Seo Chiyoung dengan hati-hati masuk ke sisi kasur di samping Euigeon yang sudah berbaring lebih dulu. Meskipun kasur itu cukup lebar untuk ditiduri tiga orang, karena mereka berada di bawah satu selimut yang sama, dia bisa merasakan kehangatan suhu tubuh pria itu yang merambat meski mereka tidak bersentuhan.
‘Maaf ya, selimutnya cuma ada satu. Apa tidak terlalu sempit?’
Seo Chiyoung, yang sedang menatap langit-langit temaram yang dihiasi bayang-bayang dari lampu kecil, menjawab pelan atas ucapan maaf Euigeon, “Eh, tidak. Ini sudah sangat luas kok.”
‘Ibu menyuruhku membawa satu selimut lagi untuk tamu, tapi karena aku hampir tidak pernah menerima orang di rumah, aku tidak mau menambah barang jadi aku datang begitu saja. Lagipula, orang yang kemungkinan akan datang menginap paling cuma Junyoung atau Kanghwi, tapi hari-hari mereka menginap di sini sepertinya sudah lewat jauh…….’
Terdengar suara helaan napas Jang Euigeon dari sampingnya yang berbaring dengan jarak sekitar satu jengkal. Chiyoung melirik Euigeon secara sembunyi-sembunyi. Wajahnya yang memiliki bayangan tegas di bawah cahaya temaram itu tampak sayu namun nyaman, berbeda dengan helaan napasnya tadi. Chiyoung merasa sedikit lega.
Setelah terdiam sejenak, Jang Euigeon perlahan membuka suara.
‘Ngomong-ngomong, katanya tempat kerjamu di malam hari itu dekat dengan tempat tinggal Junyoung. Beberapa hari lalu Junyoung bilang dia bertemu denganmu.’
‘Eh……, iya.’
Seo Chiyoung menjawab dengan ambigu. ‘Yah, anak itu, meskipun tidak bilang apa-apa secara terang-terangan, dia tidak memandang baik tempat hiburan seperti itu—wajar saja sih—jadi kau tidak perlu sengaja memberitahunya kalau kau bekerja sebagai sopir di sana,’ itulah yang pernah dikatakan Yoon Junyoung.
Karena kata-kata itu membekas di ingatannya, dia tidak pernah menceritakan hal itu secara mendetail kepada Jang Euigeon. Euigeon pun tidak bertanya lebih lanjut.
‘Kau sering bertemu Junyoung?’
Atas pertanyaan Jang Euigeon, Seo Chiyoung ragu sejenak lalu memiringkan kepalanya.
‘Hanya sesekali……, saat Junyoung-ssi punya waktu saja.’
“Hmm,” Jang Euigeon terdiam seolah sedang tenggelam dalam pikiran, lalu tertawa pendek.
‘Ternyata anak itu menghubungi Chiyoung-ssi ya, padahal dia hampir tidak pernah menghubungiku.’
“Eh,” Chiyoung tertegun. Meskipun suara Euigeon terdengar biasa saja, Chiyoung menghentikan gerakannya sejenak dan hanya bisa mengerjapkan mata.
Apa dia merasa tidak senang? Sepertinya dia tidak marah kepada Chiyoung, tapi mungkin dia merasa tidak nyaman jika Yoon Junyoung menghubungi Chiyoung. Jika dipikir-pikir, wajar saja jika seseorang merasa begitu saat orang yang dia sukai menghubungi orang lain.
‘Tid—tidak sering kok. Hanya sesekali……. Beliau cuma bilang pasti aku lelah bekerja di malam hari, lalu mampir sebentar karena searah jalan hanya untuk memberi cokelat atau kopi, begitu saja.’
‘Junyoung membelikan barang-barang seperti itu?’
‘……Ti—tidak ada maksud lain kok, beliau kan aslinya memang orang yang baik hati.’
Jang Euigeon terdiam sebelum bergumam, ‘Iya, dia memang anak baik.’ Suara yang terasa agak janggal itu berlanjut setelah jeda sesaat. Tatapannya kini tertuju pada Chiyoung.
‘Kalau dipikir-pikir, Junyoung memang cukup dekat dengan Chiyoung-ssi ya.’
Arah pembicaraan ini semakin aneh. Aku sama sekali tidak berniat menjadi rival Euigeon-ssi, ah bukan, maksudnya aku memang akan jadi rival Kwon Kanghwi-ssi, tapi aku benar-benar tidak berniat begitu. Namun, Chiyoung merasa jika dia mengatakan hal itu, situasinya akan menjadi semakin aneh, jadi dia hanya berkeringat dingin.
‘Apa benar begitu……. Sepertinya tidak sedekat itu…….’
‘Dekat kok. Biarpun dia itu diam-diam perhatian, dia bukan tipe orang yang akan menghubungi dan memberikan sesuatu kepada orang yang tidak begitu dekat dengannya.’
“Begitukah,” jawab Chiyoung sambil mengangguk-angguk. Namun, sialnya, tiba-tiba dia merasa senang. Dia bersumpah sama sekali tidak ada maksud lain, namun dia merasa senang karena Yoon Junyoung—seseorang—menganggapnya sebagai teman dekat melebihi apa yang dia bayangkan.
Seo Chiyoung mengerjapkan mata dan menatap langit-langit. Sepertinya Jang Euigeon menyadari gelagat Chiyoung yang diam-diam mengatupkan bibirnya rapat-rapat, sehingga dia menatap Chiyoung dengan heran.
Saat Euigeon bertanya ada apa, tanpa sadar Chiyoung bergumam, “Tidak, cuma entah kenapa aku merasa sedikit senang……” lalu dia segera menutup mulutnya. Saat dia melirik reaksi Euigeon, pria itu tampak menunjukkan wajah yang aneh.
‘Bukan, maksudku tetap saja kami tidak terlalu dekat atau…… semacam itu. ……Mungkin.’
Setelah menambahkan kalimat yang terdengar seperti pembelaan bahkan di telinganya sendiri, Chiyoung merasa malu dan perlahan masuk semakin dalam ke bawah selimut.
Dia bisa merasakan tatapan Jang Euigeon yang memperhatikannya dalam diam, namun dia pura-pura tidak tahu dan terus bergerak masuk ke dalam selimut sedikit demi sedikit sampai wajahnya tertutup setengah.
Sepertinya dia mendengar suara helaan napas ringan. Namun untungnya, Jang Euigeon tidak berniat membahas topik itu lebih lanjut; dia menatap bergantian antara jendela yang terbuka dan Chiyoung yang meringkuk di dalam selimut lalu bertanya.
‘Apa kau kedinginan?’
‘Eh? Ah……, udaranya memang agak dingin. Karena musim gugur sudah hampir lewat juga……. Tapi karena jendelanya dibuka, aku jadi bisa dengar suara serangga dan bau kayu……. ……Eh, ka—kalau Euigeon-ssi kedinginan, jendelanya boleh ditutup kok. Ah, biar aku saja yang tutup.’
Kalau diingat-ingat, berbeda dengan Chiyoung yang memakai pakaian santai yang nyaman, Jang Euigeon bertelanjang dada karena katanya dia tidak suka merasa risih saat tidur. Pasti dia merasa kedinginan karena udara dingin langsung menyentuh kulitnya.
Saat Chiyoung hendak bangun untuk menutup jendela, Jang Euigeon memegang lengannya.
‘Tidak apa-apa. Kan sudah kubilang aku juga suka tidur dengan jendela terbuka kalau belum musim dingin. Yang penting Chiyoung-ssi tidak apa-apa.’
‘Eh, tapi tetap saja……, sepertinya kau kedinginan.’
“Sudah kubilang tidak apa-apa,” kata Euigeon sambil menatap diam-diam ke arah Chiyoung yang tampak serba salah karena melihat Euigeon benar-benar tidak kedinginan meski tubuhnya terbuka. Tiba-tiba, Euigeon tertawa kecil seolah teringat sesuatu.
‘Kalau begitu, ke sinilah.’
Sambil kembali merebahkan tubuh yang tadi setengah terbangun karena menahan Chiyoung, Jang Euigeon menyingkap selimutnya. Saat Chiyoung yang sedang dalam posisi setengah tiarap menatapnya dengan bingung, Euigeon menarik lengan Chiyoung.
Chiyoung kehilangan keseimbangan sesaat, namun Euigeon menangkapnya dan mendekapnya ke dalam pelukan. Baru setelah itulah Chiyoung menyadari bahwa dia sedang dipeluk erat di dada Jang Euigeon, dan dia pun mematung seketika.
‘Kalau dipikir-pikir, aku memang merasa butuh penghangat botol air panas. Seperti nenekmu dulu.’
‘……, Apa?’
‘Wah, benar-benar hangat ya. Pantas saja nenekmu suka memelukmu saat tidur seperti botol penghangat. Sepertinya suhu tubuh Chiyoung-ssi agak tinggi……, ……kau tidak sedang sakit, kan?’
‘Eh? Ti—tidak sakit. Tidak sakit kok…….’
Wajahnya terasa panas. Bukan hanya wajah, tubuhnya pun terasa gerah karena jantungnya berdegup kencang. Justru akan aneh jika suhu tubuhnya tidak tinggi sekarang.
‘Haha, apa suhu tubuhmu memang setinggi ini? Seperti anak kecil saja.’
‘Bukan, bukan begitu……. ……Eh, kalau dipikir-pikir, aku memang pernah dibilang kalau badanku lebih hangat dari orang lain…….’
Saat Seo Chiyoung bergumam seperti bicara pada diri sendiri, Jang Euigeon terdiam. Sepertinya kekuatan pada lengan yang memeluk Chiyoung sedikit menguat.
‘Dibilang oleh siapa?’
‘Eh, oleh perawat. Sudah lama sih……, dulu di pabrik tempatku bekerja ada pemeriksaan rutin setiap tahun. Hanya pemeriksaan kesehatan sederhana, dan saat itu perawat bilang suhu tubuh normalku memang sedikit lebih tinggi dari orang lain.’
“Mungkin karena itu badanku agak hangat,” tambah Chiyoung sambil mengangguk-angguk seolah dia sendiri baru menyadarinya. Jang Euigeon yang menatap Chiyoung dalam diam itu tiba-tiba membuka suara dengan lirih.
‘Chiyoung-ssi, apa kau pernah menjadi botol penghangat untuk orang lain selain nenekmu?’
‘Eh? Tidak. ……Musim dingin tahun lalu pemanas di rumahku rusak, jadi aku tidur sambil memeluk botol air panas beneran…….’
Seo Chiyoung menggelengkan kepalanya dengan patuh. Hembusan napas tenang dari Jang Euigeon terasa di dahinya. Saat Chiyoung mendongak, Euigeon menempelkan dagunya di dahi Chiyoung seolah ingin menekan pandangan itu.
‘Kenapa pemanasnya?’
‘Eh, memang sesekali begitu. Karena rumahnya sudah sangat tua……. Di musim panas tidak masalah, tapi kalau rusak di musim dingin memang agak sulit.’
Seo Chiyoung berbisik sambil tersenyum malu. Setelah bergumam "rusak di musim dingin", Jang Euigeon mengernyitkan dahi. “Dengarnya saja sudah terasa dingin,” kata Euigeon sambil memeluk Chiyoung lebih erat lagi. Pipi Chiyoung menempel di dada Jang Euigeon.
Dada pria itu juga terasa panas, sehingga Chiyoung menghela napas lega karena berpikir pipinya yang panas tidak akan ketahuan. Namun, dia merasa canggung karena tubuhnya terus meringkuk secara refleks, sehingga dia hanya bisa mengerjapkan mata. Melihat itu, Euigeon tertawa dan berkata, “Bulu matamu terasa geli.”
‘……. Kau mau tinggal di sini saja? Tinggalkan rumah yang pemanasnya sering rusak itu.’
Tiba-tiba Jang Euigeon berkata dengan nada tertawa yang samar. Karena suaranya yang ringan terdengar seperti candaan, Chiyoung pun hanya ikut tertawa. Jang Euigeon pun terdiam sejenak, seolah itu memang hanya candaan.
‘Dulu Ibu pernah marah besar padaku, beliau bilang wanita mana yang tahan hidup dengan pria yang temperamennya sepertiku. ……Haha, sepertinya hati orang tua memang begitu, beliau tetap bilang "wanita" meskipun tahu preferensi seksualku. Yah, biarpun beliau marah begitu……, aku bilang padanya kalau perkataannya itu benar.’
Mendengar perkataan Jang Euigeon, Chiyoung membelalakkan mata. Meskipun dadanya terhalang oleh dada Euigeon, dia tetap mengerjapkan mata dengan heran.
‘Kenapa……, memangnya Euigeon-ssi kenapa.’
‘Haha, meskipun aku bisa bergaul baik dengan orang lain dan tidak merasa sulit menghadapi siapa pun, aslinya aku punya sisi kepribadian yang cukup keras.’
‘Eh……, tidak kok…….’
“Euigeon-ssi orangnya baik,” sela Chiyoung, dan Euigeon tertawa sambil mengucap terima kasih.
‘Karena aku tidak menunjukkannya secara terang-terangan, orang-orang tidak tahu dan aku sendiri pun jarang merasakannya. Tapi terkadang aku berpikir, saat aku ingin beristirahat dan ada seseorang di sampingku, entah itu keluarga atau siapa pun, aku akan merasa terganggu.’
Seo Chiyoung terdiam mendengar perkataan datar Jang Euigeon. Sepertinya aku memang harus membatasi diri untuk tidak datang setiap hari Minggu……, saat dia sedang berpikir begitu, Jang Euigeon yang sedang memeluknya perlahan mulai menepuk-nepuk punggung Chiyoung. Pelan, seolah sedang menenangkan anak kecil.
‘Tapi Chiyoung-ssi membuatku nyaman. Saat bersamamu, bagaimana ya…….’
Jang Euigeon tidak melanjutkan kalimatnya seolah tidak menemukan kata yang tepat. Tiba-tiba, tangan yang menepuk punggung Chiyoung terhenti. Lengan yang memeluk Chiyoung terasa sedikit mengencang sesaat.
‘……. ……Aku serius. Kalau pemanas di rumahmu rusak, kau boleh tinggal di sini.’

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.