Place to Be - Chapter 86 - Chapter 86 Hanya Kebenaran

Jang Ui-geon telah berpindah dari wajah ke leher, dada, hingga kini sampai ke perut Seo Chi-young. Hingga dia sampai pada tahap menjilat dan menggigit area sekitar pusar, tidak ada satu jengkal pun bagian atas tubuh Seo Chi-young yang tidak tersentuh bibir Jang Ui-geon. Dengan seluruh tubuh yang dipenuhi bekas kemerahan yang terlihat jelas bahkan di bawah cahaya bulan, Seo Chi-young berjuang keras untuk menelan setiap desahan napas yang terus-menerus lolos.

Sensasi yang mengalir deras bak air terjun itu tak lagi bisa dia bedakan; apakah itu rasa geli, sakit, perih, atau nikmat.

"Ui—Ui-geon ssi, Ui-geon ssi, Ui-geon ssi, ....—"

Hanya nama pria itu yang terlontar putus-putus dari bibirnya yang gemetar. Meski ingin mengatakan hal lain, pikirannya begitu kacau hingga kata-kata tak kunjung terbentuk. Dia hanya terus menggumamkan nama itu seperti burung nuri. Dan setiap kali dia memanggil, Jang Ui-geon akan menyahut dengan setia, "Ya, ya Chi-young ssi." Baru setelah mendengar jawaban itu, Seo Chi-young menyadari bahwa bayangan raksasa yang mendekap tubuhnya adalah Jang Ui-geon, dan untuk sesaat dia merasa tenang.

Aneh. Pikiran itu terus berputar di salah satu sudut kepalanya yang berantakan.

Tidak mungkin ini Jang Ui-geon. Pria yang memeluknya dan mencurahkan cumbuannya sekarang tidak mungkin Jang Ui-geon. Bukankah dia orang yang selalu tersenyum ramah dan ceria dari jarak tertentu? Dia bukan tipe orang yang akan membenturkan gairah rakus seperti ini kepada Seo Chi-young.

Lalu siapa pria ini? Pria yang menggigit, mengisap, dan dengan gigih meninggalkan jejak di setiap sudut tubuhnya.

Karena dirundung ketakutan, Seo Chi-young kembali memanggil dengan cemas, "Ui-geon ssi...?" yang segera dijawab dengan "Ya, Chi-young ssi," dan Seo Chi-young pun kembali merasa tenang untuk sesaat. Begitu terus berulang-ulang.

Sementara itu.

"Eh, ...—, ....!!"

Saat bibir yang meraba teliti area perut itu turun sedikit lebih bawah, Seo Chi-young tanpa sadar menelan suara pendek. Dia bisa merasakan bagian bawah tubuhnya yang sejak tadi mengumpulkan panas kini berjengit bangun.

Dia ereksi. Tanpa melihat pun dia tahu kejantanannya telah menegang. Wajah Seo Chi-young terasa terbakar. Di tengah keremangan ini pun, dia merasa begitu malu hingga tak sanggup menatap Jang Ui-geon dan akhirnya menutupi wajah dengan tangannya.

Jang Ui-geon, yang bibirnya hanya berjarak kurang dari satu jengkal dari sana, tidak mungkin tidak menyadari ereksi Seo Chi-young.

Setelah diam sejenak di posisi itu, Jang Ui-geon bergeser. Saat merasakan sensasi bibir yang menyapu perlahan dari pangkal hingga ujung kejantanannya, Seo Chi-young sontak mengangkat kepalanya.

"Ja—jangan lakukan itu......."

Jang Ui-geon, yang masih menyapu kejantanan itu dengan bibirnya, hanya mengangkat pandangannya untuk menatap Seo Chi-young yang berbisik seolah hendak menangis.

"Kenapa? Dulu aku juga pernah melakukannya untukmu."

Teringat akan malam itu, malam di mana hubungan canggung mereka terjadi sekali untuk pertama kalinya jauh di masa lalu, wajah Seo Chi-young berkerut seolah benar-benar akan menangis.

"Ko—kotor......."

"Kotor?"

Jang Ui-geon tersenyum tipis sambil sedikit mengernyit. Namun di saat berikutnya, Seo Chi-young merinding dan menahan napas saat merasakan sensasi isapan kuat pada buah zakarnya.

"Setelah itu, rasanya begitu manis sampai terus terbayang. Aku tidak bisa menghapus pikiran tentang bagaimana caranya agar bisa mencicipinya sekali lagi."

Suara seraknya mengakhiri bisikan itu dengan menelan gairah Seo Chi-young. Kebingungan atau rasa sungkan yang sempat muncul di kepala Seo Chi-young seketika sirna. Gairahnya yang canggung, yang kini ditelan ke dalam mulut pria itu, mulai membuncah hingga terasa jauh.

Namun tepat saat itu.

Sensasi asing yang belum pernah dia rasakan seumur hidup menyusul dari arah bawah. Rasa ngeri yang menusuk hingga ke tulang belakang membuat Seo Chi-young merinding hebat.

"Ui-geo—...!"

Dia bahkan tak bisa menyelesaikan nama itu karena napasnya tercekat oleh rasa asing yang mengerikan.

Jari yang tadi meraba di sela bokong di bawah kejantanannya tampak berhenti di satu titik, lalu mulai merangsek masuk ke dalam. Perlahan-lahan, seolah menyibakkan lipatan kulit dengan sedikit menekuk buku jarinya, jari yang kekar itu menembus masuk dengan lambat namun gigih.

"Ui—Ui-geon ssi, sebentar, ah, ah, ah, ......se—sebentar, di sana, ak—aku kotor, aneh, ...—!"

Dia sendiri tidak tahu apa yang dia bicarakan. Tubuhnya yang meronta panik secara refleks mencoba melarikan diri. Namun saat Seo Chi-young mencoba menarik pinggangnya ke belakang, mulut yang sedang mengisap kejantanan itu memberi tekanan kuat.

Di tengah sensasi yang membuat pandangan seketika memutih dan Chi-young mengerang pendek sambil mendongakkan tubuh, jari-jari yang merangsek di bawah bertambah menjadi dua, tiga, dan masuk semakin dalam dengan perlahan.

Rasanya sungguh aneh. Sensasi dingin yang mirip dengan rasa ngeri seolah menjepit tulang belakangnya kini menyelimuti bagian bawahnya.

Tidak sakit. Di antara jari-jari yang menggeliat keluar masuk di dalam tubuhnya, rasa sesak yang awalnya kaku kini menjadi jauh lebih lembut. Namun, meski gerakannya lembut, perasaan ada sesuatu yang bergerak di dalam tubuhnya terasa sangat asing dan mendebarkan. Kejantanan Seo Chi-young sempat layu karena perasaan asing di bagian belakang, namun berulang kali bangkit kembali di dalam mulut Jang Ui-geon yang terus menjilat dan mengisapnya tanpa henti.

"Ui-geon ssi, sebentar, tolong tangannya, tolong..." Namun Jang Ui-geon tidak mengindahkan permohonan Seo Chi-young yang terbata-bata.

Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk memanjakan bagian depan dan belakang dengan mulut dan tangan, kejantanan Seo Chi-young tampaknya sudah mulai terbiasa dan tidak lagi layu. Meski jari-jari itu merangsek cukup dalam dan keluar masuk tanpa ragu, kejantanannya tetap mempertahankan ereksi walau bokongnya sesekali berjengit.

Entah sejak kapan, desahan bercampur isak tangis akibat kenikmatan mulai terlontar pendek-pendek dari bibir Seo Chi-young. Begitu hanyutnya dia sampai tidak sadar betapa memalukan suara yang keluar dari mulutnya sendiri; Seo Chi-young hanya bisa meringkuk dan mendekap kepala Jang Ui-geon tanpa arah. Dia sendiri tak tahu apakah dia ingin menjauhkan pria itu atau justru menariknya lebih dekat.

Dan masa-masa kacau itu tidak berlangsung lama.

Gairah yang terkumpul dan bergejolak panas di bagian bawah tubuhnya akhirnya meledak.

"...—!!"

Pikirannya melayang jauh. Rasanya seolah ada kilat putih yang menyambar di dalam kepala dan tubuhnya. Dia tidak tahu suara tangis seperti apa yang dia keluarkan atau bagaimana tubuhnya bergejolak. Dia pun tak tahu sudah berapa lama waktu berlalu.

Sampai pada satu titik, dia mulai bisa mendengar suara napasnya sendiri di telinganya. Mungkin baru beberapa detik, atau mungkin terasa seperti beberapa tahun telah terlewati.

Pandangannya kabur dan buram. Seiring dengan padamnya api yang membakar seluruh tubuh, pikirannya perlahan menjernih, namun pandangannya tetap saja kabur. Setelah mengerjapkan mata sekali, Seo Chi-young baru menyadari bahwa matanya digenangi air mata.

"......."

Tentu saja, itu bukan karena rasa sakit atau penderitaan. Tampaknya itu hanya reaksi fisiologis karena rasa panik yang teramat sangat.

Seo Chi-young memejamkan mata erat-erat. Air mata yang menggenang itu pun menetes di sudut matanya. Dia tampak seperti sedang menangis. Dan saat itulah.

"Tadi seharusnya kau merasa nikmat, tidak ada alasan untuk menangis sama sekali.... Kau belum boleh menangis sekarang."

Suara tenang yang terdengar cemas itu menyelimuti Seo Chi-young dari atas. Chi-young tersentak dan membelalakkan mata.

Sosok Jang Ui-geon membayang di depan pandangan Seo Chi-young, menghalangi pemandangan atap.

Saat dia mengusap sudut mulutnya dengan ringan, cairan putih kental menempel di jarinya. Menyadari bahwa itu adalah sisa gairah yang baru saja dia tumpahkan, wajah Seo Chi-young seketika memerah padam.

"Ma—maafkan ak—......."

Seo Chi-young bergumam lirih, namun Jang Ui-geon yang menatap jarinya yang basah itu sama sekali tidak menunjukkan raut kesal atau jijik. Sambil perlahan mengusapkan cairan itu ke jari-jarinya yang lain, dia pun menatap Seo Chi-young. Dia merendahkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya, lalu menurunkan tangannya ke bawah dan berkata dengan tenang.

"Sekarang boleh kuanggap giliranku, kan. ......Sejak tadi rasanya sakit sekali karena terus menegang."

Di bawah suara yang memancarkan hasrat yang begitu nyata hingga terasa mengerikan, Seo Chi-young sekilas melihat tangan pria itu sedang mengocok sesuatu. Tanpa sadar dia mengalihkan pandangannya ke sana, dan seketika dia membeku seperti disiram air es.

Di bawah pinggang Jang Ui-geon yang berlutut di antara kaki Seo Chi-young, tangannya sedang menggenggam hasrat yang berat. Kejantanan yang tegak kaku hingga terlihat menyakitkan itu tampak seperti monster mengerikan, entah karena warnanya yang merah gelap atau pembuluh darahnya yang menonjol jelas.

Monster besar yang memenuhi genggaman tangan kekar Jang Ui-geon itu pun merangsek ke arah selangkangan Seo Chi-young, sementara Chi-young hanya bisa menatap nanar tanpa mampu berkedip. Tuk, ujungnya yang basah dan panas menyentuh tempat yang tadi terus-menerus dikoyak dan dilemaskan oleh jari-jari Jang Ui-geon.

"...—!"

Tepat saat Seo Chi-young secara refleks menyusutkan tubuh dan memegang lengan Jang Ui-geon seolah hendak mendorongnya.

"Kau boleh menangis."

Seolah tak sanggup lagi menahan diri, suaranya yang rendah dan parau merembes keluar dari sela-sela gigi, merobek telinga Chi-young dengan kejam.

Di saat yang sama, kejantanannya terhunjam masuk ke dalam selangkangan Seo Chi-young.

"...—!!!"

Seo Chi-young membuka mulutnya lebar-lebar seolah sedang dicekik, namun tidak ada jeritan yang keluar dari mulut itu. Dari bibirnya yang gemetar hanya sesekali lolos isakan tipis seperti tangis yang lamat-lamat.

Namun isakan itu tidak terdengar. Karena setiap kali Jang Ui-geon menyentakkan pinggangnya, seolah sedang menghunjamkan pasak di antara kaki Seo Chi-young, suara becek dan hantaman antar-kulit bergema begitu keras.

Tepat dua kali. Setelah mencengkeram dan mengunci pinggang Seo Chi-young yang gemetar, Jang Ui-geon menghunjamkan kejantanannya tanpa ampun sambil menarik pinggang Chi-young. Hanya dalam dua kali hujaman, dia telah mengisi seluruh rongga tubuh Seo Chi-young tanpa celah dan menetap sempurna di sana.

"...—ah, ......akh, ...—."

Bibirnya yang gemetar seolah ingin mengatakan sesuatu, namun Seo Chi-young hanya menatap nanar ke arah selangkangannya dengan mata membelalak, seolah tak percaya pada apa yang baru saja terjadi.

Kejantanan gelap yang hampir tidak terlihat karena tersembunyi jauh di dalam celah bokong putih itu membawa rasa sesak dan asing yang tak sebanding dengan beberapa jari sebelumnya. Setiap kali Jang Ui-geon menggoyangkan pinggangnya perlahan, kejantanan itu tampak muncul dan hilang saat keluar-masuk dari tempat yang begitu sempit. Sebuah penyatuan yang terpampang nyata.

Sambil menatap Seo Chi-young yang tampak linglung dengan wajah berkerut seperti akan menangis dan tatapan mata yang goyah tak menentu, Jang Ui-geon berbisik seperti sebuah desahan rendah.

"Lihat? Sekarang Chi-young ssi dan aku sudah menjadi satu. Kita terhubung dalam satu tubuh. ——Kau tidak mengerti? Seo Chi-young dan Jang Ui-geon sedang bersanggama."

Mata Seo Chi-young semakin membelalak. Jang Ui-geon, yang mengamati setiap ekspresi itu dengan puas sekaligus kejam, menarik pinggangnya di depan mata Seo Chi-young. Batang yang kekar itu perlahan mulai meluncur keluar dari selangkangan Seo Chi-young yang menjepitnya erat.

"...—!!"

Bersamaan dengan rasa dingin yang menyerang, Seo Chi-young tanpa sadar menyusutkan tubuhnya. Terlepas dari keinginan Seo Chi-young, pintu masuknya yang mengerut justru menjepit semakin ketat dan seolah rakus ingin menelan kembali kejantanan yang hendak keluar itu. Desahan rendah dan memburu pun lolos dari mulut Jang Ui-geon. Suara napas yang dipenuhi gairah panas itu membuat tubuh semakin membara.

1.817 kata

Place to Be - Chapter 86 - Chapter 86 Hanya Kebenaran

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.