Sesosok bayangan yang keluar dari gedung dan melangkah mendekat dengan cepat tertangkap oleh sudut matanya. Tepat saat Seo Chi-young hendak menolehkan kepala, bayangan yang sudah sampai di depan mobil itu menghantam atap mobil dengan keras. Brak!! Mobil itu berguncang bersamaan dengan suara dentuman yang sangat keras.
"Ui—"
Namun sebelum Seo Chi-young sempat menyelesaikan kata-katanya, pintu kursi penumpang terbuka lebar. Jang Ui-geon berdiri di hadapan Yoon Jun-young yang duduk di kursi penumpang tersebut.
Dengan satu tangan bertumpu pada pintu mobil yang terbuka lebar, dia menatap Yoon Jun-young dengan wajah tanpa ekspresi, lalu beralih menatap Seo Chi-young yang duduk di kursi pengemudi.
"Pakai bajumu sekarang."
Ucapnya dengan suara dingin. Baru saat itulah Seo Chi-young bergegas merapikan pakaiannya yang terbuka sambil mengerutkan tubuh. Namun, dia terus menatap pria itu berkali-kali karena masih tidak percaya bahwa Ui-geon benar-benar berdiri di hadapannya.
Mungkin itu bukan Jang Ui-geon. Wajah dan suaranya memang milik Jang Ui-geon, tapi hanya itu. Selebihnya terasa asing. Ekspresinya, sorot matanya, hingga nada suaranya.
Benar. Dia bukan Jang Ui-geon. Seo Chi-young berpikir demikian saat melihat sorot mata dingin yang dialihkan pria itu dari dirinya menuju Yoon Jun-young. Jang Ui-geon tidak mungkin menatap Yoon Jun-young dengan tatapan sekering itu.
"Sedang apa kau?"
Jang Ui-geon—pria dengan rupa dirinya—berkata perlahan kepada Yoon Jun-young. Yoon Jun-young sedikit mengernyitkan dahi.
"Apa maksudmu 'sedang apa'. Kenapa kau terlihat seperti orang kehilangan akal begini? ....Apa kau baru saja bertemu Kang-hee?"
Jang Ui-geon tidak menjawab pertanyaan Yoon Jun-young yang melirik ke arah dari mana dia tadi muncul. Dia justru mengulangi pertanyaannya sekali lagi.
"Apa hakmu sampai membiarkan orang ini melakukan hal seperti ini di sini?"
"Apa?"
Saat Jang Ui-geon menunjuk ke arah Seo Chi-young dengan dagunya, Yoon Jun-young mengernyit seolah tidak mengerti apa maksud pembicaraannya. Seo Chi-young yang tiba-tiba menjadi topik pembicaraan juga hanya bisa berkedip, tidak memahami maksud perkataan tersebut.
"Chi-young ssi membantu pekerjaan di bar pada malam hari—bahkan di bar milik Kang-hee—dan kalian berdua tahu jelas tentang hal itu, tapi kenapa tidak ada satu patah kata pun yang sampai ke telingaku? Tidak, sebelum itu, kenapa kau membiarkannya saja?"
Jang Ui-geon bergumam dengan sangat pelan hingga terkesan malas. Dia tidak berteriak atau membentak, namun Yoon Jun-young menatapnya dengan dahi berkerut, seolah menyadari bahwa keadaan akan menjadi sangat merepotkan.
"Hei, Jang Ui-geon, sadarlah. Ada apa denganmu? Kenapa kau sampai lepas kendali begini?"
Jang Ui-geon tidak menjawab pertanyaan Yoon Jun-young yang terdengar cemas itu. Dia hanya mendecak kesal sambil mengernyitkan dahi dengan penuh kejengkelan.
"Sama saja dengan Kang-hee, kenapa kalian berdua bicara yang tidak penting.... Aku bertanya, kenapa kau diam saja melihat Chi-young ssi bekerja di sini. Apa suaraku tidak terdengar, Yoon Jun-young?"
Yoon Jun-young menatap tajam ke arah Jang Ui-geon yang keningnya mulai berkerut dalam. Baru setelah kata-kata itu meresap, wajah Yoon Jun-young menunjukkan ekspresi tidak percaya.
"Apa-apaan omong kosong itu? Chi-young ssi bukan anak kecil, bukan juga perempuan. Kalau dia memutuskan mau bekerja di kedai, apa urusanmu melarang atau membiarkannya? Lagipula dia tidak melakukan pekerjaan berbahaya yang mengandalkan otot. Kenapa kau tiba-tiba hilang akal dan bicara ngawur begini, Jang Ui-geon?"
Yoon Jun-young bicara dengan nada tak habis pikir, lalu melirik Seo Chi-young. Dia menangkap basah tatapan Seo Chi-young yang sedang memandang Jang Ui-geon dengan wajah linglung. Chi-young pun berkedip dengan bingung.
Yoon Jun-young menatap Jang Ui-geon dari bawah, menghela napas panjang, lalu melanjutkan kata-katanya.
"Lagi pula, meski kau bilang kau dekat dengan Chi-young ssi, aku tidak melihat alasan kenapa dia harus repot-repot menceritakan hal itu padamu. Ya, seperti katamu, bekerja di kedai malam memang bukan hal yang bisa dibanggakan, jadi wajar kalau dia makin tertutup. Kalau orangnya sendiri tidak mau cerita, sesama teman dekat pun tidak punya hak untuk ikut campur. Atau memangnya kau punya alasan khusus untuk itu?"
".... Alasan."
Siapa pun orangnya, semuanya sama saja.... Jang Ui-geon mendengus tertawa masam. Tatapan dinginnya tiba-tiba tertuju pada Seo Chi-young. Chi-young sontak menyusutkan bahu.
Wajah yang kini menatapnya itu benar-benar bersih dari emosi; tidak ada tawa, tidak ada amarah, bahkan dendam pun tidak ada. Dia bergumam "Alasan, ya, alasan..." sambil tertawa kecil, tapi tawa itu sama sekali tidak terasa seperti tawa.
"Alasan. Benar, tidak ada. Memang tidak ada alasan untuk itu."
Meski matanya menatap Seo Chi-young, kata-kata Jang Ui-geon ditujukan pada Yoon Jun-young, hingga tak jelas lagi sebenarnya dia sedang bicara pada siapa.
"Tadi saat keluar dari kedai itu, aku sudah memikirkannya ratusan kali. Memang benar, aku tidak punya alasan sama sekali untuk marah. Ya, saking tidak punya alasannya, sampai-sampai hal itu sendiri membuatku murka. Mau orang ini pergi ke mana pun sampai lehernya diisap atau putingnya digigit orang, mau hal yang sama terulang lagi tapi dia tetap nekat datang ke sana—ya, bahkan kalau suatu saat ada bajingan yang tiba-tiba menyeretnya pergi, aku tidak punya alasan untuk marah atau hak untuk melarang. Malah, kalau dia bilang dia naksir salah satu berengsek di sana, aku seharusnya menyiapkan karpet merah dan membantunya."
"Ui-geon, apa yang kau bicarakan? Kenapa kau jadi begini? —Tunggu, tanganmu berdarah."
Yoon Jun-young bicara sambil mengernyit, namun tiba-tiba dia terbungkam. Baru saat itulah Seo Chi-young membelalakkan mata dan mengalihkan pandangannya. Di buku jari tangan kanan Jang Ui-geon yang bertumpu pada pintu mobil, terlihat bercak darah.
Seolah dia sendiri baru menyadarinya, Jang Ui-geon melirik tangannya dengan tatapan bosan.
"Apa? Ah. Tidak apa-apa. Ini bukan darahku. —Ah, tapi bagimu ini mungkin jadi masalah, karena ini darah kekasihmu."
"Apa?!"
Wajah Yoon Jun-young seketika menegang. Namun sebelum dia sempat berkata apa-apa, Jang Ui-geon membungkukkan badan. Dia mendekatkan wajahnya ke arah kursi penumpang, menatap Yoon Jun-young lalu beralih ke Seo Chi-young dengan dahi sedikit berkerut.
"Ratusan kali aku memikirkannya, tetap saja tidak ada jawaban. Memang wajar kalau tidak ketemu jawabannya. Otakku sudah penuh dengan pikiran tentang siapa yang menempelkan bibir di leher itu, siapa yang menyentuh dada itu, sampai aku tidak bisa memikirkan hal lain dengan benar. Aku menunggu di depan kedai untuk mencari tahu di mana dia bekerja, lalu mengikutinya sambil hanya memikirkan cara menghancurkan orang itu. Jadi wajar kalau tidak ada jawabannya—tapi, aku tahu satu hal."
Tatapannya kini tertuju pada Seo Chi-young. Namun suaranya rendah, seolah dia sedang bicara pada dirinya sendiri.
"Pokoknya, aku butuh alasan sialan itu. Benar, kan?"
Jang Ui-geon tampak seperti tersenyum. Namun sebelum senyum di matanya yang dingin itu sempat terbaca, tiba-tiba dia menjulurkan tangan dan mencengkeram kerah baju Yoon Jun-young.
"Jun-young, untunglah bukan kau yang menempelkan bibir dan tanganmu pada orang ini. Karena jika itu kau, sejujurnya aku pun tidak yakin. Aku tidak tahu apakah aku sanggup membiarkannya begitu saja, meskipun itu kau."
Tepat saat bisikan rendah itu berhenti.
Terdengar suara hantaman kering. Wajah Yoon Jun-young terlempar ke samping bersamaan dengan erangan pendek yang lolos dari bibirnya.
Setelah menarik kembali tinjunya dan melepaskan cengkeraman di kerah baju Jun-young, Jang Ui-geon menatap temannya yang kini menutupi wajah sambil mendongak dengan mata terbelalak. Dalam suara malasnya itu, untuk pertama kalinya terselip ancaman kasar yang rendah.
"Aku sudah bilang pada Kang-hee, tapi camkan ini: jika hal seperti ini terjadi lagi, aku akan membakar kedai sialan itu. Tidak, hal itu tidak akan terjadi lagi. Mulai hari ini, Chi-young ssi berhenti bekerja di sini. —Dan kau, Yoon Jun-young, main saja dengan Kang-hee. Jangan terus-terusan menghubungi Chi-young ssi."
".... Apa...?"
Yoon Jun-young bergumam dengan pelafalan cadel karena bagian dalam mulutnya robek. Dia berkedip tak percaya, namun Jang Ui-geon tidak lagi memandangnya. Dia mengalihkan pandangan pada Seo Chi-young yang sedari tadi membeku tanpa bergerak sedikit pun.
Sambil menyunggingkan tawa asing, Jang Ui-geon menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar pada pintu. Dia berjalan memutari bagian depan mobil menuju kursi pengemudi.
Jang Ui-geon menyentak pintu hingga terbuka, lalu menatap Seo Chi-young yang masih tampak linglung di hadapannya.
"...."
Bibir Seo Chi-young bergetar. Jang Ui-geon menunggunya dengan diam seolah memberi kesempatan baginya untuk bicara, namun dia tidak menunggu lama saat melihat Chi-young tetap tak mampu mengeluarkan suara.
Tanpa basa-basi, Jang Ui-geon mencengkeram lengan Seo Chi-young dan menyeretnya keluar dari mobil. Saat Chi-young yang kehilangan keseimbangan itu terseret keluar dan bahunya membentur pintu hingga mengerang pelan, Jang Ui-geon mengernyit sambil berdecak. Cengkeraman tangannya yang tadi kasar dan semena-mena sedikit melonggar.
Namun begitu Seo Chi-young sudah berdiri di luar tanpa ada lagi benda yang bisa membenturnya, Jang Ui-geon langsung berbalik dan melangkah lebar. Seo Chi-young nyaris terseret menuju mobil hitam yang terparkir tepat di belakang mereka—itu bukan mobil yang biasa Ui-geon pakai, itulah sebabnya tadi dia lupa, padahal dia pernah melihatnya sekali di taman dulu. Sambil melangkah, Chi-young bergumam terbata-bata.
"Ui-geon ssi, i—itu, Jun-young ssi..."
Seo Chi-young terus menoleh ke arah kursi penumpang mobil di depan mereka—meski sosok Yoon Jun-young tidak terlihat—namun Jang Ui-geon yang berjalan tanpa menoleh sedikit pun itu tidak menyahut sepatah kata pun.
Sesampainya di pintu kursi penumpang, dia membukanya dan mendorong Seo Chi-young masuk seolah sedang melemparkannya, namun tetap berhati-hati agar Chi-young tidak membentur apa pun. "Aku tutup pintunya. Awas tangannya," ucapnya ketus sebelum menutup pintu dengan dentuman keras yang seolah bisa menghancurkan pintu itu sendiri. Tak lama kemudian, dia pun masuk ke kursi pengemudi.
Dengan wajah yang jelas-jelas panik, Seo Chi-young menatap Jang Ui-geon yang langsung menyalakan mesin begitu duduk.
"Anu, Ui-geon ssi, orang yang ada di mobil depan... maksudku, orang yang baru saja kau pukul itu, Jun-young ssi.... Dia Yoon Jun-young ssi."
Seo Chi-young terbata-bata, jauh lebih panik daripada si pemukul maupun yang dipukul.
Vroom, getaran halus terasa dari bawah kursi. Baru setelah memindahkan persneling, Jang Ui-geon menatap Seo Chi-young dengan wajah tanpa ekspresi.
"Lalu?"
".... Itu... kan Jun-young ssi..."
"Sepertinya sekarang bukan saatnya Chi-young ssi mencemaskan hal semacam itu."
Ucapnya dengan nada yang seolah tak habis pikir, namun dengan warna suara yang begitu dingin hingga membuat jantung bergidik. Jang Ui-geon kembali menatap lurus ke depan dan menginjak gas.
Di dalam mobil yang melaju kencang itu, punggung Seo Chi-young terhempas ke sandaran kursi. Dia hanya bisa menatap nanar ke arah mobil yang mereka lalui dalam sekejap—dan sosok Yoon Jun-young yang tampak bergegas keluar dari sana untuk masuk ke dalam gedung.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.