Melihat Pyo Yoon-tae yang biasanya begitu dominan kini tampak seperti pria yang tergila-gila pada kekasihnya, Ha-i-an merasa suasana hatinya jadi tidak enak. Meski sempat terbesit untuk pergi begitu saja, mereka sudah sampai di depan restoran. Pyo Yoon-tae membukakan pintu dengan sikap biasa saja, namun setelah melihat Ha-i-an, ia mengerutkan kening dan masuk duluan tanpa menunggu.
Ha-i-an mengikuti di belakang. Meski sebenarnya malas mendengarkan, karena dialah yang memulai percakapan tadi, ia terpaksa menjadi pendengar curhat.
"Kalau begitu, kenapa tidak kau larang saja dia pergi MT?"
"Mana bisa. Jeong-seo saja sangat bersemangat saat berkemas."
"Ya sudah, tunggu saja dengan tenang. Lagipula So Jeong-seo bukan tipe orang yang akan menanggapi orang yang berusaha mendekatinya. Dia saja tidak peka."
Pyo Yoon-tae terdiam karena perkataan itu ada benarnya. Di sela percakapan, seorang pelayan datang mencatat pesanan. Keduanya memesan tonkatsu porsi besar. Sembari menata alat makan, Pyo Yoon-tae tanpa sadar menuangkan air ke gelas Ha-i-an sebelum meletakkannya di depannya sendiri, persis seperti kebiasaannya memperlakukan Jeong-seo. Karena hanya Jeong-seo yang biasa ia layani, ia mulai menganggap orang lain sebagai Jeong-seo.
"Kau tidak percaya pada So Jeong-seo?"
Sepasang mata hitam legam menatap lurus ke arah Pyo Yoon-tae. Ha-i-an memang cerdas; setiap kali ia menatap seperti ini, Pyo Yoon-tae merasa seolah isi kepalanya sedang dibedah. Pyo Yoon-tae membuang muka dan meneguk airnya.
"Bukan begitu. Aku tahu Jeong-seo menyukaiku. Dia bukan tipe yang takut menunjukkan perasaannya."
……meski terkadang dia mencoba menyembunyikannya dengan cara yang aneh. Ha-i-an mendengarkan dengan serius.
"Lalu apa yang membuatmu khawatir?"
"Entahlah…… aku merasa Jeong-seo lebih santai dariku. Dia tidak terlalu memedulikan apa yang aku lakukan atau siapa teman-temanku. Malah, terkadang dia seolah ingin aku bergaul dengan orang lain selain dirinya……."
Saat mencurahkan isi hatinya, Pyo Yoon-tae teringat perkataannya sendiri kepada Jeong-seo setahun yang lalu:
〈Aku senang kau memikirkanku, tapi jangan merasa terbebani, Jeong-seo.〉
〈Belajarlah menyukaiku pelan-pelan, dan katakan padaku jika kau merasa sudah cukup. Kapan pun itu, aku akan menunggu.〉
Pyo Yoon-tae merasa dirinya menyedihkan karena setelah berkata begitu santai setahun lalu, kini ia justru bersikap seperti ini. Saat ia merenung, sepiring tonkatsu diletakkan di depannya. Ha-i-an, yang sedari tadi meliriknya, tertawa kecil sambil memotong dagingnya.
"Jadi maksudmu, kau tidak puas karena So Jeong-seo tidak menunjukkan obsesi atau rasa cemburu sebesar dirimu? Itu bukan kekhawatiran, itu cuma kau yang sedang merajuk sendirian. Dasar kau ini."
Pyo Yoon-tae merasa wajahnya memanas karena Ha-i-an menusuk tepat ke titik kelemahannya, namun ia tidak bisa membantah. Perkataan itu terasa seperti pukulan telak. Ia memang tidak sampai tidak khawatir, tapi benar kata Ha-i-an, ia merasa merajuk karena So Jeong-seo tidak memintanya untuk tidak pergi MT dan memilih bersamanya.
Ia tahu rasa posesifnya memang lebih besar dari milik Jeong-seo. Ia mengira bisa mengendalikannya karena rasa cintanya yang begitu dalam, tapi setiap menyangkut So Jeong-seo, kendali itu selalu lepas.
"……Aku benar-benar terlihat kekanak-kanakan ya."
"Kau memang dari dulu begitu. Kau jauh lebih kekanak-kanakan daripada So Jeong-seo, bahkan sejak SMA."
"……Mau mati kau?"
Pyo Yoon-tae mengarahkan pisau ke arah Ha-i-an dengan tatapan tajam, namun Ha-i-an mengabaikannya dengan santai sambil terus mengunyah makanannya. Setelah menghabiskan acar lobak, Ha-i-an melanjutkan,
"Ya, setiap orang punya cara mencintai yang berbeda. Dan So Jeong-seo sudah menunjukkan ke semua orang bahwa dia paling menyukaimu."
"Tentu saja, lihat betapa besar rasa suka Jeong-seo padaku."
Suasana hati Pyo Yoon-tae yang tadinya suram perlahan membaik. Jika hal itu keluar dari mulut Ha-i-an, berarti secara objektif pun memang terlihat demikian. Meski tidak meragukan perasaan Jeong-seo, mendengar konfirmasi dari orang lain tetap membuatnya senang.
Ha-i-an mengernyit melihat kepedean Pyo Yoon-tae, namun tetap memberikan saran, "Dan kalau kau tidak puas, bicaralah jujur pada So Jeong-seo. Dia bukan tipe yang akan memarahimu karena terlalu posesif; dia justru akan mendengarkanmu dengan serius. Kenapa kau pendam sendiri? Menyebalkan."
"Aku tidak bisa membebaninya hanya karena keserakahanku sendiri."
Ha-i-an menyipitkan mata. "Hei, apa kau menjalani hubungan ini sendirian? Kau menjalaninya berdua dengan So Jeong-seo. Wajar jika kau menaruh ekspektasi dan sedikit egois saat menyayangi seseorang."
Mata kuning Pyo Yoon-tae bergetar. Meski sulit diterima, ia merasa sedikit lega dengan kata-kata Ha-i-an. Pyo Yoon-tae merasa kesal karena tidak ingin mengakui itu, jadi ia berkata ketus, "……Kau sendiri tidak pernah pacaran, sok tahu sekali."
Ha-i-an menusuk potongan tonkatsu terakhir dengan garpu. "Meski tidak pacaran, itu adalah akal sehat. Berbeda dengan seseorang yang punya kepribadian buruk seperti kau."
Pyo Yoon-tae kesal, namun ia tidak membantah karena tahu Ha-i-an benar. Saat hampir selesai makan, ponselnya bergetar. Keduanya menoleh, dan di layar ponsel terpampang foto musang cokelat yang sedang tidur terlentang dengan nama kontak 'ㅇㅅㅇ'.
"Itu So Jeong-seo," ucap Ha-i-an datar.
"Ah, permisi."
Pyo Yoon-tae langsung berubah ceria saat menjawab telepon. "Ya, Jeong-seo-ya. Apa yang kau lakukan? Sudah makan?"
— Eung, aku sudah makan yang simpel saja, katanya nanti malam akan ada acara bakar daging! Yoon-tae, kelasmu sudah selesai?
Suaranya begitu nyaring hingga Ha-i-an bisa mendengarnya. Bayangan Jeong-seo yang berkemas dengan riang dan tertawa saat menelepon membuatnya merasa tidak tega untuk melarang pria itu pergi MT.
"Daging ya, terdengar enak. Kelasku dibatalkan tiba-tiba. Karena ada Ha-i-an yang lewat, aku makan bersamanya sekarang."
— Dengan Ha-i-an? Wah, aku iri! Lain kali aku juga ingin ikut!
Ha-i-an mencondongkan tubuh ke depan dan bicara keras ke arah ponsel itu, "So Jeong-seo, dengar, bukankah kau terlalu sibuk bermain dengan teman-teman barumu? Pyo Yoon-tae ini sedang merengek cemburu karena……."
"Tutup mulutmu."
Jeong-seo tampaknya dipanggil oleh seniornya di seberang sana. Pyo Yoon-tae menatap Ha-i-an dengan tatapan mematikan, sementara Ha-i-an hanya terkekeh. Tak lama kemudian, telepon terputus. Pyo Yoon-tae baru sadar akan sesuatu.
"Bagaimana kau tahu itu Jeong-seo?"
Kontak itu tidak menuliskan nama, apa jangan-jangan pria ini menghafal nomor So Jeong-seo? Pyo Yoon-tae menatap curiga, namun Ha-i-an menjawab santai, "Fotonya So Jeong-seo. Lagipula, siapa lagi orang yang kau simpan dengan nama 'ㅇㅅㅇ' selain dia?"
Pyo Yoon-tae yang hendak berjalan ke kasir mendadak berhenti.
"……Kau pernah melihat wujud asli So Jeong-seo?"
Wujud suin yang tidak pernah ditunjukkan pada sembarang orang? Pupil Pyo Yoon-tae bergetar. Apakah saat kelas 1? Tidak mungkin, saat itu Jeong-seo tidak dekat dengan siapa pun. Lalu kapan?
"Saat karyawisata kelas 2, kita satu kamar, kan? Hari berikutnya setelah mendaki Hallasan, So Jeong-seo kelelahan dan berubah menjadi musang saat tidur. Semua teman se-kamar melihatnya. Aku bingung kenapa mereka semua berkumpul di satu titik, ternyata karena itu……."
Ha-i-an memotong kalimatnya saat melihat tatapan Pyo Yoon-tae yang begitu mengintimidasi. Pyo Yoon-tae bertanya dengan suara berat, "Kau bilang semua orang melihat wujud musangnya……?"
Sial, aku keceplosan. Ha-i-an panik. "Bukan, maksudku, kita semua kelelahan setelah mendaki. Katanya bukan cuma So Jeong-seo yang berubah wujud di kamar lain. Tapi aku segera memungutnya dan memasukkannya ke kamar mandi jadi mereka tidak melihat terlalu lama."
Namun, Pyo Yoon-tae sepertinya sudah terlalu syok hingga ia membayar tagihan dan keluar tanpa berpamitan. Ha-i-an menggaruk pipinya dengan canggung, menatap punggung Pyo Yoon-tae yang berjalan lemas.
Memangnya itu sesuatu yang separah itu untuk membuat orang syok? pikir Ha-i-an bingung, tapi orang yang ditanyai sudah pergi.
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 110
1.259 kata
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 110
My Donation
Dukung translator
senjanity • Predator Alert / Beast Alert!
Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.
Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.