Setelah Pyo Yoon-tae datang ke kampus dan mengunggah foto mereka berdua di Instagram, semua orang yang dulu mengganggu Jeong-seo lenyap tak berbekas. Tak ada lagi pesan yang meminta diperkenalkan dengan Pyo Yoon-tae, dan Park Do-young kini memilih untuk menghindar dan bahkan tidak berani menatap mata Jeong-seo.
Meski sesekali masih ada yang berbisik-bisik saat melihatnya, Jeong-seo tidak terlalu memikirkannya. Lagipula, ia sedang sibuk menyiapkan diri untuk ujian akhir yang mata pelajarannya jauh lebih banyak daripada ujian tengah semester.
Selasa sore, setelah menyelesaikan sesi konsultasi singkat dengan profesor di ruang kerjanya, Jeong-seo melangkah keluar.
"So Jeong-seo!"
Begitu keluar dari gedung, Shin Jun-hee yang sudah menunggu di dekat sana melambai. Melihat ekspresi wajah temannya yang agak kaku, Jeong-seo memiringkan kepala dan menghampirinya.
"Kenapa wajahmu begitu? Ada apa?"
"Bukan apa-apa, hanya saja, apa yang dibicarakan profesor? Dia memanggilmu ke ruang kerjanya? Apa dia mengajakmu lanjut ke pascasarjana?"
"Ah."
Apa dia hanya penasaran? Jeong-seo tersenyum ringan dan menggeleng.
"Tidak ada pembicaraan penting. Hanya ditanya soal kelasnya, apakah materinya mudah diikuti, apa ada kesulitan selama hidup di kampus, bagaimana tingkat kesulitan ujian kemarin, itu saja."
Meskipun profesor itu terlihat tidak terlalu ramah saat mengajar, ternyata ia sangat perhatian saat diajak bicara. Ia bahkan berpesan agar Jeong-seo datang kapan saja jika memiliki masalah di masa depan. Karena saat SMA Jeong-seo jarang berinteraksi dengan guru, perlakuan baik profesor tersebut membuatnya merasa bangga. Shin Jun-hee menatapnya dengan raut wajah skeptis.
"Begitu ya? Aku kira kau dipanggil ke ruang kerjanya untuk urusan penting. Ya sudah, lagipula kita baru semester satu, kalau sudah dipanggil sekarang malah bikin canggung. Tapi, apa kau berencana lanjut ke pascasarjana setelah lulus?"
"Pascasarjana? Memangnya bagus ya?"
"Hmm……. Entahlah? Aku juga belum memikirkan itu. Biasanya mahasiswa jurusan kita langsung cari kerja, kan? Tapi katanya banyak juga anak teknik atau sains yang lanjut sampai S2."
"Begitu ya. Lalu, Jun-hee mau langsung kerja?"
"Iya, aku mau menabung pengalaman lalu buka tempat kebugaran khusus shifter atas namaku sendiri."
"Wow……!"
Jeong-seo sendiri belum memikirkan dengan matang apa yang akan ia lakukan setelah lulus. Ia sudah mencari tahu tentang pilihan karier, tapi belum ada yang benar-benar menarik perhatiannya, dan karena merasa kelulusan masih jauh, ia belum terlalu serius memikirkannya. Namun, melihat temannya sudah menetapkan tujuan masa depan, Jeong-seo menatapnya dengan penuh kekaguman. Shin Jun-hee merasa malu, ia mengangkat bahu dan berdeham kecil.
"Yah, kita kan masih semester satu. Kau juga pikirkan baik-baik nanti. Lagipula, setelah makan nanti anak-anak mengajak main sepak bola, mau ikut?"
Jeong-seo terdiam sejenak, mencoba mengingat jam berapa Pyo Yoon-tae bilang akan datang hari ini. Tepat saat itu, ponsel di sakunya bergetar. Begitu ia melihat layarnya, mata Jeong-seo membelalak. Nama yang tertera adalah 'Ibu Yoon-tae'.
Han Jae-hee tidak pernah menghubunginya lebih dulu. Nomor itu diberikan oleh Pyo Yoon-tae saat SMA, sebagai kontak darurat seandainya terjadi sesuatu yang genting dan Pyo Yoon-tae tidak bisa dihubungi.
Jeong-seo menghentikan langkahnya, dan Shin Jun-hee yang ikut berhenti pun tanpa sengaja melirik layar ponselnya. Setelah keheningan singkat, Jeong-seo menoleh ke atas.
"Jun-hee-ya, aku terima telepon sebentar ya."
"Oh, oke, silakan."
Ada apa ya menelepon? Jeong-seo menempelkan ponsel ke telinganya.
"Halo!"
— Eung, ini Jeong-seo, kan? Ini Ibu Yoon-tae.
Suara lembut itu membuat Jeong-seo merasa senang.
"Halo, Ibu! Apa kabar?"
— Tentu saja, Ibu sehat. Jeong-seo juga sehat, kan? Ibu dengar kau tinggal tidak jauh dari Yoon-tae.
"Ah, ya! Rumah saya……."
Jeong-seo hampir keceplosan mengatakan mereka tinggal di sebelah rumah, tapi ia segera menutup mulutnya. Sekarang mereka sudah diketahui berpacaran, rasanya akan kena marah jika ia mengaku tinggal di sebelah rumah. Ia melirik sekilas ke arah Shin Jun-hee lalu mengubah ucapannya.
"Saya tinggal di dekat situ!"
— Syukurlah. Kalian berdua memang sangat dekat, ya.
"Ah……."
Jeong-seo mengira Han Jae-hee sudah tahu hubungan mereka, tapi jawaban itu terdengar ambigu. Padahal sehari setelah Pyo Yoon-tae mengunggah foto di Instagram, tidak hanya ibunya, bahkan kakaknya pun langsung menghubunginya. Apa beliau tidak tahu? Saat Jeong-seo hendak mencari alasan, Han Jae-hee kembali bicara.
— Jeong-seo-ya, Ibu benar-benar minta maaf, tapi apakah kau punya waktu sekarang?
"Sekarang, Bu?"
— Iya, Ibu baru saja sampai di Seoul. Bagaimana kalau kita makan bersama? Kalau kau sibuk, Ibu akan menjemputmu.
Itu adalah ajakan yang sama sekali tidak diduga. Karena bingung, Jeong-seo melirik Shin Jun-hee yang hanya bisa memberi isyarat "tidak apa-apa" dengan bibirnya meski tidak tahu apa yang sedang terjadi.
— Ah, kalau waktunya tidak tepat, kita bisa atur lain kali. Ibu tidak mau merepotkanmu…….
Suara Han Jae-hee terputus, dan terdengar suara samar orang lain di seberang sana. Suaranya terdengar seperti sedang berdebat. Jeong-seo segera memberi isyarat maaf kepada Shin Jun-hee dan melangkah dengan cepat.
"Saya ada waktu! Tapi apa kita makan berdua saja? Apa perlu saya panggil Yoon-tae?"
— Oh, begitu ya? Ibu minta maaf, tiba-tiba sekali. Ibu saja yang hubungi Yoon-tae. Apa sekarang kau di kampus?
"Iya, saya di kampus!"
— Kalau begitu, Ibu akan kirim mobil untuk menjemputmu. Sekali lagi maaf ya, Jeong-seo-ya.
Han Jae-hee berkali-kali meminta maaf sebelum menutup telepon. Saat Jeong-seo kembali ke gerbang depan, Shin Jun-hee sudah menghilang. Tak lama kemudian, sebuah sedan hitam berhenti di depannya. Seorang pria turun dari kursi pengemudi, membukakan pintu belakang, dan bertanya, "Apakah Anda mahasiswa bernama So Jeong-seo?"
Melihat sikap pria itu yang sangat yakin, Jeong-seo mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Perjalanan berlangsung sunyi. Jeong-seo menatap keluar jendela, penasaran dengan suara orang yang ia dengar di samping Han Jae-hee tadi.
Rasa penasaran itu terjawab begitu ia sampai di ruang privat sebuah restoran yang diarahkan oleh pengemudi. Jeong-seo berdiri di depan pintu masuk, menatap terkejut ke arah Han Jae-hee dan seorang wanita tua yang duduk di sampingnya. Wajahnya terasa asing namun ada sesuatu yang familiar.
"Jeong-seo-ya, selamat datang. Ini nenek Yoon-tae. Ibu dari Ibu."
"Ah, halo! Saya So Jeong-seo, teman……. pacar Yoon-tae!"
Meski sempat bingung, Jeong-seo segera tersenyum lebar dan menyapa Jeong Sun-ja. Wanita tua yang sedari tadi memasang wajah tanpa ekspresi itu sedikit mengerutkan kening begitu mendengar kata "pacar".
"Jangan ribut, silakan duduk."
Suara dan gerakan tangannya terasa penuh dengan ketidaksukaan. Jeong-seo memperhatikan wajah nenek Pyo Yoon-tae dengan tatapan khawatir—karena ada bagian matanya yang sedikit mengerut, mungkinkah dia sedang sakit?—lalu duduk di seberang mereka.
"Ibu, kenapa setelah memanggilnya, Ibu malah……."
"Ssst."
Jeong Sun-ja mengeluarkan suara peringatan, membuat Han Jae-hee terdiam meski ia menatap ibunya dengan tatapan penuh protes. Karena suasananya tidak enak, Jeong-seo memilih diam. Jeong Sun-ja menatap Jeong-seo lekat-lekat. Tatapannya begitu tajam, seolah ia tidak peduli apakah Jeong-seo merasa canggung atau tidak.
Setelah keheningan panjang yang terasa mencekik bagi Jeong-seo, wanita tua itu membuka mulut.
"Jadi, kau yang berpacaran dengan cucuku…… Yoon-tae?"
"Iya, kami berpacaran!"
Jeong-seo merasa senang mengetahui bahwa Nenek Yoon-tae pun sudah tahu tentang hubungan mereka, sehingga tanpa sadar suaranya terdengar sedikit terlalu keras. Namun, Jeong Sun-ja justru mengerutkan kening dan menarik kepalanya ke belakang.
"Suaramu bisa terdengar sampai ruangan sebelah. Umur kalian…… sebaya?"
"Iya, saya dan Yoon-tae sekelas sejak SMA!"
"Sekarang kuliah di jurusan Pendidikan Jasmani Universitas Jeong-han, kan?"
"Iya! Saya sedang menempuh pendidikan di jurusan Pendidikan Jasmani Universitas Jeong-han!"
Meski nada bicara nenek itu terasa seperti sedang menginterogasi, Jeong-seo tetap menjawab dengan ceria. Namun, pertanyaan Jeong Sun-ja tidak berhenti sampai di situ.
"Tipe sub-gender-mu pasti Omega dominan, kan?"
Meskipun melontarkan pertanyaan yang cukup sensitif, Jeong Sun-ja tetap berbicara secara langsung tanpa rasa sungkan sedikit pun. Saat Jeong-seo berkedip dengan bingung karena terkejut, Jeong Sun-ja merendahkan suaranya seolah sedang mendesak.
"Jika orang dewasa bertanya, kau harus segera menjawab. Apa siswa zaman sekarang tidak tahu sopan santun?"
Mendengar nada bicara yang kini mulai terdengar merendahkan, Jeong-seo akhirnya merasakan firasat buruk yang nyata.
Jangan-jangan…… Nenek Yoon-tae tidak menyukaiku?
Jeong-seo tak sanggup menutup mulutnya karena terkejut. Melihat itu, Han Jae-hee segera memegang lengan Jeong Sun-ja.
"Ibu, sungguh, ada apa dengan Ibu……."
"Apa maksudmu dengan apa! Seumur hidupku, baru kali ini aku mendengar seekor macan kumbang berpacaran dengan seekor musang!"
Jeong Sun-ja berseru begitu keras hingga suaranya nyaris menembus dinding ruangan sebelah. Ia berdecak kesal sambil memelototi Jeong-seo. Menghadapi reaksi tersebut, Jeong-seo hanya bisa menatap tak percaya, matanya melebar saat ia menunjuk dirinya sendiri dengan jari.
"Nenek tidak menyukaiku?"
Kenapa? Ini benar-benar hal yang sama sekali tidak ia duga.
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 121 - Epilog 1
1.435 kata
Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 121 - Epilog 1
My Donation
Dukung translator
senjanity • Predator Alert / Beast Alert!
Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.
Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter
· 0Login untuk menulis komentar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.