"Ke mana kau! Hei, tangkap dia!"
Im Woo-hyun yang panik berteriak karena Jeong-seo berlari meninggalkan jaket dan ponselnya begitu saja. Shin Jun-hee dengan sigap berlari mengejar, sementara senior yang tadi sengaja membuat Jeong-seo terus minum tertawa terbahak-bahak.
Di tengah kekacauan itu, ponsel di atas meja bergetar. Im Woo-hyun, yang paling dekat, melirik ponsel milik So Jeong-seo tersebut. Di layarnya terpampang nama "Kucing Hitam".
"……Kucing?"
Apa dia seorang suin kucing? Im Woo-hyun menyipitkan satu mata lalu mengangkat panggilan itu. Namun, bertolak belakang dengan nama panggilannya yang imut, suara rendah terdengar dari seberang.
— So Jeong-seo, kau di mana?
Suara yang bahkan terdengar dingin itu membuat bulu kuduk Im Woo-hyun meremang. Jika dia suin kucing, berarti bukan keluarga, mungkin…… teman?
— Jeong-seo? Kenapa kau tidak bicara…….
"Teman So Jeong-seo?"
— ……Siapa kau?
Sudah ditanya teman atau bukan, malah bertanya balik. Melihat sikap tidak sopan itu, Im Woo-hyun sadar mereka memang sefrekuensi. Karena tidak punya sifat yang cukup baik untuk menjawab dengan ramah kepada orang yang tidak sopan, Im Woo-hyun menjawab, "Tak usah pedulikan aku. So Jeong-seo sedang sibuk, telepon saja nanti."
Klik. Sambungan terputus. Sepertinya ada suara dari seberang yang bertanya apa yang sedang sibuk, tapi Im Woo-hyun tak peduli. Segera setelah panggilan diputus, ponsel itu berdering lagi, namun Im Woo-hyun menolaknya dan meletakkannya kembali ke atas meja.
Melihat ke arah pintu masuk, syukurlah So Jeong-seo sedang diseret kembali oleh Shin Jun-hee dengan menjambak kerah bajunya. Im Woo-hyun terdiam melihat pemandangan So Jeong-seo yang benar-benar diseret seperti karung.
"Ah, sudah kubilang aku mau pulang! Hei!"
"Sudah kutangkap!"
Dilihat-lihat, pupil Shin Jun-hee pun sudah melebar, sepertinya dia juga ikut mabuk. Im Woo-hyun mendecakkan lidah dan menatap So Jeong-seo yang menggerutu dengan sepatu yang setengah terlepas karena dipaksa. Karena terlalu marah, ekor cokelatnya mencuat keluar dan bergoyang-goyang kasar ke kiri dan kanan.
"Kenapa kau memperlakukan anak orang seperti menangkap tikus?"
Im Woo-hyun menepis tangan Shin Jun-hee yang masih memegang kerah Jeong-seo dengan kasar, seolah sedang membersihkan debu. Shin Jun-hee menjawab dengan enteng, "Musang akan menghancurkan tanganmu kalau tidak dipegang erat di bagian tengkuknya!"
Im Woo-hyun, yang tidak tahu cara bertahan hidup ala Shin Jun-hee yang tumbuh besar bersama musang buas, hanya mendelik dan menyuruhnya berhenti bicara omong kosong. Setelah berhasil menenangkan So Jeong-seo dan mendudukkannya, mereka mulai mengemasi barang. Kelompok pun terbagi antara mereka yang ingin lanjut bermain dan mereka yang ingin pulang.
"Jun-hee, apa kau tahu di mana rumah Jeong-seo……."
"Shin Jun-hee, mau mati kau?"
Saat senior yang merasa bersalah membiarkan So Jeong-seo pulang sendirian hendak bertanya pada temannya, Shin Jun-hee, tiba-tiba Nam Seung-ho muncul entah dari mana dengan wajah garang dan mencengkeram lengan Shin Jun-hee.
"Hari ini, sialan, kubilang aku ada urusan, kan?"
"N-Nam Seung-ho, kenapa kau ada di sini, dan bukankah kau bilang kau ada urusan, kapan……?"
"Dasar gila, kau berani mengabaikan pesanku?"
Tanpa memedulikan senior di sekitar, Nam Seung-ho menyeret Shin Jun-hee yang wajahnya pucat pasi keluar ruangan. Orang-orang yang bingung hanya bisa menatap pemandangan itu sampai salah satu dari mereka bersuara, "Ah, Nam Seung-ho! Itu dia. Musang yang masuk lewat jalur prestasi renang, katanya dia hebat sekali berenang."
Mendengar kata "musang", Jeong-seo menoleh ke arah senior wanita yang bicara tadi. Jeong-seo sendiri sebenarnya cukup jago berenang, tapi ia tidak menyangka itu sampai ke level prestasi. Meski ada mata kuliah renang, Jeong-seo belum pernah melihat Nam Seung-ho berenang karena mereka di kelas yang berbeda.
"Nam Seung-hyeo…… maksudku Ho, apa dia benar-benar jago berenang?"
"Katanya begitu. Sudahlah, Jeong-seo, aku akan panggilkan taksi saja, pakai itu saja untuk pulang."
"Tidak perlu! Rumahku dekat!"
Mendengar suaranya yang lantang, orang mengira ia sudah sadar dari mabuk, namun ekor cokelatnya masih terus bergerak-gerak di antara kedua kakinya. Im Woo-hyun menghela napas panjang dan mendekati So Jeong-seo.
"Di mana rumahmu? Aku akan mengantarmu sampai pertengahan jalan."
"Oh, Im Woo-hyun, ada angin apa? Apa dia punya niat jahat?"
Karena Im Woo-hyun biasanya adalah tipe orang yang suka menindas adik kelas, semua orang menatapnya dengan curiga. Wajah Im Woo-hyun memanas dan ia membentak, "Ah, omong kosong apa itu! Aku cuma lelah jadi sekalian pulang, cuma itu, lagipula……."
Teman-temannya yang lain sebagian besar adalah Beta sehingga tidak tahu bahwa So Jeong-seo adalah seorang Omega. Im Woo-hyun, yang juga memiliki karakteristik hewani, bukanlah sampah yang akan membocorkan karakter orang lain sembarangan. Meskipun dia adalah orang yang tidak peduli jika harus membiarkan Omega mabuk pulang sendirian, tapi So Jeong-seo…….
Im Woo-hyun menatap mata So Jeong-seo yang mendongak menatapnya. Meski ia tidak suka bagaimana anak yang lebih kecil dan lebih muda darinya ini sering kali keras kepala, akhir-akhir ini dia tidak lagi bertindak kurang ajar dan justru bersikap cukup ramah padanya.
Berbeda dengan mahasiswa baru lainnya yang bahkan tidak berani menatap matanya atau menunjukkan sikap tidak suka. Jangan-jangan dia diam-diam……. Im Woo-hyun memalingkan wajahnya dengan cepat. Dadanya terasa sesak.
Im Woo-hyun tidak tahu bahwa standar Jeong-seo membagi manusia hanyalah "orang jahat (Kim Woo-sik)" dan "orang baik", dan dia selalu bersikap ramah kepada siapa pun yang tidak masuk dalam kategori orang jahat.
"Dan lagi, apa, kenapa berhenti bicara? Apa yang sebenarnya kau pikirkan?"
Im Woo-hyun yang memotong kalimatnya sendiri dan menghindari tatapan So Jeong-seo membuat teman-temannya semakin curiga. Im Woo-hyun kembali membentak, "Ah, ada hal yang tidak perlu kalian tahu!"
Lagipula, entah kenapa aroma feromon So Jeong-seo terasa lebih pekat hari ini.
Meskipun masih jauh lebih lemah dibandingkan orang lain, siapa pun Alpha dominan yang lewat di jalan pasti akan langsung menyadarinya. Im Woo-hyun terus mencari-cari alasan logis untuk membenarkan tindakannya mengantar So Jeong-seo pulang. Namun, bahkan dia sendiri tidak tahu apa alasan sebenarnya.
"Hei, ayo jalan."
"Sebenarnya tidak perlu, aku bisa memanggil Yoon-tae!"
Im Woo-hyun menganggap perkataan So Jeong-seo hanyalah ocehan orang mabuk, ia menarik pergelangan tangan Jeong-seo dan membawanya keluar dari restoran.
"Siapa lagi itu Yoon-tae? Adikmu?"
"Bukan, dia, dia……."
So Jeong-seo tiba-tiba berhenti bicara dan sudut bibirnya bergerak-gerak. Saat melihat ekspresi yang samar-samar tampak seperti menahan senyum itu, Im Woo-hyun diselimuti firasat buruk.
Tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depan restoran. Saat seorang pria bertubuh besar turun dari sana, pandangan mereka berdua secara alami beralih ke arah pria itu.
"So Jeong-seo."
Suara yang sangat rendah, persis dengan suara yang didengarnya lewat telepon tadi. Im Woo-hyun langsung sadar bahwa itulah si "Kucing Hitam". Ia mendadak tegang menghadapi sosok yang bertubuh jauh lebih besar darinya itu. Im Woo-hyun merasa sesak napas dan ingin bertanya pada Jeong-seo, namun tidak ada waktu lagi.
Jeong-seo tersenyum sangat cerah, melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Im Woo-hyun, dan berseru, "Yoon-tae!"
Secara bersamaan, aroma kakao yang pekat menyebar ke udara, dengan intensitas yang tak bisa dibandingkan dengan apa pun sebelumnya. Im Woo-hyun tersentak dan menutup hidung serta mulutnya, sementara wajah Pyo Yoon-tae membeku dingin. Meski begitu, ia dengan lembut menyambut tubuh Jeong-seo yang melompat ke pelukannya.
"Kau bilang…… akan pulang lebih awal, Jeong-seo."
"Maaf, maaf, aku sebenarnya berniat begitu, tapi aku terus kalah dalam permainan……."
Pyo Yoon-tae menatap Jeong-seo yang berbicara melantur, lalu mengulurkan tangan dan mencengkeram pergelangan tangan Jeong-seo. Tepat di bagian yang tadi digenggam oleh Im Woo-hyun. Seolah ingin menghapus sesuatu yang kotor, Pyo Yoon-tae mengusap kulit putih itu dengan kasar sambil menatap tajam ke arah Im Woo-hyun.
Mungkin karena pantulan cahaya di depan restoran, mata kuningnya tampak berkilat tajam, membuat Im Woo-hyun tanpa sadar memundurkan langkah dan memalingkan wajah.
"Kalau begitu, sekarang sudah selesai, kan, Jeong-seo?"
Meski berbicara pada Jeong-seo, Pyo Yoon-tae tidak sedetik pun mengalihkan pandangannya dari Im Woo-hyun. Im Woo-hyun merasa bulu kuduknya berdiri. Meskipun ia tidak melakukan kesalahan apa pun, instingnya menjerit bahwa ia akan berada dalam masalah besar jika berani menantang pria bernama Yoon-tae itu.
"Eung, aku baru saja mau meneleponmu, bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini? Ajaib sekali."
Di tengah atmosfer yang begitu mencekam, So Jeong-seo justru asyik mengobrol dengan ceria dalam pelukan pria itu. Tak lama kemudian, Jeong-seo dan Pyo Yoon-tae masuk ke dalam taksi dan pergi, baru saat itulah Im Woo-hyun melepaskan napas yang tertahan di dadanya.
"Sial…… apa-apaan itu."
Im Woo-hyun langsung tahu siapa pria bertubuh besar dan hitam itu. Pasti dia kekasih So Jeong-seo. Melihat sikap Jeong-seo yang langsung menghambur ke pelukannya, dan tatapan mematikan pria itu seolah sedang menegaskan "milikku", siapa pun pasti bisa menyadarinya.
Sebenarnya…… ia tidak menyukai So Jeong-seo, tapi entah mengapa mulutnya terasa pahit. Saat ia sedang menggaruk-garuk kepalanya dengan kesal di depan restoran, teman-temannya yang lain keluar.
"Lho? Bukannya tadi kau bilang mau mengantar So Jeong-seo? Apa dia pulang sendiri?"
"Ah, entahlah. Ayo, aku ikut kalian."
"Ditolak ya? Hei, dengar, si Im Woo-hyun ditolak!"
"Tentu saja, kalau aku jadi dia pun, aku akan sangat membenci Im Woo-hyun."
Im Woo-hyun memaki-maki mereka, sementara teman-temannya tertawa dan melanjutkan perjalanan ke tempat karaoke.
***
Begitu mereka turun dari taksi di depan apartemen, Pyo Yoon-tae tetap membisu sepanjang jalan, barulah Jeong-seo sadar bahwa pria itu benar-benar marah besar.
"Yoon……."
"Masuk rumah dulu."
Pyo Yoon-tae memotong kalimat Jeong-seo dengan tegas dan melangkah masuk ke dalam rumah Jeong-seo. Begitu pintu tertutup dengan suara buk, Jeong-seo melirik ke sana kemari dengan cemas, namun Pyo Yoon-tae langsung berkata,
"So Jeong-seo, kau sedang mengalami heat sekarang."
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 105
1.626 kata
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 105
My Donation
Dukung translator
senjanity • Predator Alert / Beast Alert!
Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.
Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.