Place to Be - Chapter 79 - Chapter 79 Hanya Kebenaran

Mendengar kata-kata yang diucapkan sambil tertawa ringan seperti candaan itu, Seo Chiyoung mengkerutkan lehernya dan bergumam terima kasih.

Percakapan terputus. Jang Euigeon sepertinya belum tidur, namun dia tidak mengatakan apa-apa lagi seolah sedang tenggelam dalam pikiran, dan Chiyoung pun tetap terdiam dalam kungkungan lengan Euigeon. Dia tidak merasa sesak, ataupun gerah.

Wajahnya terasa begitu panas hingga dia tak tahu harus berbuat apa, namun anehnya, dia tidak merasa tidak nyaman. Seolah-olah sejak awal, di sanalah tempat yang semestinya bagi Seo Chi-young. Dia bahkan sampai berpikir, alangkah indahnya jika ini memang tempatnya.

“…….”

Seo Chi-young tersenyum getir. Lihatlah, dia mulai berharap dan menjadi serakah lagi. Padahal dia sudah berjanji tidak akan melakukannya.

Ini semua karena setiap kali mereka bertemu, perasaan yang telah dia ikat erat-erat itu perlahan-lahan mulai bersemi kembali.

Seo Chi-young menghela napas. Dia menggeleng pelan, berusaha mengusir pikiran-pikiran rumit dari kepalanya. Bagaimanapun, hari esok—hari Minggu yang akan datang—dia tidak akan bertemu dengan Jang Ui-geon. Meski mungkin sia-sia, dia harus mencoba menenangkan hatinya dengan cara melewatkan pertemuan minggu ini.

***

“Oh, permisi, aku mau lewat sebentar.”

Seorang pelanggan yang baru kembali dari toilet berbicara dengan hati-hati sambil melintas di belakang Seo Chi-young, berusaha agar tidak menyenggolnya. Pelanggan itu rupanya ingat betapa Chi-young tersentak kaget—lebih tepatnya, kesakitan—saat mereka tidak sengaja bersenggolan tadi.

“Ah, maafkan aku,” ujar Seo Chi-young sambil bergegas menepi. Namun, gerakan itu kembali membuat pakaiannya bergesekan dengan dadanya. Dia pun refleks menciutkan bahu karena rasa perih yang menyengat. Aduh... Sepertinya dia harusnya tadi lari sebentar untuk membeli plester.

Seo Chi-young menghela napas sambil melirik jam yang menunjukkan bahwa apotek pasti sudah tutup. Saat itu, para pelanggan yang duduk di meja bangkit berdiri untuk pulang. Setelah mereka pergi, kedai akan kosong.

Seharusnya masih ada satu jam lagi sebelum waktu tutup yang biasanya, tetapi dia memutuskan untuk menutup kedai lebih awal dan pulang saja setelah mereka pergi.

“Terima kasih makanannya, kami akan datang lagi,” pamit mereka setelah membayar.

“Terima kasih kembali,” jawab Seo Chi-young. Dia mengembuskan napas lega dan mencoba menegakkan tubuhnya—walaupun dia tetap sedikit membungkukkan bahu agar pakaiannya tidak menyentuh dada.

Sebelum mulai bersih-bersih, dia menyusun kursi-kursi yang berderet di depan konter luar sebagai tanda bahwa operasional hari ini telah berakhir, meski hari masih sore. Setelah itu, dia menurunkan salah satu sisi pintu gulung kedainya.

Dia menurunkan pintu itu. Chr-r-r-r, suara nyaring terdengar dari pintu gulung berkarat yang ditarik turun. Saat Seo Chi-young baru saja hendak bangkit setelah memasang gembok, sebuah suara familier yang menyapanya singkat terdengar dari arah belakang.

“Sudah mau tutup? Ini bahkan belum jam dua belas. Kalau aku datang sedikit lebih lambat, aku pasti tidak akan bertemu denganmu.”

Seo Chi-young menampakkan raut wajah senang saat melihat pria itu memasuki kedai. Dia bersyukur pria itu menolak tawaran atasannya untuk tinggal lebih lama.

“Eh... Ui-geon-Ssi. Selamat datang.”

Jang Ui-geon melirik ke arah konter yang kursinya sudah disingkirkan, lalu masuk dan duduk di dalam kedai.

“Tadi aku baru saja menemui beberapa orang. Cukup teh gandum saja... Ah, tapi jarak berkendara dari sini ke rumahku tidak sampai lima menit, sepertinya tidak apa-apa kalau aku minum bir saja, kan?”

Sepertinya dia membawa mobil karena baru saja kembali dari urusan di luar. Seo Chi-young hanya tersenyum tanpa kata sambil membawakan teh gandum untuk Jang Ui-geon, yang meski terpaksa minum air atau teh saat membawa kendaraan, sebenarnya selalu lebih memilih bir. Jang Ui-geon pun terkekeh dan menerima gelas itu dengan patuh.

“Sepertinya kau tetap bekerja meski ini hari Sabtu.”

Seo Chi-young duduk di hadapan Jang Ui-geon yang mengenakan setelan jas rapi. Sejak kedai ini dibuka, Jang Ui-geon selalu terlihat sibuk, namun dia tidak selalu berada di sini. Sebaliknya, dia sering pergi ke luar seolah tugas utamanya adalah berkeliling menemui orang-orang.

“Iya. Menjalankan kedai pun pada akhirnya adalah urusan bisnis, jadi tidak bisa hanya menghadapi pelanggan yang datang saja. ...Huh, benar-benar melelahkan. Aku ingin sekali bisa santai dan hanya makan tanpa harus bekerja...”

Jang Ui-geon mengosongkan gelasnya dalam sekali teguk, lalu menggelengkan kepala sambil mendesah panjang yang dibuat-buat. Seo Chi-young tersenyum sambil mengisi kembali gelas yang kosong itu dengan teh gandum.

“Katanya kau sudah dimarahi ayahmu, apa kau masih belum membuang impian untuk menjadi pengangguran yang hidup santai?”

Jang Ui-geon yang hendak meminum kembali tehnya terhenti. Dia menatap Seo Chi-young dengan wajah heran, lalu mengernyitkan dahi.

“Jun-young yang mengatakannya? ...Ugh, anak itu... Tidak bisa dibiarkan. Chi-young, jangan bergaul dengan Jun-young. Dia pasti berkeliling menyebarkan cerita yang aneh-aneh, kan?”

Melihat Jang Ui-geon meminum teh gandumnya dengan wajah bersungut-sungut, Seo Chi-young pun tertawa.

“Tidak begitu. Jun-young-Ssi juga menyukaimu. Dia sering membicarakan hal-hal baik tentangmu.”

“Hmm... Misalnya apa?”

“Eh? Anu, seperti... Kau orang yang baik...”

Seo Chi-young mendadak kehilangan kata-kata. Kalau dipikir-pikir, meski dia bisa merasakan dari cara bicara dan sikap Yoon Jun-young bahwa pria itu menganggap Jang Ui-geon sebagai teman yang sangat dekat, Jun-young jarang menyatakannya secara eksplisit dalam kata-kata.

Melihat Seo Chi-young yang terbata dengan wajah bingung, Jang Ui-geon merasa terhibur dan akhirnya tertawa terbahak-bahak. Dia melambaikan tangan dengan santai seolah sudah bisa menebaknya.

“Kapan lagi dia mengatakan hal seperti itu?”

“Ya? Eh... saat dia datang ke kedai tempo hari... Saat itu kau juga ada. Ah, sepertinya dia mengatakannya sebelum kau datang...”

Seo Chi-young bergegas memberi penjelasan. Jang Ui-geon hanya bergumam sambil tersenyum tipis dengan wajah yang sedikit mengernyit.

Tepat saat itu, seolah sengaja mencari waktu yang pas, ponsel yang tergeletak di atas meja berbunyi. Layarnya menyala, menandakan ada pesan masuk dari Yoon Jun-young.

“…….”

“…….”

Tampaknya umur Jun-young akan panjang. Merasakan tatapan diam dari Jang Ui-geon, Seo Chi-young dengan ragu memeriksa pesan tersebut. Meski pria di depannya tidak sengaja mengintip, tatapannya yang tertuju lekat ke arah ponsel terasa menusuk.

—Kenapa tidak dibalas? Kita jadi bertemu hari ini, kan?—

Seo Chi-young yang awalnya berniat membacakan isi pesan itu karena merasa risi dengan tatapan Ui-geon, mendadak bungkam dengan mulut terbuka. Entah kenapa, kalimat dalam pesan itu terasa akan menimbulkan kesalahpahaman jika dibacakan begitu saja.

Melihat Chi-young yang hanya terpaku pada layar sambil menggaruk kepala karena merasa canggung untuk menatapnya, Jang Ui-geon pun mengulurkan tangan.

“Kenapa? Dia melarangmu bergaul dengan pengangguran malas sepertiku?”

Ujar Jang Ui-geon sambil tersenyum, lalu dia mengambil ponsel itu perlahan dari tangan Seo Chi-young. Meski Chi-young sempat tertahan sejenak karena refleks mempertahankan ponselnya, Jang Ui-geon berhasil mengambilnya dengan santai dan memeriksa pesan tersebut. Dia melirik, lalu menatap Seo Chi-young.

“Kau ada janji bertemu dengan Jun-young hari ini?”

“Ya? Eh... bukan sengaja ingin bertemu. Hanya saja, karena tempat kerjanya dekat, dia bilang mau mampir sebentar... Ah, Gopchang. Dia mau datang untuk makan Gopchang. Karena terkadang dia suka makan nasi goreng Gopchang di sana.”

Seolah teringat sesuatu yang pernah didengarnya dulu, Jang Ui-geon mengangguk paham. Dia menatap pesan itu sejenak sebelum mengembalikan ponsel tersebut kepada Seo Chi-young.

Namun, berbeda dengan kekhawatiran Chi-young, dia tidak menunjukkan reaksi khusus dan tetap tersenyum seperti biasanya. Sambil meminum teh gandum, dia bertanya dengan nada bercanda.

“Pesan ini benar-benar terasa seperti sepasang kekasih. Apa kau berkencan dengan Jun-young?”

Meski nada bicaranya yang jenaka jelas menunjukkan bahwa itu hanya gurauan, Seo Chi-young menggelengkan kepalanya dengan panik. Melihat Chi-young yang membelalakkan mata dan tampak kalang kabut, Jang Ui-geon tersenyum miring dengan nakal.

“Kalau Kang-hee tahu, ini bisa gawat... Ini sudah cukup lama, tapi dulu ada orang bodoh yang mengganggu wanita yang dikencani Kang-hee. Saat itu, dia harus membayar biaya rumah sakit yang cukup besar. Padahal itu wanita yang dia kencani dengan sikap dingin dan hanya bertemu dua atau tiga kali sebulan, tapi jadinya tetap seperti itu. Apalagi kalau itu Jun-young...”

Jang Ui-geon secara berlebihan menciutkan bahunya seolah hal itu sangat mengerikan untuk dibayangkan. Seo Chi-young—yang sama sekali tidak punya niat berkencan dengan Yoon Jun-young maupun mencari masalah dengan Kwon Kang-hee—ikut merinding saat membayangkannya.

“Gawat, ya,” Jang Ui-geon mendesah dengan suara yang masih menyimpan nada gurauan.

“Kalau dipikir-pikir, dulu sepertinya aku pernah berjanji akan memihakmu jika kau menemukan seseorang yang kau sukai... Tapi ini agak sulit. Sebisa mungkin aku tidak ingin bermusuhan dengan Kang-hee.”

“Ya?” Seo Chi-young mengangkat pandangannya. Begitu mata mereka bertemu, dia melihat Jang Ui-geon tersenyum tipis, dan saat itulah dia teringat percakapan mereka dulu.

Kepada Chi-young yang pernah berkata akan memihak Jang Ui-geon, pria itu pun berjanji akan membantu Chi-young suatu saat nanti. Karena dia pikir itu hanya ucapan angin lalu, dia tidak terlalu menyimpannya dalam ingatan.

“Pilih orang lain saja. Jun-young itu lawan yang terlalu berat bagiku.”

Seo Chi-young menundukkan kepala mendengar ucapan seloroh Jang Ui-geon, lalu bergumam pelan mengiyakan.

Mana mungkin. Kalaupun dia benar-benar menyukai Yoon Jun-young, dia tidak akan seberani itu sampai meminta bantuan pada Jang Ui-geon.

“Jika bisa, sukailah seseorang yang lebih mudah untuk kubantu. ...Aku akan menolongmu sekuat tenaga.”

Suara Jang Ui-geon seketika merendah dengan lembut. Ketulusannya terasa begitu nyata. Sambil tetap menunduk, Seo Chi-young menggumamkan terima kasih.

Dia berterima kasih. Namun, dia sama sekali tidak merasa senang.

Kalimat tawaran untuk membantunya menjalin hubungan dengan orang lain adalah sesuatu yang tidak ingin dia dengar—terutama dari mulut Jang Ui-geon. Jantungnya berdenyut, terasa nyeri seolah diremas kuat.

Jika orang itu adalah kau. Jika aku katakan bahwa aku masih menyukaimu, apakah kau tetap akan membantuku?

1.598 kata

Place to Be - Chapter 79 - Chapter 79 Hanya Kebenaran

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.