Meskipun rasa suka bisa membuatnya merasa lelah dan menderita, dia tidak ingin membenci. Tidak, sebenarnya dia bahkan tidak bisa merasa benci.
“Aduh……”
Seo Chiyoung mengernyit dan mengangkat tangannya ke arah dada yang terasa perih. Dia bahkan tidak berani menyentuh bagian yang sakit meski hanya tergesek sedikit, tangannya hanya ragu-ragu di sekitar sana. Sama seperti rasa sakit di hatinya yang tidak sanggup dia utarakan sepenuhnya.
Chiyoung memikirkan wanita itu—wanita yang tidak dia sukai namun tidak juga dia benci—dan merenung dalam hati.
Jika rasa suka berubah menjadi benci, lantas kapankah kau akan merasa damai?
‘Walaupun sakit jangan absen ya, hari ini harus datang. Kalau tidak datang, aku bisa menangis karena sedih. —Yoon Junyoung’
Setelah membaca pesan yang seolah otomatis terkoreksi menjadi "sedih karena tidak bisa makan gopchang" itu, Seo Chiyoung menghela napas dengan wajah serba salah dan menutup ponselnya.
Kalau diingat-ingat, beberapa waktu lalu hal serupa pernah terjadi. Meski kali ini dampaknya lebih besar, dia pernah mengalami kejadian buruk dengan Sunmi dan merasa terpuruk karenanya.
Dan tanpa memedulikan keinginan Chiyoung, kejadian itu menyebar luas melalui mulut ke mulut di antara hampir semua orang yang keluar-masuk tempat hiburan tersebut. Orang yang tidak tahu nama Seo Chiyoung sekalipun pasti pernah mendengar kejadian itu.
Sepertinya kali ini pun akan sama.
Bahkan dalam pesan Yoon Junyoung, makna tersirat bahwa (dia tahu bagian yang luka karena digigit semalam) "walaupun sakit, tetaplah datang" terbaca dengan sangat jelas.
Seo Chiyoung mengusap wajahnya yang perlahan memerah tanpa sadar.
Orang-orang mungkin hanya akan menganggapnya bahan candaan ringan lalu tertawa dan melupakannya, jadi dia tidak perlu terlalu ambil pusing, tapi tetap saja dia merasa malu. Dengan muka seperti apa dia harus menemui mereka nanti?
Saat Chiyoung berdiri termenung di depan pintu, seorang pelanggan yang baru saja makan gopchang bersama dua temannya di dalam kedai berjalan melintas, mungkin hendak ke kamar mandi. Saat mencoba melewati pintu yang sempit, dia tidak sengaja bersenggolan dengan Chiyoung.
“…—!!”
Chiyoung menahan teriakan dan seketika meringkuk. Pelanggan itu secara refleks berkata, “Maaf,” namun menatapnya dengan pandangan aneh. Chiyoung segera melambaikan tangan dan berkata, “Eh, tidak apa-apa.”
Wajar jika dia dipandang aneh. Bahu pelanggan itu hanya sedikit menyentuh punggung Chiyoung saat berpapasan; tidak ada alasan baginya untuk meringkuk seheboh itu. ……Kecuali dalam kondisi seperti sekarang.
Seo Chiyoung menghela napas sambil mengkerutkan bahunya agar pakaian tidak menyentuh kulit—lebih tepatnya agar bagian depan kemeja tidak menyentuh dadanya.
Dia terluka di bagian yang tidak bisa dia ceritakan kepada siapa pun.
Dia pikir itu hanya luka ringan, tapi ternyata gigitannya cukup parah. Saat bangun pagi tadi, bagian itu membengkak merah dan sedikit mengeluarkan cairan. Dia sudah mengoleskan salep seadanya sebelum keluar rumah, namun entah karena salepnya kurang manjur atau lukanya memang parah, sepanjang hari dia terus tersentak setiap kali pakaian menggesek lukanya.
Dia termasuk orang yang tahan sakit, tapi dia benar-benar tidak bisa terbiasa dengan sensasi perih yang menyengat itu. Dia mulai menyesal kenapa tadi tidak memakai plester saja.
“…….”
Apotek di ujung gang hanya berjarak sekitar tiga atau empat menit jika dia berlari, haruskah dia pergi sebentar?
Seo Chiyoung melirik satu-dua meja yang terisi pelanggan di dalam kedai sambil menimbang-nimbang. Namun sebelum dia sempat memutuskan, seseorang berteriak, “Minta satu botol kola di sini!” sehingga Chiyoung segera melangkah menuju lemari es. Di tengah jalan, kain bajunya kembali tergesek dan dia bergumam "aduh, aduh" sambil mengkerutkan bahu.
Seingatnya apotek tutup sekitar jam sebelas, berarti sebentar lagi. Jika ingin pergi, dia harus cepat. Namun, jam segini adalah waktu tersibuk di kedai, jadi meskipun hanya tiga atau empat menit, sulit baginya untuk meninggalkan tempat.
Harusnya aku pergi tadi siang saja daripada menahan sakit karena mengira bakal cepat sembuh. Seo Chiyoung melihat jam yang menunjukkan pukul sebelas dan menyerah untuk pergi ke apotek sembari mulai menumis gopchang pesanan pelanggan yang baru datang. Lagi pula, satu jam lagi kedai akan tutup, jadi lebih baik dia mencari plester di rumah saja nanti.
Seo Chiyoung menghela napas panjang dan lega.
Tetap saja, dia bersyukur hari ini adalah hari Sabtu. Setelah malam ini berlalu, besok adalah hari libur, jadi dia bisa beristirahat di rumah sepanjang hari tanpa memakai atasan—saat sedang berpikir begitu, Chiyoung teringat sesuatu dan melihat kalender.
Tepat dua hari lagi, pada hari Senin, ada tulisan kecil dengan pulpen biru: Ibu. Tanpa terasa, hari ulang tahun ibunya sudah di depan mata.
Biasanya dia hanya akan menelepon dan mengirimkan sedikit uang saku, tapi tahun ini adalah ulang tahun ibunya yang ke-60. Meskipun tidak bisa membiayai perjalanan wisata atau mengundang kerabat untuk makan bersama seperti anak-anak orang lain, dia sudah memesan tiket kereta untuk turun ke kampung dan menjumpai ibunya secara langsung.
Awalnya dia berencana pergi pulang dalam sehari, tapi dia pikir lebih baik memberi waktu luang jika ingin sekalian menjenguk ayahnya, jadi dia memesan tiket berangkat untuk hari Minggu sore. Pulangnya Senin malam.
Sepertinya kali ini dia bisa memberikan uang saku sedikit lebih banyak dari rencana awal. Meskipun akhir bulan selalu pas-pesan untuk biaya sewa kedai, bunga pinjaman, dan lain-lain, uang yang dia terima dari mengantar para gadis di tempat hiburan itu cukup membantu—terlebih lagi uang pemberian Kwon Kanghwi yang katanya sebagai "biaya gopchang yang dia masak di sana" jumlahnya lumayan besar.
Saat Chiyoung mencoba mengembalikannya karena merasa jumlahnya terlalu banyak, Kanghwi sempat menunjukkan wajah tidak suka dan berkata, ‘Anggap saja itu uang muka,’ sehingga dengan ragu Chiyoung akhirnya menerimanya. Keuangan bulan ini pun jadi sedikit lebih longgar.
Jika terus begini, jika dia bisa berhemat sedikit lagi dan mengelolanya dengan baik, mungkin saat tiba waktunya dia harus mengosongkan kedai ini di akhir tahun nanti, dia sudah mengumpulkan cukup uang untuk menyewa tempat baru di sekitar sini, meski mungkin ukurannya lebih kecil.
Seo Chiyoung melihat jam yang mendekati waktu tutup kedai dan menghitung satu per satu hal yang harus dia lakukan.
Saat menutup kedai hari ini, dia harus menulis ‘Senin ini libur sehari’ di kertas dan menempelnya di pintu. Dia sudah bilang pada manajer tempat hiburan bahwa dia akan libur hari Senin, tapi dia harus memastikannya sekali lagi hari ini. Dan, ……ah. Dia harus memberi tahu Jang Euigeon bahwa besok dia tidak bisa datang.
……Haruskah dia memberitahunya……?
Seo Chiyoung memiringkan kepalanya dengan bimbang.
Mereka tidak pernah membuat janji untuk bertemu di hari Minggu.
Namun, seolah-olah mereka sudah berjanji, biasanya Jang Euigeon akan menghubunginya pada Minggu pagi saat Chiyoung baru bangun tidur. Lalu di sore hari, entah Euigeon yang datang ke rumah Chiyoung, atau Chiyoung yang pergi ke rumah pria itu, atau terkadang mereka pergi ke luar kota mengikuti gumaman Euigeon yang tiba-tiba impulsif seperti, ‘Aku ingin ke arboretum,’ atau ‘Sudah lama ya tidak ke kebun binatang.’
“…….”
Meskipun tidak pernah berjanji akan bertemu setiap hari Minggu, sepertinya lebih baik jika dia memberi tahu bahwa besok dia ada urusan. Tidak, tapi karena tidak ada janji, sengaja menghubungi hanya untuk bilang ‘Besok tidak bisa bertemu’ malah akan terasa aneh. Jadi lebih baik dia bicarakan besok pagi saja jika Euigeon menelepon. Bahwa dia harus pulang ke kampung pada sore hari karena ulang tahun ibunya yang ke-60.
Tiba-tiba muncul perasaan kecewa yang samar.
Memang benar dia merasa senang dan bersemangat karena akan menjumpai ibu dan ayahnya setelah sekian lama, namun di sisi lain, dia juga merasa kecewa karena hanya untuk hari Minggu ini saja dia tidak bisa bertemu dengan Jang Euigeon.
Katanya membesarkan anak itu sia-sia saja, batin Seo Chiyoung sambil tersenyum pahit.
Minggu lalu dia pergi ke rumah Jang Euigeon. Rumah tua legendaris yang sudah dibuka sebagian sebagai kedai itu biasanya selalu ramai dikunjungi orang, namun karena hari Minggu adalah hari libur, suasananya terasa tenang.
‘Di tempat yang biasanya selalu terdengar suara orang, saat tidak ada suara sama sekali, rasanya malah jadi makin sunyi.’
Saat Chiyoung berucap tiba-tiba sambil menatap paviliun dari dalam kamar utama, Jang Euigeon yang duduk menyandar di sampingnya sambil menatap langit malam yang hitam menoleh dan tersenyum padanya.
‘Dibandingkan rumah yang memang selalu sepi, pasti perasaan itu akan lebih terasa. Tapi karena aku aslinya lebih suka ketenangan daripada keramaian, aku malah lebih suka tingkat kesunyian yang seperti ini.’
“Mana tahan kalau harus tinggal di tempat yang berisik setiap hari sepanjang minggu, setidaknya hari Minggu harus istirahat di tempat yang tenang,” tambah Jang Euigeon sambil menghela napas panjang seolah-olah dia benar-benar merasa lelah.
Mungkin karena itulah, meski Chiyoung sempat berpikir akan sulit bertemu Jang Euigeon setelah kedai itu dibuka, pria itu ternyata jauh lebih sibuk dari sebelumnya namun tetap meluangkan waktu di hari Minggu.
Melihat Euigeon sering menerima telepon terkait pekerjaan saat mereka sedang bersama di hari Minggu, sepertinya dia bekerja jauh lebih keras di hari biasa demi bisa beristirahat di hari Minggu.
Seo Chiyoung merasa khawatir jika dia justru mengganggu waktu istirahat yang berharga itu, namun Jang Euigeon selalu menghubunginya setiap menjelang makan siang di hari Minggu.
Meskipun berpikir bahwa dia mungkin mengganggu dan Euigeon lebih baik beristirahat saja, Chiyoung pun selalu menemuinya tanpa mengeluh karena dia sendiri merasa sayang jika melewatkan beberapa jam kebersamaan dengan Euigeon.
Tetap saja, Euigeon sepertinya tidak bisa mengosongkan seluruh hari Minggunya dengan sempurna. Karena ada urusan mendesak yang harus dia selesaikan di sore hari, Chiyoung baru bisa pergi ke rumah Euigeon saat malam sudah larut.
‘Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya Chiyoung-ssi menginap di sini, ya?’
Jang Euigeon berucap seolah baru terpikirkan saat dia sedang menggelar kasur lantai.
Chiyoung, yang akhirnya memutuskan untuk menginap karena mereka terus berbincang hingga larut malam, mengangguk malu-malu dan menjawab, “Iya.”
Kamar utama di rumah tua ini, yang biasanya hanya dia tempati sebentar di siang hari, memancarkan suasana yang berbeda saat malam tiba. Saat jendela dibuka, udara malam yang sejuk masuk bersama aroma kayu, suara serangga di penghujung musim gugur, dan gemerisik daun kering yang tertiup angin; Chiyoung sangat menyukainya.
Melihat Chiyoung yang menempel di dekat jendela dan tidak beranjak, Jang Euigeon tertawa kecil.
‘Ayo tidur. Supaya besok bisa memulai minggu yang baru.’
‘Iya. ……Apa tidak apa-apa kalau jendelanya dibiarkan terbuka saat tidur?’
‘Aku tidak keberatan, tapi menjelang subuh pasti akan dingin.’
Saat Euigeon menyahut bahwa udara malam belakangan ini sudah mulai dingin, dia segera menambahkan ketika melihat wajah Chiyoung yang tampak kecewa.
‘Tapi biarkan saja terbuka. Kalau subuh nanti kedinginan, tinggal ditutup saja. Aku juga suka tidur sambil menghirup udara yang sejuk dan segar.’
Seo Chiyoung mendongak menatap Jang Euigeon dengan sedikit malu lalu membungkukkan kepalanya sambil berucap terima kasih. Euigeon tertawa dan bertanya, ‘Terima kasih untuk apa,’ lalu menyalakan lampu kayu berwarna kuning di dekat bantal dan mematikan lampu utama kamar.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.