Jeong-seo terpaku sejenak sebelum membelalakkan mata dan menatap Shin Jun-hee.
Ia tidak pernah mendengar cerita ini dari Pyo Yoon-tae. Apakah pria itu tidak mengatakannya karena takut dirinya merasa risih, atau apakah Shin Jun-hee mendengar gosip yang salah? Jeong-seo tidak tahu mana yang benar.
"Makanya, dia pasti langsung 'meledak' waktu dengar kau bilang pacaran dengan Pyo Yoon-tae tadi. Dia memang tipe orang yang akan marah dan memaki kalau ada yang tidak sesuai keinginannya, lalu berpura-pura akrab lagi kalau butuh sesuatu."
"……Begitu rupanya."
Entah Park Do-young pernah menyatakan cinta pada Pyo Yoon-tae atau tidak, itu semua adalah masa lalu. Namun, Jeong-seo merasa sedikit terganggu. Toh, orang yang selalu dicintai Pyo Yoon-tae adalah dirinya.
Saat Jeong-seo sedang diam memikirkan hal itu, Shin Jun-hee hendak menekan pundak Jeong-seo dengan lembut untuk menghiburnya. Namun, tiba-tiba Shin Jun-hee merasa merinding dan menoleh ke belakang secara refleks. Tidak ada siapa pun di sana selain orang-orang yang sedang berjalan terburu-buru.
"Jun-hee, kenapa?"
"Ah, bu-bukan apa-apa. Tiba-tiba saja aku merinding. Pokoknya, abaikan saja dia karena memang begitu sifatnya. Tapi sekarang…… sepertinya dia tidak akan bicara padamu lagi."
"Jun-hee, menurutmu aku berbohong soal pacaran dengan Pyo Yoon-tae?"
Shin Jun-hee mengedipkan mata dengan cepat, tidak menyangka Jeong-seo akan bertanya seblak-blakan itu. Ia menatap Jeong-seo dengan tatapan menilai lalu mengusap pipinya dua kali.
"Bukan begitu……. Kalau aku tidak akrab denganmu, mungkin di kelas tadi aku sudah berpikir kau cuma berbohong untuk membalas Park Do-young. Tapi aku tahu kau orangnya seperti apa. Aku tidak berpikir kau berbohong, cuma agak terkejut saja."
Melihat tatapan Shin Jun-hee yang masih menyiratkan keraguan, Jeong-seo menyadari satu hal: bahwa hubungan dirinya dengan Pyo Yoon-tae adalah fakta yang sulit dipercaya bagi orang lain.
Di Dangang, hubungan mereka tidak pernah dipertanyakan, sehingga muncul perasaan kecewa dan tidak adil yang aneh. Jeong-seo tidak habis pikir mengapa hubungan mereka begitu sulit diterima oleh orang-orang di sini. Saat Jeong-seo mengernyit dalam, Shin Jun-hee buru-buru menambahkan.
"Bukannya aku membela Park Do-young, tapi tiba-tiba mengaku pacaran dengan anak ketua konglomerat memang cukup mengejutkan, kan? Tapi kau bilang Pyo Yoon-tae juga sudah pernah datang menemuimu, jadi……."
Jeong-seo menatap Shin Jun-hee tanpa suara lalu tersadar. Bagi teman-temannya di SMA Dangang, Pyo Yoon-tae hanyalah teman sekelas yang pindah ke sana. Namun bagi mahasiswa di Universitas Hankook, termasuk Shin Jun-hee dan Park Do-young, Pyo Yoon-tae hanyalah anak dari pemilik konglomerat besar.
Tentu saja, pernyataan bahwa dirinya berpacaran dengan pewaris generasi ketiga konglomerat jauh lebih sulit dipercaya daripada sekadar teman sekelas biasa. Sepertinya orang-orang di kelas tadi merasa seolah Jeong-seo mengaku berpacaran dengan seorang selebriti. Meskipun lingkungan sekitarnya sudah berubah drastis, Jeong-seo secara tidak sadar masih menganggapnya sama dengan di Dangang, di mana tidak ada yang akan meragukan hubungannya dengan Pyo Yoon-tae.
"Benar juga. Kupikir orang akan langsung percaya. Tapi Jun-hee-ya, aku tidak akan berbohong soal hal seperti ini."
Mata cokelatnya menatap lurus ke arah Shin Jun-hee tanpa keraguan sedikit pun. Shin Jun-hee tahu Jeong-seo bukanlah orang yang akan berbohong, tapi sisa keraguan di sudut hatinya tidak bisa hilang begitu saja. Sudah hampir tiga bulan ia mengenal So Jeong-seo, namun itu masih waktu yang singkat untuk memercayai seseorang sepenuhnya. Apalagi, banyak orang yang menunjukkan sisi tak terduga—biasanya sisi negatif—semakin lama mereka berteman. Namun, melihat sikap Jeong-seo yang teguh, Shin Jun-hee akhirnya menepis keraguannya. Ia selalu menganggap So Jeong-seo sebagai orang yang jujur apa adanya.
"Baiklah, aku percaya padamu."
"Eung, terima kasih."
"Aku harus pergi, ada kerja paruh waktu."
Keduanya berpamitan dan berjalan ke arah berlawanan. Saat berjalan menuju gerbang belakang, Jeong-seo merenung. Semakin ia bertemu lingkungan dan orang-orang baru, hal-hal yang dianggapnya wajar ternyata menjadi fakta yang harus dibuktikan agar dipercayai oleh orang lain.
Tapi, apakah ia harus memaksa orang lain untuk percaya bahwa ia berpacaran dengan Pyo Yoon-tae? Park Do-young pasti sudah terlalu marah dan tidak akan memintanya untuk menghubungkan dengan Pyo Yoon-tae lagi.
Lagipula, bahkan jika mereka percaya sekalipun…….
〈Satu sekolah bukan berarti sama levelnya. Kalau pun dia pernah pacaran, pasti cuma buat iseng kalau bosan.〉
Bahkan jika tidak semua orang berpikiran seperti Park Do-young, ada saja orang yang percaya pada apa yang mereka inginkan. Jeong-seo tidak peduli jika orang lain menghinanya. Hubungan asmara ini adalah milik dirinya dan Pyo Yoon-tae saja. Tidak ada tempat atau alasan bagi orang lain untuk ikut campur. Sama seperti fakta bahwa ia tetap seekor musang meskipun orang bilang ia tidak terlihat seperti musang.
Sambil melamun, ia mengeluarkan ponsel saat sudah dekat dengan rumah. Ia ingin memberi tahu Pyo Yoon-tae bahwa ia akan sampai dalam 5 menit. Saat ia menekan tombol panggil, suara getaran ponsel terdengar samar dari arah belakangnya.
Karena waktu yang aneh itu, Jeong-seo menghentikan langkah dan menoleh. Pyo Yoon-tae berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil memegang ponsel. Bukankah katanya dia pulang terlambat?
"Yoon-tae, kenapa kau di situ? Bukannya kau pulang terlambat hari ini?"
Jeong-seo berlari mendekat dengan antusias, namun ia merasa ekspresi Pyo Yoon-tae tidak begitu bagus. Jeong-seo mencondongkan tubuh dan mengintip wajah pria itu, tapi Pyo Yoon-tae tidak membalas tatapannya. Matanya tertuju ke lantai jalanan.
"Yoon-tae, kau sedang dalam suasana hati yang buruk?"
Baru setelah ditanya, Pyo Yoon-tae perlahan mengalihkan pandangannya dan menggeleng. "Tidak mungkin, sama sekali tidak."
Pyo Yoon-tae tersenyum tipis. Jeong-seo merasakan kejanggalan, tapi karena suasananya tampak seperti biasa, ia mengangguk lega.
"Besok setelah pulang sekolah, kau bilang kau mau mampir ke rumah lalu langsung pulang ke rumah orang tuamu, kan?"
"Ah, eung!"
Rabu ini adalah hari ulang tahun Ibunya. Namun karena Ibunya sibuk, mereka memutuskan untuk mengadakan pesta sederhana Jumat malam. Ayah dan kakaknya pun tidak bisa datang karena sibuk. Jeong-seo berpikir sejenak lalu bertepuk tangan pelan.
"Yoon-tae-ya, kalau kau ada waktu, mau ikut? Ibu pasti senang kalau kau datang!"
Lagipula, pesta ulang tahunnya dulu pun diadakan bersama keluarga Pyo Yoon-tae, dan Ibunya sering menanyakan kabar Yoon-tae. Pyo Yoon-tae langsung menjawab tanpa ragu.
"Eung, aku punya waktu. Besok aku tidak ada jadwal kelas, jadi haruskah aku minta supir menjemputmu?"
"Tidak usah! Kau tidak perlu menjemputku! Aku akan langsung pulang ke rumah!"
Lagipula besok ia hanya punya kelas di jam ke-2 dan ke-3, dan ia mengikuti kelas itu bersama Park Do-young.
"……Apa ada alasan kenapa aku tidak boleh pergi ke sekolahmu? Kenapa kau terus melarangku?"
Mendengar suara yang terasa dingin, Jeong-seo terdiam. Park Do-young sepertinya tidak akan melepaskan Pyo Yoon-tae meski tahu mereka berpacaran. Apalagi jika itu bukan sekadar ingin berteman, melainkan perasaan cinta. Namun jika ia mengatakan hal itu, Pyo Yoon-tae pasti akan turun tangan sendiri. Jeong-seo tidak menginginkan hal itu. Park Do-young adalah orang yang gigih, bahkan setelah disiram air pun masih terobsesi pada Pyo Yoon-tae.
Ia tidak tahu harus berbohong apa, sementara tatapan Pyo Yoon-tae semakin tajam. Jeong-seo akhirnya melontarkan kalimat tanpa memikirkannya terlebih dahulu.
"Pokoknya jangan datang!"
Langkah Pyo Yoon-tae terhenti, dan Jeong-seo secara naluriah tahu ia telah salah bicara. Ia hendak menjelaskan dengan panik, namun……
"Baiklah. Kalau kau memintaku untuk tidak datang, maka aku tidak akan datang. Waktu filmnya akan terlewat, ayo cepat."
Pyo Yoon-tae menjawab dengan santai dan merangkul bahu Jeong-seo seolah tidak terjadi apa-apa. Justru Jeong-seo yang bingung dan situasi pun berakhir begitu saja.
***
Meskipun kemarin mereka menonton film, makan enak, dan bersenang-senang, Jeong-seo tetap tidak bisa menghapus perasaan mengganjal di hatinya.
Kalau diingat-ingat, kemarin Pyo Yoon-tae tidak merengek ingin tidur bersama…… meski sebenarnya mereka memang tidak selalu tidur bersama setiap hari.
Ah, apa dia tadi makan dengan lesu? Dan tawanya juga terdengar lebih pelan dari biasanya.
Saat Jeong-seo sedang duduk di lantai gimnasium sambil terus memikirkan hal itu, ia dikejutkan oleh suara gedebuk keras di depannya.
Seorang siswa yang sedang berlari untuk melakukan lompat tinggi terjatuh. Untungnya, ia tidak terluka dan segera bangkit dengan wajah yang memerah padam karena malu.
Jeong-seo baru saja hendak mengalihkan pikirannya dari lamunan yang dalam itu, ketika ponsel di sampingnya bergetar.
[Kucing Hitam: Aku ada di kampusmu, Jeong-seo.]
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 117
1.388 kata
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 117
My Donation
Dukung translator
senjanity • Predator Alert / Beast Alert!
Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.
Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.