Indra penglihatannya menunjukkan dengan jelas sensasi apa yang sedang menggeliat keluar-masuk dari dalam tubuhnya seolah benda itu hidup. Sama seperti indra pendengarannya yang memberitahu bahwa Seo Chi-young dan Jang Ui-geon sedang bersanggama.
Setelah menarik keluar hampir seluruh kejantanannya hingga hanya bagian ujung kepala saja yang tersisa di dalam, Jang Ui-geon mengambil napas sejenak. "Lemaskan tubuhmu," ucapnya, dan di saat yang sama dia menghunjam masuk ke dalam tubuh dengan kecepatan yang mengerikan. Dia terus-menerus menghunjam dalam dan kuat, seolah perutnya sedang dipukuli.
Dia tak tahu sudah berapa kali itu terjadi. Dia pun tak punya kesadaran untuk menghitungnya.
Selama Jang Ui-geon keluar masuk demi melonggarkan jalan di dalam tubuhnya—agar tubuh yang sempit menyesakkan itu bisa dilewati oleh ukurannya yang besar—Seo Chi-young hanya bisa menangis dan meronta.
Ini berat. Napasnya sesak, dan bagian bawahnya terasa panas.
Setiap kali kejantanannya menggores bagian terdalam tubuhnya, rasanya seolah ada api yang tersulut di dalam pinggangnya hingga tubuhnya refleks berjengit, namun saking kacau pikirannya, dia bahkan tak tahu apakah itu rasa sakit atau bukan. Seo Chi-young tidak sadar bahwa kejantanan miliknya sendiri telah berereksi tegak, dia pun tak sadar bahwa dia mulai menggerakkan pinggangnya mengikuti irama pria itu; dia hanya terus menangis karena bingung dan takut.
Hingga pada satu titik.
"Ah, ...—!"
Tanpa sadar, desahan yang nyaris menyerupai rintihan nikmat meledak dari bibirnya. Tubuhnya tersentak hebat.
"...—?! ......??"
Seo Chi-young mengerjapkan matanya yang membelalak dengan bingung. Bulu matanya yang basah seolah mengeluarkan suara saking lebatnya. Tadi, sesuatu.......
Sambil menatap kosong ke arah hampa dengan wajah linglung, Jang Ui-geon—yang di saat bersamaan menghentikan gerakannya sejenak sambil meredam desahan rendah—menatap Seo Chi-young dengan ekspresi aneh.
"......."
Sambil mengangkat alis dan menatap Seo Chi-young dengan ganjil, dia kembali menggerakkan pinggangnya tanpa mengalihkan pandangan. Kejantanan yang meluncur masuk menembus rongga tubuhnya itu menusuk satu titik di dinding dalam yang lembut.
Dan pada saat itu juga, Seo Chi-young kembali merinding dan mengerang dengan suara tinggi. Jang Ui-geon pun mendesah rendah saat merasakan dinding dalam yang mengerut kuat mendekapnya.
"...—akh, ......?! ...—??"
Rasanya seperti ada aliran listrik yang menjalar di dalam tubuh, dari ujung kepala hingga ujung kaki. Di tempat di mana Jang Ui-geon menghunjam dalam, rasa geli yang menggeliat semakin memuncak.
Seo Chi-young menatap Jang Ui-geon dengan panik. Jang Ui-geon menatap balik dengan ekspresi yang sangat aneh namun perlahan dipenuhi luapan gairah yang memuncak, sembari terus menggerakkan pinggangnya.
Di tengah sensasi yang semakin cepat itu, Seo Chi-young terengah-engah seperti hendak menangis saat menatap Jang Ui-geon yang memandangnya seolah hendak memangsanya.
"I—ini, aneh, Ui-geon ssi, ......ak—aku aneh, ta—takut......."
Sensasi tersengat yang terus-menerus di dalam tubuhnya tak kunjung berhenti. Rasanya tubuhnya sudah menjadi tidak normal. Pikirannya pun rasanya akan ikut gila. Dinding dalam tubuhnya yang bergerak terlepas dari keinginannya seolah menempel erat pada kejantanan yang merangsek masuk, tak mau melepaskannya. Seolah-olah menuntut lebih, dan lebih lagi.
"Ah, ni—... kmat, ......ta—takut, ah, ......ti—tidak mau, aneh, ......ni—nikmat......."
Wajahnya terasa terbakar. Tubuhnya pun panas. Bahkan pikirannya pun seolah sudah matang; Seo Chi-young tak tahu lagi apa yang dia ucapkan. Dia bahkan tidak sadar bahwa dia telah mendekap leher Jang Ui-geon erat-erat dan mengusapkan pipinya yang basah kuyup ke ceruk leher pria itu.
"Chi-young ssi, nikmat? Ini nikmat, kan. Di sini. ......Tidak apa-apa. Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu ditakuti. Kau hanya perlu mendekapku seperti ini. ......Benar. Benar. Begitu. Tidak apa-apa. Ini tidak aneh. ......Nikmat. Nikmat. Ini sangat nikmat. Lagi. Lebih. Dekap aku lebih erat lagi. Benar. Bagus. ......!!"
Suara napas kasar yang terus berbisik di telinganya bahkan tidak sampai ke pikirannya, hanya berputar di sekitar telinga. Sama seperti bibirnya yang terus menciumi telinga dan pipinya, sembari sesekali menggigit kecil.
Pada satu titik, Seo Chi-young merasa ada sesuatu yang membuncah di dalam tubuhnya, dan dengan rasa takut yang amat sangat, dia bergantung pada Jang Ui-geon dengan panik. Sambil mendekap lehernya dan mengerahkan tenaga pada kaki yang melingkari pinggangnya, Seo Chi-young terisak seperti anak kecil yang tidak punya tempat bersandar. Mungkin dia sempat memanggil nama pria itu. Atau mungkin suara parau pria itulah yang memanggil namanya.
Gairah yang bergejolak dan berdenyut di dalam perut seolah mencari jalan keluar itu akhirnya meledak. Hampir bersamaan, Jang Ui-geon yang telah merangsek masuk ke dalam tubuh Seo Chi-young hingga batas maksimalnya pun menumpahkan seluruh hasratnya. Sensasi cairan panas yang membanjiri dan membasahi bagian dalamnya dengan deras itu terasa begitu asing dan baru, hingga Seo Chi-young hanya bisa mendekap Jang Ui-geon erat-erat sembari menangis.
***
Saat membuka mata, Seo Chi-young sendirian.
Untuk beberapa saat, dia tidak tahu mengapa dia ada di sana, atau sejak kapan dia berada di sana. Dia hanya mengerjapkan matanya yang masih linglung dengan pikiran yang kosong.
Setelah beberapa saat berlalu, barulah dia menyadari bahwa tempat itu adalah rumah Jang Ui-geon. Di bangunan dalam yang sangat dia sukai itu, dia terbaring sendirian.
Di dekat kepalanya terdapat teko air dan gelas. Tanpa berpikir panjang, Seo Chi-young menuang air dan meminumnya. Saat air suam-suam kuku itu melewati kerongkongannya, kesadarannya perlahan pulih. Dia pun mulai mengingat mengapa dan sejak kapan dia berada di sini.
"......."
Perlahan, ekspresi Seo Chi-young mengeras. Dia hanya mengerjap menatap langit-langit. Wajahnya yang memanas seiring dengan kembalinya ingatan terasa terbakar.
Sesaat dia sempat mengira itu semua adalah mimpi. Ingatan yang muncul di kepalanya terasa begitu tidak realistis sehingga dia yakin itu pastilah bunga tidur.
Namun, saat dia mencoba menyusutkan tubuhnya dengan hati-hati, rasa sakit yang menusuk dari ujung kepala hingga ujung kaki seketika menembus tubuhnya. Terutama bagian selangkangannya yang semalam terus-menerus tergesek dan dipaksa terbuka, kini terasa sangat nyeri.
"......, ......"
Seo Chi-young mengusap wajahnya yang panas dengan perasaan tak menentu. Dia merasa sakit, malu, sekaligus bingung.
Ingatan itu terus bermunculan. Ingatan sebelum dia kehilangan kesadaran muncul satu per satu dengan jelas, bahkan ingatan samar yang terselip di antaranya.
Tampaknya sebelum dia benar-benar pingsan, dua atau tiga kali Jang Ui-geon sempat berhenti bergerak dengan kaku, lalu dengan desahan kasar menumpahkan cairan panas dalam jumlah banyak ke dalam tubuh Seo Chi-young.
Sepertinya itu bukan sekadar ilusi yang dia rasakan di tengah kesadaran yang kabur; setiap kali kesadarannya kembali sejenak, selangkangannya—yang masih dimasuki oleh kejantanan yang terasa seperti gumpalan api—selalu basah kuyup seolah baru disiram seember air, hingga mengeluarkan suara becek yang nyaring.
Meski dia sempat meronta secara insting untuk melarikan diri di tengah ketidaksadarannya, dia tetap tidak bisa lepas dari paksaan pria itu yang justru mencengkeram pinggangnya dengan kuat dan menariknya kembali untuk menghujamkan pasak lebih dalam lagi.
"—..."
Ba... bagaimana ini.
Itulah pikiran pertama yang muncul di permukaan kesadarannya.
Dia merasa tidak akan sanggup menatap wajah Jang Ui-geon. Jika pria itu muncul di sini sekarang, dia rasa dia ingin menggali lubang dan bersembunyi di dalamnya.
Sambil mengusap wajahnya yang pastilah sudah merah padam, Seo Chi-young bergumam panik dalam hati, bagaimana ini, bagaimana ini.
Seo Chi-young akhirnya bangkit duduk dengan tubuh yang berderit nyeri seolah seluruh ototnya mengalami kram. Baru saat itulah da melihat tubuhnya yang terbaring di bawah selimut di atas tempat tidur yang bersih.
Tampaknya selama dia pingsan, seseorang—tak perlu ditanya siapa—telah membersihkannya. Tubuhnya terasa bersih dan kering seperti selimut itu. Namun, saat melihat bagian atas tubuhnya yang terekspos karena selimut yang merosot hingga pinggang, Seo Chi-young kehilangan kata-kata.
Merah dan ungu. Seluruh tubuhnya dipenuhi bintik-bintik memar kecil. Tanpa berlebihan, memar-memar itu tersebar begitu rapat hingga nyaris tak ada celah. Seo Chi-young menatap bekas-bekas itu dengan tatapan kosong. Setelah duduk terdiam cukup lama, dia kembali merona saat menyadari ada plester besar yang menempel di dadanya.
Setelah cukup lama duduk sendirian di kamar yang sepi, da perlahan bangkit berdiri. Dia mencoba berdiri dengan mengandalkan kekuatan kakinya namun terjatuh kembali.
Setelah dua kali mengerjap bingung karena kakinya lemas, dia akhirnya berhasil berdiri dengan berpegangan pada laci. Begitu sudah berdiri, dia bisa bergerak sedikit demi sedikit meski dengan susah payah.
Karena tubuhnya yang baru keluar dari selimut itu tidak mengenakan sehelai benang pun, Seo Chi-young dengan wajah merona celingukan mencari pakaiannya, lalu mengenakan tumpukan baju yang terlipat rapi di sudut ruangan. Dia harus beristirahat beberapa kali selama proses itu.
Tubuhnya yang terasa sakit hanya dengan bergerak itu sangat lemas. Saat dia menyentuh dahi, meski tidak yakin, rasanya dia sedikit demam.
Sepertinya hari ini dia harus pulang ke rumah dan beristirahat. Tapi, hari ini hari apa? Ah... melihat matahari yang sudah tinggi di atas kepala, sepertinya sudah lewat tengah hari. Bagaimana dengan toko?
Seo Chi-young mendadak merasa cemas, namun saat dia hendak menarik gagang pintu untuk keluar, dia tersadar bahwa hari ini adalah hari Minggu.
Jika hari Minggu, toko libur. Syukurlah. Kalau begitu dia bisa langsung pulang dan istirahat....
"....... Ah."
Tapi setelah dipikir lagi, tidak begitu. Dia merasa hari ini ada hal yang harus dilakukan. Sambil mengerjap menatap ambang pintu, dia menoleh ke arah jam kayu kecil yang tergantung di dinding, dan seketika dia tersentak sadar.
Jam tiga. Jam tiga sore. Tepatnya sudah lewat sedikit dari jam tiga.
"Astaga......."
Dia tidak hanya tertegun karena ternyata dia tidur begitu lama, tapi lebih dari itu, hari ini adalah hari di mana dia harus pergi menemui ibunya. Tiket kereta yang sudah dia pesan dijadwalkan berangkat pukul setengah lima.
Aku tidak tahu lagi......, Seo Chi-young bergumam panik dan terburu-buru keluar dari kamar. Dengan lutut yang terus lemas hingga nyaris terjatuh beberapa kali, dia memakai sepatunya yang tertata rapi di tangga batu secara asal-asalan, lalu menuruni anak tangga.
Sambil menyeret langkah dengan kaki yang kaku dan pincang, Seo Chi-young hampir melewati gerbang tembok bangunan dalam sebelum akhirnya dia terhenti. Dia menoleh ke belakang dengan ragu.
Bagaimanapun, dia harus pamit. Tidak sopan pergi dari rumah orang tanpa berucap sepatah kata pun.
"......, Anu, ......Ui—Ui-geon ssi."
Saat memanggil nama pemilik rumah itu dengan suara kecil, wajahnya kembali merona.
Begitu nama "Ui-geon ssi" keluar dari mulutnya, ingatannya langsung melayang pada situasi saat dia memanggil nama itu sebelumnya. Ingatan saat dia menangis histeris sembari mendekap leher pria itu dan bergantung padanya muncul dengan sangat jelas. Meski dia ingin menganggapnya mimpi, suaranya yang serak dan parau membuktikan semuanya.
Dia berdiri diam memegang gagang pintu sembari menunggu, namun tidak ada jawaban. Seo Chi-young kembali memanggil, kali ini sedikit lebih keras, "Ui-geon ssi." Tenggorokannya terasa perih saat dia meninggikan suaranya yang kini terdengar seperti suara katak.
Namun kali ini pun tidak ada jawaban. Meski dia memasang telinga baik-baik, tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam bangunan utama. Sepertinya Seo Chi-young memang benar-benar sendirian di sana.
"......."

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.