Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 114

Jeong-seo menatap Pyo Yoon-tae dengan tatapan tidak mengerti. Ia tidak menyangka pria itu justru memintanya memberikan nomor teleponnya. Pyo Yoon-tae tampak sedikit canggung, mengusap bagian belakang kepalanya, lalu mengajak Jeong-seo masuk ke dalam rumah agar mereka bisa bicara dengan tenang.
"Aku benar-benar lupa, tapi begitu melihat wajahnya, aku jadi ingat siapa dia."
Jeong-seo, yang sudah melepas sepatu, berbalik menatapnya.
"……Siapa dia?"
"Sejak SMP, dia selalu berusaha mendekat dan menggangguku. Dia bahkan mengikuti ke SMA yang sama, dan meski sudah kuabaikan, dia tetap saja menyebalkan……."
Pyo Yoon-tae tidak bisa melanjutkan kata-katanya dengan lancar. Ia mengusap pelipisnya dengan jari tengah, sambil sesekali melirik reaksi Jeong-seo. Ia tampak enggan menceritakan lebih jauh, namun kali ini Jeong-seo tidak bisa membiarkannya begitu saja. Jeong-seo terus menatap Pyo Yoon-tae dengan lekat.
"Lalu?"
"……Aku menyiram wajahnya dengan air."
Mulut Jeong-seo perlahan terbuka lebar.
Menyiram wajah orang dengan air—itu terasa berlebihan, tapi memikirkan sifat Pyo Yoon-tae, ia bersyukur pria itu tidak sampai memukulnya. Apalagi karena lawannya adalah Park Do-young…… Jeong-seo justru merasa ada kepuasan aneh di dalam hatinya.
Saat Jeong-seo hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa, Pyo Yoon-tae buru-buru membela diri.
"Aku sedang minum, tapi orang gila itu tiba-tiba muncul dan menepuk punggungku. Aku langsung marah dan menyiramkan semua air di dalam botol minumku ke wajahnya."
Pyo Yoon-tae tampak malu dengan tindakan masa lalunya, tapi ia tetap mencoba membela diri di hadapan Jeong-seo, "Aku bahkan sudah menahan diri agar tidak menghantamkan botol itu ke kepalanya," ujarnya dengan nada tidak terima. Jeong-seo akhirnya tertawa dan menepuk lengan Pyo Yoon-tae pelan.
Pyo Yoon-tae menatap Jeong-seo dengan tidak puas, lalu mencengkeram bahunya dan membungkuk.
"Pokoknya, Jeong-seo. Anak itu benar-benar sangat gigih, jadi kasih saja nomornya. Kalau dia menghubungiku, biar aku yang menyelesaikannya. Aku lebih benci kalau dia terus menempel pada Jeong-seo."
Namun, di luar dugaan Pyo Yoon-tae yang mengira Jeong-seo akan langsung setuju, Jeong-seo justru ragu. Setelah menatap Pyo Yoon-tae sejenak, ia tersenyum lebar dan berkata,
"Tidak! Biar aku saja yang mengurusnya!"
Awalnya ia merasa kesal kenapa Pyo Yoon-tae memintanya memberikan nomor itu, tapi jika alasannya seperti ini, justru semakin membuatnya tidak ingin memberikan nomor Pyo Yoon-tae kepada Park Do-young. Sama seperti Pyo Yoon-tae yang tidak suka jika Park Do-young menempel padanya, Jeong-seo juga merasakan hal yang sama.
Lagipula, sekarang setelah ia tahu bahwa ia tidak perlu lagi merahasiakan hubungan mereka, Jeong-seo punya alasan yang sangat kuat untuk menolak Park Do-young.
"Jeong-seo, lebih mudah kalau aku yang mengurusnya……."
"Tidak, biar aku saja yang tangani!"
Nada bicaranya yang tegas seolah membuat garis batas agar Pyo Yoon-tae tidak perlu mencampuri urusan itu lagi. Pyo Yoon-tae sulit menerima tindakan Jeong-seo, padahal menurutnya akan lebih mudah jika ia yang turun tangan. Tapi, akhirnya ia hanya bisa mengangguk pasrah.
Mungkin dia melakukan ini karena tidak tahu seberapa gigih Park Do-young, pikir Pyo Yoon-tae. Pria itu adalah tipe yang tetap bisa menyapa dengan santai keesokan harinya bahkan setelah disiram air.
Perasaan tidak enak mulai menyusup di hati Pyo Yoon-tae; ia khawatir jika Park Do-young yang awalnya mendekat demi mendapatkan nomor teleponnya, justru akan mengalihkan sasarannya kepada So Jeong-seo.
Melihat ekspresi Pyo Yoon-tae yang cemberut, Jeong-seo hanya tersenyum dan mengusap pipi pria itu dengan lembut, seolah ingin mengatakan agar ia tidak perlu khawatir.
***
Pukul 6.40 malam, waktu sibuk makan malam membuat restoran di dekat kampus dipenuhi orang. Ketiganya memutuskan keluar dari area kampus dan pergi ke sebuah tempat makan yang juga menjual minuman di tempat yang agak jauh dari pusat keramaian. Meski tidak benar-benar kosong, tempat ini jauh lebih tenang dibandingkan restoran lainnya.
"Lama tidak bertemu, Ha-i-an. Tapi kau terlihat agak kurus."
Ini adalah pertemuan pertama mereka sejak pembukaan semester, sekitar dua bulan lalu. Jeong-seo memeriksa wajah Ha-i-an yang tampak memiliki lingkaran hitam di bawah mata yang cukup pekat. Ha-ian menghela napas panjang dan meneguk yuzu highball-nya.
"Ya……. Bukan apa-apa. Hanya saja, aku mengajar les privat dan…… sial sekali rasanya."
"Ah, benar! Kau bilang kau mengajar les, kan? Apa mengajar itu sulit? Dulu saat kau mengajariku, kau sangat mudah dimengerti."
"Masalahnya bukan bisa mengajar atau tidak, tapi anak itu gila……. Ah, sudahlah. Lupakan saja, percuma mengumpat."
Ha-i-an bergumam dengan nada menyalahkan diri sendiri sambil memakan pancake kentang bacon keju yang baru saja disajikan. Padahal beberapa minggu lalu, dia membanggakan diri karena mendapatkan murid privat yang sangat bagus. Jeong-seo hanya bisa merasa kasihan melihat Ha-i-an.
Pyo Yoon-tae yang duduk di sebelah Jeong-seo tidak peduli dengan keluhan Ha-i-an, ia sibuk menyendokkan udon kimchi ke mangkuk Jeong-seo.
"Lagipula, bagaimana dengan sekolahmu, So Jeong-seo? Kudengar banyak anak bertubuh besar dan kasar di sana."
"Benar, ada senior yang tinggi badannya bahkan melebihi Yoon-tae. Katanya dia suin jerapah. Lehernya sangat tebal, paha-nya juga sangat kekar."
Pyo Yoon-tae yang diam mendengarkan langsung menatap Jeong-seo dengan tajam. "……Kau memerhatikannya dengan detail sekali ya, Jeong-seo," gumamnya. Ha-i-an tertawa kecil melihat tingkah itu.
"Suin jerapah katanya punya kekuatan leher yang bagus. Aku sendiri belum pernah melihatnya secara langsung."
Suin jerapah punya kekuatan leher yang bagus. Jeong-seo tanpa sadar mengulang kata-kata itu di dalam hati. Ia terdiam sejenak seolah sedang berpikir, lalu bibirnya bergerak-gerak, namun tidak ada kata yang keluar. Pyo Yoon-tae yang menyadarinya segera bertanya.
"Ada yang ingin kau katakan, Jeong-seo?"
Jeong-seo menatap Ha-i-an dan Pyo Yoon-tae bergantian sebelum meletakkan sumpitnya.
"Pernahkah kalian dengar orang bilang bahwa kalian tidak terlihat seperti suin hamster atau suin macan kumbang pada umumnya?"
Pyo Yoon-tae yang tidak menyangka pertanyaan itu akan muncul, melirik Ha-i-an dan bertukar pandang.
"Siapa yang bilang Jeong-seo tidak terlihat seperti suin musang?"
"Eung, bukan cuma satu atau dua orang, tapi hampir semuanya berpikir begitu. Hari pertama sekolah pun, selain satu senior, yang lain kaget saat tahu aku seekor musang."
"Memangnya mereka sendiri musang? Abaikan saja apa pun yang mereka pikirkan, Jeong-seo."
"Benar, lagipula mereka mungkin tidak bermaksud buruk."
Ha-i-an setuju dengan pendapat Pyo Yoon-tae. Seperti kata mereka, mungkin itu hanya komentar sepele. Tapi bagi Jeong-seo, rasanya berbeda. Karena terus-menerus mendengarnya, meskipun ia mencoba untuk tidak peduli, kata-kata itu terus menetap di sudut hatinya.
Terlebih lagi, ada contoh sempurna tentang apa itu "musang" di dekatnya, yang membuatnya semakin merasa demikian.
"Memang begitu, tapi di jurusanku ada musang lain. Saat mereka bilang 'aku benci musang karena dia seperti itu', aku jadi sering kepikiran. Aku juga musang, jadi kenapa reaksi mereka bukan 'oh, ternyata ada musang sepertimu', tapi malah 'kau tidak terlihat seperti musang'?"
Jeong-seo tampak semakin murung saat menceritakan hal ini, seolah tekanan itu lebih besar dari yang terlihat.
"Sebenarnya aku tahu aku tidak perlu memasukkannya ke hati, tapi aku tumbuh besar bersama keluarga manusia, tidak seperti suin lainnya. Jadi, apakah aku memang tidak terlihat seperti musang? Atau haruskah aku bertingkah lebih seperti musang? Sampai SMA pun, aku bahkan tidak bisa menyembunyikan telinga dan ekorku dengan benar……."
Latar belakang pribadinya membuat komentar orang lain terasa jauh lebih berat. Jeong-seo menatap gelas highball-nya yang esnya mulai mencair, lalu mengusap lehernya dengan canggung karena merasa suasana berubah jadi berat.
"Ah, maaf, aku malah membicarakan hal yang berat. Tapi ya, itu hanya menggangguku sedikit……."
"Kalau begitu, aku pun tidak terlihat seperti suin hamster emas."
Mendengar kata-kata Ha-ian, Jeong-seo menatapnya dengan mata terbelalak. Lalu pandangannya beralih ke rambut Ha-i-an yang putih dan lembut. Jeong-seo tidak tahu banyak tentang hamster, tapi kalau namanya 'Hamster Emas'…….
"Hamster…… Emas?"
Jeong-seo memiringkan kepalanya perlahan. Ha-i-an menjawab seolah tahu apa yang dipikirkan Jeong-seo.
"Hamster emas punya banyak warna, dan kadang disebut hamster Siria. Biasanya, hamster emas dianggap lembut dan penakut, tapi kau tahu kan sifatku tidak begitu?"
Kalau dipikir-pikir, Jeong-seo memang tidak mengira Ha-i-an adalah seekor hamster saat pertama kali melihatnya. Ia teringat keterkejutannya saat Pyo Yoon-tae memberi tahu bahwa Ha-i-an adalah seekor hamster. Jeong-seo menarik napas panjang seolah baru mendapatkan pencerahan, lalu menunjuk dirinya sendiri.
"Aku juga begitu!"
Menyadari bahwa ia melakukan hal yang sama pada orang lain sementara ia sendiri merasa kesal saat orang lain melakukannya padanya, wajah Jeong-seo terasa panas.
"Meskipun kita tidak bisa bilang stereotip itu bagus, tapi tidak bisa bilang itu buruk juga, jadi ya mau bagaimana lagi."
"Begitukah? Bukankah stereotip itu hal yang buruk?"
Biasanya orang bilang harus mendobrak stereotip, bukan mempertahankannya. Menanggapi pertanyaan Jeong-seo, Ha-i-an mengetuk meja.
"Justru kau berpikir stereotip itu buruk pun, itu sendiri adalah stereotip. Menurutmu kenapa stereotip itu bertahan sampai sekarang dan tidak hilang?"
"……Benar juga ya?"
"Karena itu membuat hidup jadi sedikit lebih sederhana. Selain itu, ada kalanya realitas memang berjalan sesuai stereotip, jadi ya tidak mudah hilang. So Jeong-seo, saat pertama kali melihat Pyo Yoon-tae yang macan kumbang, apa yang kau pikirkan?"
"Um……."
Saat Jeong-seo menoleh ke samping, Pyo Yoon-tae menatapnya dengan penuh harap. Ternyata ia belum pernah mendengar kesan pertama Jeong-seo terhadapnya.
"Sebelum kau memperkenalkan diri…… kupikir kau tampak karismatik, pendiam, dan dewasa!"
Mungkin karena citra keluarga Macan Kumbang juga, tapi karena bulu hitam dan mata yang tajam, macan kumbang memang dianggap memiliki aura otoritas meski hanya berdiri diam. Ha-ian pun berpikiran serupa, jadi ia mengangguk dan bertanya,
"Lalu, bagaimana dengan Pyo Yoon-tae yang sekarang?"
"Imut!"
Ha-i-an langsung mengerutkan kening.

1.600 kata

Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 114

My Donation

Dukung translator

senjanity • Predator Alert / Beast Alert!

Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.