Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 122 - Epilog 2

Wajar jika Jeong-seo merasa terguncang. Selama ini, Pyo Yoon-tae dan ibunya, Han Jae-hee, tidak pernah menunjukkan kebencian atau diskriminasi sedikit pun meski tahu ia adalah seekor musang. Jeong-seo berasumsi nenek Pyo Yoon-tae pun akan bersikap serupa, sehingga kata-kata tajam wanita tua itu terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Apalagi, meski ia samar-samar tahu hubungan Yoon-tae dan neneknya tidak harmonis, ia belum pernah mendengar detailnya.
Melihat Jeong-seo yang benar-benar terkejut, Jeong Sun-ja menghela napas panjang dan memijat pelipisnya dengan jari telunjuk dan tengah.
"Aku tahu tidak pantas bagi orang tua untuk ikut campur dalam urusan cinta anak muda, tapi jangan terlalu berlebihan. Itu tidak baik bagi siswa sepertimu."
"Bagi saya……?"
"Ya, bagi dirimu, dan cucuku pun tidak akan mendapat reputasi baik. Aku tidak akan memintamu putus sekarang. Tapi, kenapa kau harus berpacaran dengan cara yang begitu rendahan dan mencolok? Kalian bisa, kan, berpacaran dengan tenang?"
Barulah Jeong-seo mengerti alasan pemanggilannya. Unggahan Pyo Yoon-tae beberapa waktu lalu memang memicu gelombang kecil. Perhatian publik tertuju pada Jeong-seo, memancing spekulasi mengenai spesies dan sub-gender-nya. Untungnya, karena Pyo Yoon-tae bukanlah influencer sekelas kakaknya, topik itu segera terkubur oleh berita skandal kencan seorang idola.
Jeong-seo teringat perkataan Park Do-young beberapa waktu lalu:
〈Pyo Yoon-tae punya kelas tersendiri, mana mungkin dia pacaran di tempat seperti itu.〉
〈Jujur saja, antara Pyo Yoon-tae dan kita itu agak berbeda, kan?〉
Ternyata perkataan Park Do-young bukanlah delusi semata. Jeong-seo merasa kecewa dan depresi saat menyadari bahwa bukan orang lain, melainkan nenek Pyo Yoon-tae—darah dagingnya sendiri—berpikir demikian.
Saat Jeong-seo menunduk lesu tanpa menjawab, Jeong Sun-ja berdeham.
"Aku minta maaf karena bicara blak-blakan pada pertemuan pertama kita. Tapi, lihatlah bagaimana kau bersikap sampai-sampai berita itu terdengar ke telingaku di Dangang. Namun, kurasa kau bukan anak yang jahat, dan kurasa kau sudah mengerti maksudku, jadi aku sudahi saja. Toh, cinta masa muda hanyalah sekilas saja."
Cinta masa muda, sekilas saja. Jeong-seo mengangkat kepalanya perlahan dan menatap lurus ke mata Jeong Sun-ja. Ada satu alasan mengapa ia tetap bersabar menghadapi hinaan wanita tua itu: ia adalah keluarga orang yang dicintainya, dan ia ingin menyelesaikan masalah ini dengan baik demi masa depan mereka. Namun, ia tidak bisa membiarkan hubungan mereka dianggap sebagai sesuatu yang ringan dan mudah berakhir.
Mata cokelatnya kini berkilat tajam.
"Saya sangat mencintai Yoon-tae. Jika kami bertengkar atau ada perbedaan pendapat, kami akan berusaha menyelesaikannya dengan upaya terbaik kami, bukan dengan berpisah. Dan seperti yang Nenek katakan, satu-satunya orang yang bisa campur tangan dalam hubungan kami hanyalah saya dan Yoon-tae."
Jeong Sun-ja tak menyangka akan dibalas seperti itu. Ia mendengus sinis dan menutupi dahinya dengan tangan.
"Inilah kenapa aku tidak mau berurusan dengan musang. Kalian tidak bisa diajak bicara. Bukankah begitu?"
Jeong Sun-ja mengharapkan gumaman "Iya, tapi…… tolong jangan seperti itu" dari menantunya, namun yang terdengar hanyalah helaan napas panjang yang getir. Han Jae-hee hanya menatap meja. Jeong Sun-ja menatap tajam ke samping, curiga bahwa menantunya sudah sepenuhnya terpesona oleh musang itu.
Bagaimana mungkin Pyo Yoon-tae memiliki selera seburuk ini? Jeong Sun-ja berdecak sambil menyesap teh jelainya.
"Jadi, maksudmu kau ingin menikahi cucuku?"
"Iya, saya ingin. Saya ingin terus menghabiskan waktu bersama Yoon-tae."
Jeong Sun-ja hampir tertawa, tapi ia menelannya. Ia tahu betapa rapuhnya cinta anak dua puluh tahun yang baru akan menghadapi banyak orang baru di masa depan. Cinta itu seperti embun musim dingin; panas di awal, namun cepat menguap.
"Kau akan mengerti apa yang kumaksud seiring berjalannya waktu. Pernikahan bukanlah perkara mudah. Ada alasan mengapa orang cenderung menikah dengan spesies yang sama atau dari latar belakang serupa. Kau tidak tahu betapa orang-orang akan berbisik-bisik di belakangmu. Aku tidak akan melakukan apa pun sekarang, ini hanyalah nasihat agar kau tidak terlalu dalam menaruh hati. Dan berhentilah mengumbar hubungan kalian ke mana-mana. Hanya itu yang ingin kukatakan."
Meski nadanya lebih tenang, ketegasan di wajah Jeong Sun-ja semakin pekat. Baginya, jika cucu satu-satunya itu benar-benar menikahi musang dan memiliki anak, itu adalah penghinaan terbesar bagi keluarga Black Panther. Rumor yang menyebar luas di Dangang sudah cukup membuatnya malu untuk mengangkat wajah.
Ia ingin cucunya putus, tapi ia tahu Pyo Yoon-tae bukanlah orang yang bisa disuruh-suruh. Akhirnya, ia memilih sikap kontradiktif: tidak mengintervensi, namun tidak merestui.
Melihat wanita itu, Jeong-seo akhirnya paham mengapa Pyo Yoon-tae tidak suka membahas keluarganya. Ia teringat sosok Pyo Yoon-tae kecil yang menangis tersedu-sedu di atas salju, membuat Jeong-seo mengepalkan tangannya di bawah meja.
"Saya tidak ingin menyerah pada momen-momen bahagia hanya karena takut akan kesulitan. Seperti kata Nenek, mungkin kami akan mengalami masa sulit saat bersama, tapi jika kami melarikan diri karena takut, tidak akan ada yang tersisa."
Saya mengerti kekhawatiran Nenek, tapi biarkan saya menanggung konsekuensi dari pilihan saya sendiri.
Jeong-seo berdiri dari duduknya. Han Jae-hee menatapnya dengan pandangan nanar.
"Karena saya rasa makan bersama hari ini tidak akan berjalan baik, saya mohon maaf, saya akan pergi sekarang! Dan sejujurnya, saya tidak yakin apakah Nenek benar-benar khawatir pada Yoon-tae, atau hanya khawatir akan kehormatan keluarga."
Saat Jeong-seo mengambil tasnya dan melirik Jeong Sun-ja sekali lagi, topeng wanita tua itu retak. Wajahnya terdistorsi oleh amarah.
BRAK!
Pintu terbuka dengan kasar, menampilkan Pyo Yoon-tae yang terengah-engah. Hanya satu orang yang terkejut dengan kehadirannya. Jeong Sun-ja menatap cucunya dengan tidak percaya, lalu memelototi Han Jae-hee.
"Yoon-tae!"
Jeong-seo tersenyum lega, namun Pyo Yoon-tae dengan sigap menarik Jeong-seo ke belakang punggungnya. Ia menatap nenek dan ibunya dengan tatapan dingin.
"Apa yang kalian lakukan?"
"Justru kau, apa yang kau lakukan! Jika ingin berpacaran dengan mengumbar berita ke mana-mana, carilah orang yang lebih layak……!"
Melihat suasana yang memanas, Han Jae-hee berdiri dengan wajah penuh penyesalan dan mendorong lengan Pyo Yoon-tae ke arah pintu.
"Putraku, pergilah segera. Ibu tiba-tiba memanggil Jeong-seo, dia bahkan belum makan apa-apa. Jeong-seo, Ibu benar-benar minta maaf. Ibu akan kirim uang saku ke Yoon-tae, pergilah cari makan yang enak, ya?"
Meski terdengar teriakan Jeong Sun-ja dari dalam ruangan yang memanggil mereka untuk kembali, Han Jae-hee mengabaikannya dan memberi isyarat agar mereka segera pergi. Pyo Yoon-tae sempat menatap ibunya sejenak sebelum menggenggam tangan Jeong-seo dan menghilang dengan cepat.
Kembali ke dalam ruangan, Jeong Sun-ja berteriak, "Aku belum selesai bicara, apa-apaan sikap ini!"
Mendengar teriakan itu, Han Jae-hee tidak lagi merasa takut, melainkan merasa wajahnya panas karena menahan malu.
"Ibu, kita sangat memalukan sekarang."
Anak muda itu saja berani bertanggung jawab atas pilihannya. Han Jae-hee merenung; apakah selama ini ia pernah mencoba bertanggung jawab atas pilihannya sendiri dalam hidup? Ia hanya ingin semuanya akur, tapi apa yang tersisa baginya sekarang?
Ia menatap ibunya yang wajahnya berkerut penuh amarah dengan pandangan kosong. Wajah yang dulu terlihat sangat menakutkan itu, kini hanya terasa begitu menyedihkan.
***
Pyo Yoon-tae mengabaikan tawaran supir untuk mengantar mereka pulang, lalu melangkah keluar dari gedung dengan wajah yang mengeras.
Jeong-seo, yang pergelangan tangannya digenggam olehnya, hampir terseret saat ia tak sengaja tersandung kakinya sendiri dan tubuhnya terhuyung. Saat hendak jatuh tersungkur ke depan, Jeong-seo mencoba mencari pegangan, namun Pyo Yoon-tae lebih cepat memeluk dan menopang tubuhnya.
"Ah! Terima kasih."
Untung tidak jatuh, pikir Jeong-seo. Saat ia mendongak untuk melihat wajah pria itu, ia mendadak tertegun.
"Yoon-tae……, kau menangis?"

1.249 kata

Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 122 - Epilog 2

My Donation

Dukung translator

senjanity • Predator Alert / Beast Alert!

Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.