Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 123 - Epilog 3

Pyo Yoon-tae menggigit bibir bawahnya erat-erat, wajahnya tampak tersiksa seolah sedang menelan rasa sakit yang tak terlukiskan. Setelah terdiam cukup lama, ia akhirnya menjawab dengan suara yang hampir tak terdengar.
"……Maafkan aku."
Melihat kesedihan yang terpancar di matanya yang kering, Jeong-seo merasa akan lebih baik jika pria itu menangis saja daripada harus menanggung semuanya sendirian. Hatinya terasa perih, ia pun mengulurkan tangan dan mendekap salah satu pipi Pyo Yoon-tae.
"Yoon-tae-ya, kenapa kau yang minta maaf? Tidak ada yang perlu dimaafkan sama sekali."
"……Apakah Nenek mengatakan hal yang aneh-aneh padamu?"
Berbagai ucapan tajam Jeong Sun-ja melintas di benak Jeong-seo, namun lidahnya terasa kelu. Melihat reaksi Jeong-seo, Pyo Yoon-tae seolah sudah mendapatkan jawaban yang cukup. Ia menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku tidak menyangka dia akan langsung menemuimu seperti ini. Jika tahu akan begini, seharusnya aku mengatakannya lebih awal. Aku benar-benar tidak ingin membuatmu merasa terganggu……."
Dan aku tidak ingin kau melihatku dalam keadaan seperti ini. Kalimat terakhir itu hanya bergumam, tapi suaranya terdengar jauh lebih lirih.
Selama ini, Pyo Yoon-tae tidak pernah menunjukkan ekspresi semenyedihkan ini dalam situasi apa pun. Pupil matanya yang berwarna kuning bergetar, bergantian menatap Jeong-seo lalu menatap hampa ke arah ruang kosong. Rahangnya mengeras, seolah ia tak berniat membuka mulut lagi.
"Yoon-tae-ya, kau tahu kan kalau kita saling mengerti? Kita boleh saja menunjukkan sisi diri kita yang tidak tampak baik di depan satu sama lain. Aku tidak akan menyalahkanmu atau merasa kecewa karena hal seperti ini, kau tahu itu, kan?"
Bulu mata hitamnya bergetar mengikuti kedipan matanya yang gelisah. Suhu hangat dari tangan Jeong-seo yang mendekap pipinya terasa begitu nyata. Pyo Yoon-tae menutupi tangan Jeong-seo dengan tangannya sendiri, lalu menariknya turun.
"……Lenganmu pasti pegal. Bagaimana kalau kita pulang sekarang? Haruskah aku memanggil taksi……."
Saat Pyo Yoon-tae mengeluarkan ponsel dari sakunya, pandangan Jeong-seo tertuju pada bus yang sedang melintas. Tiba-tiba ia teringat bahwa ia belum pernah mencoba naik bus di Seoul. Bus memiliki atmosfer dan pemandangan yang berbeda dari taksi atau kereta bawah tanah.
"Bagaimana kalau kita naik bus saja, bukan taksi? Bagaimana menurutmu?"
"Bus?"
Pyo Yoon-tae tampak ragu sejenak, namun Jeong-seo segera menarik tangannya dengan mata yang berbinar.
"Ayo naik yang itu!"
"Yang itu?"
Meski terkejut, Pyo Yoon-tae tetap mengikuti langkah Jeong-seo yang berlari cepat menuju halte bus. Mereka berhasil naik sesaat sebelum pintu bus tertutup.
"Dua orang!"
Sebelum Pyo Yoon-tae sempat mengeluarkan kartunya, Jeong-seo sudah menempelkan miliknya ke mesin pembaca. Dengan bunyi bip, Jeong-seo tersenyum melihat ke sekeliling bus. Beruntung, masih banyak kursi kosong. Ia berjalan menuju kursi dua orang dan memberi kode pada Pyo Yoon-tae.
"Duduklah di dekat jendela."
"Ah, oke."
Bus mulai berangkat. Pyo Yoon-tae menatap Jeong-seo dengan bingung sambil memeriksa nomor bus yang mereka tumpangi. Saat ia mencari di aplikasi peta, ternyata bus itu bukan berlawanan arah dengan rumah mereka, tapi jalurnya cukup memutar dan mengharuskan mereka transit.
Pyo Yoon-tae mengira Jeong-seo tahu rutenya, tapi sepertinya tidak. Ia menyodorkan ponselnya ke depan Jeong-seo dan berkata, "Jeong-seo, kita harus turun di sini untuk transit. Butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk sampai di rumah jika kita naik bus ini……."
"Wah, aku belum pernah ke sini! Apa kau sudah pernah?"
Mendengar pertanyaan ceria itu, Pyo Yoon-tae menghapus apa yang hendak ia katakan sebelumnya dan menggeleng.
"Tidak, ini pertama kalinya bagiku juga."
"Berarti ini pemandangan yang belum pernah kita lihat sebelumnya."
"……Benar juga."
Pyo Yoon-tae masih tidak mengerti mengapa mereka menaiki bus ini. Namun, suara mesin bus yang tidak mengganggu serta getaran yang terasa perlahan-lahan mengaburkan rasa marah, malu, dan tidak adil yang ia rasakan tadi.
Di dalam bus yang hampir kosong pada pukul 1:37 siang itu, Pyo Yoon-tae tanpa sadar menatap ke luar jendela. Sinar matahari yang cerah menyelinap di balik gedung-gedung dan hinggap di kelopak matanya. Terasa hangat, Pyo Yoon-tae perlahan menyandarkan kepalanya di kepala Jeong-seo. Lalu, ia berbisik.
"Alasan kenapa aku dulu tersesat di gunung dan menangis saat kecil juga karena Nenek. Dia tidak menyukaiku…… tidak, lebih tepatnya dia membenciku. Itulah kenapa aku sangat benci pergi ke rumahnya, di sana tidak ada satu pun orang yang berada di pihakku."
Masa lalu yang ingin ia sembunyikan dari siapa pun, dan kenyataan pahit saat ini. Pyo Yoon-tae membuka diri untuk pertama kalinya tanpa merasa canggung. Mungkin karena suara mesin bus yang menutupi suaranya, atau mungkin karena tangan kecil Jeong-seo yang sedang menggenggam tangannya dengan lembut.
"Bahkan saat Nenek hanya berada di dekatku saja, aku ingin melarikan diri, dan perutku mual memikirkan kapan dia akan marah lagi. Di sana, aku selalu merasa seperti keberadaan yang seharusnya tidak ada."
Pyo Yoon-tae menuangkan kepedihan masa lalunya kepada orang yang paling ingin ia lindungi dari masa lalunya itu. Ia sering terdiam di tengah kalimat, sesekali melirik reaksi Jeong-seo.
Begitu semua cerita selesai, bus seolah sengaja berhenti tepat di depan rumah mereka. Keduanya beradu pandang di depan pintu, namun tidak ada kata yang terucap. Karena rasa canggung yang baru saja datang, Pyo Yoon-tae mengetik kode pintu sambil berkata.
"Jadi, Jeong-seo, lain kali jika Ibu atau Nenek mengajak bertemu tanpaku, gunakan aku sebagai alasan dan jangan pergi. Ibu mungkin akan merasa sedih, tapi…… dia akan mengerti."
Pintu terbuka dan Jeong-seo masuk mengikuti Pyo Yoon-tae. Pria yang biasanya tampak jauh lebih besar dan kuat itu, hari ini entah mengapa terlihat begitu rapuh.
〈Setelah menemukan cinta pertamaku, aku akan langsung memiliki anak.〉
Perkataan itu, yang dulu dianggap Jeong-seo terlalu terburu-buru untuk pola pikir anak SMA, kini mulai ia mengerti maknanya.
〈Membentuk pasangan dan saling memandang hingga hari kematian tiba, hidup bahagia bersama.〉
〈Demi mencapai ini, aku akan sekolah dan bekerja.〉
Obsesi terhadap keluarga, obsesi terhadap cinta pertama yang hanya dilihat sekilas—semuanya karena bagian itu tidak pernah terpenuhi dalam hidup Pyo Yoon-tae. Saat membayangkan wajah Pyo Yoon-tae kecil yang menangis, hati Jeong-seo terasa sesak sekaligus merasa kagum pada betapa hebatnya pria itu.
Saat Jeong-seo berdiri mematung di depan pintu tanpa melepas sepatu, Pyo Yoon-tae menatapnya dengan heran lalu tertawa pelan.
"Kenapa kau terlihat ingin menangis, Jeong-seo? Jangan menangis, itu membuat hatiku sakit."
"Kau pasti sangat menderita, sungguh hebat kau bisa tumbuh menjadi orang yang begitu lembut. Jika itu aku…… aku pasti hanya akan terus menaruh dendam dan tidak akan mampu mencintai siapa pun."
Bahkan di lingkungan yang begitu kesepian, Pyo Yoon-tae tidak memilih untuk membenci atau iri pada kebahagiaan orang lain, melainkan memilih untuk mencintai. Jika dirinya yang berada di posisi itu, ia yakin ia akan tumbuh menjadi pribadi yang bengkok, karena ia mungkin tidak akan tahu bagaimana cara memberi dan menerima kasih sayang.
Pyo Yoon-tae menunduk sebentar lalu menatap Jeong-seo lagi.
"Aku bersyukur memiliki masa kecilku, dan bersyukur kau ada di sisiku sekarang. Kau sangat lembut, Jeong-seo-ya."
Kelembutanku berasal darimu.
Jeong-seo tidak bisa segera menjawab. Sungguh…… Pyo Yoon-tae adalah sosok yang mustahil untuk tidak dicintai. Mendengar kata-kata itu di situasi seperti ini membuat emosinya meluap hingga dadanya terasa sakit. Tanpa melepas sepatu, ia merentangkan tangan dan memeluk pria itu.
"Aku akan selalu ada di pihakmu, Yoon-tae. Aku benar-benar mencintaimu."
Pyo Yoon-tae sempat terkejut dengan pelukan mendadak itu, namun ia tersenyum tipis dan menjawab.
"Aku juga, aku sangat menyukaimu dan mencintaimu, Jeong-seo."
Kehangatan mereka saling meresap melalui pakaian hingga ke kulit.
Sesaat sebelum Jeong-seo melepaskan pelukannya, ia menggosokkan pipinya ke pipi Pyo Yoon-tae. Tiba-tiba, dagunya tertahan dan terangkat ke atas. Wajah Pyo Yoon-tae sudah berada tepat di depan wajahnya.
Bahkan sebelum ia sempat bilang ingin melepas sepatu, bibir mereka sudah bertautan. Pyo Yoon-tae menggesek bibirnya dengan lembut, menggigit bibir bawah Jeong-seo pelan, lalu melepaskannya.
Aroma feromon pria itu menyebar di udara, membuat tubuh Jeong-seo meremang hingga ke pinggang.
Pyo Yoon-tae tidak membuang waktu dan menyelipkan lidahnya ke celah bibir Jeong-seo yang terbuka. Tangan yang tadi menahan dagunya kini mendekap punggung Jeong-seo, membuat tumit Jeong-seo sedikit terangkat. Apa yang tadinya hanya sentuhan lidah yang main-main, kini mulai menekan dan menggosok langit-langit mulut Jeong-seo yang lembut.
"Ugh……."
Saat lidah itu menyapu bagian yang sensitif, rasa geli yang aneh membuat otot perut Jeong-seo menegang. Napas mereka bertautan, panas menyebar ke seluruh tubuh. Setiap kali Jeong-seo mengembuskan napas yang memburu, aroma cokelat manis menguar, membuat Pyo Yoon-tae sempat melepaskan ciumannya lalu segera melumatnya kembali dengan lebih dalam.
Tubuh Jeong-seo terdorong hingga punggungnya menyentuh dinding pintu masuk.
Brak!
Suara pintu tertutup terdengar sangat jelas, membuat tubuh Jeong-seo tersentak hebat dan membuatnya tersadar sepenuhnya.

1.449 kata

Predator Alert / Beast Alert! - Chapter 123 - Epilog 3

My Donation

Dukung translator

senjanity • Predator Alert / Beast Alert!

Jika kamu menikmati update novel ini, dukungan kecilmu bisa membantu translator tetap semangat merilis chapter berikutnya.

Dukungan dikirim langsung ke translator pemilik widget donation ini.

Komentar Chapter

· 0

Login untuk menulis komentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.