Jeong-seo berhenti di depan pintu masuk dan menoleh ke belakang. Pyo Yoon-tae masih berdiri bersandar di pintu tanpa melepas sepatunya, menatap Jeong-seo dengan tenang. Heat? Padahal masih ada waktu sampai tanggal perkiraan masa heat-nya tiba.
"Heat, katamu……?"
Jeong-seo memiringkan kepalanya, lalu mendekatkan pergelangan tangannya ke hidung. Sesaat kemudian, kelopak matanya bergetar hebat. Ia baru menyadari bahwa feromonnya sedang mengalir deras keluar.
Biasanya, orang-orang dengan suin tidak terlalu peka terhadap feromon mereka sendiri, dan mungkin karena pengaruh alkohol, ia jadi tidak menyadarinya sama sekali. Feromonnya keluar cukup pekat; jika dalam kondisi normal, ia pasti sudah langsung menyadarinya. Ia bahkan tidak akan mengira bahwa rasa panas di tubuhnya adalah efek alkohol.
Begitu ia menyadarinya, hawa panas seketika menjalar ke seluruh tubuh dan bagian dalam perutnya mulai terasa geli. Napasnya mulai memburu, membuat Jeong-seo menatap Pyo Yoon-tae dengan mata yang berkabut. Aroma cokelat Pyo Yoon-tae yang tadi sudah cukup pekat, kini terasa menyerbu dan bahkan terasa menindas bagi Pyo Yoon-tae sendiri.
Feromon yang manis itu menempel pekat di tenggorokan dan paru-parunya, membuat dadanya terasa geli hingga menusuk. Pyo Yoon-tae akhirnya tidak tahan dan mengembuskan napas panas, lalu menutup hidung dan mulutnya dengan tangan.
Tadinya ia ingin bertanya, kenapa tadi Jeong-seo membiarkan pergelangan tangannya dipegang oleh Alpha bajingan itu sambil bersikap manja? Ia ingin mendengar alasannya sekarang juga, tapi ia sadar ini bukan saat yang tepat. Pyo Yoon-tae menggigit bagian dalam pipinya hingga berdarah lalu berkata,
"Untuk saat ini…… minum obatmu, Jeong-seo, dan istirahatlah. Kalau butuh sesuatu, telepon atau kirim pesan saja, nanti akan kutaruh di gagang pintu."
Terlebih lagi, Pyo Yoon-tae sendiri pun kesulitan menjaga akal sehatnya setelah terpapar feromon So Jeong-seo sebanyak ini. Beberapa hari lalu, ia sempat berpikir untuk menghabiskan masa rut-nya bersama So Jeong-seo. Namun, situasi mendadak seperti ini sama sekali tidak masuk dalam rencananya.
Mereka memang pernah melakukan kontak fisik yang intim, tapi Pyo Yoon-tae belum pernah melakukan penetrasi. Selain karena Jeong-seo masih perawan, Pyo Yoon-tae pun sama; ada rasa takut dan khawatir, sehingga ia ingin melakukannya setelah benar-benar siap.
Meski ia tahu rasa sakit saat penetrasi pertama tak terelakkan, ia ingin melakukannya selembut mungkin agar Jeong-seo merasa nyaman dan senang. Namun, jika ia melakukannya saat feromon So Jeong-seo sedang meleleh pekat seperti ini, ia pasti tidak akan bisa menahan diri.
Bahkan saat hanya menggunakan jari, rasanya sudah sangat nikmat hingga membuat merinding. Pyo Yoon-tae menelan ludah membayangkan imajinasi liar yang muncul tanpa diundang. Bagian bawah tubuhnya sudah terasa nyeri karena tertahan gairah.
Benar, aku tidak boleh tinggal di sini lebih lama lagi.
Karena ini adalah feromon So Jeong-seo, Pyo Yoon-tae yakin ia pasti akan langsung bereaksi dan ikut mengalami masa birahi terlepas dari kapan masa rut-nya yang sebenarnya. Setelah keheningan yang panjang, Pyo Yoon-tae berbalik dengan langkah berat dan saat tangannya meraih gagang pintu—
"Yoon-tae, jangan pergi."
Suaranya rendah, namun terdengar begitu jelas seolah-olah volumenya diputar maksimal. Cengkeraman tangan Pyo Yoon-tae pada gagang pintu menguat hingga telapak tangannya memucat. Meski ia terus meyakinkan diri bahwa ini tidak boleh terjadi, ia terjebak dalam pergulatan batin yang hebat.
Tanpa berani menoleh, Pyo Yoon-tae mematung hingga Jeong-seo mendekat dari belakang.
Jeong-seo, dengan wajah putih yang kini memerah padam, menarik pergelangan tangannya. Semakin dekat jarak mereka, aromanya semakin pekat. Pupil hitam di dalam iris kuning Jeong-seo melebar lalu menyempit.
"……Tidak boleh, Jeong-seo. Kau sedang heat."
"Kenapa tidak boleh?"
Pyo Yoon-tae mengembuskan napas panjang dan menoleh, tatapan mereka pun terkunci. Mata cokelat Jeong-seo tampak lebih bulat dari biasanya, menatap Pyo Yoon-tae dengan sangat memohon.
Gila, Pyo Yoon-tae mengumpat dalam hati lalu berkata,
"Aku saja sudah hampir kehilangan akal sekarang, Jeong-seo. Aku yakin aku akan menyakitimu……."
Melihat wajah Pyo Yoon-tae yang dipenuhi rasa frustrasi pada diri sendiri, Jeong-seo menjatuhkan tangannya. Saat rasa hangat yang tadi merambat di kulitnya menghilang, Pyo Yoon-tae hampir saja menahannya meskipun ia tahu itu adalah keputusan yang benar. Saat Pyo Yoon-tae hendak pergi mengabaikan rasa berat di hatinya, ia melepaskan gagang pintu karena merasakan sesuatu meraba bagian bawahnya.
"So Jeong-seo!"
Jeong-seo yang matanya tampak sayu berlutut dan mencengkeram celana Pyo Yoon-tae. Melihat tonjolan yang menegang karena feromon, Jeong-seo menunjukkan senyum samar dan membuka kancing celana jin Pyo Yoon-tae.
"Apa yang kau lakukan? Kubilang jangan."
Karena ini pertama kalinya So Jeong-seo bersikap seaktif ini, Pyo Yoon-tae tampak panik—sesuatu yang sangat tidak seperti dirinya—dan menahan kedua tangan Jeong-seo. Wajahnya merah padam dan detak jantungnya berpacu liar.
Saat Jeong-seo dicegah tepat sebelum menurunkan ritsletingnya, ia memajukan bibirnya dengan kesal, lalu menggosokkan pipinya ke tangan Pyo Yoon-tae yang sedang menggenggam tangannya. Bersamaan dengan itu, telinga cokelat Jeong-seo mencuat keluar, matanya yang bulat menatap tajam ke atas, lalu berkata,
"Aku ingin melakukannya……. Apa Yoon-tae tidak suka kalau aku bersikap begini?"
Titik kecil di bawah bibirnya yang sedang mengerucut itu ikut bergerak-gerak. Feromon yang semakin pekat dan manis untuk memikat Alpha, So Jeong-seo yang sedang bermanja di depan pusat gairahnya. Pyo Yoon-tae merasa otaknya seolah tenggelam dalam kabut, ia memejamkan mata rapat-rapat lalu membukanya kembali.
Cerpelai gila yang menggoda ini…….!
Pyo Yoon-tae akhirnya melepaskan tangan Jeong-seo, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, lalu bergumam frustrasi.
"……Aku sangat menyukaimu, Jeong-seo……."
Aku kalah. Ini memang sudah tidak bisa ditahan lagi.
Begitu kedua tangannya bebas, Jeong-seo segera menurunkan ritsleting celananya dengan wajah puas. Ziip, saat bagian depan celana itu terbuka, hawa panas dari balik celana dalam hitam itu langsung menyambut.
Jeong-seo menatap penis Pyo Yoon-tae yang menegang keras, lalu mendekatkan bibirnya. Saat ia menjulurkan lidah dan menjilatnya sekali, erangan tertahan yang menyerupai desahan lolos dari bibir Pyo Yoon-tae. Pria itu kini menutup mulutnya dengan satu tangan sambil menunduk menatap ke bawah.
Menggunakan lidah langsung, bukan tangan? Keberanian itu membuat Pyo Yoon-tae merasa lututnya lemas. Namun, di balik keberanian itu, gerakannya terasa sangat canggung. Lidahnya yang kecil dan berwarna kemerahan itu hanya menjilat-jilat asal di atas kain celana dalamnya.
Rasanya samar seperti sedang menjilat es krim soft-serve, namun stimulasi visualnya begitu intens hingga Pyo Yoon-tae hampir saja mencengkeram belakang kepala Jeong-seo dan menekan wajah pria itu kuat-kuat ke penisnya.
Tangannya yang berurat hanya bertengger hati-hati di puncak kepala Jeong-seo. Jeong-seo, dengan kelopak mata yang setengah tertutup, terus menjilat lalu menggesekkan bibirnya seolah sedang mencium. Setiap kali tekstur kasar kain celana dalam itu bergesekan dengan ujung penisnya, rasa merinding menjalar dari pipi hingga ke leher Pyo Yoon-tae.
Biasanya, saat feromon Pyo Yoon-tae keluar, aromanya terasa dingin dan tajam, namun saat ia mulai terangsang, aromanya berubah menjadi terasa lembap. Secara teknis feromon memang tidak memiliki kelembapan, namun saat ia menghirup aroma feromon Pyo Yoon-tae yang tengah terbakar gairah seperti sekarang, seluruh tubuhnya terasa ngilu dan basah kuyup.
Meskipun siklus heat-nya kini menjadi lebih panjang dan kuat dari sebelumnya, ia belum pernah merasakan gairah yang begitu menyiksa sampai ke titik ini. Pikirannya melayang, ia hanya ingin memiliki milik Pyo Yoon-tae yang ada di depannya.
Karena sudah menegang hingga batasnya, kontur penis itu terlihat sangat jelas dari balik kain. Jeong-seo menjilat panjang di sepanjang garis itu lalu menghisapnya. Seketika, tangan yang berada di atas kepalanya mencengkeram erat.
Seolah pria itu ingin mengatakan bahwa itu terasa nikmat, Jeong-seo berusaha menstimulasi bagian balik celana dalam itu sebisanya. Celana dalam hitam itu perlahan basah oleh cairan yang tidak tahu milik siapa, sementara rasa manis yang menyengat menyebar dari lidahnya.
"Haah……."
Padahal Jeong-seo sendiri belum mendapatkan stimulasi apa pun, tapi perut bagian bawahnya terus berkedut. Sesuatu di dalam perutnya terasa sangat gatal, dan area bawahnya sudah basah kuyup. Tak mampu menahan tubuhnya tetap diam, Jeong-seo terus mengencangkan dan melonggarkan otot pahanya, tubuhnya terus bergerak-gerak tidak tenang.
Gerakan mulutnya yang canggung kini menjadi lebih berani. Saat Jeong-seo menarik celana dalam itu ke bawah dengan tatapan mata yang seolah meminta lebih, Pyo Yoon-tae—yang sejak tadi terus mengamati setiap detail tindakan Jeong-seo seolah ingin mengukir pemandangan itu di retina matanya—akhirnya menyadari sesuatu.
Karena gairah yang memuncak, gigi Jeong-seo telah berubah menjadi sangat tajam.
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 106
1.378 kata
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 106
My Donation
Dukung translator
senjanity • Predator Alert / Beast Alert!
Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.
Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.