Sambil mengerjapkan mata yang mulai memanas, Seo Chi-young meminta maaf tanpa tahu alasannya. Rasanya seolah ada kabut tebal yang memenuhi dadanya. Dia hanya ingin kemarahan pria itu mereda. Dia berharap, pria itu tidak menindihnya dengan begitu mengerikan dan kembali tersenyum seperti biasa. Itulah harapannya.
"Kenapa minta maaf?"
Jang Ui-geon yang sempat menatap Seo Chi-young bertanya.
"Ka—karena, ......karena Ui-geon ssi marah kepadaku, makanya......."
Seo Chi-young bergumam terbata-bata sambil menatap Jang Ui-geon yang wajahnya tak terlihat jelas. Pria itu menatapnya dalam diam. Sementara itu, tangannya terus mengusap puting yang baru saja dia isap dengan rakus, seolah tidak pernah merasa cukup. Dia meraba area sekitar dada, tulang selangka, hingga perut dengan penuh damba, lalu bertanya dengan nada aneh.
"Apa Chi-young ssi tahu kenapa aku marah?"
"......."
"Tentu saja tidak tahu, aku pun tidak tahu."
Jang Ui-geon tertawa sinis pada dirinya sendiri. Dia menundukkan kepala dan mendekatkan hidungnya ke ceruk leher Seo Chi-young, seolah ingin menghirup aromanya. Bibirnya menggesek tulang selangka.
"Tapi kau benar. Aku marah. Namun, Chi-young ssi, ini bukan soal hari ini atau kemarin saja. Entah sejak kapan, perasaanku terus-menerus tidak enak. Aku tidak tahu alasannya, tidak tahu sejak kapan, tapi terus begitu. Karena tak kunjung menemukan jawaban, terkadang aku merasa hampir gila. ......Haha, apa mungkin aku memang sudah gila?"
Dia tertawa rendah sambil menambahkan gumaman yang terdengar seperti ejekan pada diri sendiri. "Tidak peduli," gumamnya, lalu dia menggigit leher Seo Chi-young—tepat di bekas gigitan wanita itu—dengan sangat keras seolah meluapkan kekesalannya. "Akh!" Seo Chi-young menjerit pendek dan menyusutkan tubuhnya; lehernya pastilah kini tertutup bekas merah yang lebih pekat.
"Waktunya sungguh buruk. Baru kemarin aku bermimpi dan sepanjang hari ini suasana hatiku kacau. Dalam mimpi itu, Chi-young ssi sedang bergumul dengan seseorang. Entah itu Jun-young, atau wanita itu, atau bajingan sialan mana pun, aku melihatmu sedang terengah-engah di pelukan orang lain.
Saat terbangun, rasanya benar-benar menjijikkan. Sepanjang hari. Itulah sebabnya, meski baru besok—bukan, sekarang sudah hari ini—kita akan bertemu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menemuimu malam ini. ......Lalu kejadian ini malah meledak."
Mulut yang mengunyah pelan di lehernya itu terus bergumam seperti bicara sendiri, sementara bibirnya merayap ke mana-mana tanpa melewatkan satu jengkal pun; leher, daun telinga, hingga bahu.
Kemudian bibir itu turun kembali seolah teringat sesuatu, menjilat dan mengisap puting lagi sambil sesekali menggigit kecil di sekitarnya. Seo Chi-young gemetar di dalam dekapan lengan yang masih memeluk pinggangnya dengan erat. Tangannya yang mencengkeram lengan kekar Jang Ui-geon pun ikut gemetar.
"Tapi seperti orang bodoh, aku tetap tidak tahu apa yang sedang terjadi, kenapa aku marah, dan apa yang harus kulakukan, hingga aku merasa gelisah sendirian—padahal hanya dengan melihat wajahmu saja kekesalanku bisa mereda, sampai aku bisa tersenyum lebar seperti orang bodoh—lalu akhirnya berakhir seperti ini."
"Ui—Ui-geon ssi, sebentar, i—ini......."
Seo Chi-young terengah-engah dan berusaha membuka mulut, namun seolah tidak ingin mendengar apa pun yang dikatakan Chi-young saat ini, Jang Ui-geon menarik kepala Seo Chi-young dan menciumnya.
"——!!"
Melihat wajahnya yang begitu dekat hingga bersentuhan meski tak terlihat jelas, Seo Chi-young membelalakkan mata. Di tengah sensasi isapan dalam mulut yang terasa haus seolah hendak memangsanya, dia bahkan tidak menyadari bahwa tangan Jang Ui-geon yang tergesa-gesa mulai menanggalkan pakaiannya.
"Tapi," Jang Ui-geon tiba-tiba melepaskan tautan bibirnya. Dengan posisi bibir yang masih nyaris menempel dan napas yang memburu, dia mengerang rendah seperti binatang.
"Setidaknya aku tahu satu hal. Aku tahu apa yang selama ini ingin kulakukan. Selama ini, saat aku dengan bodohnya terus datang hanya karena ingin melihat wajahmu sekali sehari, saat aku merasa senang hanya dengan bersamamu sampai membawamu ke rumahku atau duduk mengobrol di rumahmu, sebenarnya aku tahu apa yang ingin kulakukan. Sekarang aku sudah yakin."
Tiba-tiba tubuh Jang Ui-geon menjauh. Namun dia duduk menindih Seo Chi-young agar tidak bisa bergerak, lalu melemparkan kemejanya yang sudah berantakan. Tubuh kekarnya yang berbayang pekat di bawah cahaya bulan pun terekspos.
Selagi Seo Chi-young menatap nanar pada bahunya yang lebar dan tebal yang membelakangi rembulan, Jang Ui-geon membuka ikat pinggangnya. Mendengar suara ritsleting yang familier, Seo Chi-young pun membelalakkan mata.
"......Kau mengerti, Chi-young ssi? Menunjukkan wajah baik di luar sementara di dalam kepala hanya terpikir untuk melakukan hal ini, merasa bersalah, merasa bingung, tapi pada akhirnya tetap saja begini. Aku bertanya-tanya apakah hati Chi-young ssi sudah berpaling, apakah saat aku begini orang lain akan merebutmu—di dasar kesadaranku aku terus memikirkan hal itu dan merasa cemas. Kesimpulannya, aku ingin melakukan ini denganmu."
Saat dia menyibakkan kain pakaian dalamnya yang menonjol, kejantanan Jang Ui-geon langsung mencuat keluar. Melihat bongkahan daging tebal yang sudah menegang keras dengan urat-urat yang menonjol tanpa perlu disentuh itu, Seo Chi-young mematung tanpa bisa mengalihkan pandangan.
Rasanya seperti bukan kenyataan. Mungkin karena cahaya bulan yang terlalu putih. Pria yang menindihnya dan menciptakan bayangan gelap ini terasa seperti monster yang sama sekali berbeda dari orang yang dia kenal. Pria yang membisikkan kata-kata asing dengan suara lembut ini.
"Ui-geon ssi......."
"Ya, Chi-young ssi."
Namun yang menjawab panggilan lirih Seo Chi-young adalah bayangan yang sedang menindihnya, dan suara lembut itu adalah suaranya.
"I—ini, aneh. Ini aneh......."
Apa yang aneh. Semuanya aneh. Tidak ada satu pun yang tidak aneh. Jang Ui-geon menatap diam ke arah Seo Chi-young yang baru saja mengeluarkan kata-kata terbata-bata.
"Memang aneh, ya."
Itu adalah gumaman yang terdengar seperti helaan napas. Gumaman rendah itu tidak terdengar tenang, melainkan bergetar halus hingga terasa menggelisahkan. Namun berbeda dengan suaranya yang gelisah, sentuhan tangannya yang membelai lembut wajah Seo Chi-young terasa begitu hangat hingga membuat Chi-young ingin menangis dan membelalakkan mata.
"Setiap kali mata besar ini menatapku dengan cemas, aku langsung lemas hingga tidak bisa marah dan rasanya ingin mengabulkan apa pun permintaanmu. ......Sekarang pun begitu, ......tapi aku tidak bisa melepaskanmu."
Bayangan itu menyelimuti Seo Chi-young. "Chi-young ssi, tolonglah," suara rendah itu memohon di telinganya.
"Hari ini aku mungkin akan melakukan hal paling rendah dalam hidupku. Aku merasa akan menjadi manusia paling kotor dan menjijikkan di dunia, tapi itu semua tergantung jawabanmu. Apa pun jawabanmu, apa yang akan kulakukan sudah diputuskan—tapi apakah aku akan jatuh ke dasar jurang, atau setidaknya masih ada harapan untuk selamat, itu ada di tanganmu. ......Apa aku licik? Aku sendiri pun tidak tahu kalau aku selicik ini."
Jang Ui-geon kembali mencium Seo Chi-young. Bibir yang rakus itu kini menyentuhnya dengan hati-hati, seolah merasa takut. Tangannya meluncur lembut di atas tubuh Seo Chi-young.
Saat ujung jari itu mengusap dadanya yang basah, Seo Chi-young secara refleks berjengit karena ingatan akan isapan yang menyakitkan tadi masih membekas di tubuhnya.
Namun seakan ingin menenangkan tubuh yang menyusut itu, layaknya menghibur anak kecil yang sedang menangis kesakitan, tangan itu mulai memutar putingnya dengan perlahan. Begitu hati-hati hingga bagian yang bengkak sensitif itu bisa merasakan sensasi selain rasa sakit, namun dilakukan dengan sangat mahir.
"Eh," Seo Chi-young yang panik hendak mengatakan sesuatu, namun Jang Ui-geon yang menutupi bibirnya tidak menjauh. Dia menekan tubuh Seo Chi-young yang terbaring dengan berat badannya sambil membelai tubuh itu dengan lembut.
Lalu dia berkata.
"Chi-young ssi. Mulai sekarang, kau akan tidur denganku. ......Boleh, kan?"
Begitu kata-kata rendah dan tegas itu masuk ke telinganya, Seo Chi-young membeku.
Itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan atas hal yang sudah diputuskan. Dan baru saat itulah Seo Chi-young menyadari samar-samar, mengapa jawabannya menentukan apakah pria itu akan jatuh ke dasar jurang atau tidak. Karena apa pun jawabannya, tindakan pria itu hanya akan ada satu.
"......."
Boleh. Atau tidak.
Namun tak satu pun dari kedua pikiran itu muncul. Dia tidak tahu apakah dia suka atau tidak. Tidak, dengan kepala yang terasa seperti diaduk-aduk, dia tidak bisa memikirkan apa pun.
Meski dia mencoba mengumpulkan kesadarannya untuk berpikir jernih, hanya ada kekacauan berupa pertanyaan "kenapa" dan "mengapa" yang terus menghapus pikirannya.
Yang tersisa hanyalah rasa takut yang muncul secara naluriah. Di bawah bayangan raksasa ini, dalam situasi yang tidak bisa dipahami ini, dia ingin melarikan diri. Tubuhnya yang kaku tak berdaya bergetar halus. Matanya mulai panas dan pandangannya mulai goyah.
Takut. Dia takut karena tidak tahu siapa pria ini sebenarnya, kepalanya kacau balau dan jantungnya berdegup kencang karena takut, namun tubuhnya yang panas seperti terbakar juga membuatnya takut karena tak tahu alasannya.
Meski begitu.
"Chi-young ssi. ......Tolonglah."
Saat bayangan yang berbisik rendah dan menunduk itu mencium Seo Chi-young, lalu menempelkan dan menggesekkan pipi ke pipinya dengan penuh damba, tatapan matanya yang kaku terpapar cahaya bulan tampak gelisah seolah hendak menangis. Tangan yang mengusap dada Seo Chi-young gemetar halus karena cemas. Lengan yang mendekap pinggang Seo Chi-young tanpa celah pun bergetar karena tidak tenang.
"......."
Seo Chi-young akhirnya mengangguk. Dia masih merasa takut, cemas, dan tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun dia merasa harus melakukannya. Dia merasa hanya dengan cara itu, pria tersebut bisa sedikit meredakan kecemasan yang tidak diketahui asalnya itu. Seo Chi-young pun dengan susah payah menggerakkan kepalanya sedikit ke atas dan ke bawah.
Pada saat itu juga, lengan yang mendekapnya seolah hendak meremukkan napas, bibir yang menghujani wajahnya, dan tangan yang meraba serta membelai tubuhnya.
"Syukurlah," suara bisikannya seolah terdengar.
"Aku tidak peduli apa yang akan terjadi padaku. Aku tidak peduli meski aku licik, meski aku dicaci sebagai manusia rendah. Tapi syukurlah kau——Chi-young ssi tidak menjadi hancur karenaku, ......syukurlah aku tidak membuatmu seperti itu. ......Terima kasih."
"Terima kasih," bisiknya sekali lagi sebelum mencium Seo Chi-young dengan dalam. Saat bibir yang menyerbu dengan menyesakkan itu akhirnya terlepas beberapa saat kemudian, Jang Ui-geon berbisik rendah dengan napas yang sama memburunya dengan Seo Chi-young yang terengah-engah karena kekurangan oksigen.
Akhirnya. Sekarang baru akhirnya.
Suara yang bergetar samar itu seolah berkata demikian.
Kesadarannya hilang melayang.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.