Into the Thrill - Chapter 41 - Chapter 41 - Into The Thrill - CH 4.2.2.

Setelah keheningan yang panjang, dia bergumam dengan suara pasrah.

— Lima ratus.

"Akan kuberikan lima ratus itu padamu."

Tampaknya dia telah setuju untuk menerima dua ribu sebagai imbalan karena telah merekrut Haewon. Setiap anggota kuartet menerima empat ratus. Dua ribu per lagu bukanlah jumlah yang kecil.

Saat Presiden Kim Jeonggeun memilihnya layaknya memilih wanita di sebuah room salon, Sunbae telah merundingkan harganya dengan mereka sendirian. Dia pasti meminta lebih.

Rencananya, dia akan menyimpan seribu untuk dirinya sendiri dan memberikan seribu sisanya kepada Haewon, dan saat Haewon menolak, dia menaikkannya menjadi seribu lima ratus. Ini bukan soal jumlahnya; melainkan penghinaan yang tak tertahankan karena dirinya dirundingkan dan dihargai tanpa sepengetahuannya.

— Haewon, jangan seperti ini. Kapan aku pernah meminta bantuan seperti ini padamu?

"Kalau begitu, lakukan satu hal untukku."

— Apa itu?

Dia hampir bisa membayangkan wajah Sunbae yang berbinar di dalam benaknya. Nada suara pria itu seketika menjadi ceria.

"Mengakulah pada Joohee bahwa kau seorang gay."

— Apa?

"Aku tidak memintamu untuk putus atau bercerai sekarang juga. Katakan saja yang sebenarnya."

— Omong kosong macam apa ini? Aku bukan...!

"Tiba-tiba saja aku ingin melihatmu dalam kondisi yang menyedihkan."

— Moon Haewon!

"Joohee adalah ibu dari anak-anakmu. Dia berhak tahu. Katakan padanya, lalu hubungi aku. Setelah itu, baru aku akan mempertimbangkannya."

Haewon menutup teleponnya. Sunbae tidak sebodoh itu untuk bertindak sejauh itu.

Dia tidak berharap akan dihubungi lagi, namun beberapa hari kemudian, Sunbae menelepon. Haewon menjawabnya, karena sudah menduga hal ini akan terjadi.

"Apa kau sudah mengaku?"

— Belum.

"Jangan hubungi aku lagi."

— Aku sudah bilang kepada mereka kalau aku tidak bisa merekrutmu... dan mereka menyuruhku pergi. Mereka ingin aku keluar dari orkestra.

"……"

— Apa kau benar-benar ingin aku mengakui identitas seksualku kepada Joohee? Bagimu itu bukan apa-apa, tapi ini menyangkut kelangsungan hidupku...!

Haewon memegang dahinya yang berdenyut. Di mendengarkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Suara yang hancur oleh keputusasaan itu bergema dengan suram, mengusik ketenangannya.

"Di mana tempatnya? Beritahu aku waktu dan lokasinya."

— Haewon. Terima kasih. Benar-benar, terima kasih banyak.

"Aku akan membantumu sekali ini, tapi kau juga harus melakukan satu hal untukku."

— ……

"Jangan pernah hubungi aku lagi. Jika kau melakukannya, aku sendiri yang akan menelepon Joohee."

∞ ∞ ∞

Suhu udara di luar telah turun beberapa derajat sejak kemarin. Dia mengenakan mantel dan sarung tangan untuk menghalau dingin. Sambil menyampirkan kotak biola di bahunya, Haewon meninggalkan officetel itu.

Sebuah taksi pesanan sudah menunggu di pinggir jalan. Setelah duduk di kursi belakang, Haewon memberikan alamat yang dikirimkan Sunbae melalui pesan singkat kepada sopir tersebut.

Taksi melaju untuk waktu yang cukup lama. Kendaraan itu memasuki hutan yang lebat, hampir sulit dipercaya bahwa tempat seperti ini ada tepat di luar Seoul. Sopir taksi itu berulang kali menanyakan apakah alamatnya sudah benar dengan tatapan tidak percaya.

Haewon duduk dengan gelisah, setengah curiga bahwa Sunbae mungkin sedang mengerjainya. Untungnya, taksi itu mulai melambat di depan sebuah rumah mewah yang muncul setelah melewati hutan tersebut.

"Tolong tunggu sampai aku selesai. Aku akan membayar biaya tambahan untuk waktu tunggunya."

"Tentu."

Haewon meminta sopir itu menunggu, lalu turun dari mobil.

Itu adalah vila milik Presiden Kim Jeonggeun yang terletak di suatu tempat di Yangpyeong. Seolah baru saja melewati gerbang menuju dunia lain, sebuah vila indah yang dikelilingi oleh hutan gelap berdiri di hadapan mata Haewon.

Haewon mengedarkan pandangannya setelah turun dari taksi. Sebuah pohon yang ditebang di tengah taman menarik perhatiannya. Bekas-bekas pembakaran masih menghitam pada tunggul pohon tersebut.

Pohon jenis apa itu sampai-sampai dibiarkan dalam kondisi yang mengerikan seperti itu?

Tunggul pohon yang hangus itu tidak hanya merusak pemandangan taman, tetapi juga merusak estetika vila tersebut, membuat suasana sekitarnya terasa suram dan mencekam. Kemegahan dan kecanggihan yang dia lihat di hotel waktu itu tidak ditemukan di sini. Untuk ukuran sebuah vila milik Presiden Grup Han Kyung, Kim Jeonggeun, tempat ini terasa agak terabaikan.

Guk, guk!

Tiba-tiba, gonggongan anjing yang keras bergema seolah menghantam punggung Haewon. Dia tersentak. Haewon takut pada anjing karena ingatan masa kecilnya yang pernah dikejar dan digigit.

Dia buru-buru menoleh ke sekeliling. Meski dia tidak bisa melihat wujudnya, gonggongan itu terdengar sangat dekat. Suaranya saja sudah mengisyaratkan ukuran tubuh sebesar anjing mastiff, namun bayangannya pun tidak terlihat. Seketika, rasanya seolah seluruh vila dan hutan gelap di sekitarnya sedang mengepung dirinya.

Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi mendekati Haewon, yang berdiri di sana dengan ekspresi terkejut. Pria itu tampaknya adalah pengurus vila tersebut.

"Apakah Anda Moon Haewon?"

"Ya."

"Silakan ikuti aku ke dalam."

Pria itu mencoba mengambil biola yang dibawa Haewon di bahunya. Haewon menolak dengan sebuah anggukan dan mengikutinya. Pintu besar itu terbuka menjadi dua bagian.

"Lewat sini, silakan."

Haewon mengikuti pria itu langsung menuju ruang tamu.

Ruang tamu yang terang benderang itu tampak kosong. Presiden Kim Jeonggeun tidak terlihat di mana pun, dan tak ada seorang pun yang akan mendengarkan pertunjukan Haewon. Hanya pria yang tadi mengantarnya yang ada di sana.

Haewon mengedarkan pandangan dengan bingung. Keadaan di sekitarnya begitu hening. Seolah menyadari kegelisahan Haewon, pria itu bertanya dengan sopan.

"Anda ingin minum apa?"

"Kopi saja, jika ada. Yang panas."

"Akan aku siapkan. Silakan duduk dan tunggu sebentar."

"Jangan terlalu pekat, tolong."

"Baik, aku mengerti."

Bahkan pria yang mengantar Haewon tadi pun kini menghilang. Ditinggal sendirian di tempat seluas ini terasa asing baginya. Tak lama kemudian, pria itu kembali membawakan kopi. Haewon pun duduk menyendiri, menyesap kopi yang disuguhkan kepadanya.

Setelah menghabiskan kopinya, Haewon bersiap untuk segera bermain begitu Presiden Kim Jeonggeun tiba. Dia mengencangkan penggesek, menyetel pasak serta sekrup penyetem, dan menyelaraskan nada biolanya dengan teliti. Usai melakukan persiapan, dia meletakkan biola itu di pangkuannya dan kembali menunggu.

Bahkan pengelola vila pun tidak terlihat di mana pun. Haewon sendirian di dalam kediaman yang luas ini.

Dia tidak mungkin salah mengingat tanggal atau waktu. Dia melirik jam tangannya. Empat puluh menit telah berlalu dari waktu yang dijanjikan. Selama itu pula, tak ada satu orang pun yang muncul.

"Ha."

Waktu yang terbuang itu seolah sengaja dilakukan. Berbagai pikiran melintas di benaknya, namun dia tidak berniat untuk memaklumi situasi mereka. Tepat saat Haewon hendak memasukkan kembali biolanya ke dalam kotak, pintu yang menuju ke teras ruang tamu terbuka, dan seseorang melangkah masuk.

"......"

"Maaf, aku agak terlambat."

Itu adalah Hyun Woojin. Sosok yang sama sekali tidak dia sangka akan ditemuinya di tempat seperti ini.

Haewon tidak menjawab teleponnya dan telah mengganti kode kunci pintu apartemennya. Dia tidak tahu apakah Hyun Woojin sempat mendatangi unitnya atau tidak, namun dia belum melihat pria itu lagi sejak malam mereka berciuman. Sudah sekitar dua minggu berlalu sejak Hyun Woojin meninggalkannya dalam kekalutan.

Kenangan dan rasa sakit tentang pria itu mulai memudar. Namun, melihatnya kembali membuat peristiwa malam itu terasa begitu nyata, seolah baru terjadi kemarin. Dia ingat betul rasa dan hangatnya bibir serta lidah pria itu, kekuatan lengannya, dan irama detak jantungnya.

Hyun Woojin meminta maaf karena terlambat, lalu duduk di sofa tanpa penjelasan lebih lanjut. Dia menyandarkan lengannya pada sandaran tangan dan menyilangkan kaki. Kedua tangannya yang saling bertaut bertumpu di paha. Dia mengangkat alis ke arah Haewon, yang berdiri terpaku sembari menatapnya dalam diam.

“Apa yang kau lakukan? Tidakkah kau akan memulainya?”

“......”

“Aku sudah membayar. Jika kau sudah menerima uangnya, kau harus melakukan tugasmu.”

“Akan kukembalikan uangnya.”

“Tidak perlu.”

Haewon, yang sebelumnya mengatakan tidak ingin tampil di depan orang lain, kini berada di villa Presiden Kim Jeonggeun seorang diri setelah diminta secara pribadi oleh beliau. Dia enggan menjelaskan situasi menyedihkan yang membuatnya terpaksa datang ke sana demi memenuhi permintaan Sunbae.

"Biar kuberi tahu satu hal sebelumnya. Presiden Kim Jeonggeun adalah pria terhormat yang tidak akan goyah oleh hal-hal semacam itu. Beliau mendengarkan musik dengan telinganya."

"......"

Hyun Woojin salah paham dan menganggapnya seolah-olah dia adalah pelacur yang menggunakan kedok pertunjukan musik untuk merayu Presiden Kim Jeonggeun.

"Kenapa kau menatapku dengan ekspresi konyol seperti itu?"

"Karena kau bicara yang bukan-bukan."

Haewon memelototinya dengan tajam.

"Jadi kau datang ke sini murni untuk tampil. Tanpa niat lain."

"Tentu saja, aku datang untuk tampil. Untuk apa lagi?"

"Lalu kenapa kau tidak segera bermain?"

"......"

“Aku sudah siap mendengarkan, jadi mulailah.”

Haewon menggigit bibir bawahnya yang terasa lembut. Masih ada bekas luka samar di bibir Hyun Woojin. Haewon pernah menggigit bibir pria itu sebagai peringatan. Dia menggigitnya cukup keras hingga merobek kulit. Hyun Woojin sempat berdarah. Jika situasi memburuk, dia akan mencolok matanya, dan jika keadaan makin kacau, dia akan menggigit bibirnya.

Saat itu, Hyun Woojin menatap Haewon layaknya binatang buas yang sulit dikendalikan, sambil mengusap bibirnya yang berdarah dengan punggung tangan. Dia mengambil beberapa lembar tisu dari meja di sampingnya untuk menekan bibir guna menghentikan pendarahan, lalu menatap lama ke arah Haewon yang berdiri waspada sebelum akhirnya pergi. Itu terjadi dua minggu yang lalu.

“Lakukan saja. Kita berdua sudah meluangkan waktu untuk ini.”

Dia mengernyit ke arah Haewon yang berdiri teguh, seolah merasa benar-benar terganggu. Dia melirik jam tangannya, secara tidak langsung menunjukkan bahwa mereka telah membuang banyak waktu.

1.460 kata

Into the Thrill - Chapter 41 - Chapter 41 - Into The Thrill - CH 4.2.2.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.