"Pernah sekolah di tempat yang sama?"
Pyo Yoon-tae tidak pernah mengatakan hal itu padaku. Jeong-seo memiringkan kepalanya karena bingung, namun bagi Park Do-young, ekspresi itu tampak seolah Jeong-seo sedang menghinanya, sehingga ia mengerutkan kening dengan kesal.
"Aku satu SD dan satu SMP di Ihan dengannya. Di kelas satu SMA juga kami satu kelas……."
Setelah sibuk bicara sendiri, Park Do-young tiba-tiba menghela napas panjang. Ia menggelengkan kepala pelan lalu memainkan ponselnya.
"Terserahlah, kau juga tidak akan mengerti kalau aku jelaskan satu per satu. Lagipula, nomor ponselnya tiba-tiba berubah jadi kami putus kontak, untunglah sekarang ketemu. Beri tahu aku ya. Aku hanya senang karena sudah lama tidak bertemu."
Park Do-young bersikap seolah dia jauh lebih dekat dengan Pyo Yoon-tae daripada Jeong-seo. Jeong-seo memang tidak tahu banyak tentang kehidupan Pyo Yoon-tae sebelum ia pindah sekolah, karena mereka selalu bicara tentang masa kini atau masa depan.
Mungkin saja Park Do-young memang dekat dengan Pyo Yoon-tae di masa lalu, tapi saat ini, satu-satunya orang yang paling dekat dengan Pyo Yoon-tae adalah dirinya sendiri. Jeong-seo kini menatap Park Do-young lurus-lurus tanpa ekspresi.
"Tidak mau. Untuk apa aku memberimu nomor Yoon-tae sembarangan? Kalau kalian memang dekat, minta saja sendiri."
Mendengar nada bicara yang tegas itu, bahu Park Do-young tersentak. Menyadari suasana hati Jeong-seo yang bisa meledak kapan saja jika ia mendesak lebih jauh, Park Do-young mengedarkan pandangan ke sekitar lalu tertawa canggung.
"Ah, hei. Kenapa harus sejelas itu marah? Aku cuma senang karena sudah lama tidak bertemu. Ya sudah, kalau nanti Pyo Yoon-tae mampir ke sekolah kita lagi, kita makan bareng ya."
Park Do-young memang patuh menyimpan ponselnya, tetapi dengan sikap tidak tahu malu, ia terus berusaha mendekati Jeong-seo setiap ada kesempatan. Ia terus merengek tolong sekali saja, sekali saja, dan baru mundur setelah Jeong-seo berkata akan bertanya pada Yoon-tae terlebih dahulu.
Sepanjang hari itu, suasana hati Jeong-seo benar-benar buruk. Park Do-young yang biasanya tidak terlalu dekat terus berkeliaran di sampingnya, dan setiap kali Jeong-seo mencoba memeriksa ponselnya, pria itu terus mengintip dengan menjengkelkan.
Karena setiap kali dilarang ia langsung memasang wajah sedih dan meminta maaf, Jeong-seo tidak bisa memarahinya dengan keras. Meski awalnya terlihat tulus meminta maaf, ia akan mengulangi perbuatan yang sama, membuat Jeong-seo untuk pertama kalinya dalam hidupnya menyadari bahwa ada orang yang bisa membuatnya merasa begitu kesal secara aneh.
Ingin segera pulang, begitu kuliah selesai, Jeong-seo langsung berdiri dan berlari keluar kelas secepat mungkin agar tidak dikejar siapa pun. Saat Park Do-young ingin mengajaknya bicara, Jeong-seo sudah lenyap.
Begitu keluar dari area kampus, Jeong-seo segera menelepon Pyo Yoon-tae.
— Eung, Jeong-seo.
"Kau sudah di rumah, Yoon-tae?"
— Tidak, aku baru saja selesai berkonsultasi dengan profesor dan sedang dalam perjalanan pulang. Kau sendiri?
"Aku juga sedang dalam perjalanan pulang! Sudah hampir sampai!"
— Oh, aku juga su……
Mendengar suara dari belakang yang memanggil "Jeong-seo!", ia menghentikan langkah dan menoleh. Pyo Yoon-tae datang berlari ke arahnya. Dengan langkah panjangnya, Pyo Yoon-tae segera berdiri di samping Jeong-seo dan menggenggam tangannya secara alami.
"Waktunya pas sekali. Apa kelasmu selesai lebih awal hari ini?"
Jeong-seo melirik tangan besar yang terjalin di sela-sela jarinya, lalu menggeleng.
"Bukan begitu, tapi aku hanya ingin cepat-cepat meninggalkan sekolah!"
"Ingin cepat meninggalkan sekolah?"
Pyo Yoon-tae tidak bisa mengabaikan ucapan itu begitu saja, mengingat Jeong-seo biasanya selalu menikmati masa-masa kuliahnya.
Jangan-jangan ada orang lain yang merundungnya seperti Kim Woo-sik saat SMA dulu? Pyo Yoon-tae memperhatikan Jeong-seo dengan ekspresi serius. Kini setelah diperhatikan, ia merasa Jeong-seo tampak tidak berenergi hari ini.
"Ada apa, Jeong-seo?"
"Bukan masalah besar sih, tapi……."
Jeong-seo menghela napas panjang, lalu mendongak untuk menatap mata Pyo Yoon-tae.
"Apakah kita harus menyembunyikan hubungan kita?"
Karena pertanyaannya jauh dari kesan dirundung, Pyo Yoon-tae butuh waktu sejenak untuk memahami konteksnya. Lalu, ia teringat kunjungan ke kampus Jeong-seo minggu lalu. Sepertinya ada yang mengenalinya. Meskipun Pyo Yoon-tae bukanlah seorang selebriti atau influencer ternama, terkadang memang ada orang yang menaruh minat padanya.
Jika bukan itu, berarti ada orang yang mendekati Jeong-seo dan menanyakan apakah dia punya kekasih……. Pyo Yoon-tae melirik Jeong-seo. Jika itu yang terjadi, Jeong-seo pasti sudah menolaknya, jadi kemungkinan itu tidak mungkin.
Setelah menarik kesimpulan, Pyo Yoon-tae menyipitkan mata dengan jenaka dan sedikit menunduk.
"Kenapa? Apa ada yang bertanya kau berpacaran denganku?"
"Tidak, hanya saja katanya para konglomerat itu sangat sensitif soal kehidupan pribadi atau hubungan asmara, jadi mereka tidak akan pernah membicarakannya……. Aku takut kalau aku asal bicara, justru akan membahayakanmu……."
Pyo Yoon-tae merasa gemas sekaligus kasihan melihat Jeong-seo yang murung, membuat bibirnya sedikit gemetar. Perasaannya campur aduk; ia tidak tahu ekspresi apa yang harus ia tunjukkan. Ia menggenggam tangan Jeong-seo, meremasnya pelan, lalu mengangkatnya.
"Aku bukan selebriti, memangnya kenapa kalau aku berpacaran dengan siapa pun?"
"Begitu?"
Faktanya, jika melihat berita internet atau unggahan di komunitas kampus, bahkan hal-hal sepele dari seorang atlet atau anak konglomerat pun sering dibahas, meski mereka bukan selebriti. Itulah sebabnya pikiran Jeong-seo sempat goyah oleh perkataan Park Do-young. Kini, melihat sikap Pyo Yoon-tae yang masa bodoh, beban yang menggumpal di dadanya seolah terangkat seketika.
"Kalau aku harus menyembunyikannya," Pyo Yoon-tae memutar punggung tangan Jeong-seo yang ia pegang ke arah bibirnya dan mengecupnya ringan. "Aku tidak mungkin melakukan hal seperti ini di depan umum, kan?"
Di akhir kalimat, Pyo Yoon-tae menjilat punggung tangan Jeong-seo dengan ujung lidahnya, lalu menggesekkan tangannya ke pinggang Jeong-seo. Sensasi geli yang menggelitik membuat bulu kuduk Jeong-seo meremang, dan wajahnya seketika memerah padam. Ia segera menoleh ke sekitar. Beruntung, tidak ada orang di sana.
"Ke-kenapa kau lakukan itu di luar!"
"Itu bukan ciuman, memangnya kenapa?"
Ci-ciuman……. Berbeda dengan Jeong-seo yang malu, Pyo Yoon-tae tetap tenang.
"Pokoknya, kalau ada yang bertanya kau punya kekasih atau tidak, katakan saja kau berpacaran denganku. Boleh kau teriakkan ke siapa saja di jalanan juga tidak apa-apa."
"Eung!"
Akhirnya, beban pikiran terbesarnya hari ini hilang. Jeong-seo kembali melengkungkan bibir seperti biasanya dan berjalan bersisian dengan Pyo Yoon-tae dengan langkah lebar.
Saat hampir sampai di depan pintu masuk apartemen, Jeong-seo melontarkan satu pertanyaan terakhir yang sebenarnya tidak ingin ia tanyakan, tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya.
"Tapi, Yoon-tae-ya. Apa kau kenal anak bernama Park Do-young?"
Saat masuk ke lift, Pyo Yoon-tae mengerutkan kening dan bergumam, "Park Do-young." Keningnya berkerut dan terbuka beberapa kali sebelum menjawab, "Rasanya pernah dengar namanya, tapi tidak begitu kenal. Kenapa?"
"Dia teman seangkatan, katanya dia kenal kau. Katanya kalian satu SD dan SMP. Sekolah mana ya……."
"SD Ihan, SMP Ihan?"
"Huk, benar!"
Ternyata benar mereka satu sekolah, pikir Jeong-seo. Tadinya ia sempat mengira Park Do-young berbohong. Namun melihat Pyo Yoon-tae tidak begitu ingat, berarti mereka tidak akrab. Jadi, Jeong-seo memutuskan untuk tidak menceritakan soal Park Do-young yang memintanya bertukar nomor atau mengajak makan bareng. Ia juga tidak ingin membicarakannya.
Pintu lift terbuka. Pyo Yoon-tae tampak berpikir keras sambil memainkan ponselnya. Ia tidak begitu kenal siapa Park Do-young, tapi ada perasaan deja vu yang mengganggunya. Ia membuka situs web SMP-nya dan memeriksa galeri foto tahun kelulusannya, namun tidak ada wajah yang familiar.
"Yoon-tae, apa yang kau lakukan?"
Pyo Yoon-tae berhenti melangkah setelah keluar dari lift. Saat hendak mematikan ponselnya, sebuah wajah di unggahan terakhir halaman itu tertangkap pandangannya. Pyo Yoon-tae mengerutkan kening dan menyentuh layar itu. Jeong-seo yang penasaran mengintip dan saat melihat orang di foto itu, ia berseru,
"Ah, ini dia Park Do-young!"
Pyo Yoon-tae akhirnya ingat. Siapa Park Do-young itu—seorang atlet lari dari klub atletik yang sering memenangkan penghargaan saat SMP dan pria yang selalu mengikutinya dengan menjengkelkan.
"……Jeong-seo, apa dia cuma bilang dia kenal aku?"
Mendengar nada suara Pyo Yoon-tae yang merendah, Jeong-seo melirik dengan cemas lalu akhirnya terpaksa jujur.
"Itu…… dia minta nomormu, terus minta makan bersama kalau kau datang lagi……. Tapi aku bilang aku tidak mau memberinya nomor……!"
"Kasih saja, kasih nomornya."
"……Eh?"
Mendengar jawaban tak terduga itu, mata Jeong-seo membelalak. Pyo Yoon-tae berkata dengan tegas, "Kasih saja nomor ponselku padanya."
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 113
1.386 kata
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 113
My Donation
Dukung translator
senjanity • Predator Alert / Beast Alert!
Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.
Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.