Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 120 - Chapter 120 (END)

Feromon shower, itu adalah sesuatu yang hanya pernah Jeong-seo dengar saat pelajaran kesehatan di sekolah. Saat itu, Jeong-seo yang merupakan seorang sub-gender "lemah" menganggap hal itu tidak ada hubungannya dengan dirinya, tetapi ia tidak pernah bermimpi akan melakukannya sendiri.
"Aku bahkan tidak tahu cara melakukan feromon shower……."
"Itu insting."
Saat Jeong-seo menepis tangan Park Do-young tadi, feromon yang sangat pekat menyelimuti dan menyambar Pyo Yoon-tae. Terjebak dalam feromon yang menuntut kepemilikan mutlak itu, Pyo Yoon-tae tidak punya pilihan selain memunculkan telinga dan ekornya di depan orang banyak. Dia tidak ingin memperlihatkan wujud aslinya kepada siapa pun, tetapi jika alasannya adalah Jeong-seo, dia tidak keberatan melakukannya berkali-kali. Memikirkannya saja membuat kuduknya meremang karena sensasi yang begitu nikmat. Sayangnya, tidak ada suin lain di sekitar mereka; feromon penandaan seperti itu hanya akan terasa mengerikan dan tidak menyenangkan bagi orang biasa.
Jeong-seo menatap Pyo Yoon-tae yang berdiri diam di pintu masuk, lalu ekornya tiba-tiba muncul. Aroma yang membuat ujung hidung terasa dingin mulai menguar pekat.
"Yu, Yoon-tae?"
Wajah Pyo Yoon-tae yang menatapnya perlahan mulai diselimuti aura yang gelap dan mengancam. Jeong-seo mencoba membuka pintu tengah dengan hati-hati untuk masuk ke dalam. Ia berniat melakukan itu, kalau saja Sobok tidak berlari menyambut dengan semangat.
Begitu pintu terbuka sedikit, Sobok menyodorkan moncongnya, membuat pintu geser itu terdorong dengan mudah.
"Kya!"
Jeong-seo yang terkejut kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terhuyung ke belakang, namun Pyo Yoon-tae dengan tangkas merangkul pinggangnya.
"Hati-hati."
Berbanding terbalik dengan suaranya yang rendah, tangan Pyo Yoon-tae yang lain meremas pantat Jeong-seo, dengan ibu jarinya mengusap area tempat ekor dan kulit menyatu. Tidak mungkin!
"Ti, tidak boleh melakukan ini di sini……!"
"Kau tidak bilang begitu saat kita di rumah Dangang."
"Itu……."
Jeong-seo tidak bisa menemukan bantahan untuk kata-kata Pyo Yoon-tae. Ia hanya merasa sangat malu dan tidak pantas melakukan hal-hal semacam itu di sini. Saat Jeong-seo hanya bisa membuka mulut tanpa kata-kata, Pyo Yoon-tae menyeringai dan akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah.
Sobok melompat-lompat mencoba meminta perhatian, tapi Pyo Yoon-tae berkata, "Sobok-ah, nanti aku akan bermain denganmu sepuasnya, jadi minggir dulu, ya? Kau mengerti bahasa manusia, kan?"
Meski sempat bertahan karena merasa sudah cukup akrab, Sobok akhirnya menyerah di bawah aura Pyo Yoon-tae dan mundur. Pyo Yoon-tae berjalan dengan langkah puas menuju kamar Jeong-seo, dan begitu pintu tertutup, ia langsung melumat bibir Jeong-seo seolah ingin menelannya.
Jeong-seo sempat ragu sejenak, namun lidah yang bertautan lembut dan feromon yang meresap melalui napas Pyo Yoon-tae membuatnya limbung. Ia memejamkan mata erat-erat dan melingkarkan lengan di leher Pyo Yoon-tae. Ujung lidah yang meruncing menyapu langit-langit mulutnya, menimbulkan sensasi merinding yang nikmat.
"Hhh……."
Sensasi itu membuat bulu kuduknya berdiri dan pinggangnya bergetar. Saat ia tersadar dari ciuman yang semakin intens, Jeong-seo baru menyadari bahwa ia sudah duduk di atas meja belajarnya. Kenapa di sini, padahal tempat tidur tepat di sebelahnya……?
Jeong-seo menatap meja kayu bernuansa terang itu dengan bingung, lalu mendongak menatap Pyo Yoon-tae.
"Ini kan meja……!"
Bahkan sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, celana Jeong-seo dilepas dalam satu tarikan. Belum cukup sampai di situ, Pyo Yoon-tae menyatukan kedua kaki Jeong-seo, menekuknya, dan mengangkatnya. Tubuh Jeong-seo secara alami miring, membuatnya setengah berbaring di atas meja.
Melakukan hal ini di meja, bukan di tempat tidur, membuatnya merasa aneh. Saat ia meronta, Pyo Yoon-tae bergumam rendah, "Jeong-seo, kau sudah basah kuyup."
Saat kakinya diangkat, pakaian dalam yang menempel ketat terlihat basah dan ternoda pekat. Pyo Yoon-tae mengusap celah yang basah itu, membuat cairan kental yang lengket tertarik mengikuti ujung jarinya sebelum putus.
Berbeda dengan wajahnya yang memerah karena malu, bagian bawah tubuhnya sudah sangat terangsang. Pyo Yoon-tae menghela napas panas, lalu memasukkan jarinya ke pintu masuk yang kemerahan dan basah oleh cairan transparan itu. Karena sudah cukup basah, jari itu masuk tanpa hambatan.
"Ahhh……."
Saat jari yang panjang itu menginvasi, Jeong-seo mengepalkan tangannya dan pahanya gemetar hebat. Begitu Pyo Yoon-tae memasukkan jari kedua, dinding dalam tubuh Jeong-seo langsung menjepitnya dengan panas. Pyo Yoon-tae menarik kedua jarinya untuk membuka celah, memperlihatkan daging bagian dalam yang memerah dan sensitif.
Tubuh Jeong-seo tersentak-sentak, dan perut bagian bawahnya menegang. Saat jari-jari Pyo Yoon-tae bergerak perlahan menyentuh titik sensitif di dalam,
"Hahhh……!"
Pinggang Jeong-seo bergetar hebat, dan cairan putih susu tumpah mengalir di atas meja. Dinding dalam tubuhnya menjepit erat karena gairah, dan Jeong-seo terengah-engah.
Pyo Yoon-tae, yang seolah tak tahan lagi, menggigit bibir bawahnya dan menarik keluar jari-jarinya.
Dipenuhi feromon yang memenuhi ruangan, Jeong-seo bertanya dengan linglung, "Tapi, Yoon-tae, di sini tidak ada……."
Saat heat cycle datang, Pyo Yoon-tae dengan sigap berkata dia sudah menyiapkannya, tapi hari ini dia bersikap ambigu. Pyo Yoon-tae tertawa tanpa suara karena tingkah Jeong-seo yang menggemaskan, lalu membungkuk.
"Apa yang tidak ada, Jeong-seo-ya."
Pyo Yoon-tae pura-pura bertanya padahal dia tahu persis apa yang dimaksud. Jeong-seo menatapnya dengan kesal. Saat ia melihat celana Pyo Yoon-tae yang menonjol, sebuah kotak persegi muncul di depan matanya. Tidak lain adalah kondom.
Melihat sesuatu yang sama sekali tidak ia duga, mata Jeong-seo membulat.
"Ini tidak ada?"
"Apa, apa ini……?"
Jeong-seo tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Lalu ia teringat momen mereka mampir ke minimarket tadi. Jangan-jangan dia tidak pergi membeli minuman……!
"Kau, dari awal memang berniat melakukan ini?"
Tanpa menyangkal sedikit pun, Pyo Yoon-tae mengeluarkan miliknya dan memakai kondom itu. Setelah melepas pakaian dalam Jeong-seo sepenuhnya dan membuka kedua pahanya, Pyo Yoon-tae menggesekkan penisnya yang tegang di pintu masuk. Saat Jeong-seo menggigit bibir menatapnya tajam, Pyo Yoon-tae langsung menghujamkan miliknya sampai ke pangkal dalam satu hentakan.
"Ah, hhh-euuuk……!"
Sensasi kenikmatan yang memusingkan seketika menghantam perut Jeong-seo, membuat pandangannya kabur sesaat.
Tubuh Jeong-seo ambruk sepenuhnya di atas meja, sementara Pyo Yoon-tae menghela napas panas. Ia menggigiti ujung telinga Jeong-seo sebelum berbisik, "Kalau begitu, bagaimana bisa aku menahan diri saat kau menandaiku di depan begitu banyak orang?"
Bukan begitu, Sayang? Suaranya terdengar agak jahil, membuat Jeong-seo menatapnya dengan mata yang basah oleh gairah, lalu memutuskan untuk membungkam pria itu dengan ciuman yang mendahului segalanya.
***
Pyo Yoon-tae tidak melepaskan Jeong-seo untuk waktu yang lama, bahkan setelah kondom habis terpakai. Jeong-seo baru bisa lolos setelah berkali-kali mengingatkan bahwa ia harus mengambil kue yang dipesan ibunya dan mengajak Sobok jalan-jalan.
Setelah berhasil menyingkirkan Pyo Yoon-tae yang terus merengek ingin mandi bersama, Jeong-seo akhirnya selesai mandi dengan selamat. Saat ia keluar, Pyo Yoon-tae sudah berbaring di tempat tidur sambil menatap langit-langit kamar. Pria itu tampak sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius, membuat Jeong-seo bertanya.
"Yoon-tae, sedang memikirkan apa?"
"Sedang memikirkan bahwa tadi di sekolah seharusnya aku lebih berteriak lagi bahwa kau adalah kekasihku."
"……Kurasa anak-anak sudah cukup tahu……."
Dirinya sudah sempat berteriak pada Park Do-young bahwa Pyo Yoon-tae adalah miliknya dan jangan berani menyentuhnya, ditambah lagi Pyo Yoon-tae tiba-tiba memanggilnya "Sayang" sambil menempel erat.
Begitu mengingat situasi tadi, rasa malu kembali menyerang Jeong-seo hingga wajahnya terasa panas membara. Jujur saja, itu sangat memalukan, tapi setidaknya hal itu sudah menjadi bukti nyata bahwa ia berpacaran dengan Pyo Yoon-tae. Ia tidak menyangka segalanya akan berakhir seperti ini, tapi setidaknya Park Do-young dan orang-orang yang meragukannya pasti sudah tidak akan mengganggunya lagi.
Jeong-seo merasa ini sudah cukup, namun Pyo Yoon-tae justru memasang wajah semakin serius. Jeong-seo menyelesaikan mengeringkan rambutnya dan duduk di tepi tempat tidur.
"Yoon-tae, apa ada hal lain yang mengganggumu?"
Pyo Yoon-tae melirik Jeong-seo sekilas, lalu mendengus sambil mengerutkan hidungnya.
〈Wah……. Jadi kau benar-benar berpacaran dengan So Jeong-seo……? Bukan berarti aku tidak percaya, hanya saja, bagaimana ya mengatakannya, rasanya seperti tidak nyata atau mungkin sulit dipercaya, jadi aku merasa agak ragu.〉
Itulah yang dikatakan Shin Jun-hee pada Pyo Yoon-tae kemarin. Jika orang yang cukup akrab dengan Jeong-seo saja bersikap seperti itu, apalagi orang lain. Selain itu, insiden hari ini pasti akan membuat rumor tentang Jeong-seo menyebar lebih luas. Mereka yang tidak ada di gimnasium mungkin akan merasa curiga, atau bahkan bisa saja melakukan perundungan terhadap Jeong-seo. Pyo Yoon-tae memang tidak suka mengumbar kehidupan pribadinya, tapi ia ingin seluruh dunia tahu bahwa ia berpacaran dengan Jeong-seo.
Setelah berpikir sejenak, Pyo Yoon-tae mengusap lutut Jeong-seo dan bertanya.
"Boleh aku mengunggah foto kita berdua di Instagram, Jeong-seo-ya?"
"Foto?"
Itu pertanyaan yang tiba-tiba, namun karena Jeong-seo merasa tidak keberatan, ia mengangguk. Baik dirinya maupun Pyo Yoon-tae memang tidak pernah mengelola media sosial pribadi, jadi hal itu terasa agak unik bagi mereka. Pyo Yoon-tae memainkan ponselnya sebentar, lalu menyodorkannya ke arah Jeong-seo dengan ekspresi puas.
Jeong-seo menerimanya dengan bingung, namun tak lama kemudian ia tertawa terbahak-bahak melihat layar ponselnya.
"Apa-apaan ini! Tiba-tiba sekali!"
"Sekarang, kalau ada keparat seperti Park Do-young yang bertanya macam-macam, tunjukkan saja foto itu. Mengerti, Jeong-seo?"
Dan tunjukkan foto itu kepada siapa pun yang bertanya apakah kau punya kekasih. Melihat Pyo Yoon-tae mengatakannya dengan nada yang begitu serius membuat Jeong-seo merasa gemas. Ia meletakkan ponsel itu dan mengacak-acak rambut Pyo Yoon-tae dengan gemas.
"Yoon-tae, kau imut sekali!"
"Tidak, serius, kau harus melakukan itu, Jeong-seo-ya!"
Di tengah canda tawa mereka, ponsel itu terjatuh ke bawah tempat tidur dan layarnya menghadap ke atas. Di balik layar kaca itu, terpampang foto Jeong-seo dan Yoon-tae yang sedang berfoto dengan mesra, disertai keterangan singkat.
[Cinta pertama dan hubungan pertama.]

1.625 kata

Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 120 - Chapter 120 (END)

My Donation

Dukung translator

senjanity • Predator Alert / Beast Alert!

Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.