Di tengah kesunyian yang mencekam, hanya suara dering telepon yang terus bergema. Suara yang berasal dari saku dalam jas Jang Ui-geon itu sesekali berhenti, lalu berdering lagi.
Suara itu baru benar-benar senyap setelah mobil memasuki kawasan perumahan dan melewati tanjakan landai yang temaram dengan lampu jalan yang terpencar-pencar.
Mobil akhirnya berhenti di area parkir di sudut halaman sebuah rumah tua yang luas di puncak tanjakan. Lentera yang tergantung di depan pintu paviliun tamu tetap menyala meski di tengah malam yang sepi, memancarkan cahaya yang remang.
Setelah mematikan mesin dan turun, Jang Ui-geon memutari mobil untuk membukakan pintu kursi penumpang. Seo Chi-young yang sempat membeku dengan kaku perlahan turun dari mobil. Tepat saat itu, ponsel di saku Chi-young mulai berdering. Jang Ui-geon sedikit mengernyit, dan Chi-young yang tersentak segera mengeluarkan ponselnya.
Yoon Jun-young. Nama si penelepon muncul di layar.
Seolah menyadari arti tatapan Seo Chi-young yang melirik ke arahnya sebelum mengangkat telepon, Jang Ui-geon mengambil ponsel itu dengan tenang dari tangan Chi-young. Alih-alih membukanya, dia justru mematahkan ponsel lipat itu hingga hancur.
"....—"
Menatap nanar ponsel yang kini mati bersamaan dengan berakhirnya dering itu, Seo Chi-young kembali ditarik lengannya oleh Jang Ui-geon menuju rumah utama. Dengan wajah muram dan bingung, Chi-young hanya bisa pasrah mengikuti punggung pria itu.
Sejak tadi Jang Ui-geon tidak bicara apa-apa. Begitu pun Seo Chi-young; sulit baginya untuk memulai percakapan karena Ui-geon hanya menatap lurus ke depan dengan wajah datar.
Baru setelah mereka masuk ke balik pagar rendah dan sampai di depan teras kayu yang familier, Jang Ui-geon menghentikan langkah dan melepaskan lengan Seo Chi-young.
Dia menatap Chi-young dalam diam sebelum memberi isyarat dengan dagu agar Chi-young duduk. Seo Chi-young pun duduk dengan patuh di tepian teras kayu, lalu mendongak menatap Jang Ui-geon.
Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya Jang Ui-geon membuka suara.
"Apa aku terlihat aneh?"
Kalimat pertamanya terdengar tenang, nadanya jauh lebih terkendali dibandingkan suara rendah nan mengerikan yang Chi-young dengar saat mereka bersama Yoon Jun-young tadi. Seo Chi-young sempat ragu harus menjawab apa, namun akhirnya dia mengangguk jujur.
"Sedikit."
"Begitu? Syukurlah. Karena bagiku sendiri, aku terlihat sangat aneh."
Setelah berkata demikian dengan santai, Jang Ui-geon naik ke teras dan masuk ke dalam kamar. Seo Chi-young yang duduk sendirian di teras hanya bisa memiringkan kepala.
Kecuali hilangnya senyuman, Ui-geon tampak seperti biasanya. Mungkin karena mereka sudah kembali ke rumah dan berada di ruang yang familier, atmosfer mengerikan yang seolah membekukan udara tadi sudah banyak memudar.
Namun tetap saja, semuanya terasa berbeda, hingga Seo Chi-young hanya bisa menundukkan kepala.
Kenapa.
Dia tidak bisa memahami situasi ini dengan benar. Rasanya dia seperti mulai paham, namun benang merahnya tetap tak tergapai.
Hanya ada satu jawaban yang paling mudah. Namun karena jawaban itu rasanya mustahil benar, Seo Chi-young menghapusnya dari pikiran.
Pikirannya kacau balau, bahkan dia sampai ragu apakah pria yang baru saja masuk ke kamar itu benar-benar pria yang dia kenal selama ini. Chi-young hanya bisa berkedip bingung sambil menatap kakinya sendiri.
Di punggungnya, cahaya lampu mengalir keluar dari kamar, sementara di atas kepalanya, cahaya rembulan putih bersih—sehari dua hari menjelang purnama—tumpah menyinari. Cahaya itu membentuk bayangan panjang yang tiba-tiba melebar. Pintu kamar terbuka dan Jang Ui-geon keluar kembali.
Dia duduk di samping Seo Chi-young, meletakkan sebuah kotak di atas teras, lalu berkata singkat.
"Buka bajumu."
Seo Chi-young membelalakkan mata menatap Jang Ui-geon. Tanpa membalas tatapannya, Ui-geon sibuk mengaduk kotak obat dan mengeluarkan salep, cairan disinfektan, hingga plester.
"Anu..."
"Tadi pengobatannya belum selesai, kan."
Jang Ui-geon bicara dengan nada datar, sepertinya dia memang sempat melihat luka yang tadi baru diolesi salep itu.
".... Tidak, .... biar a—aku saja. Tadi salepnya sudah dioles semua, tinggal pasang plester..."
Saat Seo Chi-young mulai terbata-bata dengan wajah malu, Jang Ui-geon yang sedang membaca keterangan pada tube salep perlahan mengangkat pandangannya.
"Salep yang dioleskan Jun-young? Hapus saja."
Ucapnya rendah tanpa menunggu lama. Perlawanan lemah Seo Chi-young yang mencoba menyusutkan tubuhnya sama sekali tidak berguna; Jang Ui-geon langsung menyibakkan pakaiannya. Dia menarik kemeja itu seolah hendak merobek kancingnya, lalu menatap lekat-lekat tubuh Seo Chi-young yang kini terekspos.
Udara malam yang dingin menyentuh kulit hingga membuat bulu kuduk berdiri. Puting yang sudah diolesi salep itu pun tampak menegang.
Setelah menatap lekat puting tersebut, Jang Ui-geon mengambil tisu basah dan menghapus lapisan tipis salep di atasnya. Di balik ekspresinya yang tenang, gerakan tangannya yang menghapus salep itu terasa kasar, seolah hanya tangannya saja yang sedang marah.
"....!"
Seo Chi-young mengerutkan bahu dengan wajah perih, namun Jang Ui-geon tidak peduli. Setelah membersihkannya dengan tisu basah, dia mulai mengeluarkan salep baru dan mengoleskannya.
Saat jari dingin yang berlumur salep itu menyentuh dadanya, Seo Chi-young tersentak. Berbeda dengan saat dibatasi tisu basah tadi, sentuhan langsung pada kulit terasa begitu nyata hingga secara refleks dia memegang tangan Jang Ui-geon untuk menjauhkannya.
Namun Jang Ui-geon justru mencengkeram tangan itu dengan tangannya yang lain. Cengkeraman yang cukup kuat namun tidak sampai menyakiti itu sama sekali tak tergoyahkan meski Chi-young mencoba melepaskannya.
"....—"
Tangan yang menggenggam pergelangan tangan Seo Chi-young terasa hangat, bahkan nyaris panas. Namun jari yang mengoleskan salep di dadanya terasa begitu dingin hingga membuat bergidik. Di tengah kedutan refleks tubuhnya, Seo Chi-young merasa kontras yang tajam itu sungguh ganjil.
Gigi yang mengatup itu telah membuat daging lembut tersebut terluka dan membengkak lancip. Setiap kali jari menyentuhnya, rasa perih yang tajam menusuk-nusuk. Seo Chi-young sontak menyusutkan tubuhnya berulang kali.
"Apa hal seperti ini sering terjadi?"
Suara rendah Jang Ui-geon melayang di udara. Dia sedang menatap tempat yang sedang diolesi dan digosok oleh ujung jarinya sendiri—puting Seo Chi-young yang merah dan bengkak. Merasa asing dengan sepasang mata hitam yang entah apa pikirannya itu, Seo Chi-young menggelengkan kepala pelan.
"Ti—tidak juga. ......Hanya, sesekali saja......."
Mendengar itu, Jang Ui-geon terdiam. Tak lama kemudian, suaranya yang kaku terdengar singkat.
"Aku sudah bicara pada Kang-hee sebelum ke sini, jadi berhentilah bekerja di sana."
Namun Seo Chi-young tertegun dan tidak menjawab. Dia tidak ingin berhenti. Setidaknya, belum bisa untuk saat ini. Chi-young harus mengumpulkan uang lebih banyak setidaknya sampai akhir tahun ini, dan tidak akan mudah mencari pekerjaan lain yang kondisinya sesuai dengan situasinya saat ini.
Mungkin karena melihat penolakan dari wajah Seo Chi-young yang bungkam, Jang Ui-geon sedikit mengernyitkan dahi.
"Berhentilah, Chi-young ssi."
"......."
Seo Chi-young ragu sejenak sebelum akhirnya menggelengkan kepala. Atas penolakan tegas itu, gerakan Jang Ui-geon terhenti. "Chi-young ssi," panggilnya dengan suara yang jauh lebih rendah, namun Chi-young tetap menggeleng.
"Aku tidak mau berhenti."
Saat Seo Chi-young menjawab dengan perlahan namun jelas, ketegangan tampak pada rahang Jang Ui-geon yang terkatup rapat sambil menatapnya tajam. Sejurus kemudian, tenaga merambat ke ujung jari yang sedang mengusap puting Seo Chi-young. Tanpa sadar, Chi-young menelan erangan pendek dan membelalakkan mata.
"Kau diperlakukan begini di sana tapi masih tidak mau berhenti?"
Suara Jang Ui-geon terdengar agak kasar. Jari yang menekan dan menarik puting itu pun terasa kasar seolah sedang marah.
Seo Chi-young bahkan menahan napas untuk meredam rasa sakit. Namun dalam sekejap, saat jari itu mengendurkan tekanan dan beralih mengusap puting yang membengkak dengan gerakan lambat, dia pun membuang napas pendek. Dalam embusan napas itu, tanpa sengaja terselip desahan rendah.
"......!"
Begitu desahan itu menyentuh telinganya sendiri, Seo Chi-young langsung menutup mulut. Seketika wajahnya terasa terbakar.
Suara yang sangat pendek, namun itu terdengar manis dan bukan seperti suaranya sendiri. Desahan yang nyaris menyerupai rintihan nikmat itu pasti terdengar juga oleh Jang Ui-geon. Pria itu pun sempat berjengit dan menghentikan tangannya.
".... Jadi karena itu kau tidak mau berhenti? ......Kau suka yang seperti ini, Chi-young ssi?"
Terdengar tawa samar seolah dia tak habis pikir.
"Ti—tidak......"
Namun suara Seo Chi-young yang menggeleng itu terlalu kecil hingga tidak terdengar jelas. Dengan wajah merah padam dan kepala tertunduk karena tak tahu harus berbuat apa, Chi-young hanya menggelengkan kepala nyaris tak terlihat.
Jari yang menarik putingnya tadi pun terlepas. Namun kelegaan pada bahu Seo Chi-young yang semula tegang hanya bertahan sesaat. Napasnya tercekat saat Jang Ui-geon merunduk dan mengisap dadanya dalam satu lahapan besar.
Sejenak, Jang Ui-geon melepaskan mulutnya dari dada Seo Chi-young lalu meludahkan air liur yang bercampur salep ke bawah teras kayu. Tak lama setelah itu, dia kembali mengisap putingnya.
Seolah memang itulah yang ingin dia lakukan sejak awal.
Seakan semua kekangan yang selama ini dia tekan dengan susah payah telah terlepas sekaligus, Jang Ui-geon menempel pada tubuh Seo Chi-young dengan rakus. Ibarat orang yang sekarat karena haus dan baru saja menemukan mata air.
"Ah, ......ah! A—akh, sakit, ah......! Ui, ......!"
Seo Chi-young berucap terbata-bata dengan suara yang bercampur isak tangis, secara refleks dia mencengkeram bahu Jang Ui-geon dan mencoba mendorongnya. Namun Jang Ui-geon justru menarik pinggang Seo Chi-young dengan tergesa dan mendekapnya dengan sangat erat hingga terasa remuk.
Punggungnya yang polos menyentuh teras kayu yang dingin, namun dia bahkan tidak menyadarinya. Meski rembulan putih terlihat di depan matanya, dia tidak sadar bahwa dia telah dibaringkan; Seo Chi-young hanya bisa meronta kecil di bawah tubuh Jang Ui-geon yang menindihnya.
"Sakit? Aku pun begitu. Jantungku berpacu sangat kencang, seolah-olah ada yang memukul genderang di dalamnya."
Setelah bergumam dengan bibir yang masih menempel di tubuh Seo Chi-young, Jang Ui-geon langsung menggigit dadanya. Lengan yang memeluk Seo Chi-young hingga sesak itu sama sekali tidak bergeming bahkan saat Chi-young berjengit kaget.
Dia sedang marah.
Pria ini pastilah sedang marah besar.
Itulah sebabnya, dia menindih Seo Chi-young layaknya monster mengerikan yang baru pertama kali dilihat, mengancam seolah hendak memangsanya hidup-hidup.
Dengan wajah merah karena napas yang panas namun juga pucat karena takut, Seo Chi-young bergumam, "Maafkan aku." Dia mengira suaranya yang kecil itu tidak terdengar, namun Jang Ui-geon berjengit dan mengangkat kepalanya.
Cahaya bulan tumpah di atas kepalanya hingga wajahnya tidak terlihat jelas. Tak diketahui seperti apa ekspresinya saat menatap Seo Chi-young yang membeku dengan mata membelalak ketakutan.
"Ma, ......maafkan aku."

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.