Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 116

Begitu Jeong-seo mendongak, salah satu sudut matanya berkedut.
"So Jeong-seo, kenapa kau tidak membaca pesanku? Kupikir terjadi sesuatu padamu."
Itu Park Do-young. Hari ini hari Kamis, dan Jeong-seo tahu ada mata kuliah yang sama dengannya, tapi itu tidak membuat rasa tidak nyaman di hatinya berkurang. Karena Shin Jun-hee datang terlambat dengan alasan ada urusan, kursi di sebelah Jeong-seo kosong, dan Park Do-young duduk di sana tanpa ragu.
"Itu kursi Jun-hee."
Meski Jeong-seo menegurnya, Park Do-young hanya tersenyum santai dan meletakkan tasnya di atas meja. Belakangan ini, Shin Jun-hee memang sering duduk di tempat lain setelah bertengkar dengan Nam Seung-ho.
"Oh ya? Suruh saja dia duduk di depan. Siapa cepat dia dapat."
Park Do-young kemudian menyapa teman-teman yang duduk di sekitar Jeong-seo dengan wajar, membuat Jeong-seo tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lagi pula, cepat atau lambat ia harus bicara dengannya.
"Tapi, kau benar-benar tidak memblokirku, kan?"
Meski nada bicaranya seperti sedang bercanda, tatapan yang tertuju pada Jeong-seo sama sekali tidak terasa ringan. Jeong-seo tidak membuang muka dan menatapnya lurus-lurus.
"Aku tidak memblokirmu. Aku hanya melihat pesan dari orang-orang terdekat saja. Apa ada hal mendesak?"
Sudut bibir Park Do-young menegang, lalu mengendur. Melihat tindakan Jeong-seo yang dengan jelas menarik garis batas, Park Do-young mengusap sudut bibirnya dengan jari.
"Ah, begitu? Kalau begitu kita harus lebih akrab lagi. Soal pesanku, bukan hal mendesak sih, hanya ingin bertanya sesuatu. Kau bilang dulu satu kelas dengan Pyo Yoon-tae saat SMA, kan?"
"Eung, dua tahun berturut-turut sekelas. Kenapa?"
"Oh, dua tahun? Iri sekali. Berarti kalian memang dekat ya."
Tanggapan Park Do-young, bahkan untuk hal sepele sekalipun, entah mengapa terdengar mengganggu. Ada perasaan tidak nyaman yang aneh yang tak bisa dijelaskan.
"Jadi, apa di sekolah itu Pyo Yoon-tae…… tidak berpacaran dengan siapa pun, kan?"
Mendengar pertanyaan itu, dada Jeong-seo membusung bangga. Wah, dia memberiku kesempatan yang pas! Jeong-seo membuka mulut dengan percaya diri.
"Waktu SMA dia tidak pacaran dengan siapa pun, tapi sekarang dia dengan……."
"Ah, benar kan? Pyo Yoon-tae punya kelas tersendiri, mana mungkin dia pacaran di tempat seperti itu. Aku cuma bertanya hal yang tidak penting."
Park Do-young memotong ucapannya seolah sudah menunggu-nunggu untuk menyimpulkan sendiri, membuat Jeong-seo kehilangan kata-kata. Selain itu, kata-kata "punya kelas tersendiri" dan "tempat seperti itu"? Ini terdengar jelas seperti menghina Dangang, tempat Jeong-seo tumbuh besar, dan menghina dirinya sendiri.
Meski suasana di sekitar menjadi dingin, Park Do-young yang tidak peka terus bertingkah seolah tidak ada masalah.
"Satu sekolah bukan berarti sama levelnya. Kalau pun dia pernah pacaran, pasti cuma buat iseng kalau bosan, kan?"
"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?"
Mendengar nada suara Jeong-seo yang berubah blak-blakan, Park Do-young mengangkat bahu.
"Bukan bermaksud menghina, tapi jujur saja, antara Pyo Yoon-tae dan kita itu agak berbeda, kan? Apa cuma aku yang merasa begitu?"
Park Do-young menoleh ke sekeliling seolah mencari dukungan, dan tepat pada saat itu Shin Jun-hee masuk. Saat melihat Park Do-young duduk di kursinya, ia meletakkan tas di kursi depan Jeong-seo dengan kening berkerut.
"Kenapa kau masih bicara soal Pyo Yoon-tae? So Jeong-seo jadi stres. Memangnya dia selebriti? Memangnya apa bedanya dia dengan kita?"
Ditegur Shin Jun-hee, Park Do-young mencibir sambil bersedekap. "Hei, mari kita akui kenyataan. Shin Jun-hee, kalau kau terlahir kembali, kau pilih jadi dirimu yang sekarang atau jadi anak ketua konglomerat?"
Pyo Yoon-tae bukanlah tipe orang yang menilai orang lain berdasarkan kelas sosial. Park Do-young sedang merendahkan dirinya sendiri sekaligus menganggap Pyo Yoon-tae sebagai manusia yang rendah. Jeong-seo merasa jauh lebih marah akan hal itu daripada apa pun.
"Do-young-ah, bukan itu poin pentingnya. Yoon-tae juga mahasiswa biasa seperti kita, dan dulu di sekolah kami bergaul dengan baik tanpa membeda-bedakan. Kalau kau bicara begitu, kau juga menghina Yoon-tae!"
"Itu karena kau pikir kalian bergaul tanpa batas. Dan So Jeong-seo, apa kau pernah bertanya langsung padanya? Tidak pernah, kan? Kau benar-benar konyol. Katanya kau juga pasang tembok ke anak-anak lain seolah kau adalah seseorang yang spesial. Apa kau merasa jadi orang hebat hanya karena Pyo Yoon-tae mau bermain denganmu?"
Wajah Park Do-young memerah padam karena amarah, ia menatap tajam Jeong-seo.
Apakah ini situasi yang layak membuat Park Do-young semarah itu? Jeong-seo merasa bingung sekaligus jengkel.
Melihat Park Do-young yang begitu murka, Jeong-seo jadi mengerti mengapa Pyo Yoon-tae memintanya memberikan nomor teleponnya. Di mata Jeong-seo pun, Park Do-young menunjukkan obsesi yang berlebihan pada Pyo Yoon-tae. Tidak ada orang yang ingin memberikan nomor kekasihnya pada orang seperti ini.
Melihat Park Do-young bertingkah terlalu serius, Jeong-seo menghela napas panjang dan melirik jam di belakang kelas. Hanya tersisa dua menit sebelum kuliah dimulai.
"Do-young-ah, ayo keluar sebentar dan bicara."
"Apa? Kenapa harus keluar? Kalau ada yang ingin dikatakan, katakan di sini. Kenapa harus sembunyi-sembunyi seperti pencuri?"
Jeong-seo tidak menyukai Park Do-young. Tapi, karena Park Do-young bersikap begini karena tidak tahu hubungan mereka, Jeong-seo tidak ingin mempermalukannya di depan orang banyak. Setidaknya, itulah yang ia pikirkan tiga detik yang lalu. Kini, dengan wajah yang tampak serius, Jeong-seo berkata,
"Yoon-tae bilang kau orang gila yang sangat gigih. Dan karena aku sedang berpacaran dengan Yoon-tae, berhenti lakukan ini. Ini sangat mengganggu."
Keheningan seketika menyelimuti kelas seolah ada air es yang dituangkan ke dalamnya.
Park Do-young terdiam menatap Jeong-seo, lalu tertawa terbahak-bahak.
"……Kau ini benar-benar pengidap delusi tingkat tinggi ya. Bodoh sekali aku sampai mau meminta bantuanmu. Aku akan menemuinya sendiri saja."
Setelah mengatakan itu, Park Do-young berdiri dan pindah ke kursi kosong lainnya. Kali ini, justru Jeong-seo yang terkejut.
Ini bukan hasil yang ia inginkan. Saat ia menoleh ke samping dengan tatapan bingung, teman-temannya pun menatapnya dengan ekspresi serupa.
Suasana terasa aneh. Tepat saat Jeong-seo merasa harus mengatakan sesuatu, dosen masuk ke ruangan.
Semua orang segera membuang muka dari Jeong-seo dan menatap ke depan. Jeong-seo tidak bisa mengusir firasat buruk bahwa ada sesuatu yang salah. Tepat saat ia hendak menyentuh punggung Shin Jun-hee, sebuah pesan masuk dari Pyo Yoon-tae.
[Kucing Hitam: Sepertinya kelasku selesai lebih awal hari ini. Mau pergi menonton film setelah kau selesai kuliah?]
[Kucing Hitam: (Foto tangkapan layar poster film)]
[Kucing Hitam: Katamu kau ingin menonton ini, kan?]
Melihat pesan Pyo Yoon-tae saja sudah cukup menenangkan hatinya yang kacau. Jeong-seo memutuskan untuk mengabaikan suasana aneh yang ia rasakan sesaat tadi.
Namun, masalah Park Do-young yang tidak percaya padanya adalah masalah serius.
[Eung! Aku mau nonton!]
[Kucing Hitam: Kalau begitu, apa aku harus menjemputmu saat kau selesai? Supaya kita bisa langsung menonton.]
Jempol Jeong-seo terhenti di layar ponsel.
〈Aku akan menemuinya sendiri saja.〉
Suara Park Do-young yang terdengar obsesif seolah terngiang kembali di telinganya. Jeong-seo berpikir, apakah lebih baik ia meminta Pyo Yoon-tae untuk mengungkapkan hubungan mereka?
〈Pokoknya, Jeong-seo. Anak itu benar-benar sangat gigih, jadi kasih saja nomornya. Kalau dia menghubungiku, biar aku yang menyelesaikannya.〉
Jeong-seo menatap layar obrolan tanpa bergerak, dan baru membalas setelah Pyo Yoon-tae mengirim pesan "Jeong-seo?".
[Tidak, tidak apa-apa. Lagipula aku harus menaruh tasku di rumah dulu! Kau tidak perlu datang!]
Park Do-young saat ini tidak tahu nomor telepon Pyo Yoon-tae, tidak tahu tempat tinggalnya, dan kampus mereka pun berbeda. Meski lokasi kampus Pyo Yoon-tae diketahui publik, jika Park Do-young benar-benar ingin menemuinya, dia pasti sudah pergi ke sana sejak dulu. Jadi, jika ia tidak memberikan celah apa pun, dia tidak akan punya alasan untuk bertemu Pyo Yoon-tae.
Pyo Yoon-tae membalas pesannya setelah beberapa saat, menyatakan ia mengerti. Saat ia memasukkan ponsel ke saku, ia merasakan tengkuknya gatal dan menoleh ke belakang, mendapati Park Do-young sedang menatapnya tajam.
Gangguan seperti ini dari teman sebayanya bukanlah hal baru bagi Jeong-seo.
Karena ini adalah kelas terakhir hari Kamis, Jeong-seo menyampirkan tasnya dan keluar dari ruang kuliah. Mungkin firasat buruk tadi hanyalah kecemasan yang berlebihan, karena teman-temannya pun berpamitan seperti biasa.
Hanya Park Do-young yang pergi sambil menyambar sinis, "Pintar sekali kau berbohong."
Jeong-seo mengabaikannya dan keluar dari gedung, tapi tiba-tiba Shin Jun-hee memanggilnya dan mendekat.
"Jun-hee, ada apa?"
Shin Jun-hee menepuk punggung Jeong-seo pelan dan berkata, "Jangan terlalu memedulikan Park Do-young. Aku dengar dari teman di jurusan lain yang satu sekolah dengan Park Do-young dulu……."
Shin Jun-hee membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke telinga Jeong-seo. Setelah sempat terkejut karena napas temannya yang hangat, ia mendengar sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.
"Dulu Park Do-young pernah menyatakan cinta pada Pyo Yoon-tae tapi ditolak."

1.475 kata

Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 116

My Donation

Dukung translator

senjanity • Predator Alert / Beast Alert!

Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.