Pyo Yoon-tae, yang biasanya hanya gemar mengenakan pakaian berwarna monokrom, entah kenapa kali ini memakai sweatshirt hijau tua dan celana jin. Penampilannya yang kasual tampak serasi dengan dedaunan musim semi yang mulai menghijau di kampus. Kemunculan Pyo Yoon-tae yang tak terduga membuat wajah Jeong-seo seketika cerah berseri-seri.
Bukan hanya Jeong-seo yang memandangi Pyo Yoon-tae. Teman-teman Jeong-seo yang berada di dekatnya pun menahan napas. Tinggi badan yang proporsional, wajah yang sangat tampan, serta kulit yang sedikit gelap memberikan kesan aura dominan yang aneh meski ia sedang tersenyum; beberapa orang bahkan sempat mengira ia adalah seorang aktor.
Saat mereka sedang menebak-nebak apa hubungan antara Jeong-seo dan pria tampan itu, Park Do-young menatap wajah Pyo Yoon-tae dengan saksama. Tepat ketika ia merasa wajah itu sangat familiar, Jeong-seo berseru riang sambil berlari ke arahnya.
"Yoon-tae! Tumben sekali kau datang ke sini!"
Mendengar nama "Yoon-tae", Park Do-young menutup mulutnya dengan tangan dan bergumam, "……Pyo Yoon-tae?"
Pyo Yoon-tae, putra kedua dari perusahaan besar Black Panther. Meskipun popularitasnya relatif lebih rendah dibanding kakak perempuannya, Pyo Seol-ah, Park Do-young tidak mungkin tidak mengenalnya. Bahkan, ia sudah mem-follow akun Instagram Pyo Yoon-tae.
Meskipun akun itu tak ubahnya akun hantu karena hampir tidak pernah mengunggah apa pun. Park Do-young merasa syok dan menatap bergantian antara Pyo Yoon-tae dan So Jeong-seo—seseorang yang selama ini ia kira hanyalah musang dengan kemampuan atletik yang lumayan—dengan mata yang tidak tenang.
Keduanya terlihat sangat akrab dan berbincang dengan ceria.
"Teman-teman, kalau begitu aku duluan ya! Sampai jumpa minggu depan!"
Jeong-seo melambaikan tangan, sementara Pyo Yoon-tae membungkukkan sedikit kepalanya kepada mereka sebelum berjalan menuju gerbang belakang kampus. Begitu keduanya menjauh, salah satu dari kelompok yang tadinya terdiam berkata dengan nada terpesona, "Sumpah, ganteng banget."
"Wah, dia aktor bukan? Apa ya? Model?"
Saat teman-teman yang belum menyadari identitas asli Pyo Yoon-tae sedang berbisik-bisik, Park Do-young berseru, "Itu Pyo Yoon-tae!"
Kecuali satu atau dua orang yang tetap tidak mengerti meski sudah mendengar namanya, semua orang menganga tak percaya.
"I-i-itu, Black Panther yang itu? Yang membuat kulkas di rumahku?"
Perusahaan Black Panther memang memiliki banyak anak cabang, namun bukan itu yang terpenting bagi mereka saat ini. Fakta bahwa pria yang baru saja lewat adalah pewaris generasi ketiga konglomerat adalah masalah besar.
"Gila……. Jangan-jangan Jeong-seo sebenarnya juga anak orang kaya? Apa aku baru saja berteman dengan anak orang kaya tanpa sadar?"
"Tidak mungkin, Ibu Jeong-seo katanya hanya seorang doktor. Tapi mereka terlihat akrab sekali…… jangan-jangan mereka pacaran……."
"Hei, jangan bicara yang tidak-tidak."
Park Do-young memotong pembicaraan, bersedekap, dan melambaikan tangan di udara. "Silsilah keluarga Black Panther itu semuanya terdiri dari Macan Kumbang. Sedangkan So Jeong-seo hanyalah seekor musang. Kau tahu sendiri seberapa ketat keluarga konglomerat menjaga citra mereka."
Beberapa orang tampak tidak sepenuhnya setuju dengan perkataan Park Do-young, namun mayoritas hanya mengangguk dan berkata, "Begitu ya," tanpa membantah lebih lanjut. Tidak ada satu pun yang tahu pasti hubungan antara So Jeong-seo dan Pyo Yoon-tae, dan perkataan Park Do-young memang terdengar logis bagi mereka.
Percakapan itu perlahan mereda hingga mereka berpisah jalan, namun hanya Park Do-young yang terus menatap lurus ke arah terakhir kalinya Jeong-seo dan Pyo Yoon-tae menghilang.
***
Ujian baru saja berakhir tepat pukul 12 siang, waktu makan siang. Karena cuaca yang cerah membuat mereka merasa sayang jika langsung pulang ke rumah, keduanya masuk ke sebuah kedai burger buatan sendiri yang baru saja buka. Lokasinya agak tersembunyi di sudut jalan, jauh dari keramaian kampus, sehingga tidak terlalu banyak orang di dalam.
Apalagi, tempat ini adalah restoran yang sedang jadi favorit Jeong-seo akhir-akhir ini. Daging patty-nya tebal dan penuh dengan sari daging, membuatnya merasa sangat bahagia setiap kali menikmatinya dalam satu suapan besar.
Jeong-seo memesan menu biasa: set double cheese burger ukuran large, sedangkan Pyo Yoon-tae memesan burger khas kedai tersebut dengan tambahan minuman.
"Karena tadi banyak berpikir, rasanya pencernaanku jadi sangat cepat," ucap Jeong-seo sambil memegang burger yang baru saja datang, mulutnya mulai meneteskan air liur. Padahal ia sudah sarapan, tapi mungkin karena terus-menerus memutar otak, perutnya sudah terasa lapar lagi. Ia pun menggigit burger itu dengan porsi besar. Melihat Jeong-seo mengunyah dengan pipi yang menggembung penuh, Pyo Yoon-tae tertawa kecil.
"Karena Jeong-seo sudah belajar keras. Menurutmu ujiannya tadi lancar?"
Jeong-seo mengangguk sambil menyeruput minumannya lewat sedotan.
"Syukurlah. Kau sudah belajar keras, jadi nilaimu pasti akan bagus. Oh ya, orang-orang yang bersamamu tadi itu temanmu?"
"Eung-eung, mereka teman sekelas. Semuanya baik!"
"Lalu musang yang bernama…… Nam Seung-ho itu, apa dia tadi ada di sana juga?"
Jeong-seo tidak mengerti mengapa Pyo Yoon-tae tiba-tiba menanyakan Nam Seung-ho. Apakah dia tertarik karena dia sesama musang? Apa karena itu dia datang mencarinya hari ini?
"Tidak, Nam Seung-ho biasanya sendirian atau sesekali bersama Jun-hee. Mata kuliah kami juga jarang yang sama, jadi jarang sekali bertemu di sekolah! Kenapa kau bertanya?"
Pyo Yoon-tae terdiam sejenak, lalu menggeleng seolah itu bukan hal penting, ia menarik sedotan dari minumannya dan meminumnya langsung.
"Hanya penasaran karena dia musang yang sama seperti Jeong-seo. Tidak ada maksud apa-apa."
"……Begitu rupanya."
Jeong-seo mengunyah kentang gorengnya dengan ekspresi yang tampak agak tidak puas. Sebelum Pyo Yoon-tae sempat bertanya ada apa, Jeong-seo sudah membuka mulut.
"Aku satu-satunya musang yang berubah menjadi putih!"
Itu adalah pernyataan yang tiba-tiba. Pyo Yoon-tae menatap Jeong-seo dengan wajah bingung sejenak, namun tak lama kemudian ia sadar apa maksud perkataan itu dan tertawa terbahak-bahak.
"Tentu saja, Jeong-seo yang paling keren."
Apa ini semacam jiwa kompetitif antar sesama musang? Pyo Yoon-tae mengusap dagu Jeong-seo dengan lembut, sementara Jeong-seo masih mempertahankan wajah merajuknya.
***
Selama akhir pekan, Jeong-seo tidak menyadari betapa tenang suasana di sekitarnya karena ia tidak tahu hasil dari apa yang terjadi saat Pyo Yoon-tae datang ke kampusnya dan bersikap akrab dengannya.
Senin pukul 09.45, saat Jeong-seo memasuki ruang kuliah, kondisinya berbeda dari hari-hari biasa. Sudah ada cukup banyak mahasiswa di dalam. Karena sebagian besar adalah orang-orang yang cukup akrab dengannya, mereka segera mengerumuni Jeong-seo begitu ia masuk, bahkan sebelum ia sempat melambai.
"Jeong-seo-ya, katanya kau akrab dengan Pyo Yoon-tae? Benarkah?"
"Bagaimana bisa kenal? Apa kalian sudah saling kenal dari dulu? Jangan-jangan kau sebenarnya anak orang kaya?"
Pupil mata Jeong-seo bergetar karena pertanyaan yang bertubi-tubi. Jadi Pyo Yoon-tae setenar itu ya, pikirnya baru menyadari. Jeong-seo menggaruk lehernya dengan bingung. Entah kenapa, ada sensasi merinding yang menyenangkan.
Ia mencoba menahan sudut bibirnya yang hendak melengkung naik, lalu menjawab, "Kami lulusan SMA yang sama! Kami selalu berada di kelas yang sama juga!"
"Benarkah? SMA mana katanya?"
"Aku dari SMA Dangang!"
Tidak ada yang tahu sekolah di daerah terpencil itu. Saat semua orang hanya bergumam bingung, Park Do-young berkata dengan lantang, "Ah. Sekolah itu."
Perhatian seketika beralih ke arah Park Do-young. "Kau tahu?"
"Tentu saja. Dulu ada berita yang bilang Pyo Yoon-tae pindah sekolah ke desa. Seingatku, itu di Kabupaten Dangang, Provinsi OO, bukan?"
Wah, sampai ada beritanya ya, Jeong-seo mengangguk kagum.
"Betul, Yoon-tae pindah ke sana di tengah tahun ajaran!"
"Ah……. Aaa! Aku juga pernah dengar samar-samar. Karena apa ya waktu itu?"
"Cinta perta……."
Park Do-young memotong ucapan Jeong-seo dan menjawab, "Katanya karena penyakit ibunya memburuk, jadi dia pindah ke sana sambil menemaninya memulihkan diri."
"Wah……. Karakternya luar biasa ya. Dunia ini tidak adil. Kemarin aku melihatnya, fisiknya benar-benar di level yang berbeda."
Jeong-seo merasa sedikit terganggu karena ucapannya dipotong oleh Park Do-young, tapi karena hasilnya Pyo Yoon-tae dipuji, ia memutuskan untuk tidak ambil pusing. Jeong-seo menegakkan bahunya dan berkata dengan bangga, "Benar! Yoon-tae punya kepribadian yang baik dan dia memang sangat tampan."
"Ini curang namanya……. Aku merasa sangat tidak berdaya."
"Apa yang membuatmu merasa tidak berdaya? Kau kan memang tidak punya apa-apa."
"Mau mati kau?"
Teman-temannya bercanda dan tertawa. Salah satu dari mereka yang masih terkejut dengan koneksi tak terduga Jeong-seo bertanya dengan hati-hati. Wajah mahasiswa yang bertanya itu tampak memerah samar.
"Kalau begitu, apa Pyo Yoon-tae sekarang sedang berpacaran dengan seseorang……?"
Tepat saat ekspresi Jeong-seo menjadi cerah dan ia hendak mengangguk, Park Do-young menyela, "Hei, bagaimana dia bisa tahu hal seperti itu? Apa kau pikir kita sama dengan Pyo Yoon-tae? Konglomerat sangat sensitif dengan privasi mereka, mana mungkin hal seperti itu disebarkan."
Mendengar kata-kata Park Do-young, Jeong-seo baru sadar bahwa ia memang belum pernah memberi tahu siapa pun secara resmi bahwa ia berpacaran dengan Pyo Yoon-tae. Ibunya tampak tahu dengan sendirinya, jadi Jeong-seo tidak perlu menjelaskan, bahkan Ha-i-an pun tidak ia beritahu.
Pyo Yoon-tae juga bukan tipe orang yang pamer secara terang-terangan, jadi Jeong-seo tiba-tiba ragu apakah ia boleh memberi tahu orang lain bahwa ia berpacaran dengannya.
"Apakah masalah siapa yang dipacari Yoon-tae itu sangat sensitif……?"
"Tentu saja. Lihat saja Pyo Seol-ah, identitas pacarnya langsung terbongkar dan rumor beredar ke mana-mana. Pyo Yoon-tae memang tidak aktif di media sosial, tapi lebih baik tidak ketahuan."
Kalau dipikir-pikir, Jeong-seo memang tidak tahu banyak tentang latar belakang keluarga Pyo Yoon-tae. Pria itu bukan selebriti; baginya, dia hanyalah teman sekelas, dan sekarang, kekasih yang sangat berharga.
Namun…… mungkin ada situasi di masing-masing keluarga yang harus dijaga, jadi Jeong-seo memutuskan untuk tidak sembarangan membocorkan hubungan mereka. Saat Jeong-seo sedang bergumul dengan pikirannya, Park Do-young mendorong orang di depan Jeong-seo dan menyodorkan ponselnya.
Ia dan Park Do-young sudah saling bertukar nomor telepon. Jeong-seo menatap ponsel itu dengan bingung, lalu Park Do-young berkata sambil tersenyum manis, "Boleh minta nomor telepon Pyo Yoon-tae?"
Seketika, keheningan dingin menyelimuti ruang kelas. Bahkan Jeong-seo, yang tadi tidak bereaksi apa-apa saat ucapannya dipotong, wajahnya kini mengeras. Shin Jun-hee di sampingnya segera menyadari situasi dan mendorong ponsel Park Do-young pelan.
"Tadi kau bilang konglomerat sensitif dengan privasi, kenapa kau malah minta nomornya……."
"Aku kenal Pyo Yoon-tae. Kita satu SMP dan SD, tahu?"
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 112
1.713 kata
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 112
My Donation
Dukung translator
senjanity • Predator Alert / Beast Alert!
Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.
Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.