MT universitas itu, ternyata seru!
Jeong-seo tersenyum bangga sambil meletakkan sekotak minuman bersoda yang ia menangkan dari acara berburu harta karun tadi di sampingnya. Sesuai dengan latar belakang fakultas mereka yang isinya orang-orang atletis, seluruh rangkaian kegiatannya sangat aktif. Mungkin bisa dibilang acara ini adalah kompetisi olahraga mini khusus Fakultas Keolahragaan karena begitu banyak aktivitas fisik.
Jeong-seo cukup menonjol dalam berbagai kegiatan hingga ia mendapat banyak pujian dari para senior, yang membuatnya merasa sangat bangga. Nanti kalau pulang, aku harus pamer pada Pyo Yoon-tae, pikirnya. Saat ia sedang menatap kosong daging yang sedang dipanggang oleh seniornya, ponsel di dalam saku bergetar. Ada pesan dari Pyo Yoon-tae.
[Kucing Hitam: Jeong-seo, jangan berubah wujud jadi musang di sembarang tempat.]
Jeong-seo bingung apa maksudnya. Sambil memiringkan kepala, ia membalas dengan antusias, "Tidak akan! Aku sudah bisa menyembunyikan telinga dan ekorku dengan baik sekarang!!!" dengan banyak tanda seru. Lagipula, Jeong-seo tidak pernah berubah wujud kecuali di depan Pyo Yoon-tae atau keluarganya.
Suasana semakin meriah, dan pesta minuman pun semakin meluas. Shin Jun-hee tampaknya merasa malu karena mabuk terlalu berat terakhir kali, jadi ia minum dengan cukup tertib. Sedangkan Im Woo-hyun, entah kenapa, tidak bermain dengan yang lain dan hanya duduk tepat di seberang Jeong-seo sambil menatapnya tajam.
"Hyung, kenapa kau menatapku seperti itu dari tadi? Ada yang ingin kau katakan?"
Jeong-seo membuka kaleng minumannya dan menatap Im Woo-hyun. Pria itu menatapnya dengan pandangan tidak suka, lalu merendahkan suaranya dan berkata, "So Jeong-seo, kau, si hitam yang waktu itu……."
"Apa maksudmu?"
Karena suasana di sekitar sangat berisik, Jeong-seo mencondongkan tubuh ke depan. Begitu Jeong-seo mendekat, Im Woo-hyun mengerutkan kening dan menarik tubuhnya menjauh. Itu wajar saja, karena tubuh So Jeong-seo kini menebarkan aroma feromon Alpha. Meski tidak terlalu kuat, aromanya mengandung rasa posesif yang begitu pekat hingga terasa perih jika tersentuh sedikit saja di kulit.
Sepertinya itu hanyalah sisa aroma feromon setelah "mandi feromon" beberapa waktu lalu, namun jika intensitasnya masih sebesar ini, jelas pria yang menjadi pasangan So Jeong-seo adalah Alpha dominan yang luar biasa. Mungkin pria yang memberi tanda kepemilikan itu adalah bajingan yang sama. Pria bertubuh besar dan menyeramkan yang muncul dengan taksi waktu itu. Tanpa perlu bertanya lagi, pria itu pasti kekasihnya. Im Woo-hyun bersedekap dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
Jeong-seo bingung melihat sikapnya yang tiba-tiba menjaga jarak. "Ada apa?"
Melihat sikap Jeong-seo yang bertanya dengan polos sambil memancarkan aroma Alpha, Im Woo-hyun merasa kesal. Ia hampir saja mengeluarkan kata-kata kasar, namun akhirnya ia menahan diri. Dengan wajah yang kaku karena marah, ia berdiri dan meninggalkan tempat itu.
Jeong-seo dan Shin Jun-hee di sebelahnya pun bingung. "Jun-hee-ya, apa aku baru saja melakukan kesalahan?"
"……Tidak juga? Aku juga tidak tahu……."
Kenapa dia begitu? Jeong-seo merasa bingung, namun ia segera mengabaikannya dan mengambil sosis yang sudah matang. Tepat saat itu—
"Dasar sialan!"
Mendengar umpatan tajam, Jeong-seo menoleh ke arah sumber suara. Di sana, seorang pria yang kulitnya mulai ditumbuhi sisik reptil karena emosi sedang mencengkeram kerah baju Nam Seung-ho. Nam Seung-ho pun tak kalah marah; ekornya yang mengembang mencuat keluar dan bergoyang ke kiri dan kanan.
Namun, tidak seperti milik Jeong-seo, ekor Nam Seung-ho tampak lebih berbulu lebat dan ujungnya tidak berwarna hitam. Itu jelas bentuk yang sangat berbeda.
Saat Jeong-seo sedang memerhatikan ekor Nam Seung-ho, Shin Jun-hee di sebelahnya segera berlari menghampiri. "Hah, sial, dia berulah lagi."
Karena Nam Seung-ho adalah orang dengan kepribadian terburuk yang pernah ditemui Jeong-seo, keterlibatannya dalam perkelahian bukanlah hal aneh. Suasana di sekitar pun menjadi tegang, orang-orang mulai berbisik-bisik seolah akan terjadi baku hantam.
"Kenapa dia begitu?"
"Tidak tahu, katanya Nam Seung-ho duluan yang memaki senior."
"Ugh…… kenapa dia seperti itu? Aku jadi benci musang……."
Orang yang berbisik itu tak sengaja menoleh dan bertatapan dengan Jeong-seo. Itu adalah Park Do-young, teman seangkatan yang tahu bahwa Jeong-seo adalah seorang musang. Ia tersenyum canggung lalu mencoba beralasan, "Ah, ti-tidak. Kau kan beda. Kau tidak seperti musang pada umumnya? Maksudku, aku cuma heran kenapa Nam Seung-ho seperti itu."
Sebelum Jeong-seo sempat menjawab, Park Do-young bergegas pergi. Tidak seperti musang pada umumnya—melihat pandangan umum terhadap musang, mungkin itu dimaksudkan sebagai pujian.
Namun, entah karena ia belum pernah mendengar hal itu seumur hidupnya sampai masuk kuliah, Jeong-seo terus memikirkan kata-kata itu.
Tiba-tiba, ia berpikir, Apakah aku akan menjadi seperti mereka jika aku tumbuh besar dengan orang tua yang masih lengkap? Ia bahkan bertanya-tanya apakah orang tuanya dulu juga segarang itu.
***
MT berakhir, dan Jeong-seo baru sampai di rumah saat hari sudah sore. Karena Pyo Yoon-tae hanya ada kelas pagi di hari Jumat, Jeong-seo segera menekan bel rumah Pyo Yoon-tae setelah menaruh barang bawaannya. Tepatnya, pintu langsung terbuka bahkan sebelum ia menekan bel.
Pyo Yoon-tae segera menarik Jeong-seo masuk dan memeluknya erat. Pria itu menggesekkan wajahnya ke puncak kepala dan pipi Jeong-seo, membuat Jeong-seo tertawa geli.
"Apaan sih, Yoon-tae! Geli!"
"Tidak terjadi apa-apa, kan?"
"Ya tentu saja! MT sangat seru. Sayang kau tidak ikut."
"Buat apa aku ikut kalau kau tidak ada."
Mendengar suara pria itu yang meredup, Jeong-seo terdiam. Ia merasa bersalah karena bersenang-senang tanpa Pyo Yoon-tae.
Terlebih lagi, karena Pyo Yoon-tae akhirnya memang tidak ikut MT, Jeong-seo tidak tahu harus berkata apa dan hanya melirik ke arah Pyo Yoon-tae dengan cemas.
"A-aku juga merasa sedih karena kau tidak ada……!"
Mendengar alasan kikuk itu, Pyo Yoon-tae tertawa getir. Apa yang kuharapkan saat mengatakan ini? Melihat reaksi Pyo Yoon-tae, Jeong-seo semakin bingung, hingga pria itu sengaja tertawa kecil dan menekan pipi Jeong-seo dengan gemas.
"Lain kali kita ke Gapyeong bersama ya? Lagipula, aku memang tidak suka acara yang bergerombol seperti itu."
"Benarkah?"
"Ya, benar. Kau pasti lelah, mau tidur bersama? Besok kan kau harus pulang ke rumah orang tuamu lagi."
"Sedikit lelah, sih."
Begitu Jeong-seo melepas sepatu, Pyo Yoon-tae memunculkan telinga dan ekornya, lalu mengayunkannya pelan. Ekor hitam itu menepuk-nepuk paha Jeong-seo, membuat Jeong-seo tertawa kecil karena tingkah manja pria itu.
Melihat Pyo Yoon-tae dengan telinga macan kumbang hitam itu, ia benar-benar tampak seperti kucing hitam yang sangat menggemaskan.
***
Menjelang akhir April, Jeong-seo dan Pyo Yoon-tae sama-sama sedang sibuk menghadapi musim ujian tengah semester. Karena Jeong-seo berada di jurusan olahraga, porsi ujian praktiknya cukup besar, sehingga ia harus sering keluar untuk berlatih. Sejujurnya, ia memilih jurusan ini atas saran guru wali kelasnya agar bisa berkuliah di kampus yang sedekat mungkin dengan Pyo Yoon-tae, namun seiring berjalannya waktu, Jeong-seo menyadari bahwa minatnya ternyata memang di bidang ini.
Mata kuliah jurusannya tidak hanya sebatas praktik, tetapi teori-teorinya pun menarik. Jika dulu saat SMA ia selalu duduk di bangku paling belakang, di bangku kuliah ia justru hampir selalu duduk di barisan depan dan mendengarkan dengan penuh konsentrasi. Saat ini pun, Jeong-seo sedang belajar di rumah Pyo Yoon-tae tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia bahkan dengan teliti menghafal ulang catatan yang telah ia rangkum sendiri.
Pyo Yoon-tae, yang duduk di seberangnya, terus menatap Jeong-seo dengan lekat. Sudah 15 menit ia memperhatikan, namun Jeong-seo sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menyadarinya.
Pyo Yoon-tae menggerakkan ekor hitamnya di lantai sambil menopang dagu, terus mengamati Jeong-seo. Dulu, Jeong-seo sering bilang kalau ia tidak bisa belajar jika Pyo Yoon-tae ada di sampingnya, tapi sekarang, pria itu bahkan seolah tidak menyadari keberadaannya.
Pyo Yoon-tae sebenarnya ingin sekali menjahili atau menyentuhnya, namun ia menahan diri. Dulu Jeong-seo bahkan tidak bisa bertahan 10 menit tanpa berbaring malas, jadi melihatnya bisa berkonsentrasi seperti ini membuat Pyo Yoon-tae merasa bangga. Ia mengamati Jeong-seo dengan penuh minat, seperti seekor kucing yang sedang mengamati pemandangan dari balik jendela.
Jeong-seo yang sedang teliti menelusuri setiap kalimat dengan ujung bolpoin yang tidak ia keluarkan ujungnya, akhirnya menyadari tatapan yang tertuju padanya saat ia hendak membalik halaman catatan.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa, hanya saja kau terlihat sangat giat. Ujianmu selesai hari Jumat, kan?"
"Eung! Ujian Yoon-tae selesai hari Rabu, kan?"
Saat Pyo Yoon-tae mengangguk, Jeong-seo merebahkan tubuhnya di atas meja dengan rasa iri, tangannya terulur ke arah pria itu. Saat ia menyentuh punggung tangan Pyo Yoon-tae yang putih, telinga cokelat Jeong-seo bergerak-gerak, lalu tiba-tiba ia bangkit dan mendekat ke arah Pyo Yoon-tae.
"Ayo istirahat sebentar."
Jeong-seo mengambil tempat di samping Pyo Yoon-tae, menyandarkan tubuhnya, dan mulai memainkan ekor hitam yang tergeletak di samping kaki Pyo Yoon-tae.
"Apa kau suka menyentuh ekorku?"
"Eung, ekor Yoon-tae halus, jadi aku suka."
Jeong-seo kemudian menarik ekornya sendiri dan meletakkannya bersisian dengan ekor hitam Pyo Yoon-tae. Warna, ketebalan, hingga tekstur bulu mereka benar-benar berbeda.
"Ah, omong-omong, apa aku pernah bilang kalau di jurusanku ada musang lain?"
"Kau pernah mengatakannya sebelumnya. Katamu dia langsung memaki saat melihatmu, kan?"
"Benar, tapi saat MT aku melihat ekornya, ternyata lebih lebat daripada milikku. Unik sekali."
"……Kau melihat ekornya?"
Ekor yang biasanya tidak pernah ditunjukkan kepada siapa pun……? Kening Pyo Yoon-tae sedikit berkerut.
"Eung, sepertinya dia sedang memancing keributan dengan senior. Jadi kulit senior itu berubah seperti kadal, dan musang itu juga mengeluarkan ekornya. Sepertinya mereka berdua sedang sangat marah."
"Ah."
Mendengar alasannya, Pyo Yoon-tae merasa bisa memakluminya. Ia pun mengendurkan kerutan di keningnya dan menimpali, "Begitu ya, pasti mereka sangat marah."
"Telinganya tidak muncul, jadi aku sedikit penasaran. Kalau aku memintanya menunjukkan, pasti dia tidak akan mau, ya? Sayang sekali, padahal aku ingin berteman karena itu pertama kalinya aku melihat musang lain. Tapi sepertinya Nam Seung-ho benar-benar membenciku."
Wajah Pyo Yoon-tae yang tadinya tampak santai langsung membeku seketika. Namun, Jeong-seo yang sedang asyik memainkan ekor tidak menyadari perubahan suasana itu.
***
"Apa cuma aku yang merasa ujiannya susah sekali?"
Begitu keluar dari ruang ujian, seorang mahasiswa mengeluh. Park Do-young di sampingnya ikut mengangguk setuju, namun Jeong-seo tidak banyak berkomentar karena baginya soal ujian tadi kurang lebih sudah sesuai dengan apa yang ia pelajari. Ia hanya merasa lega luar biasa karena ujian tengah semester pertamanya sebagai mahasiswa tingkat satu akhirnya selesai.
Saat Jeong-seo turun dari gedung dan hendak berpamitan karena berniat langsung pulang ke rumah, tiba-tiba—
"Jeong-seo-ya."
Mendengar suara yang familiar, ia menoleh dan mendapati Pyo Yoon-tae sedang melambai ke arahnya sambil tersenyum.
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 111
1.757 kata
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 111
My Donation
Dukung translator
senjanity • Predator Alert / Beast Alert!
Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.
Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.