke tempat yang lebih sunyi, dia melanjutkan dengan nada memohon.

— Presiden Kim Jeonggeun secara khusus memintamu. Beliau sangat... sangat ingin mendengar permainanmu. Tolong, bantu aku sekali ini saja.

"……"

— Aku akan bilang padanya kalau kau sedang tidak enak badan. Satu lagu saja. Mainkan satu lagu saja. Aku mohon padamu.

"Berapa mereka membayarmu untuk membawaku ke sana?"

— Haewon.

"Berapa banyak yang kau dapatkan?"

1.471 kata

Into the Thrill - Chapter 40 - Chapter 40 - Into The Thrill - CH. 4.2.1

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.