Kampus? Bukankah dia bilang tidak akan datang? Jeong-seo mencoba mengingat percakapan mereka kemarin, tapi benar saja, Pyo Yoon-tae sudah bilang tidak akan datang.
[???? Kampus? Universitas Jeong-han??? Kenapa???]
Begitu pesan itu terkirim, balasan langsung datang.
[Kucing Hitam: Karena aku ingin datang. Kau di gimnasium, kan? Aku di depan pintu.]
[Kucing Hitam: Aku sudah membawa barang-barangku, jadi ayo pergi setelah kau selesai.]
Mendengar kata "di depan gimnasium", Jeong-seo mendongak dan menatap ke arah pintu masuk. Gimnasium Universitas Hankook sangat besar dengan banyak pintu masuk yang terbuat dari kaca, sehingga Jeong-seo bisa langsung melihat Pyo Yoon-tae yang separuh wajahnya menempel di pintu.
Begitu mata mereka bertemu, pria itu melambaikan tangan dengan santai. Jeong-seo menatapnya dengan raut wajah yang menunjukkan kepanikan yang jelas.
Lalu, saat merasakan tatapan tajam dari belakang, Jeong-seo menoleh. Ah, sial.
Park Do-young juga melihat Pyo Yoon-tae. Sepasang mata Park Do-young yang keabu-abuan berkilat, menatap Pyo Yoon-tae dengan tatapan keras kepala, lalu matanya beralih menatap Jeong-seo. Ia mendengus seolah baru saja memenangkan sesuatu dari Jeong-seo sebelum kembali menatap ke depan.
Waktu tersisa sedikit sebelum kelas berakhir, Jeong-seo dengan panik mengirim pesan.
[Yoon-tae-ya, jangan diam di depan gimnasium, pergi ke gerbang depan!]
Namun, pesan itu tidak kunjung terbaca, dan dari samping, pria itu terlihat seperti tidak sedang memperhatikan bagian dalam gimnasium. Jeong-seo dengan cepat menyusun rencana di kepalanya agar Pyo Yoon-tae dan Park Do-young tidak bertemu begitu kelas berakhir.
Saat kelas berakhir dan Jeong-seo hendak bangkit—
"Ah, satu lagi, Jeong-seo-ya."
Profesor memanggilnya. Jeong-seo menoleh dengan mata yang gelisah, dan ia melihat Pyo Yoon-tae sudah masuk ke dalam gimnasium. Park Do-young melirik Jeong-seo sekilas sebelum berjalan cepat menuju Pyo Yoon-tae. Jeong-seo menghela napas putus asa.
"Apa kau punya waktu minggu depan? Aku ingin mengajakmu bicara sebentar di ruanganku."
Profesor itu bicara hal yang tidak terduga. Apa dia mau konseling? Ah, benar, katanya setiap mahasiswa harus konseling dengan profesor mentor sekali dalam satu semester. Tapi rasanya dosen mentor Jeong-seo bukan dia, Jeong-seo bingung, tapi tidak ada waktu untuk memikirkannya.
"Ya! Minggu depan saya punya banyak waktu! Saya pasti datang!"
Saat Jeong-seo menjawab sambil terus melirik ke pintu masuk, wajah profesor itu tampak cerah.
"Oh, benarkah? Kalau begitu, bagaimana kalau Kamis depan sekitar jam 5 sore?"
"Ya ya ya, bisa! Tapi saya harus pergi sekarang, Profesor!"
Melihat Jeong-seo yang tampak sangat tidak tenang, profesor yang sudah mendapat jawaban yang ia inginkan pun melambaikan tangan, menyuruhnya segera pergi.
Jeong-seo berbalik ke arah pintu, tapi Park Do-young dan Pyo Yoon-tae sudah berdiri berhadapan. Jeong-seo berjalan dengan langkah cepat, sementara bisikan dari orang-orang di sekitar terdengar. Di tengah keributan itu, pendengaran Jeong-seo terfokus pada percakapan mereka.
"Sudah lama sekali tidak bertemu. Kau masih ingat aku, kan?"
Park Do-young menatap Pyo Yoon-tae dengan senyum paling cerah yang pernah Jeong-seo lihat. Biasanya senyum itu tertutup oleh sikapnya yang arogan, tapi saat tersenyum lebar, Park Do-young ternyata memiliki wajah yang cukup tampan.
Pyo Yoon-tae meliriknya dengan tatapan samar sebelum mengangkat satu sudut bibirnya.
"Seharusnya aku tidak ingat, tapi karena Jeong-seo bercerita tentangmu, aku jadi ingat."
"Ah……. Jadi Jeong-seo yang menceritakan tentangku……?"
Park Do-young tampak sangat bingung, seolah dia benar-benar tidak percaya pada perkataan Jeong-seo sebelumnya, lalu ia melirik ke arah belakang.
Jeong-seo sempat mengira Pyo Yoon-tae tidak akan bersikap ramah, tapi sikap sinis yang lebih parah dari dugaan itu membuat langkah Jeong-seo melambat. Kalau Pyo Yoon-tae berniat memberikan nomornya, aku akan langsung memotongnya, pikirnya.
"Sudah lama tidak bertemu. Aku sempat kecewa saat kau pindah sekolah dan tidak memberi kabar."
"Kita memang bukan hubungan yang harus saling memberi kabar. Kudengar kau meminta nomor teleponku pada Jeong-seo."
"Ah, soal itu! Jeong-seo bilang dia tidak mau memberi tahu karena……."
Jeong-seo sudah sampai di dekat mereka. Pyo Yoon-tae yang tadinya bersikap dingin, kini menatap Jeong-seo dengan mata yang menyipit lembut. Wajah Park Do-young menegang.
Pria-pria yang tadi mengepung Jeong-seo hanya bisa menonton dari kejauhan karena tidak berani mendekat. Apakah aku terlalu khawatir?
"Sudah selesai, Jeong-seo. Ayo, kita……."
Saat Pyo Yoon-tae hendak mengulurkan tangan ke arah Jeong-seo, Park Do-young dengan panik menyambar pergelangan tangan Pyo Yoon-tae. Kejadiannya terlalu cepat untuk dihindari. Park Do-young melangkah maju, seolah ingin berada lebih dekat dengan Pyo Yoon-tae daripada Jeong-seo.
"Bisa bertemu lagi seperti ini adalah takdir, ah……!"
Buk!
Suara hantaman terdengar, dan tangan Park Do-young terhempas. Jeong-seo yang sudah habis kesabaran baru saja memukul punggung tangan Park Do-young dengan tinjunya. Pergelangan tangan Pyo Yoon-tae mungkin terasa nyeri, tapi itu bukan masalah utama saat ini.
"Park Do-young, apa yang kau lakukan terus-menerus?! Sudah kubilang Yoon-tae itu milikku, jangan sentuh dia!"
Park Do-young menatap Jeong-seo dengan tatapan berbisa, tidak menyangka Jeong-seo akan bertindak sejauh ini. Ia melirik Pyo Yoon-tae, ingin melihat bagaimana pria itu bereaksi terhadap "omong kosong" tersebut.
Lalu, Park Do-young membeku.
Bukan hanya Pyo Yoon-tae yang membelalakkan mata, tetapi ekor macan kumbang hitam yang tadinya tersembunyi kini mencuat keluar dengan bulu yang mengembang tegak. Pipi Pyo Yoon-tae mulai memerah—bukan karena marah, melainkan karena alasan lain yang membuat Park Do-young ternganga tak paham.
Jeong-seo yang tadinya marah pada perilaku Park Do-young, ikut menoleh ke samping dan ikut terdiam dengan wajah bingung.
Pyo Yoon-tae, dengan pupil hitam yang membesar, mengeluarkan suara dengkuran halus (purring) seolah dia sedang dalam fase rut.
"Jeong-seo……. Sayang, aku milik siapa tadi?"
Mendengar panggilan sayang untuk pertama kalinya, wajah Jeong-seo memerah padam hingga ke leher. Apalagi, ia bisa merasakan tatapan seluruh orang di gimnasium yang masih berada di sana kini tertuju padanya.
Merasa sangat malu karena perkataan yang baru saja ia lontarkan, ekspresi Jeong-seo berkerut aneh.
"Sayang, katakan sekali lagi……."
"Yoon-tae, tutup mulutmu."
Jeong-seo, yang wajahnya kini sudah semerah tomat, menggertakkan gigi, menggenggam tangan Pyo Yoon-tae, dan berjalan pergi secepat mungkin. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian seperti ini.
Sambil berjalan pergi, ia tidak lupa memberikan tatapan mematikan terakhir pada Park Do-young.
Park Do-young hanya berdiri mematung menatap pintu gimnasium. Jadi, benar Pyo Yoon-tae dan So Jeong-seo berpacaran?
Karena ia sangat yakin hal itu tidak mungkin, Park Do-young merasa sedang berada dalam mimpi buruk. Saat ia melihat ke punggung tangannya, terdapat bekas memar kecil berwarna merah berbentuk lingkaran.
Ini bukan mimpi, pikirnya. Bersamaan dengan kesadaran itu, ia menyadari semua orang di gimnasium sedang menatapnya. Park Do-young menutup mulutnya rapat-rapat dan kabur dari gimnasium seolah-olah dikejar hantu.
***
Jeong-seo dengan panik mendorong Pyo Yoon-tae masuk ke dalam mobil, lalu ikut naik. Wajahnya masih terasa panas membara karena malu, ia mengipasi wajahnya dengan tangan sambil menatap tajam ke arah Pyo Yoon-tae.
"Sudah kubilang jangan datang ke sekolah, kenapa kau datang juga!"
Meski dimarahi, Pyo Yoon-tae justru mengeluarkan telinganya dan terus mendengkur halus (purring). Saat Jeong-seo mencoba mendorongnya menjauh, pria itu justru semakin menempel dan menggesekkan pipinya ke sana kemari.
Dia seolah lupa bahwa ada supir yang sedang mengemudi di depan. Bahkan, supirnya pun bukan orang yang sama dengan yang biasa mereka temui di Dangang.
"Aduh, sungguh, ada apa denganmu!"
"Aku tadinya mengira Jeong-seo adalah orang yang tidak mudah cemburu."
Mendengar perkataan yang tiba-tiba itu, Jeong-seo yang tadinya meronta-ronta seketika terdiam.
"Aku?"
Saat Jeong-seo bertanya balik, ia tiba-tiba teringat bahwa sebelum bertemu Pyo Yoon-tae, ia memang tidak pernah merasakan emosi bernama cemburu. Di rumah, satu-satunya kakaknya selalu memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, dan di sekolah pertamanya, ia langsung menjadi korban perundungan sejak awal tahun kelas 1.
Apakah aku memang punya sifat pencemburu, atau apakah perasaan ini menjadi kuat setelah bertemu Pyo Yoon-tae? Jeong-seo terjebak dalam introspeksi diri yang mendadak.
"……Aku sendiri tidak tahu kalau aku ternyata punya sifat pencemburu yang kuat. Sejujurnya, bahkan saat SMA dulu, meskipun aku ingin Yoon-tae bergaul baik dengan teman-temannya, kalau kalian terlalu akrab, aku merasa tidak suka……."
Meskipun cemburu adalah emosi alami saat mencintai seseorang, mengekspresikan rasa cemburu adalah masalah yang berbeda. Terlebih lagi, Pyo Yoon-tae selama ini selalu hanya menatap dirinya. Tadi pun, sepertinya Jeong-seo terlalu berlebihan karena terpancing emosi.
"Tadi pun, Yoon-tae pasti bisa menyelesaikannya sendiri meski aku tidak sampai bertindak sejauh itu……."
"Aku ingin pergi ke sekolahmu tadi karena aku juga cemburu, Jeong-seo-ya. Hanya membayangkan kau bicara dengan pria lain di tempat di mana aku tidak ada, rasanya isi perutku seperti diaduk-aduk. Dulu, setiap kali kau pulang setelah minum-minum, aku ingin ikut bergabung, aku ingin melarangmu pergi ke klub kampus……."
Jeong-seo mengerjapkan matanya dengan cepat, tidak menyangka Pyo Yoon-tae memendam perasaan sedalam itu.
"Se, separah itu?"
"Eung. Aku tidak berani mengatakannya karena takut kau akan merasa bosan jika aku terus bersikap posesif seperti ini. Tapi karena hatiku terus merasa terganggu, jujur saja, kemarin pun aku sebenarnya pergi ke sekolahmu."
"……Eh?"
Ini benar-benar di luar dugaan.
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 118
1.522 kata
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 118
My Donation
Dukung translator
senjanity • Predator Alert / Beast Alert!
Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.
Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.